
.
Shindy dan Rilly tengah menonton TV film kartun anak-anak, kedua perempuan cantik itu tengah makan snack dengan nyaman.
"sayang? " Dylan datang membawa semua barang yang ia beli.
"mas? kenapa lama? " Shindy menoleh ke Dylan yang tengah serius membukakan belanjaannya.
Rilly yang terkejut saat Dylan bersimpuh di depan Shindy,
"mau? " Shindy menyodorkan keripik kentangnya ke Dylan.
Dylan memakannya sambil mengeluarkan sendal bulu motif Kelinci dan mata Shindy langsung berbinar segera melepaskan sendal rumahnya sekarang.
"aku beli 2 sayang...! ". Dylan memakaikan yang berwarna pink ke kaki Shindy
"yang ini buat dikamar kita yang ada dimansion" Dylan menunjuk yang masih terbungkus plastik berwarna abu-abu.
"aku suka mas!! makasih ya? ". ucap nya senang.
Rilly mengatupkan lagi rahangnya yang terbuka lalu memutar kepalanya ke arah TV.
"tuan memang romantis tapi ini kelewat romantis..! kan saya jadi ngiri pengen punya pasangan juga". batin Rilly.
"ayo kita pulang" ajak Dylan segera duduk disamping Shindy
Shindy menyandarkan kepalanya di bahu Dylan. "memang kenapa mas? kok balik? ".
"mommy suruh pulang". tutur Dylan bersamaan dengan helaan nafas panjangnya.
Shindy terkikik lucu. "pasti mommy mengomelimu lagi iya kan? " Ledek Shindy
Dylan yang gemas mencubit kedua pipi Shindy dan mengangguk membenarkan.
"mommy udah pandai ngerep loh.. omelannya itu yang tidak ada berhentinya. " kekeh Shindy mengingat sosok Ibu di kehidupannya sekarang.
sebelumnya Shindy tidak punya ibu tapi sekarang ia punya keluarga dari pihak suami,
Dylan tertawa saja tanpa mengelak. "tapi omelannya itu yang kami suka..! itu lebih baik daripada mommy menangis atau khawatir dengan keadaan kami".
"kalian anak yang baik". puji Shindy dengan tulus
"hmmm... mommy sudah biasa ngomel-ngomel sama kami, terutama Daddy selalu jadi imbasnya kalau mommy udah marah,, " sambung Dylan lagi.
"oh ya..? Daddy tidak pusing dengan omelan mommy apa..? " tanya Shindy kembali terkikik.
"tidak... Daddy malah suka, tapi kebanyakan Daddy yang mengalah karna besarnya cinta Daddy pada mommyku yang memberinya keturunan istimewa seperti kami semua". jelas Dylan lagi
__ADS_1
Shindy tersenyum hangat. "aku mendengar cerita mommy sama daddy dulu dari Granma..! ternyata hidup mommy juga sulit ya? mommy sangat tegar membesarkan kalian tanpa berniat menggugurkan kalian berdua..! aku kagum sama mommy".
"hmm.. saat itu Mommy salah faham sama Daddy karna temannya dan kami juga salah faham sama Daddy tapi Daddy begitu sabar menghadapi keras kepala dan egois kami semua,, tapi jujur aku dan Nova memang sangat rindu belaian kasih sayang seorang Ayah".
"wajar saja.. kamu masih punya ayah yang mengakuimu sedangkan aku mama dan papaku tidak ada lagi" lirih Shindy
tiba-tiba Rilly teringat sesuatu.
Shindy menoleh ke Rilly yang sudah tidak ada lagi. "Loh...? Lyli mana mas? " tanya Shindy kecarian
"dia udah pulang sama Keyzo.. " jawab Dylan
"kok aku ngga tau! ". Shindy malah tak terima
"dia hanya izin dengan tundukan tanpa berbicara dan aku sudah mengerti itu". jelas Dylan dengan enteng.
Shindy menghela nafas panjang. "tapi kamu kan sudah bahagia mas bersama keluargamu.. dan lihatlah betapa beruntungnya mommy dan diriku memiliki pria hebat seperti kalian".
"Pria seperti kalian belum tentu ada di tempat lain, kalau pun ada pasti ada yang kurang"
"apa..? " tanya Dylan gemas
"hmmm? kurang ganteng mungkin? " jawab Shindy Asal hingga Dylan tergelak menggelitiki pinggang Shindy.
"jadi kalau aku tidak tampan kamu tidak akan melihatku begitu? " tanya Dylan serius.
"kalau mas masih muda seperti sekarang tentu aku mau kalau hatinya sama walau wajahnya ngga tampan, terkadang ada yang manis dalam hal perbuatan dan perkataan tapi punya banyak selingkuhan dimana-mana contohnya aja mantan suami Onty Arla... ".
"mas itu udah super tampan, jujur, dingin tapi hatinya hangat, kaya raya, aaah..mas itu Idola dunia Novel deh... ". tawa senang Shindy
Dylan terbahak mendengar pujian dari bibir Shindy.
"lalu bagaimana Novel Tuan Aroganmu hmm? " tanya Dylan penasaran.
"aah.. iya juga.. aku udah lama ngga melihatnya.. tapi mas tau? Novel aku jadi banyak peminatnya dan banyak juga yang minta Novel aku dilanjutin padahal aku udah bilang sedang hiatus beberapa bulan karna aku sedang hamil... ".
Dylan mendengarkan. "aku membacanya"
Shindy melebarkan matanya. "hah? mas baca? " tanya Shindy tak percaya
Dylan mengangguk. "ceritanya persis seperti kita ya? kamu benar-benar mengcopy paste cerita dunia kita ke cerita Novel begitu? "
"mas ngga tau sih... Novel itu ceritanya bakal abadi.. aku juga mau dibukukan dan saat anak kita dewasa nanti aku mau mereka membaca sendiri kisah kita walaupun nanti aku skip adegan dewasa nya".
Dylan hanya mengangguk setuju sambil senyam-senyum lucu.
.
.
__ADS_1
Kini Dylan dan Shindy kembali ke Mansion setelah pulang dari Rumah Sakit, mereka di sambut oleh Kaira dan yang lainnya terlihat khawatir
"sayang? kamu tidak apa-apa nak? " tanya Kaira melembut memegang kedua tangan Shindy.
"baik mom... hehe.. maaf ya mom Shindy nakal suka jalan-jalan sama mas Dylan". cengir Shindy malu-malu.
"bukan kamu nak.. tapi anak kalian yang nakal.. bagaimana bisa tingkah mereka begitu menggemaskan? mommy dan Daddy nya diajak jalan-jalan meluluk. " Mely mengerti kondisi Shindy
"ya sudah.. antar istrimu ke kamarnya Anak nakal... ada yang mau daddy sampaikan". perintah Pasha dengan serius.
Dylan menautkan kedua alisnya lalu melihat ke arah Keyzo yang seperti menyesali sesuatu.
"apa daddy tau? " batin Dylan menebak.
Dylan mengantarkan istrinya ke kamar dan membaringkan tubuhnya ke ranjang Kingsize nya.
"sayang? "
"mas? ada apa mas? kenapa Daddy tiba-tiba ingin bicara denganmu? ada masalah apa mas? " cecar Shindy gelisah.
"hei... sayang? dengar.. sayang... jangan memikirkan hal tadi, pasti Daddy ingin bertanya tentang pekerjaan.. ". jelas Dylan menenangkan istrinya.
Shindy mengangguk-ngangguk dengan pasrah. "mas? ya udah mas keluar aja..! aku akan tidur sendiri"
Dylan menggeleng kepalanya lalu memeluk Shindy dengan posesif sesekali Dylan bangkit hanya untuk mencium perut Shindy.
Shindy yang berniat tidak mau tidur kini malah tertidur beneran, Dylan menyelimuti Shindy lalu keluar dari kamarnya menuju ruang kerja dirinya dan Pasha.
"Daddy..? " Dylan masuk sambil menuntup pintu ruangannya
"ayo ke sofa" ajak Pasha berjalan ke arah sofanya dan duduk disana
Dylan menautkan kedua alisnya lalu mendekati Pasha sesuai permintaan Daddynya duduk berhadapan dengan Pasha.
"Daddy akan langsung to the point" Pasha berkata dengan serius
Dylan mengangguk tanpa berbicara.
"apa kau yang membunuh mereka semua? " Pasha mengeluarkan semua data-data pribadi orang-orang yang telah di bunuh oleh Dylan.
"ini.. iya.. ini.. iya... " Dylan terus memindahkan data orang yang telah ia bunuh hingga yang tersisa sekitar 15 orang lagi.
"lalu mereka ini , siapa yang bunuh? " tanya Pasha
"Daddy jangan terkejut ya? " pinta Dylan serius
Pasha yang tak mengerti mengangguk saja walau tidak tau kenapa ia harus terkejut.
.
__ADS_1
.
.