Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
umpan (part. 1)


__ADS_3

2 minggu berlalu..


Keluarga Melviano dalam keadaan aman dari musuh tersembunyi, mereka malah di pusingkan dengan ngidamnya Shindy yang suka kabur-kaburan.


terkadang Shindy terlelap di kandang Kuda tempat Max tinggal, dan terkadang Shindy tengah makan berdua dengan Black. walau kabur Shindy tidak keluar pagar Melviano tapi tetap saja membuat satu keluarga melviano pusing 7 keliling mencarinya.


"kemana lagi Shindy sayang? " tanya Kaira yang sudah mulai pening di rangkul oleh Pasha.


"ngga tau mom.. tadi dia bilang ke kandang Max tapi Dylan udah kebelakang, Shindy ngga ada mom" Dylan sudah mondar-mandir khawatir.


Nova dan Kaisa saling pandang, mereka juga tidak tau dimana Shindy.


"apa kak Dylan pasangin alat pelacak di tubuh kak Shindy? " tanya Keyzo


Dylan teringat sesuatu. "iya.. cincin pernikahan kami".


1 minggu yang lalu Dylan meminjam cincin Shindy untuk kepentingannya, dan Shindy tidak curiga langsung memberikan cincinnya pada Dylan, tentu Dylan mengambil kesempatan itu untuk memasang alat pelacak di batu permata cincin Shindy.


"ya udah.. ayo ke kamar Nova". ajak Nova


Candra pergi keluar Negri untuk urusan bisnis, awalnya Candra ingin membawa sang istri tapi Nova menolak, ia tidak mau menyusahkan suaminya yang sedang bekerja sementara Nova pasti akan merengek minta buatkan makanan ditengah kesibukan suaminya.


menurut Nova dari pada menyusahkan Candra yang sedang ada urusan bisnis lebih baik Nova tetap di mansion bersama Max si kuda putih kesayangannya. tak bisa memaksa Candra terpaksa pergi sendiri mewakili papanya yang masih sibuk di negara M.


.


.


Nova mencari titik temu alat pelacak yang melekat di tubuh Shindy alias di jari manisnya


"ini kak! ". tunjuk Nova ke titik merah yang menjadi letak keberadaan Shindy.


"kenapa bisa sejauh ini? " tanya Dylan terbelalak kaget.


"sepertinya kak Shindy dibawa seseorang kak". celutuk Keyzo dapat pukulan dari Kaisha.


"ssst...sembarangan aja kalau ngomong". Mely menepuk pipi Keyzo


Matt menggeleng kepalanya dengan pelan, Pasha dan Dylan terlihat serius melihat layar komputer.


"Dylan datangi tempat ini Daddy..kakak mohon kamu dek, jaga kordinat Shindy". Dylan mengusap kepala Nova dibalas anggukan mantap oleh Nova.


"Kamu ikuti kakakmu sayang". pinta Kaira ke Keyzo


Keyzo pun mengiyakan, bagaimana pun nakalnya Keyzo kalau udah di perintah oleh Kaira pasti akan nurut.

__ADS_1


"sebenarnya siapa yang berani bawa kakak ipar ya?". gumam Kaisha pelan


"kakak ipar bukan perempuan bodoh pasti ada sesuatu yang membuatnya tak punya pilihan selain harus ikut dengan mereka". timpal Nova


"ya ampun... kenapa Shindy selalu aja dalam bahaya". gumam Kaira dengan khawatir.


"sabar sayang... aku yakin Shindy akan baik-baik aja! dia seorang ibu yang tangguh dan pintar bersiasat saat sedang hamil, buktinya kita selalu kecolongan saat dia berhasil kabur hingga kita semua kecarian dirinya" Pasha menjelaskan


"iya sayang...! kamu harus mengerti Dylan kita seorang abdi negara sudah pasti banyak musuh yang mengincar istri dan anaknya, belum lagi mereka tidak mau Dylan punya keturunan luar biasa seperti halnya Dylan yang sangat hebat, saat ini kita hanya butuh doa demi Shindy dan calon bayinya. ". Mely


"Kaira ngga butuh cucu super hebat mah... Kaira cuma mau mereka bahagia dan tidak ada musuh yang mengincar mereka lagi! kasihan Shindy mah". Kaira memeluk Mely


Mely mengusap punggung Kaira, Pasha memijit pangkal hidungnya memikirkan musuh yang baru muncul lagi setelah 2 minggu lamanya mereka dalam keadaan aman-aman aja dari musuh, saingan dan lainnya.


.


.


di tempat lain.


Shindy mau cari makanan dengan naik ojek di sebrang mansion Melviano, tapi malah melihat seorang anak kecil yang terus saja menangis hingga Shindy menyuruh ojek itu pergi setelah memberi ojek itu uang.


"kenapa dek? " tanya Shindy kasihan dengan kondisi adik kecil itu.


"tolong apa dek? " tanya Shindy yang benar-benar tidak tega melihat anak kecil terlantar, apalagi penampilan bocah itu terlihat tidak terurus.


"papa aku sakit kak! sakit keras.. ". isak tangis anak kecil itu.


"kalau begitu kakak hubungi polisi ya? " bujuk Shindy hendak menelfon tapi ponselnya tinggal namun perkataan Gadis kecil itu membuat Shindy membeku.


"tidak.. kak.. jangan hubungi polisi..! saya pernah mencuri makanan dan pemilik roti bilang kalau aku akan di jebloskan ke penjara gelap dan menakutkan.. Viola takut... " isak tangis gadis kecil itu bernama viola


Shindy jadi bimbang,


"kalau begitu hubungi dokter aja ya? " saran Shindy


tapi lagi-lagi Viola menggeleng kuat kepalanya. hingga kening Shindy mengkerut.


"terus bagaimana? hubungi polisi ngga boleh, hubungi dokter juga ngga boleh.. mau mu apa? " tanya Shindy mulai curiga


Viola menangis tersedu-sedu, ia segera berlari meninggalkan Shindy, Shindy jadi tidak tega karna mencurigai Viola yang hanya seorang anak kecil.


Shindy mengikuti Viola hingga masuk ke semak belukar di belakang rumah yang cukup jauh.


"dek...? apa rumahmu dibalik semak-semak? " tanya Shindy berteriak

__ADS_1


Viola kecil terus saja menangis menerobos ilalang-ilalang yang menggores tangan kecilnya, ia seperti tidak mendengar panggilan Shindy.


Shindy terperanjat saat di balik semak-semak ada 10 preman berbadan besar tengah menertawai Shindy.


"waah... bagus Viola.. umpanmu benar-benar menarik saat ini". ucap ketua preman dengan bangga


Shindy melihat Viola yang polos masih berusaha tersenyum tapi matanya menunjukkan kesedihan, tidak ada rasa senang dimatanya itu.


"apa yang kalian lakukan pada anak kecil itu? " tanya Shindy berkacak pinggang.


semua orang menertawai Shindy.


"waah... Ketua... ini istrinya tuan muda melviano ketua..! " pekik salah satu dari preman yang sempat melihat berita Shindy


"benarkah? " tanya yang lainnya takjub.


"woww.. sepertinya Viola kau harus diberi 1 mangkuk nasi putih nanti.. kau berhasil membawa wanita berkelas.. ". teriak si Ketua dengan bangga.


Viola mengucapkan terimakasih, lalu segera meninggalkan tempat itu karna tugasnya hanya memancing umpan untuk di dapatkan oleh 10 preman jahat itu.


Shindy terlihat tidak takut sama sekali, matanya malah menatap tajam ke-10 pria berbadan besar yang tengah menatapnya lapar.


"dasar pria mata keranjang! ciuhh... kalian tidak pantas hidup. ". Shindy meludah dan menatap jijik mereka semua.


si Ketua tersulut emosi. "apa yang bisa dilakukan seorang wanita milik tuan Melviano hah? kau akan berada dibawa kungkunganku".


Shindy lagi-lagi meludah ke wajah ketua preman itu. "tidak akan aku biarkan kau menyentuh sehelai rambutku yang hanya milik suamiku... "


"ketua..! ". pekik Ke-9 anak buahnya terkejut ketuanya di ludahi Shindy, terutama di wajah bringas ketuanya


"kau berani meludahiku? " si Ketua dengan geram berkata sambil mengelap wajahnya yang terkena ludah Shindy.


"kenapa? kau mau meludahi wajahku juga? " tantang Shindy


"kurang ajar ini wanita ketua.. biar kita perkos* massal Ketua, dan sebarkan ke sosmed kalau wanita milik Melviano seorang jal*ng ! hahahaha.. ". tawa menggema salah satu preman


Shindy tersenyum sinis lalu mengambil sebuah batu tumpul di dekatnya lalu melemparnya sekuat tenaga ke pria itu hingga jatuh pingsan dengan luka yang sangat serius di hidung nya terkena batu tumpul lemparan Shindy.


"tawamu jelek sekali". ketus Shindy menepuk kedua tangannya dengan santai..


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2