Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
Bonus Ekstra Part. 4


__ADS_3

.


.


Raya berjalan tenang tak mengeluarkan suara sama sekali, ia mendekati box bayi adik-adiknya yang tengah terlelap begitu nyenyak.


"dedek...? " gumam Raya pelan menatap sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan itu.


Raya tersenyum kecil melihat pakaian yang melekat di tubuh mungil mereka, ia tau maminya akhir-akhir ini sibuk membeli baju-baju online dan isinya adalah baju bayi lucu-lucu.


"mami? " Satria tiba-tiba nongol dan Raya memberi kode untuk diam namun terlambat maminya itu sudah terbangun.


Shindy tersentak memperhatikan sekeliling hingga ia melihat Raya di dekat box bayi sedangkan Satria berada di pintu.


"mami maaf? Atlia tidak tau mami bobok". Satria berjalan cepat dan duduk di samping Shindy sambil menunduk.


Raya hanya memutar bola matanya dengan malas, ia kembali melihat baby twins yang tertidur.


Shindy tersenyum lembut lalu menangkup pipi Satria dan mencium kedua pipi permata kecilnya.


"bagaimana mami bisa marah pada belahan jiwa mami ini hmm? apa mami pernah memarahimu tanpa sebab sayang? "


Satria menggeleng kepalanya pelan mengingat maminya kalau marah pasti ada sebabnya.


"nah.. mami tidak marah padamu! mami yang lengah tidak menyadari kalian datang". Shindy memeluk Satria dengan sayang mengelus punggung kecil putra nya yang sangat patuh itu.


"mami janji enggak malah kan? " tanya Satria penuh harap.


Shindy melepaskan pelukannya, "iya sayang? ada apa? "


Satria menoleh ke Raya yang tampak serius melihat adik mereka, Satria kembali menatap Shindy.


"HP atlia dibelikan pada seseolang yang butuh buat belajal". Satria membuat pengakuan.


Satria tidak mau kedepannya Shindy akan mempertanyakan ponselnya yang menjadi hadiah ulang tahunnya beberapa tahun yang lalu, jadi lebih baik Satria buat pengakuan supaya maminya tidak kecewa di bohongi.


Shindy mengerutkan keningnya, "maksud kamu apa sayang? siapa yang butuh belajar? "


Satria menceritakan semuanya hingga Shindy terperangah saja akan kebaikan hati kedua malaikat kecilnya itu.


"mami malah? kan udah janji ngga bakal malah". tanya Satria dengan nada merasa bersalah tak lupa juga memasang tampang imutnya itu.


Shindy tersenyum lembut dan mencium lama kening putranya itu.


"mami bakal belikan yang baru! mami bangga padamu sayang, ".


"mami nggak malah? " tanya Satria berbinar cerah


Shindy terkekeh dan kembali membawa tubuh mungil putranya itu masuk dalam dekapannya.


betapa bangganya Shindy memiliki putra yang begitu baik hati seperti Satria.


Satria menyeringai senang di pelukan Shindy,


"atlia tengok dedek ya mi? nanti atlia mau ikut bunda ke mol".


Shindy terkekeh gemas lalu mencium sayang pipi Satria yang segera berlari ke arah box bayi sambil tertawa senang.


Shindy memperhatikan Raya dan Satria yang sedang memunggunginya sebab mereka menghadap baby twins.

__ADS_1


"halo.. dedek Alya? dedek Alya". sapa Satria menyebut Arya juga sebutan Alya sebab belum fasih menyebut huruf R.


"dedek Arrya". ralat Raya yang dipaksakan huruf R nya.


"iya kak...dek Arrrrya". ulangnya lagi menebalkan huruf R nya.


Shindy tertawa saja mendengar perdebatan mereka mengenai nama baby twins itu,


.


.


di mansion lain.


Nova tengah makan mangga muda yang dipanjat oleh suaminya.


"bagaimana Mabi? udah cukup? " tanya Candra diatas pohon.


"udah bang...!" jawab Nova melompat-lompat kecil.


"jangan melompat seperti itu mabi? anak kita bisa dalam bahaya". peringatan Candra sambil menurunkan kakinya satu persatu dari batang pohon mangga yang ada di depan halaman mansionnya.


Nova terkekeh geli saja akan keposesifan suaminya itu, ia mengangguk-ngangguk patuh.


"mom? " Al dan Nola tiba-tiba nongol dibelakang Nova.


Nova tidak terkejut lagi akan jiwa usil anaknya itu yang menurun mungkin dari dirinya atau dari suaminya.


"mau makan mangga juga sayang? " tanya Candra berjongkok di depan Nola dan Al.


"tidak mau". jawab keduanya kompak.


Nola dan Al berlari memasuki mansion karna mereka sudah tau bagaimana asamnya mangga muda yang di makan mommynya.


"yap Mom.. yes Daddy". balas kedua anak kembarnya itu melambatkan laju kaki mereka.


Nova menggeleng saja akan tingkah kedua anaknya dan Candra menangkup pipi Nova.


"apa ada yang sakit? aku masih tidak percaya kamu baik-baik saja sayang.. apa kamu yakin saat bang Dylan menggendongmu tadi malam baik-baik saja? kenapa tidak mau ke dokter hmm? "


Nova menghela nafas panjang, "tadi malam itu aku berteriak karna kesal bang.! habis kak Dylan bawa aku jauh dari tempat makan".


"tetap saja bang Dylan keterlaluan, dia tau kamu hamil tapi malah tidak mau mengalah dengan kalian".


Nova terkekeh saja mendengarnya, "aku masuk aja deh bang".


"iya Mabiku sayang..! ayo masuk! " Candra menggendong Nova yang segera mengalungkan tangannya di leher Candra sambil memakan mangga mudanya.


Candra tidak heran lagi akan ngidam anaknya yang masih normal tidak seperti anak Dylan dan Shindy selalu saja ngidamnya ekstrim.


.


.


Kaira dan Mely ada ruang tamu sedang menonton TV lalu melihat Rilly yang datang.


"ada apa sayang? " tanya Kaira mendekat ke Rilly


"Lyli mau ke mol Nyonya". jawab Rilly.

__ADS_1


"lalu? " sambung Mely


"apa lagi mah? udah pasti dia nungguin Satria". kekeh Kaira.


Mely menepuk jidatnya akan ingatannya yang makin banyak lupanya saja.


Rilly tertawa kecil jadinya.


"bunda? "


"iya sayang". Rilly berjongkok dan mendapatkan sebuah pelukan dari Satria


Kaira dan Mely tersenyum lembut akan kelembutan hati Satria yang memiliki sikap dan tingkah laku Shindy terbilang masih sopan tak seperti semua laki-laki keturunan Melviano yang lain malah tidak normal pasti bersikap dingin .


"dadah glanma... dadah oma? " lambai Satria setelah menyalami kedua wanita berharga di mansion Melviano.


"dadah.. sayang". balas Kaira dan Mely.


Satria di gandeng oleh Rilly keluar dari mansion, Sam membukakan pintu untuk Rilly dan Satria.


mereka seperti satu keluarga yang tengah pergi berlibur saat ini.


.


.


di Mol


Satria memakai masker dan topi yang menutupi wajahnya sambil di gandeng oleh Sam serta Rilly, mereka dengan senang hati berbelanja dan makan enak dimana-mana.


"mau main game sayang? " tanya Rilly


"emang bunda bisa mainnya? " tanya Satria dengan polos mengerjabkan mata birunya.


Rilly melihat ke arah Sam lalu mereka tertawa bersamaan.


mereka benar-benar seperti keluarga bahagia, terutama Rilly yang paling bahagia disini bisa meluapkan kasih sayangnya pada putra nyonya mudanya.


bagaimanapun Rilly tidak bisa menyembunyikan kebenaran bahwa ia ingin memberi Sam anak, apalah dayanya ia harus bersabar menunggu sang pencipta memberinya kepercayaan lagi.


.


.


"bagaimana sayang? senang bermainnya? " tanya Rilly membenarkan topi Satria.


Satria menyeringai lebar langsung digendong oleh Sam hingga Rilly terkekeh.


mereka berjalan saling berpegangan tangan hingga beberapa orang malah iri melihat mereka, sungguh tidak ada yang tau kalau Rilly dan Sam membawa putra penguasa Melviano.


.


.


.


dah sahur kah? dah imsak juga.. mau sholat subuh terus bobok cantik lagi... hehe.. selamat beraktifitas.!!


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2