Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
perkelahian di Lobi


__ADS_3

Shindy berangkat kerja sendiri tapi ia merasa di ikuti saat ini.


"apa hanya perasaanku aja? kenapa aku merasa sedang diawasi? ". gumam Shindy dengan pelan.


Shindy melihat kaca spion mobilnya, ia memicingkan matanya melihat kebelakang.


"ada apa sih? ". kesal Shindy mulai menancap gas mobilnya.


aksi kejar-kejaran mulai terjadi, Shindy masih fokus dengan kecepatan mobilnya berkat alat canggih petunjuk jalan mobil Dylan membuat Shindy mengenal seluk beluk kota ini.


"gila tuh mobil masih ngejar-ngejar juga! bagaimana ini? ". gumam Shindy mulai panik.


Shindy menekan-nekan tombol petunjuk jalan tembus ke perusahaan MattGroup dan menemukan jalan tikus.


Shindy tersenyum tipis, ia segera menekan gas berbelok tajam tanpa peringatan lampu sen lalu masuk ke jalan kecil dengan kecepatan tinggi, sedangkan mobil di belakang juga mengikuti.


Shindy tiba di perusahaan MattGroup lalu mobil yang mengikuti Shindy pun berhenti didepan gerbang perusahaan tidak bisa masuk.


Shindy menoleh kebelakang,


"siapa mereka? aku yakin itu pria muda ".


Shindy merasa pria mapan yang mengikutinya tapi tidak tau siapa.


Shindy kembali fokus dengan mobilnya segera memasuki tempat parkiran, Shindy mengecup setir mobilnya.


"mobil tuan muda sangat enak di bawa ngebut". senyum lebar Shindy


"eeh.. bukan tuan muda Mas ku ! hihihi".


Shindy masih bisa tertawa cekikikan setelah kejadian tadi entah apa yang salah dengan otaknya saat ini.


"baiklah hari ini mood aku sedang baik karna surat nikah kami sudah datang dan suamiku mengakuiku walaupun belum mencintaiku! biarkan aku senang terlebih dahulu sebelum menangis karna menghadapi semua keluarga besar suamiku".


Shindy keluar dari mobilnya dan masih melihat mobil yang mengikutinya masih berdiam diri ditempat yang sama.


"siapa dia? ". gumam Shindy penasaran tapi ia menggeleng kepalanya.


Shindy berlari memasuki perusahaan dan menyapa resepsionis, Shindy bersikap ramah pada orang baik saja sedangkan yang jahat akan dibalas dengan hal yang sama dengan Shindy.


Shindy berjalan tenang tapi tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang masuk ke ruangan tangga darurat.


Shindy memutar bola matanya dengan malas melihat Mimi dan teman-temannya.


"kenapa kau merayu tuan muda kami? ". tanya Mimi dengan sinis dan benci


Shindy diam memperhatikan wajah mereka semua,


"ke kenapa kau menatap kami seperti itu? ". tanya temannya mimi dengan waspada


"aku sedang menandai kalian yang berani menyita waktu tuan muda! aku disuruh menemui tuan muda jika aku terlambat menurut kalian aku akan diam? tentu saja aku akan mengatakan kalau aku ditahan oleh kalian bertiga ". kata Shindy memotret wajah mereka satu persatu dengan cepat hingga mereka memekik menutupi wajah masing-masing.

__ADS_1


"jangan ganggu aku jika kalian masih ingin bekerja di tempat ini". ancam Shindy dengan tajam


Shindy hendak keluar tapi perkataan mimi membuatnya berhenti seketika dengan tangan terkepal.


"wanita perebut tunangan orang! sepertinya yang dikatakan wanita gila itu benar ya? dia pasti gila karna kau merebut tuan muda darinya iya kan? sudah berapa kali kau menyerahkan tubuhmu pada tuan muda? ".


Shindy berbalik lalu menampar keras wajah Mimi hingga kedua teman mimi terbelalak kaget


"kata-katamu keterlaluan! aku akan melaporkanmu pada tuan muda " Shindy berkata dengan tatapan nya begitu nyalang


Mimi yang tak terima hendak menampar balik tapi Shindy mengangkat kakinya menendang dada Mimi hingga terjatuh dengan rok nya yang tersingkap ke atas.


"kau yang membuatku berbuat seperti tadi! jangan pernah mencampuri urusan pribadiku ". kata tegas Shindy lalu meninggalkan Mimi


"aaaahhhhh... ". teriak Mimi yang tak terima


Mimi berlari mengejar Shindy dan menarik rambut Shindy dengan kuat hingga Shindy mendongak keatas saking sakitnya rambutnya di tarik.


"dasar jal*ng ! berani kau menamparku hah? kenapa kau marah dikatakan jal*ng? padahal kau memang jal*ng tidak usah sok suci kau....!! " teriak Mimi dengan emosi berkobar-kobar.


Shindy merantukkan kepalanya dikepala Mimi hingga Mimi melepaskan rambut Shindy.


"Mimi hidungmu berdarah". pekik kedua teman Mimi


"kenapa kalian diam saja? cepat pegang dia". geram Mimi


kedua temannya mengangguk lalu kompak mendekati Shindy yang mendorong wanita 1 dan menjambak rambut wanita 2


sementara karyawan yang lainnya mulai berdatangan melihat aksi Shindy yang tak ada takutnya melawan Mimi yang paling lama bekerja di perusahaan ini.


"aaahh..! ". Shindy memekik saat ada seseorang yang menarik rambutnya lagi.


"kena kau penggoda". seringai Salsa


"habis kau". Sarah mengeluarkan pisau kecilnya.


"aku akan merusak wajah penggodamu ini". geram Sarah


Shindy berusaha melawan tapi Mimi dan kedua temannya juga mulai memegang kaki dan tangan Shindy.


Plakk


Sarah menampar pipi Shindy.


"diam kau wanita penggoda ". teriak Salsa


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?? ". teriak Dylan menggelegar


seketika kegiatan mereka terhenti karyawan MattGroup mulai memberi jalan, Salsa dan Sarah melepaskan Shindy begitupun yang lainnya.


Bagus berlari ke arah Shindy dan menunduk hormat.

__ADS_1


"maafkan kami nona".


Shindy tidak menangis sama sekali, ia sudah terbiasa dengan perkelahian seperti tadi.


Dylan berjalan dengan marah, hawa dingin mulai mencekik semua yang ada di tempat itu.


"apa kalian sedang mengadakan pertunjukan di perusahaan ku hah? ". tanya Dylan dengan tajam.


Shindy membenarkan rambutnya yang terlihat acak-acakan, ia berjongkok memungut rambut-rambutnya yang berjatuhan karna di tarik-tarik oleh Salsa.


"Bagus pecat mereka semua! ". perintah Dylan


"tapi tuan? ". sergah Salsa, Sarah dan Mimi sedangkan yang 2 teman Mimi tidak berani menyelah karna tidak punya keberanian untuk hal itu.


"apa..? kalian berani menyelahku? ". tanya Dylan dengan dingin


"apa dia juga dipecat tuan muda? ". tanya Sarah menunjuk Shindy


Dylan mengabaikan pertanyaan Sarah lalu berjalan mendekati Shindy yang serius memungut rambut nya.


"bi biar saya nona ". saran Bagus segera berjongkok membantu Shindy.


Shindy melihat Dylan sedang mengulurkan tangannya, Shindy melihat Salsa dan Sarah serta Mimi yang memerah melihat hal itu. tentu Shindy menyambut tangan suaminya hingga membuat semua orang tercengang.


"apa kau baik-baik saja? " tanya Dylan dengan wajah datarnya.


Shindy tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


Dylan menyibakkan rambut Shindy, ia menarik dagu Shindy mendekat hingga banyak karyawan MattGroup yang melihatnya.


"siapa yang membuatmu begini? ". tanya Dylan dengan dingin


"tidak apa tuan ! anda memecatnya sudah cukup buat saya". Shindy memegang tangan Dylan supaya melepaskan dagu lancipnya yang disentuh Dylan.


"kenapa kau mengutip rambutmu? ". tanya Dylan melihat ke Bagus yang sudah mengumpulkan semua helaian rambut Shindy


"anda tidak suka hal kotor dan tidak suka membuang waktu " jelas Shindy mengingat cara kerja seseorang yang disukai Dylan.


"ayo kita obati". Dylan menarik pergelangan tangan Shindy dan Shindy melirik Salsa, Sarah serta Mimi yang melongoh dengan muka memerah tatapan mereka semua makin benci.


Bagus menatap tajam semua karyawan Mattgroup yang melongoh takjub melihat tuan muda mereka tengah memperhatikan Shindy.


"bubar! dan kalian ikuti aku".


Bagus berlalu meninggalkan mereka semua, semua yang terlibat berkelahi dengan Shindy terpaksa mengikuti Bagus, kedua teman Mimi menyesal telah terlibat karna baru tau Shindy benar-benar berhubungan dengan Dylan apalagi Shindy dengan entengnya bilang memecat.


bagi Shindy dalam bekerja tidak butuh mereka yang berasal dari perguruan tinggi terbaik, ia hanya butuh Etika dalam bekerja serta profesional tidak mencampurkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan jika sudah tidak punya Etika bagi Shindy orang itu pantas untuk dipecat.


.


.

__ADS_1


__ADS_2