
"Shindy Daddy...! dia pelakunya". jawab Dylan serius.
Pasha membulatkan matanya dan tak percaya.
"apa maksudmu nak? mana mungkin Shindy pelakunya.. kamu fikir daddy bodoh? Panji, Ramzi dan Mars sudah mengotopsi langsung jasad mereka semua dan letak luka mereka sangat tepat mengenai pembuluh darah..! Shindy tidak mungkin seahli itu membunuh seseorang.. "
"dia bukan anggota Mafia jadi jangan mengada-ngada.. bahkan cara menusuk dan membunuhnya itu sepertimu sangat rapi tanpa ada bukti yang tertinggal..! mana mungkin Shindy pelakunya? "
"apa salahnya kamu jujur? daddy tidak akan melaporkanmu pada polisi.. daddy hanya ingin tau kenapa kamu membunuh mereka semua.. Daddy tau kamu seorang Abdi negara yang tidak akan sembarangan membunuh orang".
Dylan diam dengan wajah datarnya mendengar omelan Pasha yang sudah persis seperti mommynya.
"bawel banget sih". Dylan mendesis sambil mengusap daun telinganya hingga Pasha melototkan matanya.
"kamu...? kesini kamu anak nakal.. daddy akan menghajarmu... walaupun begini daddy masih bisa melawanmu". Pasha bersiap menyibakkan lengan bajunya
"sudah...? mau dengarkan alasan Dylan? " tanya Dylan serius hingga Pasha menghela nafas panjang.
"cepat jelaskan yang jujur..! awas mengada-ngada.. dan juga beritau daddy siapa Jenny? kenapa kamu membunuhnya juga". Pasha menunjuk profil data korban terakhir yang diletakkan di tempat yang tidak diakui Dylan.
"bukan Dylan pelakunya Daddy" Dylan meletakkan lagi data pribadi Jenny menjauh dari data orang-orang yang ia akui membunuh mereka tapi Jenny memang bukan Dylan pelakunya.
"Jenny di bunuh oleh Shindy Daddy". sambung Dylan lagi.
Pasha memijit pelipisnya yang terasa pening.
"ck... nampaknya Daddy masih belum percaya.. " Gumam Dylan mendecih.
"Daddy dengar..! kapan Dylan tidak jujur hmm? Dylan sering berbohong tapi itu hanya sama mommy tapi sama Daddy? buat apa? apa gunanya? apa aku harus menjaga kesehatan daddy sementara Daddy sehat wal afiat? "
Pasha terdiam. "kamu menyumpahi daddy sakit jantung begitu? " tanya Pasha tak terima
"Daddy dengar..! Shindy pelakunya Daddy..! dia yang bunuh Jenny dan keempat belas ini..."
"menurutmu daddy percaya? hah? Shindy sedang hamil besar begitu seperti balon yang di tusuk langsung meletus! kamu fikir dia bisa membunuh orang begitu? jangan berfikir daddy bodoh nak..! daddy sudah membangun Perusahaan Mattgroup menjadi lebih besar... kematian Jenny ini yang tersadis tubuhnya menghitam seperti dipanggang tapi kenapa didalam air? dan Ramzi menemukan alat sentrum milik Kaisha.. jangan bilang lagi Kaisha yang membunuhnya... ".
Dylan yang pusing sendiri bicara dengan daddynya.
"ya Tuhan... Daddy...ada Keyzo daddy.. di tempat kejadian ada Keyzo dan Lyli kenapa daddy malah memojokkanku udah kayak detektif aja? hah? buat apa aku menuduh istriku sendiri daddy? aku menunjuknya karna memang benar.. dia membunuh Aria juga lewat Sam.. berapa kali aku bilang daddy.. aku tidak berbohong...! Kalau tidak percaya panggil Keyzo kemari" nada bicara Dylan naik 1 oktaf.
Pasha tertegun melihat raut wajah serius Dylan, tak biasanya Dylan menyebut dirinya Aku kalau sudah begitu artinya Dylan berkata serius.
"apa kamu yakin? Shindy yang membunuh 15 orang ini? " tanya Pasha memastikan
"iya Daddy..! Dylan ngga tau spesies apa di perut Shindy.. kenapa dia harus mewarisi jiwa Mafia Daddy dan Granfa? dia jadi psikopat karna anak kami sekarang Daddy.. "
__ADS_1
Pasha lagi-lagi terdiam dengan perkataan Dylan
"psikopat? cucuku psikopat berjiwa Mafia? ". gumam Pasha lirih dengan nada tak percaya.
"apa Daddy tidak ingat bagaimana mommy dulu mengandung Keyzo dan Kaisha? Dylan merasa saat ini terkena karma.. bagaimana bisa Dylan yang seorang abdi negara anak Dylan malah seorang psikopat mafia berdarah dingin? apa kata negara daddy? "
Pasha melihat wajah Dylan yang tampak lusuh sambil memijit pelipisnya sendiri
"dad.. daddy belum bisa sepenuhnya percaya...panggilkan Keyzo" perintah Pasha
Dylan berdecak lalu menelfon adiknya dan tak berapa lama Keyzo datang ke ruangan Pasha dan Dylan
"ada apa lagi ini? main sidang-sidangan kayak mommy? " canda Keyzo, lalu melihat situasi tidak kondusif untuk diajak bercanda, Keyzo tertawa canggung.
"duduk" perintah Pasha dan Dylan serius.
Keyzo merinding seketika lalu segera duduk disamping Dylan.
"katakan siapa yang membunuh kelima belas orang ini? " tanya Pasha serius menunjuk profil data pribadi orang-orang yang meninggal misterius.
"oh... kakak ipar.. " jawab Keyzo melirik wajah Jenny sekilas.
Dylan tersenyum miring melihat wajah pucat Pasha.
"selesai kan? Dylan kembali" . Dylan bangkit lalu meninggalkan Pasha yang masih termenung.
Keyzo menggaruk kepalanya yang tak gatal. "kenapa Dadd? " tanya Keyzo penasaran juga ragu-ragu.
"kamu tidak bersekongkol dengan kakakmu itu kan? masa iya kakak iparmu yang membunuh mereka semua". Pasha masih belum bisa mempercayai Shindy yang hamil tua bisa membunuh sadis 12 orang bersamaan di gedung Tua.
"awalnya Keyzo juga ngga percaya Daddy tapi Keyzo lihat sendiri kalau Kak Dylan sama sekali tidak menyentuh manusia disana.. kakak ipar seperti rela diculik hanya untuk membantai mereka semua".
Pasha termangu lagi teringat dirinya juga pernah membantai keluarga Putri
( Othor : mantan wanita yang dicintainya dulu tapi berkhianat yang baca Cinta Pertamaku seorang Bos Mafia pasti tau..)
"tunggu...? apa katamu nak? rela diculik bagaimana? " cecar Pasha teringat ada yang salah dengan pendengarannya.
Keyzo menceritakan segalanya ke Pasha, kalau perihal musuh tak masalah bagi mereka bercerita pada Pasha tapi tidak bagi Kaira, mereka semua begitu mencintai Kaira hingga tidak sanggup memberi tau kalau dunia mereka tidak seaman fikiran Kaira.
Dylan kembali ke kamarnya dan terkejut melihat Shindy tengah sempoyongan berjalan ke arah Kulkas. Dylan sontak saja berlari dan memegang bahu Shindy supaya tidak tumbang.
"mas? " Shindy sudah menebak dari wangi tubuh suaminya sambil memutar tubuh kesamping memeluk Dylan sebisanya.
"mau apa sayang? " tanya Dylan menyibakkan rambut Shindy dengan lembut.
__ADS_1
"lapar.. ". rengeknya mengucek kedua matanya yang terasa berat tapi perutnya berdemo.
"mau makan apa? " tanya Dylan lembut.
"Pasta" jawab Shindy masih memejamkan mata di pelukan Dylan.
berkat istrinya yang doyan makan, Dylan membuatkan dapur minimalis dikamarnya
"ya udah... sini aku bantu duduk! biar aku masakkan ya? "
Shindy mengangguk-ngangguk dengan mata terpejam.
Dylan dengan serius memasak saat sudah memastikan Shindy duduk aman di sofa khusus dekat dapur kecilnya.
.
"makanan sudah siap". Dylan meletakkan Pasta kesukaan istrinya dan mendekatkannya dihidung sang istri.
Shindy membuka mulutnya dengan mata terpejam.
"apa karna anakku tidak tidur malam itu yang membantai habis Jenny dan komplotannya? ". batin Dylan menebak.
Dylan dengan sabar menyuapkan istrinya yang masih mengantuk berat tapi perutnya terasa lapar hingga mengganggu tidur nyenyaknya.
.
"udah siap! mau apa lagi? " tanya Dylan setelah membereskan wajah shindy yang belepotan.
Shindy tidak menjawab sudah terbang ke alam mimpinya hingga Dylan terkekeh mendengar dengkuran halus istrinya.
"pasti kamu lelah sekali ya? " ledeknya gemas.
Dylan dengan sabar membawa istrinya ke ranjang, bukan di gendong melainkan dirangkul dari samping, Dylan tidak mau anaknya terjepit saat di gendong oleh Dylan dan juga berat istrinya jadi makin tidak wajar, takutnya Dylan tergelincir menjatuhkan istri tercintanya.
.
.
manis... tapi bukan Gula.. hahaha.. sambung Esok say... Selamat pagi dan selamat beraktifitas...terimakasih doa kalian para Readers Othor.. sungguh terharu deh baca komentar yang doain Othor sehat.. hehehe... Love U All.. 😘😘
.
.
.
__ADS_1