
di Cafe X-Cap
Roy memperhatikan potret gadis bermata biru laut di ponselnya.
"gila ini cewek cantik bener..! apa dia oplas ya? sayang wajahnya tidak di pamerkan ke publik.. apa dia tidak suka dikenal? sumpah cantik bener".Roy tak habisnya memuja sosok Kaisha.
tanpa Roy ketahui sosok Kaisha yang tengah menyamar melihat potretnya di HP Roy.
Kaisha menggunakan wajah imutnya dan terkejut melihat potretnya itu,
"kenapa potretku bisa ada disana? aku yakin tidak pernah memposting fotoku ke publik ". batin Kaisha
Kaisha mengambil tempat duduk di belakang Roy lalu memasang Earphone padahal tidak ada musiknya.
"aku harus bisa dapatkan gadis ini.. lumayan kan dapat darah perawan... ahahaha... cantik sekali... pantas saja tuan besar melviano menyembunyikan putri bungsu nya yang benar-benar memiliki wajah titisan dewi. "
Kaisha membulatkan matanya, mendengar perkataan Roy,
Kaisha menunduk sambil mengepalkan tangannya, ia tidak tau artinya pria didepannya menyebut darah perawan tapi berdasarkan drama-drama yang ia tonton tentu tau apa itu kata perawan.
"tapi bagaimana caraku bisa menemuinya? dia jarang keluar kan? ". gumam Roy tampak berpikir
betapa beruntungnya Kaisha dengan topeng wajahnya kini yang memiliki tampang imut nan menggemaskan.
Kaisha terus saja berlagak orang asing dan tak berapa lama kemudian Anna kembali dari toilet
"kenapa? " tanya Anna heran
"aku hanya memikirkan cara bagaimana bisa bertemu dengan gadis dalam hp ku ini" Roy menunjukkan potret Kaisha
"ckk... aku minta kau balaskan dendamku padanya..! dia benar-benar menjijikkan, bagaimana bisa di menyuruh hewan buas itu menggigitku hingga kakiku punya bekas luka..! tapi dia masih polos dan aku yakin kau bisa membuatnya jatuh cinta. "
"berapa umurnya? " tanya Roy
"palingan 17 tahunan". jawab Anna
"hhmmm.. matanya memang terlihat polos ". senyum miring Roy
"hmmm... buat dia begitu menggilaimu lalu campakkan dia setelah menidurinya" kata Anna lagi dengan enteng sambil memakan kentang goreng di depannya
Kaisha tentu mendengar pembicaraan mereka, Kaisha tau siapa Anna orang yang mengaku Rilly, Dylan menunjukkan wajah asli Anna pada mereka semua jadi Kaisha tau identitasnya.
semua orang yang ada di mansion melviano mengetahui identitas Anna, itu sebabnya Kaisha selalu berhati-hati saat keluar mansion menggunakan wajah asli tapi saat didalam mobil Kaisha memakai topeng wajahnya jadi wajar saat ini Anna tidak mengenal Kaisha.
Dylan dan Pasha membuatkan topeng wajah khusus untuk Kaisha yang sangat cantik, kecantikan Kaisha memiliki daya pikatnya tersendiri, bahkan musuhpun bisa terpesona dengan kecantikan Kaisha.
"ck..ck.. ck... sayangnya aku sudah tau rencana kalian!! tapi kau bilang aku apa?? bodoh? aku bodoh? hei... aku menguasai 26 Bahasa asing dan kau bilang aku bodoh? ". batin Kaisha yang ingin sekali menyentrum bibir tebal Anna.
Kaisha yang sudah tau rencana Roy dan Anna langsung keluar dari cafe X-Cap setelah melakukan pembayarannya.
Kaisha hendak masuk mobil namun tiba-tiba dirinya terlonjak kaget melihat perkelahian di depannya lebih tepatnya banyak orang sedang mengeroyok 1 pria.
Parkir mobil Kaisha di belakang jadi sepi tidak banyak orang yang ada disekitar.
__ADS_1
"Nona..? " panik sang supir.
"tenang pak.. tenang ya? jangan lapor siapapun" perintah Kaisha.
supir Kaisha terdiam dengan perasaan takut-takut, ia tidak bisa beladiri jadi saat Kaisha menunjukkan alat sentrumnya tentu saja ia pasrah dan mengerti maksudnya.
"apa aku tolong ya? benarkah? apa harus aku tolong? tapi kata Daddy dan Kakak tidak boleh ikut campur masalah orang lain..! ". gumam Kaisha
Pria yang memiliki tatapan elang nan tajam itu tanpa sengaja melihat Kaisha yang tengah bimbang akan sesuatu.
Pria itu dengan ganas menghajar mereka semua yang dibayar untuk membunuhnya, dan tiba-tiba dia lengah saat bersitatap dengan mata Kaisha, kelengahan itu digunakan musuhnya menancapkan pisau ke arahnya, dengan cepat ia menghindar hingga lengannya yang tergores.
Kaisha yang tidak tahan lagi segera mendekat dan menyentrum pria tua yang menusuk Pria bermata elang itu.
"mati kau...! " teriak Kaisha menambah tegangan alat sentrum nya hingga semua yang hendak membunuh Pria bermata elang itu bergidik ngeri..
"aaakkkh.. aaaaakkkk". teriak pria tua yang terkena sengatan listrik hingga aliran darahnya terasa mati
Kaisha menendang dada pria itu hingga mengenai kawanannya.
"mau sepertinya hah? gosong? iya??" teriak Kaisha memperlihatkan alat sentrumnya yang berhasil membuat semua para pembunuh bayaran itu kocar-kacir.
Pria bermata elang itu mengambil pisau yang menggores lengannya tadi lalu menusuk nya ke jantung pria tua yang melukai lengannya tadi.
"dia sudah mati.. " ujar Kaisha dengan mengerjab lucu.
"gadis kecil..? berapa umurmu? " tanya Pria itu tersenyum tipis
"menarik sekali". batin Pria itu merasa tertarik dengan wajah imut nan menggemaskan Kaisha padahal itu wajah palsu bukan asli.
Kaisha merobek gaun nya hingga terlihatlah lutut nya, sebelumnya di bawah lutut tapi sekarang dirobek menunjukkan lututnya
"apa yang kamu lalukan gadis kecil? " tanya Pria bermata Elang itu merasa sedikit penasaran.
Kaisha membuka jas kerja pria itu hingga ia mengerjabkan lucu matanya.
"k kenapa aku tidak mengelak? ada apa ini? " batin Pria itu
Kaisha mengikat mati lengan Pria itu hingga si empunya meringis.
"sudah... paman harus berhati-hati". ucap Kaisha
"pa.. paman? " beo pria itu tak percaya.
"iya paman..! terus siapa? pak? om? " tanya Kaisha dengan polos
"hei.. gadis kecil.. kenapa kamu terlihat sudah biasa melihat hal tadi? ". tanya Pria itu penasaran mengabaikan pertanyaan Kaisha tadi yang berhasil membuat kepalanya berdenyut.
umurnya masih 21 tahun dan Kaisha memanggilnya paman? lucu sekali di dengar olehnya tapi rasa penasarannya lebih besar akan raut wajah tenang dan polos Kaisha melihatnya sedang membunuh manusia.
"itu hal biasa paman..! aku pulang... ". Kaisha meninggalkan Pria itu yang terdiam.
"a.. apa ini.? apa aku barusan di tinggalkan? oleh perempuan ? gadis kecil itu? " gumam Pria itu tak percaya.
__ADS_1
"hei... tunggu... kenalkan namaku .. eh...tunggu... gadis kecill". teriak Pria itu malah kebingungan dengan namanya sendiri.
Mobil Kaisha sudah meninggalkan tempat itu mengabaikan panggilan pria yang dipanggil paman itu oleh Kaisha.
Pletak...!
"kenapa kau melupakan namamu sendiri hah? "
"astagah... kenapa IQ ku menurun drastis bertemu gadis kecil itu? ".
Pria itu terdiam seketika mengingat pembicaraanya untuk pertama kalinya ia berbicara panjang kali lebar mengenai perempuan.
"aku harus cari dia.. " gumamnya tersenyum miring melihat lukanya yang di obati Kaisha
sebenarnya Kaisha hanya bisa mengurangi pendarahannya sampai lukanya di jahit oleh dokter, lukanya tidak terlalu dalam karna dirinya berotot.
Kaisha kembali ke mansion dan Kaira memekik melihat gaun anaknya yang ada cipratan darah.
"astagah... mampus aku..! ini karna paman tampan tadi. batin Kaisha tersenyum kikuk.
.
.
kini Kaisha sedang di sidang oleh Dylan, Keyzo, Pasha dan Matt serta ada Mely dan Kaira,
Shindy sedang bersama bayinya dan Lyli juga menemani Shindy dikamar Baby kembar.
"Daddy.. benar deh.. tadi Kaisha menolong orang aja". jelas Kaisha dengan memelas
"menolong siapa dek? sampai gaunmu harus robek begitu?" tanya Dylan dengan serius.
Kaisha menghela nafas, "issh.. dia terluka kak jadi harus mencari kain untuk menekan pendarahannya.".
"kenapa harus gaun mahalmu dek? kamu tidak tau harganya ya? " tanya Keyzo
"siapa yang kamu tolong sayang? " tanya Kaira.
Kaisha jadi pusing sendiri saat semua keluarganya mewawancarainya secara beruntun hingga kepala Kaisha seperti mau terbelah 2 saat ini..
.
.
.
Hahaha...! Siapakah pria itu? paman tampan? Cuzz Esok lanjutannya ya... 😂😂😂
.
.
.
__ADS_1