Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
omelan sayang


__ADS_3

.


.


"mas? " rengek Shindy memutar kepalanya ke arah Dylan.


"hmm? " saut Dylan membelai kepala Shindy yang masih bersampo.


Dylan terkejut saat Shindy tiba-tiba menyambar bibirnya sambil melepaskan celananya.


"apa lagi ini? aku di perko*a oleh istriku sendiri? " batin Dylan malah menikmati permainan sang istri.


drama percinta*n keduanya membahana di kamar mandi apalagi Dylan makin menggila saat Shindy bergerak cepat, bahkan sudah pelepasan pun Dylan lah yang kembali melakukan hubungan itu hingga Shindy menjerit-jerit dibawahnya.


.


Dylan menciumi perut buncit istrinya, Shindy yang sedang terengah-engah tersenyum mengusap rambut Dylan dengan lembut yang tengah menciumi anak mereka.


"jangan nakal nak!! papi mohon jangan menyusahkan mami kalian ya? apa kalian tidak kasihan sama mami kalian hmm? kalian sudah besar disana berat badan kalian juga bertambah... kasihan kaki mami kalian membawa kalian kemana-mana? "..


Shindy tertawa cekikikan mendengar perkataan suaminya yang tengah mengajak anaknya berbicara.


Dylan tersenyum lebar saat perut Shindy menonjol-nonjol meresponnya,


Shindy sudah biasa dengan hal itu, setiap Dylan mengajak anaknya berbicara pasti anaknya akan merespon Dylan, apalagi tadi siang saat perutnya menendang-nendang Shindy seperti tau kalau anaknya tengah menunjukkan papi mereka ada sekitar mereka.


"anak-anak kita sangat pintar mas..! " seru Shindy dengan senang.


"hmm...! ". jawab Dylan mengakui.


"apa kamu ngga dingin sayang? " tanya Dylan


Shindy mengangguk, Dylan membantu istrinya berdiri dan tergelak melihat tubuh polos istrinya yang sangat sexy dimatanya


Shindy mengerucutkan bibirnya, sudah tau apa yang di tertawai suaminya.


"mas..? " rengeknya memelas.


Dylan mengangguk-ngangguk tapi masih berusaha menahan tawanya sambil menoel-noel benda kenyal milik Shindy.


"isssh" Shindy mengambil tangan Dylan dan meletakkan tangan Dylan di dadanya hingga tawa Dylan makin menggelegar.


"istri mesumku.. hmm? " gemas Dylan memeluk Shindy sebisanya sambil menciumi kening Shindy menghadiahkannya kecupan sayang berkali-kali.


.


tak terasa hari sudah pagi, Keyzo tertidur di sofa beruntung ada selimut disana.


Rilly bangun pagi membuatkan sarapan untuk Dylan, Shindy dan Keyzo.


"Kak? siapa? apa Kak Lyli? " tanya Keyzo mengucek-ngucek matanya dengan suara khasnya.


"iya tuan.. saya". jawab Rilly

__ADS_1


Keyzo menguap lebar lalu mengedarkan pandangannya


"apa kakak dan kakak ipar udah bangun Kak? ". tanya nya lagi


"belum tuan". jawab Rilly


"kakak ngapain? " tanya Keyzo


"memasak buat sarapan kita tuan" jawabnya lagi


"ohh.. begitu ya? . ". Keyzo mengangguk-ngangguk sambil berjalan sempoyongan ke arah kamar tamu dimana letak kamar yang kosong di beritau oleh Dylan tadi malam.


Keyzo malah ketiduran di sofa bukan di kamar itu,


sedangkan Dylan dan Shindy sudah selesai membersihkan diri,


"nanti kita ke dokter". ujar Dylan tiba-tiba mengusap perut Shindy


"ini pakaianmu kok ketat sayang? " tanya Dylan melihat baju yang dipakai Shindy terlihat sempit.


"ini kan baju bulan yang lalu mas.. sekarang perut aku makin besar jadi wajar ngga muat" jawab Shindy mengusap-ngusap perutnya


Dylan menghela nafas panjang. "kamu tunggu disini ya sayang? aku akan keluar carikan baju besar yang nyaman untukmu"


Shindy mengangguk-ngangguk


Dylan membawa istrinya keluar kamar masuk lift dan berjalan ke arah sofa tapi istrinya malah berbelok arah ke dapur mencium aroma makanan.


"sepertinya Lylimu". jawab Dylan terpaksa mengikuti Shindy ke dapur.


"pagi Lyli!! " sapa Shindy


Rilly yang sudah mematikan kompor pun menoleh ke Shindy


"Nona.. maafkan saya..! ". lirih Rilly menundukkan pandangan.


Shindy sontak saja melihat ke Dylan, Dylan menggeleng-geleng kepalanya seperti memberi tau dirinya tidak melakukan apa-apa ke Rilly.


"maaf buat apa Ly? " tanya Shindy mendekat dan menangkup pipi Rilly.


"aku akan keluar sayang! " izin Dylan yang merasa Rilly dan Shindy butuh waktu.


Shindy mengangguk ke arah Dylan lalu kembali menatap Rilly


.


"aku sengaja ikut dengan mereka! bukan karna kamu Lyli... aku yang minta maaf membuatmu begini". Shindy melihat ke lutut, siku, tangan Rilly yang lecet


"tidak apa Nona.. ini tidak ada apa-apanya dibanding saya yang tidak berguna melindungi anda... saya pengawal anda tapi saat gelap anda lah yang melindungi saya... maafkan saya Nona".


Shindy tertawa membenarkan perkataan Rilly. "tapi aku tidak pernah menganggapmu pengawalku Lyli.. "


Rilly melihat mata Shindy.

__ADS_1


"aku menganggapmu temanku.. teman yang menemaniku kemanapun aku pergi... disaat aku bosan mas Dylan bekerja dan ada urusan diluar, kamu selalu ada melindungiku.. apalagi kamu menangis tidak mengizinkan aku manjat dan main hal ekstrim... "


"aku tau semua yang aku lakukan salah tapi aku tidak bisa mencegah diriku sendiri untuk tidak melakukannya... "


Rilly berkaca-kaca mendengarnya lalu tanpa segan ia memeluk Shindy yang tengah hamil besar,


"s saya juga tidak punya siapa-siapa selain anda nona". Rilly berkata sambil menangis haru dipelukan Shindy


Shindy tersenyum lembut mengelus-ngelus punggung Rilly.


bunyi perut Shindy membuyarkan adegan haru mereka hingga Rilly segera melepaskan pelukannya, mereka pun saling tertawa melihat perut Shindy yang keroncongan.


"mari duduk nona". ajak Rilly


setelah memastikan Shindy duduk, Rilly segera menyiapkan sarapan untuk sang Nona yang sudah tak sabar di meja makan minimalis di dapur.


Dylan pergi ke Toko baju terdekat dan membeli baju daster yang ukuran jumbo untuk Shindy,


Dylan melihat ke arah TV dimana menyiarkan berita kematian misterius lagi di gedung tua tempat shindy di kurung.


beberapa penjaga yang masih hidup pasti melarikan diri tidak mau masuk TV karna mereka hanya penjahat, yang ada informasi pribadi mereka akan di cari tau oleh wartawan yang tak pernah kehabisan bertanya terus menerus.


"menyedihkan sekali kematianmu..! salahmu sendiri yang berani kembali masuk ke kandang singa..! aku senang kau mati ditangan istri dan anakku". batin Dylan tersenyum miring melihat jasad Jenny yang disensor oleh pihak pemberitaan TV.


Dylan menoleh ke kasir yang memberi tau nominal belanjanya.


Dylan tak sengaja melihat sendal rumah nan imut bermotif kelinci, ia teringat Shindy yang pernah menyebut kelinci saat mereka menonton TV bersama.


"ambilkan itu". perintah Dylan menunjuk sendal berbulu nan cantik itu.


Dylan kembali ke mobilnya dan dapat panggilan masuk dari Mommy


"Halo mom? " sapa Dylan


"akhirnya dijawab juga... kamu dimana sayang? dimana Shindy? apa kamu ngga tau dia sedang hamil besar.. kamu bawa kemana menantu mommy? " omel Mommy Kaira


"maaf Mom.. kami ada di rumah Dylan mom.. udah lama ngga kesini jadi nginap sehari aja, nanti bakal kembali lagi kok... mommy jangan khawatir ya? Shindy baik-baik aja". bujuk Dylan


Dylan diam mendengarkan omelan panjang sang mommy.


"ya sudah... kalian cepatlah kembali.. kasihan menantu mommy yang sedang hamil besar..jangan dibawa kemana-mana lagi". pasrah Kaira yang sudah jauh lebih tenang.


"siap mommy". jawab Dylan tersenyum kecil


Kaira mematikan panggilannya lalu Dylan menarik nafas dalam dan terkekeh dengan omelan sayang mommynya.


menurut Dylan ia lebih suka kena omel Mommy Kaira dari pada melihat Mommynya sedih karna tau keadaan mereka yang sebenarnya, begitulah cara Dylan dan adik-adiknya menjaga perasaan Kaira.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2