
selamat pagi....!! Cuzz... Happy Reading...!
"tidak usah berlagak sok paling bahagia disini Hani..! sudah mengaku saja! aku tau kebahagiaan yang paling menyenangkan itu adalah menjadi seorang istri pria kaya raya... ". ketus Aria dengan sombongnya.
Hani menghela nafas panjang. "kau masih belum menyerah mencoba menggoda tuan Melviano? ". tanya Hani dengan sabar.
"tentu saja belum..! aku baru saja kembali dengan wajah yang sudah bersih dan tubuhku yang sudah bagus..! bahkan aku tadi di tonton banyak laki-laki". senyum Aria penuh percaya diri.
Hani kembali mengepel lantai. "tuan melviano bukan penggila tubuh wanita! secantik apapun tubuhmu itu, bagi tuan melviano istrinya lah yang paling cantik dan paling sexy baginya... "
"aku jauh lebih sexy". Aria menyambar
"terserah padamu Aria..! aku sudah memperingatkanmu, kenapa kau begitu keras kepala? percuma kau mencoba merayu tuan itu..! dia sudah beristri, cari saja pria yang lain yang belum menikah.!" saran Hani
"tidak usah mengajariku Hani...! aku akan buktikan padamu bagaimana tuan melirikku nanti". Aria dengan kesal melangkahkan kakinya melewati lantai yang sudah di pel Hani.
Hani menghela nafas panjang melihat Aria malah mengotori tempat yang sudah dia bersihkan.
Aria terus saja menginjak-nginjak kesal tempat itu hingga dirinya hampir terpeleset lantainya masih basah jadi licin.
Hani tersenyum yang artinya menertawai Aria, Aria yang sudah kalah telak pun pergi dari sana dengan wajah yang sudah memerah.
di tempat parkiran.
Aria memasuki mobilnya, Shindy dan Rilly mengintip dari suatu tempat.
"bagaimana Ly? kamu udah mengempeskan semua bannya kan? " tanya Shindy serius
"sudah nona...! semua sudah saya kempeskan, mungkin sudah banyak bocornya mobil nya.. " kikik geli Rilly
"kamu apain? " bisik Shindy.
"saya tembak nona! ". jawab Rilly
"kamu yakin tidak ada yang lihat kan? " tanya Shindy lagi.
"sangat yakin nona". jawab Rilly.
tidak berapa mobil Aria melaju tiba-tiba mobilnya berhenti, Aria turun dari mobilnya dan melihat ke arah ban mobilnya
"apa-apaan ini? ". Aria berlari kecil ke sisi lainnya juga sama.
"Astagah...! Gila... kenapa mobilku bisa begini? bukan 1 tapi 4 sekaligus". Aria memekik kesal melihat ke empat ban mobilnya kandas.
Aria mengedarkan pandangannya mencari sang pelaku.
"apa disini tidak ada CCTV? " . gumamnya melihat ke atas.
Aria membulatkan matanya melihat CCTV nya sudah tertutup dengan permen karet.
"sial....! kenapa aku sangat sial saat ini? siapa yang sedang mencari masalah denganku? ". teriak Aria frustasi.
__ADS_1
Aria mondar-mandir menghubungi seseorang untuk datang menjemput mobilnya, dengan sangat terpaksa Aria menghubungi keluarganya yang sebelumnya tidak tau apa-apa mengenai dirinya sudah terbebas dari Daniel.
.
.
Shindy tersenyum puas melihat Aria yang terlihat makin geram saat keluarganya malah meminta uang dan menyuruhnya menjual mobilnya.
pertengkaran sang ibu dengan Aria terlihat dan terdengar jelas oleh Shindy serta Rilly.
"buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya! ". batin Shindy.
"Oh... ternyata ibunya juga wanita penggoda..! pantas saja anaknya juga penggoda". batin Rilly.
"apa perlu kita pergi saja nona? ". bisik Rilly
"belum Lyli...! aku belum puas melihatnya ". balas Shindy dengan serius.
Rilly menganga lebar, "belum puas melihatnya? " batin Rilly tak percaya.
"aku yang punya mobil ini...! ini milikku... kenapa harus di jual untuk menebus hutang suamimu yang penjud* itu hah? tidak akan...! ". tolak Aria dengan marah.
ia menyesal telah menghubungi keluarganya bukannya membantunya malah membuatnya makin sakit kepala saja dengan permintaan konyolnya menjual mobilnya.
"Aria... ibu mohon... ayahmu sangat butuh uang". ibu Nadia berusaha membujuk Aria.
Aria mendorong kasar tangan ibunya.
"ayahku? Cihh... demi uang dia menjualku ke Daniel dan sekarang dia meminta uang padaku? haha.. lucu sekali.... "
"ARIA...! dia Ayahmu! ". bentak sang Ibu
"dia bukan Ayahku...! dia cuma tempat pelampiasan ibu supaya aku punya ayah". sinis Aria
sang ibu melototkan matanya hendak menampar Aria tapi Aria menepisnya.
"aku akan buktikan padamu kalau aku jauh lebih baik darimu..". Aria berkata sambil mendorong tubuh ibunya hingga terduduk tak elit.
"ARIA....! ". teriak sang Ibu.
Aria membawa Mobilnya dengan pelan, si Ibu juga bangkit menurunkan egonya meminta pada sang anak untuk memberikan mobilnya.
Shindy yang melihat adegan itu tersenyum puas. "itu adalah sebuah peringatan dariku Aria...! coba saja kau mencari masalah denganku ! kau fikir aku tidak bisa melawanmu? jangan mengira aku lemah". batinnya dengan wajah datarnya.
"mari nona..! " ajak Rilly.
Shindy mengikuti Rilly yang tengah merangkul lengan dan pinggangnya membawanya masuk ke dalam mobil.
"nona tunggu sebentar...! saya akan kembali menjemput semua barang-barang nona". Rilly mengambil kuncinya dan mengunci Shindy dari luar lalu segera ia berlari memasuki mol lagi.
Shindy menyandarkan tubuhnya ke kursi sandaran mobilnya, sudah bukan hal yang aneh lagi kalau Rilly menguncinya dari luar.
__ADS_1
Rilly tau nonanya tidak bisa diam, Rilly hanya memastikan nonanya tidak keluar, itu saja.
"aku apakan ya calon pelakor itu? ". gumam Shindy tampak berpikir
"hmmm? apa ya biar dia jerah... ". sambungnya lagi sambil berpikir keras.
"aku tangkap basah aja dia suatu saat dan aku akan mencekiknya di tempat sepi". seringai Shindy meremas kedua jemari tangannya.
.
Rilly kembali ke mobil Shindy.
"maaf nona...! saya cukup lama". Rilly memasukkan semua belanjaan Shindy ke bangku belakang.
Rilly melihat Shindy yang tampak sedang berpikirpun tersenyum.
Rilly duduk di samping Shindy, memasangkan seatbelt ke tubuh nonanya lalu memasang untuk dirinya sendiri dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
"Lyli...? " panggil Shindy
"iya nona". jawab Rilly sesekali menoleh ke Shindy.
"kita ke perusahaan Mattgroup aja". pinta Shindy
Rilly terdiam sesaat lalu mengangguk patuh kemudian..
setibanya di Perusahaan Mattgroup, para karyawan hanya menunduk hormat pada Shindy lalu kembali beraktifitas kalau sampai mereka memperlakukan Shindy dengan begitu hormat Shindy akan marah dan mengomeli siapapun itu.
Shindy di persilahkan masuk ke Lift khusus dan naik ke lantai teratas.
"Nona.. hati -hati tidak perlu berlari nona". Rilly memperingati sambil menahan lengan Shindy
"maaf.. ".Shindy pun terpaksa berjalan pelan mengikuti kemauan Rilly.
Shindy memasuki ruangan Dylan tanpa mengetuk pintu dan ternyata suaminya sedang memejamkan mata di kursi kebesarannya.
"aku sedang lelah..! sana pergi". usir Dylan dengan mata terpejam
Dylan langsung membuka matanya saat ada orang yang berani duduk di pangkuannya tapi melihat pelakunya Dylan terkejut.
"sayang? ". Dylan menangkup pipi Shindy dan memperhatikan dirinya tidak salah lihat
"mas...? mas yakin mengusirku? ". Shindy melingkarkan tangannya di leher Dylan.
"tidak sayang...! aku tadi fikir hanya orang tidak penting" elak Dylan
Shindy menautkan alisnya lalu merubah cara duduknya hingga menjadi lebih int*m dengan sang suami.
Dylan mengerutkan keningnya melihat tingkah sang istri.
.
__ADS_1
.
.