
.
.
Shindy pergi ke perusahaan Dylan dengan wajah murung.
"maaf anda siapa? tidak boleh masuk ke perusahaan ini tanpa tanda pengenal".
Satpam menghadang jalan Shindy
Shindy terkejut.
"aah.. iya".
Shindy membuka topeng wajahnya hingga kedua satpam gemetar ketakutan.
"m maafkan kami nyonya". ucap kedua satpam dengan tubuh gemetar takut di pecat karna mereka berbicara kasar tadinya.
"iya tidak apa..! boleh masuk kan? ". tanya Shindy dengan lemas
"bo boleh nyonya.. silahkan". satpam A membuka gerbang selebar-lebarnya untuk Shindy masuk.
"terimakasih". ucap shindy berjalan lesu.
satpam A dan Satpam B saling pandang kebingungan.
"apa Nyonya dalam masalah? "
"sepertinya ada sesuatu yang membuat suasana hatinya jadi lemas begitu semoga bukan hal buruk ya".
"iya aku berharap begitu juga! hampir aja aku kehilangan pekerjaan karna menyinggung nyonya Melviano"
"sudah ayo kita tutup cepat".
.
.
tidak ada yang menghadang Shindy malah karyawan mattgroup memberi hormat pada Shindy seperti mereka semua menghormati Dylan.
sementara Shindy masih lesu memasuki Lift, sekretaris baru Dylan mengatur setiap tamu yang masuk ke ruangan Dylan memberi hormat pada Shindy.
Shindy yang terlihat lemas dan lesu membuat heboh karyawan mattgroup mereka mengira ada seseorang yang menyinggung Shindy jadi sekarang mereka berpikir Shindy hendak mengadu pada Dylan.
"mas? "
Dylan mendongakkan pandangannya yang tadinya tertunduk baca berkas penting.
"Kenapa Ndy? ". Dylan melihat gelagat aneh Shindy
Dylan langsung berdiri menghampiri Shindy yang terlihat lesu dan tidak bersemangat.
"hei.. kenapa sayang? " tanya Dylan dengan lembut menangkup kedua pipi Shindy.
"mas! lepasin Alexa mas.. ". pinta Shindy tiba-tiba
"kamu mengasihaninya? kan aku udah bilang jangan terpengaruh kamu udah berjanji padaku tadi malam sayang".
"bukan mas! jika hanya Alexa, paman dan bibi saja yang menderita aku pasti terima mas dan tidak akan ikut campur malah tidak akan peduli. tapi aku ngga terima kalau ada yang tidak bersalah terkena imbas balas dendamku mas "
"maksud kamu apa sayang? ". tanya Dylan tidak mengerti penjelasan Shindy yang mutar-mutar.
"Alexa hamil mas ". jawab Shindy lemas
Dylan tertegun mendengarnya.
"kamu mengampuninya karna dia hamil? "
"mas! aku wanita mas jika Alexa yang kelaparan dan kurang gizi aku masih bisa diam mas tapi kalau bayinya yang kurang nutrisi apalagi sampai meninggal karna gizi buruk nantinya aku bisa berdosa besar mas! bayi Alexa tidak bersalah kenapa dia harus terkena imbas hukuman kita? "
Shindy memegang tangan Dylan dan meletakkannya di perutnya
"saat aku terbuang aku pernah tidak makan mas dan aku tidak mempermasalahkan kesehatan tubuhku tapi bagaimana jika saat itu aku hamil mas? "
"aku tidak sanggup melihat bayi Alexa akan sakit-sakitan kedepannya mas karna saat didalam kandungan dia tidak diberi nutrisi yang baik oleh Alexa".
Dylan tersenyum lembut lalu mengecup kening Shindy lama.
__ADS_1
"aku beruntung memiliki istri yang bijaksana sepertimu sayang".
ujar Dylan memeluk Shindy dengan mesra
"jadi mas mendengarkan permintaanku? mas akan membantu Alexa? iya mas? " tanya Shindy melingkarkan tangannya di pinggang Dylan
"sesuai permintaan permaisuriku".
Shindy tertawa senang melepaskan pelukannya dari Dylan, mereka saling bersitatap mesra.
"makasih ya mas ! aku jadi jauh lebih baik".
Dylan tersenyum
"lain kali tidak ada ucapan terimakasih"
"lalu aku harus bagaimana mas? " tanya Shindy kebingungan.
"bayar dengan tubuhmu". bisik Dylan
Shindy menebarkan senyum manisnya.
"siap suamiku sekarang juga boleh".
Shindy melompat naik ke tubuh Dylan,
Dylan membawa istrinya ke ruangan rahasianya bahkan Dylan melupakan pekerjaannya.
.
.
Dylan sudah membersihkan diri dan berganti baju.
Dylan mengecup sayang kening Shindy lalu mencium gemas bahu Shindy yang terbuka.
"aku akan kembali bekerja kamu harus istirahat sayang sampai jam pulangku tiba".
Shindy terlelap dengan wajah polosnya.
Dylan seperti dapat tenaga ekstra, ia melanjutkan pekerjaannya sambil bersiul pelan.
"tuan saya sudah mengirim Tuan Willy ke pulau H dan saya sudah memastikan tuan Willy akan jadi budak di pulau itu dan tidak akan bisa kembali".
"hmm... lalu apa lagi? ".
"keluarga Sarah dan Salsa sepertinya sudah berhasil melepaskan mereka tuan muda".
"hmm... beri mereka ancaman untuk tidak berani balas dendam kalau mereka melakukannya beri tau ganjarannya"
tutur Dylan dengan tenang
"maksud anda memberi peringatan untuk keluarga mereka? (Dylan mengangguk) bagaimana jika mereka menolak tuan muda? "
"apa lagi? hancurkan mereka sesuai dengan ancaman yang ku katakan! seorang Dylan mahardika Melviano tidak pernah main-main dengan perkataannya".
Bagus mengerti jadinya.
"dan satu lagi beri Alexa bantuan berupa makanan sehat, vitamin yang terbaik untuknya"
"hah? Alexa yang mana tuan? " tanya Bagus
"sepupu istriku namanya siapa? ". tanya Dylan dengan datar.
"Alexa "
"terus kenapa nanya? ". wajah datar Dylan lagi
"Eh...? jadi Alexa itu tuan? tapi dia masih dalam masa hukuman anda lalu kenapa dibantu? " cecar Bagus.
"banyak tanya lagi! dia lagi hamil dan istriku memohon meringankan hukumannya jangan sampai bayinya sakit-sakitan saat lahir"
"oh... begitu ya? pantas saja!"
"baik tuan saya permisi"
"kau mau kemana? ". tanya Dylan
__ADS_1
"mau keluar tuan ". Bagus menunjuk pintu keluar ruangannya.
"apa aku menyuruhmu keluar? ". Dylan
"tidak". Bagus menggeleng kepalanya.
"artinya? " Dylan
"tetap disini". Bagus menahan kesal.
"hm... kau lepaskan saja netizen yang sedang di penjara massal dan katakan pada mereka semua kalau mereka bebas karna kebaikan istriku beri ancaman pada mereka kalau berani berkomentar jelek lagi"
"baik tuan". jawab Bagus
"bagaimana dengan mantan karyawan yang bernama Mimi tuan? ".
tanya Bagus
"apa lagi biarkan saja dia lepas biar jadi gelandangan". jawab Dylan dengan enteng.
Bagus keluar dari ruangan Dylan saat tuan mudanya sudah mengusirnya.
"sepertinya aku butuh asisten". gerutu Bagus
sore harinya Dylan sudah menyelesaikan pekerjaannya lalu masuk ke ruangan rahasianya mencari Shindy
"Ndy? "
"iya mas!" Shindy keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"kamu menggodaku ya? ". tanya Dylan dengan senyum tampannya.
"hehehe.. udah tergoda belum? ". goda Shindy tersenyum usil.
"udah! mau dilanjutkan? ". Dylan mendekati Shindy hingga jarak wajah mereka hanya beberapa CM saja.
"di pending dulu mas! nanti di kamar aja aku kasih plus plus deh". senyum manis Shindy mengusap lembut dada bidang suaminya.
"okeh.. proposal diterima".
Shindy mencubit perut keras Dylan yang sangat usil menggodanya.
"aku sudah menjalankan perintahmu istriku beri aku hadiah yang setimpal "
Dylan menunduk menatap bola mata Shindy yang terlihat lucu dan menggemaskan
"perintah yang mana? "
"sepupumu itu". jawab Dylan malas
"aah.. iya.. mas langsung jalanin? ". tanya shindy tak percaya
Dylan mengangguk sebagai jawaban dirinya tidak berbohong
"ye.... baiklah mas.. nanti aku kasih plus plus nya 10 kali deh". senyum nakal Shindy
"kurang".
"oke.. oke.. 20 plus plus deh boleh nego makin tinggi jangan makin kurang". cengir Shindy
Dylan tergelak langsung mencubit kedua pipi istri mesumnya itu.
.
.
Manisss tapi bukan gula..
wkwkwkwk.. mengandung gula jangan sampai diabetes...
Esok lagi yaa...
jangan lupa Like, komentar baik nya ya? maaf tidak bisa balas tapi Othor sempat baca kok...
terimakasih...
.
__ADS_1
.
.