
di ruangan Dylan.
"Tuan muda..? ". panggil Bagus membujuk.
Dylan menatap tajam asisten pribadinya itu, ia enggan berbicara.
"saya juga di tekan oleh mama dan Onty Kaira tuan! saya tidak bisa mengelak". jelas Bagus.
Dylan berdecak kesal mendengarnya.
"kenapa kau tidak jujur padaku? ".
"saya tidak berani melawan tuan besar 1 dan tuan besar 2 tuan muda". kata Bagus dengan lantang.
"jadi kau berani melawanku? ". tantang Dylan
"saya juga tidak berani melawan anda tapi kalau tuan besar sudah bekerja sama saya juga tidak berani melawan nya bagaimana pun mereka sangat penting buat papa saya". jelas Bagus
Dylan menghela nafas panjang, ia tau yang salah memang keluarganya itu sebabnya Dylan tidak meninju Bagus karna telah menipunya.
"alangkah lebih baiknya anda memukul saya tuan". pinta Bagus serius.
"kau pergi saja dari ruanganku". usir Dylan dengan malas.
"tuan tidak makan siang? ". tanya Bagus
"apa urusanmu? ". tanya dylan dengan datar.
"nona muda tidak pernah makan siang, dia selalu bawa bekal dari rumah tapi saya lihat dia tidak bawa apapun tadi pasti anda membawanya ke mansion kan? ". .
Dylan beralih ke Bagus menatapnya serius.
"apa maksudmu? ".
"artinya nona muda tidak makan siang hari ini karna 4 karyawan wanita yang sama selalu mencaci maki nona muda jadi enggan ke kantin".
Dylan berpikir sejenak.
"kau keluarlah".
"baik tuan muda". jawab Bagus segera pamit undur diri dan pergi dari ruangan atasannya.
.
Shindy terlonjak kaget saat telepon milik perusahaan berdering.
Shindy mengangkatnya.
"halo dengan manager keuangan perusahaan MattGroup ada yang bisa saya bantu? "
"apa kau sibuk? ". tanya Dylan
Shindy tertegun. "tuan? "
"hnm.. datang ke ruanganku ". pinta Dylan.
"baik tuan". jawab Shindy.
Shindy memberi makan siang untuk kucing kecilnya lalu keluar dari ruangannya tidak lupa ia menguncinya seperti biasa.
Salsa dan Sarah menatap tajam Shindy yang berjalan melewati mereka.
"dasar penggoda..! ". desis kedua sekretaris Dylan dengan kompak.
__ADS_1
Shindy melirik sebentar tapi tetap berjalan ke ruangan Dylan sebelum memasukinya Shindy mengetuknya terlebih dahulu.
"tuan? ". sapa Shindy di ujung pintu
"masuklah". pinta Dylan
Shindy menutup pintu dan mendekati Dylan dengan jarak aman,
"ambilkan jas ku". pinta Dylan
Shindy berjalan ke arah gantungan baju Dylan dan mengambil jas kerja Dylan.
"ayo kita keluar". ajak Dylan
"hah? tapi pekerjaan saya masih banyak tuan". elak Shindy
"sebentar saja! temani aku makan siang". jawabnya enteng sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Shindy pun mengangguk karna sekarang Dylan memintanya menemaninya bukan sebagai rekan kerja tapi sebagai istri.
Dylan berjalan duluan di ikuti Shindy yang membawa jas kerja Dylan.
Salsa dan Sarah menunduk hormat tapi matanya melirik tajam Shindy yang membawa tuannya keluar terlebih lagi Shindy memegang jas kerja tuan mereka, biasanya kalau ada perempuan lain yang tidak sengaja menyentuh Jas formal Dylan tak segan-segan Dylan membuangnya tepat di depan mata wanita itu.
"wanita penggoda...! ". batin Salsa dan Sarah begitu geram.
Dylan keluar bersama Shindy se isi perusahaan gempar dengan berita itu, yang paling heboh adalah gengnya Mimi tidak suka akan kebenaran itu.
"anak belagu itu ternyata punya niat terselubung! dia punya cara bisa menggaet tuan kita ".
"Perayu! ".
dan banyak lagi cacian mimi and the geng yang pasti semua menjelekkan Shindy.
"semoga nona muda bisa mendinginkan hati Es tuan muda! nona muda harus berusaha lebih keras lagi tuan muda tidak akan mengakuinya sampai kapanpun jadi buatlah tuan muda jatuh cinta begitu dalam pada anda nona seperti tuan besar 2 mencintai Onty Kaira.. "
.
di dalam mobil Shindy dan Dylan tidak ada berbicara sepatah katapun,
Dylan fokus dengan kemudinya sedangkan Shindy sudah cekcok dengan batinnya sendiri.
"tuan muda kenapa begini? dia mengakuiku sebagai istrinya tapi dia begitu dingin padaku walau masih ada sisi baiknya...! dasar tuan Salju ".
celoteh Shindy dalam hati
"kau mengata-ngataiku? " tanya Dylan dengan datar.
"Eh...? tidak ada tuan". elak Shindy dengan kaget
"apa yang ada difikiranmu terlihat jelas di keningmu jadi jangan membodohiku ". senyum miring Dylan.
Shindy dengan polos meraba-raba keningnya apa hubungannya Dylan tau isi fikirannya dengan sesuatu di keningnya.
"apa ada semacam tulisan di keningku yang bisa dilihat oleh mata ajaibnya? ". batin Shindy kebingungan.
Dylan mengerutkan keningnya melihat Shindy terus-terusan meraba kening serta menutupinya hal itu membuatnya tersenyum tipis sudah jelas gadis disampingnya ini tengah mengata-ngatainya dalam hati.
"dasar gadis penunggu pantai". ejek Dylan dengan santainya tak terima membayangkan Shindy mengatai-ngatainya walau dalam hati.
Shindy membulatkan matanya.
"penunggu pantai? " beo nya.
__ADS_1
"bukankah kau sering ke Pantai X ". jawab Dylan dengan senyum miringnya.
mata Shindy ingin keluar dari tempatnya,
"apa tuan pemilik Vila itu? ". tanya Shindy dengan mata besarnya yang terlihat lucu
"menurutmu? ". tanya Dylan balik
"tuan mesum! ". Shindy langsung berpikir yang tidak-tidak karna Shindy memang sering mandi di tempat itu.
Dylan menaikkan alisnya sebelah
"kenapa kau begitu percaya diri aku melihat bentuk tubuhmu hah? bahkan yang terpampang jelas di depanku pun tidak membuat hasratku bangkit! kadang aku merasa tidak normal"
Shindy makin terbelalak
"jadi tuan tidak normal? "
"ckk". Dylan menjitak kening Shindy dengan cepat hingga Shindy memekik kesakitan mengusap keningnya yang terasa berdenyut.
"apa saya salah bicara tuan? ". tanya Shindy dengan bibir manyun+ alis di tekuk masam
"aku normal gadis gila! tapi aku tidak tertarik pada tubuhmu mungkin jika aku jatuh cinta pada wanita dan pasti hanya wanita itu yang bisa membuat hasratku bangkit".
Shindy menoleh ke Dylan yang terdengar serius.
"apa tuan muda mencintai seseorang? "
Dylan sekali lagi menjitak kening Shindy kali ini bagian pelipisnya
"aduh... ampun tuan ". keluh Shindy mengusap-ngusap kening dan pelipisnya.
satu belum sembuh di tambah lagi bagian lainnya, jitakan Dylan bukan terbilang pelan cukup sakit bagi wanita bar-bar sepertinya.
"aku mencintai mommy ku belum ada yang lain". jelas Dylan menyeringai ternyata asik juga baginya mengerjai Shindy.
"artinya anda tertarik pada ibu anda sendiri tuan? ". celutuk Shindy dengan jengkel karna rasa sakit di kening dan pelipisnya.
Dylan lagi-lagi menjitak Shindy hingga si empunya menjerit kesakitan hal itu mengundang gelak tawa Dylan yang terlihat begitu tampan bertepatan dengan mobil berhenti di parkiran restaurant mewah Nolan Food.
Shindy terkesima melihat tawa Dylan yang benar-benar membius matanya.
"sakit tuan". rengek Shindy mengusap keningnya
Dylan mengelus kepala Shindy
"maka nya jangan mengataiku atau berbicara yang tidak-tidak! "
Shindy mengangguk-ngangguk, tanpa sadar Dylan memang begitu. bentuk kasih sayangnya memang berupa jitakan tangan dengan Nova, Keyzo dan kaisha apalagi Bagus Dylan menghadiahkannya berupa rasa sakit dari jitakan atau tendangannya.
Shindy berbinar melihat restaurant Nolan Food.
"anda bawa saya kemari tuan? ".
"aku mau makan disini karna rasanya sama dengan masakan mommy.. ". jawab Dylan dengan enteng keluar dari mobilnya.
Shindy juga ikutan keluar dari mobil Dylan dan berlari mengikuti Dylan.
angin sepoi-sepoi menerbangkan poni depan Shindy hingga Dylan bisa melihat kemerahan di kening Shindy sementara Shindy sudah melupakan rasa sakit di keningnya malah terlihat tidak sabar memasuki restaurant Nolan Food.
.
.
__ADS_1
.