
Dylan membawa Shindy ke ruangannya,
"Mas mau bawa aku kemana? ". tanya Shindy melihat tidak ada lagi pintu di ruangan Dylan.
Dylan diam saja tanpa membalas, Shindy tertegun saat Dylan memiliki ruangan Rahasia dengan semangat ia mengekori suaminya.
Dylan menarik tangan Shindy hingga tiba di sofa memaksa Shindy untuk duduk.
"ini Apartemen ya? ". Gumam Shindy dengan takjub
selama ini Shindy tau kecanggihan teknologi tapi tidak pernah melihat nya secara langsung terlebih lagi yang punya ruangan megah ini Dylan.
"hapus ilermu! ". Dylan menonyor kening Shindy.
Shindy spontan meraba bibirnya hingga Dylan tersenyum lebar merasa puas bisa mengerjai Shindy.
"mas...! ". Shindy merasa di tipu pun hanya merengek supaya dirinya tidak di goda lagi.
"lihatlah pipimu sampai merah gini! seharusnya kau melawan mereka tadi". Omel Dylan
Shindy terkejut mendengarnya.
"tapi aku sudah berusaha melawan mas mereka main keroyok kepala aku sampai berdenyut saat ini karna masih sakit bekas tarikan sekretaris mas".
"gigit saja tangannya dan tendang bagian bawahnya". usul Dylan dengan enteng
Shindy tertawa mendengarnya
"apa yang kau tertawai? apa lucu? ". tanya Dylan dengan datar sambil mengompres kain berisi Es batu di pipi Shindy
"mereka perempuan mas mana mungkin bagian bawahnya aku tendang". kekeh Shindy
Dylan menonyor kening Shindy hingga siempunya hampir mendongak
"apapun alasannya kau harus berani melawan". tegas Dylan
Shindy mengerucutkan bibirnya
"aku di ikuti mas dan sekarang wanita-wanita mu mengeroyokku ". gerutu Shindy pelan
DeG!!
Jantung Dylan berdebar seketika mendengarnya bukan karna Cinta tapi apa musuh sudah mulai tau kebenarannya? begitulah isi fikiran Dylan.
"apa kau baik-baik saja? kau tau siapa yang mengikutimu? ". cecar Dylan memegang kedua bahu shindy
Shindy menggeleng kepalanya menyebutkan nama mobil yang mengikutinya hanya itu saja yang dia tau
"berkat petunjuk jalan mobil mas aku selamat dari kejaran mobil aneh itu tapi kayaknya masih menunggu di depan gerbang ".
jawab Shindy dengan polos tidak berfikir itu bagian dari musuh suaminya.
Dylan segera beranjak dan keluar dari ruangan rahasianya meninggalkan Shindy di kamar rahasianya yang masih terbengong sendiri di tinggal begitu aja.
"mas? mas? ". teriak Shindy lalu menarik nafas panjang melihat pintu ajaib sudah tertutup.
"aduh..
sialan itu bumbu dapur Sasa ! tarikan rambutnya kuat sekali ". gerutu Shindy dengan kesal juga mendinginkan kepalanya dengan batu es yang disiapkan suaminya.
Dylan tiba di luar gerbang dan mendatangi mobil yang berani mengikuti istrinya
tok...tok.. tok...
__ADS_1
kaca di buka menampilkan pria tampan berkaca mata, pria itu keluar dari mobilnya.
"hei..mata biruku?". sapa Branz dengan ramah.
"apa yang kau lakukan? ". tanya Dylan dengan dingin
"aku? aku hanya mencari kelemahanmu? aku ingin dia menjadi penghangat ranjangku". katanya tidak ada malunya.
Dylan masih tenang mendengarnya, ia sudah terlatih mengontrol emosinya.
"kenapa? bukankah kau sudah mendapatkan wanita jal*ng mu sendiri? kau yang membantu mereka sampai begini? tanpa sadar kau menolongku bukan? lumayan juga! "
senyum mengejek Dylan
"fiuuh.. aku salah target... ternyata dia bukan cintamu tapi wanita tadi kan milikmu? " seringai licik Branz
"dia gadisku". Dylan meralat miliknya yang masih gadis bukan wanita.
"dan aku ingin gadismu". senyum merekahnya tak ada rasa takut di matanya.
"aku tidak akan membiarkannya? ". senyum miring Dylan karna ia sudah menyusun rencana sendiri sebelum hari ini tiba.
"aku akan mengikutinya sampai kau lengah hanya saja aku tidak bisa masuk ke kawasan rumahmu itu bisa-bisa aku di gebukin warga disana! kau sangat pintar memilih tempat untuk menyembunyikan gadismu tuan Melviano terhormat".
seringai licik Branz
"sekarang pergilah jika kau masih ingin hidup".
Dylan mengeluarkan senjata apinya dan menodongkannya dikepala Branz
Branz melakukan hal yang sama hanya saja meletakkannya tepat di jantung Dylan.
mereka saling menatap sama-sama dingin.
"jika kau mati mataku bagaimana? ". decak pelan Branz
"ck...! ya sudah lain kali saja aku mencari gadismu".
Branz mengalah karna ia tidak mau mati sebelum memiliki mata Dylan.
Branz kembali masuk ke mobilnya lalu meninggalkan Dylan yang menurunkan senjata apinya.
"terhitung 7 hari lagi kau akan mati dengan sendirinya racun itu akan mencekik jantungmu". gumam Dylan dengan wajah datarnya.
.
.
Shindy di ruangan Dylan memasak ia sampai lupa pekerjaannya karna ruangan Dylan begitu nyaman hingga perutnya mulai keroncongan.
"Shindy? ". panggil Dylan.
"iya mas? ". sahut Shindy segera berlari mendekati Dylan.
"kau sedang apa? ". tanya Dylan
"masak! ayo makan mas ". Shindy meminta Dylan mengikutinya.
Dylan menaikkan sebelah alisnya saat banyak makanan di meja dapur minimalisnya.
"maaf aku memakai kulkasmu tapi perutku sudah kelaparan". keluh Shindy meraba perut datarnya.
Dylan mengangguk tanpa bersuara, Shindy tersenyum lebar yang artinya Dylan tidak marah.
__ADS_1
"bombomku kemana mas? ". tanya Shindy
"Bagus yang bawa sekarang ada di mansion bersama Kaisha". jawab Dylan.
"Kaisha suka sekali sama Bombom ya mas ". senyum lebar Shindy
"hmmm!". dibalas deheman oleh Dylan
"tinggallah di mansion Melviano beberapa hari ". kata Dylan tiba-tiba
Shindy terkejut mendengarnya
" ke kenapa mas? ". tanya Shindy
"bisakah kau patuh padaku tanpa bertanya apa alasannya? "
Shindy terdiam dan akhirnya mengangguk patuh walau masih terasa berat bagi Shindy.
"keluargaku sudah tau pernikahan kita". seru Dylan membuat Shindy tersedak hingga terbatuk-batuk
Dylan hanya memberikan air minum nya ke Shindy hingga di teguk habis oleh Shindy
"mas! ".
"semua baik-baik saja! mereka malah suka mendengarnya" jelas Dylan singkat
Shindy yang duduk tak tenang saat ini, tubuhnya gelisah kesana-kemari memikirkan seluruh keluarga Dylan mengetahui pernikahan dadakannya dengan Dylan yang bisa dikatakan seorang Putra mahkota negara ini yang sangat berkuasa.
"makan!! " titah Dylan dengan penuh penekanan
Shindy terlonjak kaget lalu dengan patuh makan, walau duduknya tidak bisa tenang.
.
.
"berikan kunci mobilmu pada Bagus". perintah Dylan
Shindy memberikan kunci mobilnya ke Dylan dan Dylan melemparnya ke Bagus.
Bagus langsung pamit memasuki mobil Shindy membawa pergi mobil Shindy ke mansion melviano.
"ayo masuk". perintah Dylan
Shindy pun masuk ke mobil Dylan, dalam perjalanan hanya keheningan diantara mereka. Shindy memikirkan keluarga Dylan yang akan menghina nya walau Kaira tidak, bisa saja nenek dan kakek Dylan yang asli mantan Raja dan Ratu menghinanya.
"apa yang kau lamunkan? ".
lamunan Shindy jadi buyar seketika mendengar suara Dylan.
"kita sudah sampai". sambung Dylan lagi
Shindy melebarkan matanya melihat sekeliling ia melamun sampai tidak sadar sudah tiba di mansion Melviano.
"ayo keluar! ". ajak Dylan
Shindy meremas seatbeltnya,,
"aku akan melindungimu"
perkataan Dylan membuat hati Shindy menghangat ia pun mengangguk patuh.
.
__ADS_1
.
.