
"ayo kita pulang sayang! ". ajak Dylan merangkul pinggang Shindy dengan mesra
"mas cilokku...! ". rengek Shindy
"itu diatas mobil" tunjuk Dylan ke atap mobil
Shindy menggeleng kepalanya tanda tidak mau.
"kenapa sayang? " tanya Dylan
"aku maunya beli lagi! itu buang aja" pinta Shindy memelas
Dylan menggaruk kepalanya yang tak gatal dan pada akhirnya kalah berdebat, Dylan terpaksa membelikan yang baru pada penjual cilok yang tampak ketakutan melihat Shindy tapi berusaha di tutupi
"dia sedang hamil pak..! jadi jangan terlalu berlebihan" Dylan berkata melihat tangan penjual cilok gemetar membungkuskan Cilok untuknya.
Shindy mengerjab-ngerjabkan matanya melihat si penjual cilok.
"kenapa pak? " tanya Shindy melihat wajah pucat pria paruh baya itu.
"t.. tidak apa Nyonya.. tuan.. " jawabnya dengan nada gemetar.
Shindy mengambil dompet Dylan seperti miliknya sendiri dan menarik uang milik suaminya hingga dompetnya menipis, hanya Kartu saja yang bikin tebal dompet Dylan. .
"ini pak bayaran Ciloknya terimakasih! jangan sampai putus berjualan ya pak" ucap Shindy dengan senyum ramahnya berbeda dengan yang dilihat penjual cilok itu tadi.
Dylan diam saja saat sang istri mengambil dompetnya, tak peduli berapa uang yang diberikan istrinya karna uang Dylan sendiri sangat banyak.
"t.. terimakasih banyak nyonya..! ". ucap penjual itu sedikit lebih baik karna sekarang ia menilai Shindy orang baik walau tadi terlihat mengerikan.
.
"ini aku makan ya? " Dylan hendak memakan cilok tadi tapi Shindy menahannya dengan raut wajah datar.
"apa..? " Tanya Dylan dengan gemas.
"ini buat aku mas" jawab Shindy
"tapi yang kamu makan apa? " gemas Dylan lagi.
"yang ini aku makan dan yang di dalam plastik ini buat aku di rumah nanti". jawabnya enteng
"terus kenapa tadi bilangnya mau dibuang? " tanya Dylan
"biar dibelikkan yang baru! " jawab Shindy berjalan memasuki mobil sambil memakan ciloknya.
Dylan terbahak saat ini sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil.
.
__ADS_1
"mas... kenapa lambat...? " kesal Shindy
"emang kenapa? " gemas Dylan seolah tak peka
"kapan sampainya..? ". rengek Shindy dengan kesal
"ini demi keselamatan anak kita" jawab Dylan acuh
Shindy memekik kesal hingga Dylan mengulum senyum manisnya..
hanya beberapa saat mobil lambat Dylan melaju ada mobil truk dari depan dan belakangnya.
"mas... firasat aku nggak enak mas! mobil didepan seperti mau kesini" panik Shindy
wajah Dylan sejak tadi sudah dingin, ia tau gelagat 2 mobil di depan dan belakangnya
"pakai Seatbeltmu sayang" perintah Dylan
Shindy sudah memakai seatbelt tapi ia makin mengetatkannya saja sambil berpegangan dengan gagang di atas pintu mobil untuk menjaga keselamatannya yang tengah hamil muda saat ini
Dylan menekan gas nya mulai dengan kecepatan tinggi, mobil semakin dekat Dylan membuka kaca mobilnya lalu memutar setir hingga mobil Dylan mutar-mutar di jalan, Dylan menembak supir truk tepat di bagian kepala hanya sekali tembakan saja dan menembak di truk yang lainnya juga hingga mobil truk kehilangan kendali karna supirnya tewas sebelum mobil mereka menabrak mobil Dylan.
Dylan menekan rem nya lalu melaju ke arah depan terdengarlah tabrakan kuat di belakang Dylan hingga bagian depan mobil truk hancur lebur.
"maaf sayang apa kamu takut? " tanya Dylan melirik Shindy, diluar dugaan Dylan istrinya itu malah terlihat berbinar melihat ke belakang, spontan saja Dylan menepikan kendaraannya.
"mas melindungiku dan anak kita tentu aku senang" jawab Shindy dengan semangat seperti dapat harta karun saja
Dylan menjatuhkan rahangnya, "apa Shindy hamil anakku akan sama seperti mommy mengandung Kaisha dan Keyzo? sekarang aja udah mulai aneh.. !"
Dylan tak berbicara lagi langsung melajukan kendaraannya sementara Shindy masih melihat kebelakang karna sang suami melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"siapa lagi yang melakukan ini? apa Noven? apa benar dia? secepat itu kah? dia tidak lagi berkabung karna keempat rekannya? " batin Dylan menebak-nebak.
"apa aku minta bantuan Nova? siapa lagi yang mencoba menyakiti aku dan istriku? sebentar lagi acara pernikahan kami akan di adakan ". Dylan terus saja mengoceh dalam hati menebak-nebak pelaku yang berani menyerangnya seperti sekarang.
menurut Dylan tidak mungkin Noven karna ia tau dari gelagat Noven tipikal pria yang akan menunjukkan diri karna kematian teman-temannya. dengan beraninya Noven menghadang jalannya bertanya apakah dirinya yang membunuh mereka semua, Noven pasti sibuk mengumpulkan bukti pembantaian rekan-rekannya itu.
"mas? "
"iya sayang? ". saut Dylan tersentak
"kenapa aku jadi pengen manjat ya?? " tanya Shindy dengan polos menggaruk-garuk kakinya sendiri
Dylan terbelalak.. "manjat? manjat apa? " tanya Dylan tergagap.
"nggak tau yang penting manjat" jawab Shindy berbinar.
Dylan memijit pelipisnya seketika masalah tadi belum membuat Dylan pusing tapi permintaan Shindylah yang berhasil membuat kepala Dylan berdenyut nyeri.
__ADS_1
"mas cepat bawa aku kepohon kelapa" pinta Shindy
"sayang...kamu mau mendengarkanku? " tanya Dylan serius.
"apa? " tanya Shindy dengan raut wajah menggemaskannya.
"kamu lihat kejadian tadi kan? " tanya Dylan serius
Shindy mengangguk..
"kejadian mana coba? " tanya Dylan dengan lembut.
"yang tabrak-tabrakan tadi kan? " tebak Shindy membuat Dylan menganga lebar dengan mata melotot tak percaya
kata-kata Shindy seperti menganggap kecelakaan tadi sebuah mainan
"apa katanya? tabrak-tabrakan? " batin Dylan lalu kembali fokus.
"aku belum tau pelakunya siapa sayang" ujar Dylan dengan serius
"apa masalahnya mas? tinggal bilang sama Nova kan? atau cari aja pelakunya apa hubungannya dengan aku yang minta manjat? "
"udah sayang..! kepala aku sakit kita pulang dulu ya? ". bujuk Dylan
Shindy melebarkan matanya lalu menganggukkan kepalanya dengan pasrah tidak mungkin Shindy memaksa Dylan untuk memenuhi keinginannya.
.
.
di tempat lain Nova tengah sibuk mengotak-ngatik komputernya sendiri.
"mau coba-coba lagi? hanguslah komputermu" seringai Nova
Nova seperti biasa selalu melindungi data-data keluarganya dengan baik.
"siapa lagi yang mau main-main dengan kakak ipar sih? apa pelaku mau bunuh diri? kenapa masalah mereka ada aja " gerutu Nova dengan kesal tak karuan.
sedangkan Kaira dan Mely sibuk mengurus acara resepsi Shindy dan Dylan yang akan digelar 2 minggu yang akan datang, ada aja orang yang mau mencari masalah pada kakak iparnya.
"mudah-mudahan nggak terjadi apapun di hari resepsi...! kalau iya habislah kalian semua jika menggunakan cara media atau menyerang lewat komputer... kalian tidak akan menang mencoba membobol data kakak iparku..! mau mengejeknya karna tidak berpendidikan? hahaha... kakak iparku terlalu hebat tidak perlu kuliah lagi "
Nova tak habis-habisnya mengomeli pelaku walaupun berhasil melindungi data Shindy tapi tetap tak membuatnya tenang.
.
.
.
__ADS_1