Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
balasan untuk netizen


__ADS_3

.


ke esokan paginya Dylan bersiap-siap.


"kamu bisa memakai gaun apa saja yang ada dilemari ini". Dylan membuka lemari pakaiannya.


Shindy terperangah


"jadi lemari ini isinya milikku semua mas? ".


Dylan mengangguk.


"disitu tempat gantimu disana High heelsmu . ".


Shindy melihat arah tunjuk Dylan dan tersenyum manis.


"mas ini bandrolnya ngga wajar mas". Shindy melihat semua bandrol pakaian yang tersusun rapi dilemarinya.


Dylan mengabaikannya.


"pakai saja lalu kita berangkat aku beri waktu 3 menit".


Shindy terperanjat, ia terpaksa mengambil asal gaun nya lalu berlari tak sabar ke ruangan ganti,


"dasar tuan salju! kenapa perempuan berpakaian dibatasi 3 menit? bahkan dia berpakaian saja tidak cukup 3 menit".


Shindy keluar dari ruangan ganti dengan memegang baju belakangnya.


"lumayan juga! ayo kita berangkat". ajak Dylan


"mas? ".


"apa lagi? ". tanya Dylan


"resleting gaun ku pasangin! ". rengeknya


Dylan melebarkan matanya lalu memasang wajah datarnya.


"kenapa aku? "


"mas cepetan pasangin".


Shindy menyibakkan rambutnya lalu memunggungi Dylan.


Dylan menelan ludah melihat punggung mulus Shindy tanpa berkedip, dengan cepat ia menarik resleting gaun Shindy.


"udah tergoda belum mas? ". tanya Shindy


"belum". jawab Dylan dengan ketus lalu meninggalkan Shindy yang mengusap tengkuknya yang tak gatal.


"sepertinya aku coba cara lain deh! mas salju ku itu sangat susah di goda". Shindy berlari kecil menyusul Dylan.


Shindy bahkan tidak bermake up rambutnya yang bergelombang hanya disisir dengan jari saja.


"mas? tungguin aku dong! masa aku pakai heels setinggi jerapah di tinggalin sih". gerutu Shindy dengan kesal berlari keluar dari lift.


sementara para pelayan dan Kaira, Mely yang ada di ruang tamu mendengarnya tertawa cekikikan.


"jerapah? ". bisik-bisik mereka semua cekikikan


Dylan terus saja berjalan.


Shindy yang tiba-tiba dapat ide langsung pura-pura keseleo.


"aakh... mas". pekik Shindy


Dylan menghentikan langkahnya lalu memutar badannya terpaksa kembali mendekati Shindy, para pelayan yang tadinya mencoba membantu Shindy segera menjauh.

__ADS_1


Kaira dan Mely mendekati Shindy demi memastikan Shindy tidak apa-apa. Kaira dan Mely terkejut saat Shindy mengedipkan mata nya sebelah, mereka jadi mengerti Shindy sedang mengecoh Dylan.


"siapa suruh pakai lari segala". Dylan berjongkok memegang kaki Shindy


Shindy memegang bahu Dylan sebab tubuhnya sedikit sempoyongan.


"mas sih yang jalannya kayak ngga pake kaki". cerocos Shindy


Kaira tertawa begitu juga Mely yang menahan tawanya,


"lalu aku jalan pakai apa kalau ngga pakai kaki hah kamu fikir aku hantu? ".


Dylan menatap tajam istrinya itu.


"habis jalannya cepat sekali! katanya pergi sama tapi aku ditinggal dan juga disuruh pakai beginian? ". mulut Shindy tiada henti mengomel


Dylan memijit pelipisnya.


"bawel banget sih".


Shindy merentangkan tangannya sambil mengangkat kakinya sebelah dengan alasan keseleo .


Dylan menghela nafas panjang terpaksa ia menggendong Shindy yang langsung melingkarkan tangannya di leher kokoh suaminya.


"mommy, Granma kami berangkat ". pamit Shindy yang di gendong Dylan


Kaira dan Mely melambaikan tangannya dengan senyum lucu mereka.


"kalau begini Dylan akan cepat jatuh cinta nih Shindy udah berani mengerjai suaminya". kekeh Kaira


"Shindy hanya berusaha membuat suaminya mencintainya itu saja dengan mencari perhatian kecil ". timpal Mely


mereka berdua bergosip sampai ke sofa ruang tamu,


.


.


"pake nanya lagi! kamu kan bisa baca Ndy ngapain pake ditanya lagi? jangan bawel dan jangan berbuat aneh kayak tadi ingat".


Shindy menebarkan senyum manisnya.


"mas jangan galak-galak dong".


"cepat turun".


Shindy mengangguk merapikan pakaiannya, Dylan keluar terlebih dahulu sudah ada wartawan yang berebut memotret Dylan.


Dylan membuka pintu mobilnya dan kaki jenjang Shindy keluar terlebih dahulu ia keluar dengan anggun.


Shindy menyibakkan rambutnya kebelakang hingga tulang kecantikannya di bagian leher terlihat jelas (leher tulang selangka).


Shindy berjalan berdampingan dengan Dylan, ia harus bisa percaya diri supaya Dylan tidak malu karna menikahi gadis sepertinya.


"nona bisa diwawancarai sebentar? "


"bisa minta waktunya sebentar nona?"


"sejak kapan kalian menikah nona? "


"nona kapan pertemuan pertama anda dengan tuan Melviano nona? "


"bisakah anda meluangkan waktu untuk kami bertanya nona? ".


banyak reporter yang sudah menyemburkan pertanyaan ke Shindy yang dibalas senyuman ramah dan tangkupan sopan tangannya seperti memberi isyarat tidak bisa menjawab pertanyaan mereka semua.


para polisi berbagai pangkat menyambut Dylan dan Shindy,

__ADS_1


"bawa kami kesana". perintah Dylan


"baik tuan muda".


Dylan dan Shindy dibawa ke ruangan terbuka betapa terkejutnya Shindy melihat pemandangan didepannya.


"mas ini? ".


"mereka adalah orang-orang yang mengomentari tajam dirimu Ndy" Dylan mengusap kepala Shindy dengan senyum tipisnya


"Nona MAAFKAN kami!! ". ucap ribuan orang dari berbagai daerah serentak


Shindy membuka rahangnya melihat penjara massal di depannya, sangat besar dan luas hingga bisa memenjarakan ribuan orang.


"apa penjara seperti ini memang ada? aku baru tau ada yang model seperti ini".


Dylan diam hanya melirik Shindy lalu menggenggam tangan Shindy biar terlihat mesra.


"maafkan kami nona! kami minta maaf". ucap mereka semua serentak


Shindy tersadar dari lamunannya lalu melihat semua manusia yang ada didalamnya.


Shindy mendengar suara isak tangis anak remaja yang masih mengenakan baju sekolah,


"kamu memenjarakan anak dibawah umur juga mas? ".


"aku tidak peduli.. kata-kata mereka sudah mencerminkan sikap mereka! aku harus beri mereka pelajaran tidak peduli berapa usianya".


"tapi bagaimanapun mereka masih berkeluarga mas masa iya kamu pisahkan dari keluarga mereka". tutur Shindy


seketika tangisan ribuan orang itu terdengar menggema, mereka tidak menyangka orang yang mereka hujat sangatlah baik hati masih memikirkan kehidupan mereka.


"kamu mau aku melepaskan mereka? jangan harap"


Dylan berbalik Shindy dengan cepat menahan tangan Dylan.


"mas? bebasin mereka ya? mas? ". bujuk Shindy


Dylan mengabaikannya meninggalkan Shindy yang terlalu baik menurutnya, shindy beralih ke mereka semua.


"maaf pak bisa di lepaskan mereka semua? ". tanya Shindy dengan sopan ke polisi yang ada bintang 3 di pundaknya


"maafkan kami nona! kami tidak bisa berbuat banyak harus tuan muda yang mencabut tuntutannya"


"tapi aku istrinya". seru Shindy


"maafkan kami nona! seharusnya anda membujuk Tuan muda kami hanya mendengarkan perintah tuan muda nona".


Shindy hendak berbicara tiba-tiba Dylan kembali dan mengangkat tubuh Shindy yang memekik kaget di bahu Dylan, Shindy di gendong seperti karung beras oleh Dylan.


"mas kasihan mereka mas! lepasin mereka dong". Pinta Shindy dengan memelas di punggung Dylan.


"tidak bisa". tolak Dylan dengan cepat


"mas.. tunggu mas.. mas... ".


Dylan dengan santainya membawa istrinya keluar dari kantor polisi dengan menggendong Shindy dibahunya.


"mas kasihan mereka mas! minta dilepasin lagian mereka hanya berkomentar aku sudah biasa menghadapi netizen tapi jangan dipenjarakan juga mas.". Shindy berusaha membujuk Dylan supaya bisa berubah pikiran.


perkataan Shindy terekam oleh para wartawan yang pasti memuji kemurahan hati Shindy sementara wartawan itu semua tidak heran lagi akan sikap Dylan yang keras hati kalau menuntut lawannya.


"ada lagi yang harus kamu temui". Kata Dylan menurunkan Shindy didepan mobilnya.


"aduh kemana lagi sih mas? siapa lagi? ". kesal Shindy dapat pelototan tajam dari Dylan


.

__ADS_1


.


__ADS_2