Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
belanja


__ADS_3

"mas?".


"hmm? ". saut Dylan


Shindy dan Dylan menatap senja, matahari tenggelam begitu indah di hamparan pantai.


"mas mau anak berapa? " tanya Shindy tersenyum manis


Dylan terkejut lalu tertawa kecil.


"baru sehari nanam benihnya masa iya udah ada Dylan junior disini ". Dylan mengusap-ngusap perut datar istrinya.


Shindy memegang punggung tangan Dylan yang mengusap perutnya.


"kan aku tanya mas mau anak berapa dari aku? ". tanya Shindy


Dylan memeluk tubuh Shindy dari belakang dengan erat menyandarkan dagunya di bahu Shindy.


"aku mau 12 ". jawab Dylan enteng


"apa..? banyak sekali! maunya 6 putra 6 putri? ". tanya Shindy


Dylan menggeleng kepalanya.


"aku mau anak kita 11 laki-laki dan 1 perempuan"


Shindy terdiam sesaat mencerna itu semua lalu tertawa lepas persekian detiknya.


"kenapa tertawa hmm? ". tanya Dylan dengan gemas menggoyang-goyang tubuh istrinya ke kiri dan ke kanan.


"kenapa perempuannya cuma 1 ?". tanya Shindy mengatup bibirnya yang hendak tertawa lagi.


"aku merasa putri kita satu-satunya harus menjadi gadis yang paling beruntung di jaga ketat oleh kakak-kakaknya.. ".


"jadi kamu mau anak perempuan kita anak terakhir begitu ? ". tanya Shindy


Dylan mengangguk.


"tapi itu bukan hal yang bisa ku kendalikan bagaimana jika anak ke empat atau ke 7 kita perempuan? apa kamu fikir aku bisa mengatur anak kita harus laki-laki semua? ".


Dylan tampak berpikir.


"ya sudah kita rawat dan besarkan saja"


Shindy mengusap perut datarnya tapi dengan tangan Dylan.


"cepat hadir ya Dedek bayi..! mama sama papa menunggu kalian hadir disini". ucap Shindy dengan senyum manisnya.


Dylan tersenyum memeluk Shindy lagi sambil menatap hari yang sudah mulai gelap.


"kita disini aja mas sambil lihat bintang di daratan sana dan bintang di langit". Shindy menunjuk arah pemukiman dan langit


Dylan mengangguk.


"besok aku harus bekerja lagi sayang! apa kamu tidak bosan dikamar terus? kalau kamu mau keluar aku tidak melarang mu tapi ingat harus hati-hati apalagi ada seseorang yang mengikutimu"


"iya mas! aku mau shopping besar pakai kartu mu terus beli makanan enak buat cemilan saat aku menonton TV ".


Dylan mengusap kepala Shindy


"berapa jumlah pemakaian kartu nya mas? ". tanya Shindy serius.


"tak terhingga". bisik Dylan


Shindy terperangah dengan mata mengerjab lucu.

__ADS_1


"tapi setiap pemakaian akan ada bayarannya". peringatan Dylan dengan senyum liciknya.


"siap tuan muda besok aku kasih pijat plus-plus deh." semangat Shindy mengusap rahang Dylan dari samping.


"ada untungnya aku punya istri mesum". gumam Dylan dengan pelan


Shindy tertawa lebar.


"lagian kamu sangat hebat mas di ranjang apa kamu benar tidak pernah menonton begituan? ".


Dylan menggeleng kepalanya.


"aku tidak suka menonton begituan sangat jorok"


"apanya yang jorok mas? itu untuk pembelajaran biar kamu makin hot kayak Cassanova gitu".


"kamu mau aku jadi Cassanova? ". tanya Dylan


"hei... Cassanovanya sama aku aja! awas aja sama perempuan lain? aku cekik mati perempuan itu".


Dylan tergelak mendengar perkataan Shindy yang penuh penekanan dan menggemaskan karna cemburu.


"baiklah! aku akan belajar menonton begituan dan akan mempraktekkannya hanya padamu". bisik Dylan


Shindy mengangguk-ngangguk.


cukup lama mereka bercinta dari siang hari dan malam harinya Dylan Shindy hanya berpelukan menatap langit berbintang dan keindahan pemandangan di negara D itu.


.


.


ke esokan paginya Dylan berangkat kerja dan Shindy juga memakai satu set baju panjang dan celana panjang membalut tubuh Shindy karna banyak jejak stempel kepemilikan di leher dan bahunya, Shindy memakai syal untuk menutupi lehernya.


"kamu mau kemana sayang? ". tanya Dylan


Dylan tersenyum menekan kepala Shindy.


"dasar istri mesumku".


Shindy menyeringai lebar merangkul lengan suaminya masuk dalam lift.


mereka sama-sama berangkat hanya saja Shindy turun di tempat lain, Dylan menyewa 1 wanita asli WNI tapi menguasai bahasa negara D untuk mempermudah istrinya belanja di negara itu.


"makasih mas!". ucap Shindy dengan senang memeluk Dylan yang memberinya teman untuk bicara karna Shindy tidak fasih dalam bahasa negara itu.


Shindy berjanji akan belajar menguasai bahasa itu karna suaminya akan pergi ke negara itu untuk urusan bisnisnya.


"hmmm! jangan main jauh-jauh ya? ". bujuk Dylan


Shindy mengangguk lalu memejamkan matanya saat Dylan mengecup pipinya dengan mesra.


"semangat kerja nya mas". senyum manis Shindy juga mencium pipi Dylan dan mencium punggung tangan Dylan.


Dylan mengambil tangan Shindy dan mengecupnya juga dengan mesra hingga wanita yang melihatnya malah merona dengan kemesraan Dylan dan Shindy.


" bye..? "


"bye..? ". Shindy melambaikan tangannya saat Dylan masuk ke dalam mobil.


"ayo kak". ajak Shindy merangkul lengan wanita itu.


"jadi kakak sudah menikah dan punya anak 1?". tanya Shindy antusias


"i iya nona". jawab wanita itu.

__ADS_1


"nama kakak siapa? ". tanya Shindy


"Ayu nona". jawab Ayu.


"wah.. lain kali kakak harus mau ajarin aku kursus bahasa negara ini ya? ".


"b baik nona".


"kenapa nona sih kak? coba panggil Shindy "


Ayu menggeleng-geleng kepalanya sambil menunduk, Shindy pun tak lagi memaksa ia mulai menikmati kesenangannya belanja sana-sini di temani Ayu.


"wah...ini cantik nya jadi oleh-oleh buat Kaisha dan Nova". pekik Shindy dengan senang.


"apa nona tidak beli untuk keperluan nona? ". tanya Ayu.


Shindy tersenyum lebar lalu menarik tangan Ayu ke toko pakaian, betapa terkejutnya Ayu saat Shindy memilih-milih baju tidur yang sangat sexy.


"harap maklum ya kak? aku suka pakaian begini biar suamiku tidak sulit melepaskan pakaianku ". cengir Shindy


pipi Ayu yang merah mendengar nya,,


"nona sangat beruntung memiliki suami seperti tuan muda yang bersih dari berita miring"


Shindy tersenyum lebar.


"tentu saja kak! itu sebabnya aku ingin selalu tampil cantik dimatanya supaya tidak ada ulat keket yang mendekati suami ku.. "


Ayu tertawa mendengarnya.


"ulat keket? "


"iya kak! karna dia sangat terkenal di kalangan wanita sudah pasti banyak wanita yang menggila padanya dengan alasan ranjang jadi aku belajar menguasai peranku untuk menyenangkannya supaya dia tidak melirik perempuan lain"


Ayu tersenyum


"tanpa berusaha pun tuan muda tidak akan berpaling nona"


Shindy tersenyum kecil tapi matanya fokus mencari baju-baju tidur yang sangat cantik dimatanya.


"tidak tau saja kak Ayu kalau menggodanya sangat susah". batin Shindy mengingat perjuangannya demi mendapatkan tubuh sang suami.


"ternyata baju tidur di negara D lebih fantastis ya? "


gumam Shindy dengan takjub


"tapi harga bajunya juga sangat mahal nona"


bisik Ayu


Shindy manggut-manggut.


"apa nona mau tau nominalnya? ". tanya Ayu


Shindy menggeleng-geleng kepalanya.


"nanti aku pingsan tau harganya kak jadi lebih baik belanja aja"


Ayu tertawa mendengar perkataan polos Shindy yang terbilang jujur tapi sangat menggemaskan.


'pantas saja tuan muda jatuh cinta pada nona ternyata beginilah kepribadian anda sangat hangat jadi sangat cocok dengan tuan muda Melviano yang terkenal dingin dan tak tersentuh".


batin Ayu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2