
.
.
ke esokan harinya..
Raya dan Satria diantar sekolah oleh papinya yang kebetulan juga akan pergi keluar kota PP (Pulang Pergi) dan kebetulan jalannya melewati sekolah anak-anaknya itu.
"bagaimana celananya son? apa sudah pas? " tanya Dylan melihat putranya dibelakang sendirian sedang bermain game.
"Ehh? udah pas pipi". Satria menyimpan ponselnya di dalam tasnya.
baik Satria maupun Raya kalau bawa ponsel ke sekolah tidak perlu takut akan ketahuan guru karna tidak ada yang berani juga menghukum putra-putri penguasa itu.
"kenapa bawa ponsel? nanti kena marah mami loh? " goda Dylan yang tau putra nya itu begitu takut maminya marah.
Satria nyengir kuda, "pipi nggak bakal ngadu kan? "
Dylan terkekeh jadinya lalu melirik putri kesayangannya yang ketangkap basah tengah meliriknya juga.
Raya mengalihkan pandangannya padahal sudah tertangkap basah oleh papinya, Dylan menahan tawa saja akan tingkah putrinya.
"entah siapa yang kamu tiru sayang". gemas Dylan menekan kepala Raya dengan penuh kelembutan.
Satria hanya mendengus sedangkan Raya hanya diam melirik sekilas papinya sambil tersenyum tipis tanpa berbicara membalas kata-kata papinya.
"hei.. kenapa kamu mendengus son? " tanya Dylan tertawa kecil.
"mimi bilang kakak milip cama pipi, jutek dan malas bicala kayak sualanya emas gitu". celutuk Satria melihat ke arah kakaknya.
Dylan mengangkat sebelah alisnya, "apa mamimu bilang papi ini jutek dan tidak banyak bicara? "
"hmm". jawab Satria mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan polos.
"terus kamu mirip siapa nak? " tanya Dylan
suka sekali dia menggoda anak-anaknya tapi yang bisa diajak bercanda cuma Satria kalau menggoda Raya malah garing mungkin hanya jangkrik saja yang tertawa atau bahkan tembok, Little princess nya yang satu itu memang mudah bosan berada diantara banyaknya orang yang suka mengoceh
"milip mimi". jawab Satria dengan nada melengking hingga Dylan tergelak.
Raya melirik papi dan adiknya yang tertawa seperti orang tidak waras membuat ayah dan adiknya kembali mengatup bibir mereka, terutama Dylan yang sedang menahan tawa akan tingkah putrinya.
Dylan sendiri heran kenapa putrinya yang mewarisi sikap arogan dan dinginnya, kenapa bukan Satria padahal dikeluarga Melviano semua perempuan nya itu ceria seperti Mely, Rani, Kaira, Nova, Kaisha, dan Mayra sebagai istri Keyzo pun bawelnya minta ampun.
.
.
"udah sampai pi... pipi ati-ati ya? " Satria memeluk paha Dylan dan Raya hanya menyalami papinya sambil tersenyum lebar.
Dylan sudah tau makna senyum langka putrinya itu yang artinya dia harus kembali dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Dylan berjongkok memeluk kedua anak kesayangannya, beberapa anak sekolah yang diantar oleh ART, Supir malah iri dengan hal itu sebab mereka tidak pernah diantar oleh orangtua mereka yang sibuk bekerja.
"jaga adikmu sayang..! nanti kalau papi kembali lagi kita berburu ke hutan bagaimana? " tawar Dylan
"setuju". pekik Satria yang sangat hoby berburu
"tentu pipi". jawab Raya sambil tersenyum
"papi baru tau kamu punya lesung pipi sayang? " Dylan memperhatikan lesung pipi Raya yang terlihat begitu cantik saat tersenyum lebar.
Raya kembali tersenyum, "pipi halus kembali lagi kalau mau melihat senyum laya".
Dylan terkekeh jadinya sambil mengelus kepala Raya,
"jangan biarkan kakakmu memasangkan sleting celanamu son! kalau sampai mamimu tau kakakmu sudah merusak 90 celanamu bisa gawat kita". melihat kearah Satria.
"siap pipi". Satria memberi hormat di balas usapan sayang di kepalanya oleh Dylan.
"masuklah ! papi akan pergi setelah melihat kalian masuk kesana". pinta Dylan berdiri tegak memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya.
Raya dan Satria mengangguk patuh, mereka bergandeng tangan memasuki sekolah mereka sesekali menoleh ke belakang melambaikan tangan ke papi mereka.
Dylan ikut melambai dan memberi kode tangannya untuk kedua anaknya meneruskan langkah mereka.
.
.
Dylan dan Shindy tidak bisa menolak sebab mereka tau Rilly memang sangat menyayangi Satria yang selalu memanggil Rilly Bunda.
"mau makan apa sayang? " tanya Rilly memangku Satria yang tengah melingkarkan tangannya di leher Rilly
Raya hanya melirik sekilas adiknya itu yang memang sosok pengasih, ia tak malu diejek sebagai anak manja padahal laki-laki.
Raya tau Satria seperti itu atas permintaan maminya yang memohon untuk menyayangi Rilly seperti ibu sendiri jadi tak heran Satria bertingkah manja pada orang setia maminya itu.
"makan apa ya? bagaimana kalau makan di lestaulant nolan food? " tanya Satria semangat.
"okeh.. " jawab Sam dan Rilly sedangkan Raya hanya tersenyum kecil.
selesai makan bersama
di lampu merah ada anak jalanan yang tengah menjual koran dan air mineral.
"belapa? " tanya Raya dan Satria serentak
Rilly dan Sam saling pandang sambil tersenyum,
setelah bernegoisasi Raya dan Satria mengeluarkan semua uang jajan mereka di dalam tas bahkan Satria rela memberikan ponsel mahalnya untuk anak jalanan itu.
"kamu halus sekolah supaya sukses dan tidak bekelja sepelti ini lagi, belajal pake hp ini ya? jangan di jual okeh? "
__ADS_1
anak itu berkaca-kaca menghapus air matanya, matanya membola lagi saat Raya memberikan gelang emasnya pada anak itu.
"yang ini boleh di jual tapi yang itu jangan". kata Raya dengan serius melirik ponsel yang diberikan adiknya.
"terimakasih...! terimakasih". ucap anak jalanan itu menebarkan senyum bahagia nya bertemu dengan orang baik itu.
"dadah...udah lampu hijau". lambai cerah Satria.
Raya terlihat acuh hanya melirik sekilas saja walau begitu hatinya baik, cuma ia tidak suka berbicara banyak apalagi berkata manis, Raya benci itu.
"minumnya? korannya? " teriak anak itu
beberapa mobil mengklakson anak jalanan itu hingga ia segera menyebrang jalan sambil menatap sendu mobil yang sudah menjauh itu.
"aku harus sukses? " gumamnya pelan
anak itu masih berumur sekitar 8 tahunan, ia dibuang oleh ibunya sendiri saat ayahnya meninggal tertembak demi menyelamatkan anak itu, tak lama kemudian neneknya sakit-sakitan,,
anak itu dibuang karna dianggap pembawa sial di dalam keluarga mereka.
anak laki-laki itu melihat gelang indah milik Raya, walau ia tidak punya barang-barang mahal tapi anak itu tidak bodoh hingga tidak mengetahui gelang yang diberi Raya itu sangat mahal.
.
"kenapa kakak belikan gelang kesayangan kakak? " tanya Satria penasaran.
(Raya dan Satria masih cadel, belum bisa sebut huruf R).
"bukankah kamu membelikan hp mu padanya? " tanya balik Raya.
Rilly dan sam hanya bisa tertawa kecil, mereka tak heran lagi akan berdebatan saudara kembar berbeda jenis kelamin itu.
.
dikamar
Raya selesai membersihkan diri lalu berjalan santai keluar dari kamarnya menuju kamar adik kembarnya yang masih bayi.
Raya masuk ke kamar label Baby Twins dan melihat Shindy tengah terlelap di sudut sofa.
.
.
.
seneng deh sama mereka.. haha bisa-bisa keterusan nih,, sebenarnya pengen UP itu 4 sekaligus tapi kerjaan Nae makin dikejar biar cepat selesai eh.. kok kayaknya nggak habis-habis ya? . jadi tidak bisa UP banyak.. hadeeh.. padahal gemes sama mereka, beri semangat Nae ya? siapa tau abis sahur entar kesambet buat bab baru lagi bukannya tidur hehe..
jangan lupa like nya...
.
__ADS_1
.