
puas berbelanja Shindy juga menyewa 1 mobil untuk mengantarkan semua belanjaannya ke hotel dan dititipkan di meja resepsionis.
"makanan yang enak dimana kak? ". tanya Shindy
"disana enak nona walaupun terbilang murah di negara ini tapi lidah saya menyukai makanan disana".
"okeh..! ayo makan kak". ajak Shindy
.
.
"hai?".
Shindy terlonjak kaget mendengar seseorang menyapanya tanpa sadar menyemburkan air minumnya ke wajah pria itu.
Gine memejamkan matanya, Ayu malah syok melihatnya ia takut Shindy terluka mengingat tugasnya melindungi Shindy.
"maaf! siapa suruh kau mengagetkanku". Shindy mengelap bibirnya sendiri yang melepotan air.
Gine meraih tisu dan mengelap wajahnya yang basah.
"tidak apa ! makan malam saja denganku". Gine berkata dengan entengnya.
Shindy membulatkan matanya.
"kenapa aku harus bertemu dengan pria sinting ini? ".
"bisa kan? ". tanya Gine penuh harap
"maaf tuan anda tidak boleh membawa pergi nona muda karna dia adalah wanita milik tuan saya". Ayu berkata dengan tegas.
"ckk.. hanya Pion berani mengaturku". decak Gine dengan sinis melihat Ayu.
Ayu menatap datar Gine yang tak bisa diajak bicara dengan baik-baik.
"jangan salahkan saya jika berbuat kasar tuan". ancam Ayu serius.
"sudah jangan bertengkar kak! " lerai Shindy
"sana pergi pria sinting". usir Shindy dengan tajam.
Gine tertawa gemas hendak mengusap kepala Shindy tapi Shindy menepis kasar tangan Gine
"jangan pegang-pegang! kita tidak cukup dekat untuk saling bersentuhan". sinis Shindy
"kamu cantik sekali kalau marah ya? aku ingin gigit pipimu". Gine dengan muka temboknya hendak menyentuh pipi Shindy tapi shindy segera menghindar.
"duduk disamping saya nona". Ayu menepuk kursi di sampingnya.
Shindy berpindah tempat duduk disamping Ayu,
Gine memperhatikan Shindy yang makan sangat rakus seperti sengaja membuat Gine ilfil padanya tapi kenyataannya malah membuat Gine makin tertarik dengan Shindy.
"dasar pria sinting". umpat Shindy dengan tatapan membunuhnya.
Gine malah senyam-senyum melihat wajah Shindy yang sangat lucu saat dingin dan datar.
Gine bangkit dan hendak mendekati Shindy tapi Ayu sudah bangkit terlebih dahulu membanting tubuh Gine tanpa ampun.
banyak pasang mata melihat Gine yang dikalahkan oleh perempuan.
"saya sudah bilang jangan mengganggu nona saya". peringatan Ayu
Shindy membuka mulutnya dengan lebar tak menyangka orang kepercayaan suaminya sangat hebat beladiri.
__ADS_1
Gine yang merasa terhina berdiri tegak lalu mengeluarkan aba-aba jurus tangannya, Ayu memasang kuda-kudanya ia menatap dingin Gine seperti sisi tersembunyi nya keluar begitu saja disaat-saat genting.
Gine dan Ayu berkelahi dengan sengit, Shindy membelalakkan matanya melihat Ayu yang sangat hebat melawan kecepatan Gine.
Ayu melompat di punggung Gine lalu memutar tubuhnya dengan cepat hingga Gine tersungkur dengan hidung berdarah.
"Sial..! ternyata kau sangat ahli ya? ". Gine mengusap kasar hidungnya yang berdarah.
Ayu memasang kuda-kudanya dengan tenang hal itu membuat Gine memicingkan matanya melihat gerakan Ayu yang sangat terlatih.
tanpa banyak berfikir lagi Gine beralih ke Shindy
"sampai jumpa lagi cantik".
Gine segera meninggalkan tempat itu sedangkan Shindy masih menatap Ayu tanpa berkedip, Shindy bisa menguasai ilmu beladiri yang diajarkan suaminya tapi melihat kecepatan Ayu membuatnya yakin Ayu seorang pasukan khusus.
"apa nona baik-baik saja? ". tanya Ayu mendekat dan memperhatikan tubuh Shindy
seperti anak kecil Shindy menggeleng-geleng kepalanya.
"aku baik-baik aja kak"
"silahkan di lanjutkan nona! saya akan menjaga anda dengan baik". Ayu mempersilahkan Shindy kembali duduk.
Shindy duduk masih menatap Ayu tak berkedip.
"apa kakak dari pasukan khusus? "
Ayu tersenyum kikuk mengusap-ngusap tengkuknya yang tidak gatal.
"suami kakak pekerjaannya apa? ". tanya Shindy penasaran
"hmm mantan pasukan khusus tuan muda nona". jawab Ayu malu
"waah... kalian cinlok ya? ".
"Cinta Lokasi" jawab Shindy
Ayu tersipu malu,
"aku nggak nyangka mas Dylan menyewa kakak mengantarku, aku fikir kakak hanya menguasai bahasa negara ini aja ternyata kakak bisa berantem ya? hebat sekali".
"saya memang pasukan khusus yang dilatih untuk menjadi perempuan pura-pura lemah nona"
jelas Ayu.
Shindy jadi kagum pada sosok suaminya yang sangat menjaga dirinya dengan baik.
.
.
"terimakasih kak udah nemenin aku seharian belanja! " . ucap Shindy dengan senang
"sama-sama nona seharusnya saya yang mengucapkan terimakasih". Ayu menunjukkan paperbag yang dibelikan Shindy khusus untuk putri kecilnya yang berusia 3 tahun.
"iya kak! lain kali ajarin aku menguasai bahasa negara ini ya? ". pinta Shindy
"baik nona dengan senang hati". jawab Ayu dengan senyum lebarnya.
Ayu benar-benar mengantarkan Shindy sampai di dalam kamarnya demi memastikan Shindy baik-baik saja barulah ia keluar dari kamar shindy.
Gine keluar dari tempat persembunyiannya mengusap bibirnya yang berdarah.
"sial..! Dylan sialan itu memiliki pion tangguh disini sepertinya dia sangat mencintai istrinya aku semakin bersemangat ingin mendapatkan wanitanya. "
__ADS_1
Gine melirik sekilas pintu kamar Shindy, Gine masuk ke kamar penginapannya untuk mengobati luka di bibir dan hidungnya yang terasa mau patah saja.
Shindy merapikan semua belanjaannya untuk keluarganya di mansion.
"waah..? lebih cantik saat sudah di miliki pasti Kaisha dan Nova suka sekali ini".
Shindy memegang suvenir cantik dan lucu untuk dijadikan oleh-oleh khas dari negara D.
.
.
Ayu menemui Dylan di restaurant berbintang yang sedang rapat kolega bisnis.
"tuan muda". sapa Ayu dengan hormat
"hmm? ada masalah? ". tanya Dylan dengan tenang.
"ada yang berusaha mendekati nona tuan". jawab Ayu
"aku percaya padamu kau pasti bisa melindungi istriku ". senyum tipis Dylan yang tau kemampuan Ayu.
"saya merasa terhormat tuan muda ! izinkan saya menjadi bagian dari kehidupan nona tuan muda".
pinta Ayu dengan hormat
"artinya kau akan meninggalkan negara ini bersama anakmu? lalu bagaimana dengan suamimu? "
Ayu jadi gelagapan ia bingung harus memilih siapa.
"jangan pikirkan apapun !! tugasmu hanya melindungi istriku kalau kami sedang dinegara ini! aku tau cara menjaga istriku dengan baik".
Ayu pun tak lagi berbicara hanya menunduk sebagai rasa hormatnya pada sosok Dylan yang sangat menjadi panutan dirinya juga suaminya.
"kembalilah! jika aku membutuhkanmu maka kau harus datang kapanpun itu".
"baik tuan muda"
jawab Ayu lalu segera pamit meninggalkan Dylan yang sudah memberi isyarat mengusirnya.
Dylan mengetuk-ngetuk mejanya.
"kau fikir bisa mengambil milikku? jika kau merebutnya maka aku akan menghabisimu terlebih dahulu"
Dylan membiarkan Gine bermain-main, ia yakin ada lagi komplotan Gine di belakangnya tapi Dylan belum menemukannya jadi Dylan berlagak tidak tau saja kalau Gine berusaha menggoda istrinya.
Dylan menghubungi Shindy.
"Ndy? "
"iya mas?? kapan pulang? aku kangen ".
Dylan tersenyum sambil menggeleng pelan kepalanya, memang hanya istrinya yang bisa merubah mood Dylan menjadi baik.
"aku sedang istirahat dan kolega bisnisku juga, 20 menit lagi kami akan kembali berkumpul mungkin 1 jam lagi aku akan pulang"
"baiklah mas! aku menunggumu hati-hati dijalan ya? ".
Dylan membalas dengan dehemannya tapi bibirnya melengkung keatas mematikan panggilannya setelah merasa yakin Shindy baik-baik saja.
"aku tidak akan membiarkan wanita mesumku direbut pria lain".
Dylan berkata dengan senyum tipisnya menatap nomor ponsel Shindy
.
__ADS_1
.
.