
Shindy keluar dari toilet dan kembali ke Dylan yang sedang memejamkan mata sambil menekan pelipis nya.
"tuan? ". Shindy berdiri agak jauh dari Dylan
Dylan membuka matanya,
"apa kau baik-baik saja? "
"saya baik-baik saja tuan". jawab Shindy dengan senyuman.
"apa kejadian tadi membuatmu terguncang? ". tanya Dylan dengan datar.
Shindy menggeleng kepalanya.
"seharusnya saya yang bertanya tuan"
Dylan menaikkan sebelah alisnya,
"apa anda baik-baik saja menikah dengan perempuan seperti saya? ".
tanya Shindy dengan serius
Dylan menarik nafas panjang.
"memang kenapa perempuan sepertimu? ".
"saya gadis pembawa sial dan tidak berpendidikan, saya hanya membuat malu anda dan nama besar keluarga anda tuan! saya tidak masalah di rahasiakan sampai kapanpun "
"lalu kau mau identitas yang seperti apa? ". tanya Dylan dengan wajah datarnya.
"semua tergantung dengan anda tuan! saya hanya mengikuti semua yang anda katakan".
Dylan menggerakkan jari telunjuknya menatap mata Shindy yang ragu-ragu memandangnya.
dengan langkah pelan Shindy mendekati Dylan yang sedang memberi kode Shindy untuk duduk disampingnya, Shindy duduk dengan ragu-ragu Dylan sabar menunggu dengan wajah super datarnya.
"aku memang minim agama tapi aku tau cara menghargai perempuan! apa kau menilaiku pria brengs*k yang suka bermain wanita? ".
Shindy menggeleng-geleng cepat kepalanya.
Dylan tersenyum tipis menekan kepala Shindy
"aku siapa mu? " tanya Dylan
"tuan saya". jawab Shindy
"tuanmu yang pantas memiliki apapun yang ada di tubuhmu begitu? " ledek Dylan
Shindy mendengarnya terbelalak.
"ap apa tuan mengakui pernikahan tadi? ".
Dylan tersenyum miring.
"apa menurutmu ijab kabul tadi main-main? dengan menyebut nama Allah? menyebut mendiang ayahmu? kenapa aku bermain dengan kedua hal itu hmmm? ".
Shindy terpaku mendengarnya.
"sudahlah! ayo kita kembali ". Dylan bangkit dari duduknya dan meninggalkan Shindy yang masih terpaku.
Shindy yang tersadar segera berdiri dan berlari mengejar Dylan.
.
.
di dalam mobil..
Shindy sesekali melirik Dylan tapi dengan cepat Shindy melihat arah lain padahal Dylan sudah menangkap basah lirikan Shindy.
Dylan hanya tersenyum kecil tapi kembali fokus dengan kemudinya.
__ADS_1
"kenapa kau tidak tidur? ". tanya Dylan
"s saya menemani anda tuan". jawab Shindy sambil menutupi mulutnya yang menguap lebar.
Dylan hanya diam sesekali melirik Shindy yang terlihat mengantuk.
"tidurlah". perintah Dylan
Shindy menggeleng-geleng kepalanya.
"tidak mau"
"kau mau jadi istri pembangkang? ". tanya Dylan dengan datar.
DeG!!
Shindy berdebar tak karuan mendengar bibir Dylan mengakui dirinya istri.
"tidurlah" kata Dylan lagi.
"s saya lapar tuan jadi tidak bisa tidur". ujar Shindy dengan pelan.
"kau lapar? kenapa tidak bilang? ". Dylan berkata masih dengan wajah datar yang tak bisa ditebak isi fikirannya.
Shindy tersenyum kikuk.
"kita sudah masuk hutan! bersabarlah". sambung Dylan lagi.
.
.
Dylan membawa Shindy ke mansionnya.
"tuan? kenapa saya dibawa kemari? ". tanya Shindy akhirnya berani protes
"aku mau menemui keluargaku dan tidak bisa di tunda ". Dylan berkata dengan enteng melepas seatbeltnya.
Dylan tiba di ruang tamu dimana semua keluarganya tengah berkumpul terlihat bahagia satu sama lain.
"mommy? granma? ". panggil Dylan dengan wajah datarnya.
"eeh.. putra mommy udah pulang nih? ". Kaira berlari kecil menyambut Dylan begitu juga Mely.
Dylan diam dipeluk Kaira dan Mely matanya melirik semua keluarganya satu persatu yang terlihat sedang bahagia satu sama lain tatapan mereka seolah memberi ucapan selamat atas kebahagiaan nya.
"kakak ipar..? udah jadi batu Es belum? ". Goda Keyzo memegang tangan Shindy dengan senyum lebarnya
Shindy tersenyum gugup, tangannya terasa dingin dan hal itu di rasakan oleh Keyzo.
"tangan kakak ipar yang dingin kayak Es batu nih" Keyzo menekan-nekan jemari tangan Shindy.
"Kaisha.. ?". panggil Dylan
Kaisha tersentak mendengar namanya dipanggil artinya kakaknya sedang badmood biasanya kakaknya memanggilnya dek? atau adek?
"iya kak? ". saut Kaisha
"antar KAKAK IPAR mu ke kamarnya". perintah Dylan dengan penuh penekanan.
Kaisha segera berdiri dan berlari kecil mendekati Shindy.
"ayo kakak ipar". ajak Shindy.
Shindy sekarang pucat pasi, tangannya dingin melebihi Es batu takut keluarga ini akan mencacinya habis-habisan karna menikah tanpa mengatakan apapun pada keluarga Dylan.
"ayo kakak ipar! ". ajak Nova juga berlari mengikuti Shindy bahkan Keyzo pun ikutan mengantarkan Shindy.
mereka bertiga takut dengan kemarahan Dylan, itu sebabnya mereka lebih baik kabur melarikan diri bersama Shindy.
"mommy dan granma hutang penjelasan sama Dylan! ". seru Dylan dengan datar seperti biasa
__ADS_1
"jaga bicaramu anak nakal" Pasha menatap tajam putra pertamanya itu.
"Dylan tidak mengatakan apapun dad..! Dylan hanya minta penjelasan". jelas Dylan dengan dingin.
"ini semua rencana daddy dan granfa tidak ada sangkut pautnya dengan mommy dan granmamu". seru Matt dengan serius.
"jelaskan! kenapa kalian harus membuat kami menikah dengan cara seperti itu? ". tanya Dylan melihat Pasha dan Matt bergantian.
"mommy yang melakukannya nak! apa kamu marah sama mommy? ".Kaira menangkup pipi Dylan.
Dylan beralih ke Kaira.
"kenapa mom? ". tanya Dylan melembut tapi masih wajah datar.
Dylan sudah terlatih menahan emosinya
"apa mommy salah menikahkanmu dengan Shindy? kamu tau sendiri kan dia gadis baik-baik? mommy hanya mau kamu memiliki pendamping sayang apalagi dia sudah mempertaruhkan nyawanya melindungimu". tutur Kaira dengan lembut.
"kamu harus bertanggung jawab dengan nyawanya sayang! mungkin dia baik-baik saja sekarang tapi kita tidak tau mentalnya? kamu sendiri yang bilang dia mengatakan hal yang tidak-tidak".
timpal Mely.
"jernihkan fikiranmu anak nakal mommymu hanya mau kamu jadi pria bertanggung jawab tidak seperti daddymu ini dulu ". sambung Pasha
Dylan memejamkan matanya berusaha menenangkan fikirannya yang sedang kacau, ia tidak bisa marah pada mommy nya tapi situasinya Dylan juga tidak menerima cara mereka menikah yaitu dengan cara Shindy dipermalukan.
"mommy sama saja mempermalukannya mom! kenapa harus dengan cara seperti ini? " tanya Dylan dengan tenang tanpa ada emosi dalam pembicaraannya.
"tapi kamu pasti melindunginya kan? ".
perkataan Mely membuat Dylan bungkam dan tak bisa berkata-kata.
"kamu anak kebanggaan daddy nak..! jangan seperti daddy yang tidak bertanggung jawab". Pasha berkata dengan serius.
Dylan diam lalu menatap mereka semua bergantian.
"Dylan mau masuk kamar".
"bawa dia kekamarmu sayang ". pinta Kaira
Dylan hanya terus berjalan seperti tidak menghiraukan kata-kata Kaira.
"hubby!! ". rengek Kaira berbalik ke Pasha
Pasha merentangkan tangannya dan Kaira langsung berhambur memeluk suaminya, sedangkan mely menggeleng kepalanya juga mendekati suaminya.
"beri anak nakalmu itu waktu untuk menerima semua ini! dia hanya tidak terima cara kita menikahkan mereka ". bujuk Pasha
"anak nakalku itu juga anak nakalmu". ralat Kaira
Pasha terkekeh.
"yaah.. wajah datarnya itu entah mirip siapa"
"ya miripmu lah! apa kamu nggak ingat bagaimana kamu dulu hubby? dingin,datar, cuek bebek dan tak peduli kamu itu paket komplit nyebelin deh.. ". gerutu Kaira
Pasha menyeringai licik hingga Kaira dengan cepat membekap mulutnya.
"habis kamu malam ini sayang". seringai Pasha menggendong Kaira yang terpekik seketika.
.
"mau di gendong juga". rengek Mely ke Matt
"udah ah.. mamah berat ayo kita jalan aja". tolak Matt.
Mely mendecih kesal, alhasil kedua pasangan tua itu berjalan bergandengan tangan.
.
.
__ADS_1