Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
berdua bersama


__ADS_3

.


malam harinya Dylan dan Shindy sedang bersiap-siap hendak keluar mansion.


"mau ke mana sih Ndy? ". tanya Dylan


"aku mau kita main game mas! ya main game ya?" bujuk Shindy.


"main apa? " tanya Dylan


"main game berupa koin dapatin boneka dan yang lainnya". jelas Shindy


Dylan tersenyum langsung menarik tangan Shindy ke gedung 3 tingkat didekat mansion yang selama ini Shindy tidak tau isinya, Shindy mengira gedung itu tempat tinggal para pelayan mansion.


"mas kenapa kesini? ". tanya Shindy malah tidak mau masuk


"bukankah kamu main? "


tanya Dylan


"iya mas! tapi ngga harus masuk ke gedung ini juga? emang ini tempat permainan game apa? ".


"ya.. ". jawab Dylan singkat menggendong tubuh Shindy


"aakh.. masa sih mas? aku nggak percaya". cecar Shindy melingkarkan tangannya di leher Dylan sambil melihat kedepan


Shindy melongoh tidak percaya melihat pemandangan di depannya saat Dylan menghidupkan lampu.


"mas? ini E-Zone? gedung ini permainan game mas? kok bisa?" pekik Shindy dengan takjub.


"daddyku yang buat gedung ini untuk kami bermain saat masa kecil"


"kok bisa? kan ada mol Mattgroup? kenapa malah buang-buang uang bangun gedung seperti ini? ".


Shindy masih mengitari berbagai permainan di depannya.


"hidup kami tidak selalu senang Ndy..! jika di luar akan berbahaya daddyku punya banyak musuh begitu juga aku !". jelas Dylan menyandarkan punggungnya di sebuah pilar kokoh.


"kalau begitu aku bisa main terus dong disini tiap hari". girang shindy


"hmm... aku akan mesan makanan untuk mu sayang kamu mau apa? ". tanya Dylan mengeluarkan ponselnya mencari aplikasi pesan makanan online


"KFC super pedas mas". jawab Shindy tanpa menoleh ke Dylan


"mainlah dulu! aku pesan makanannya ya? ". seru Dylan


"iya mas". saut Shindy


Shindy berbinar senang melihat permainan mengambil boneka dengan memasukkan koin


"bahkan koinnya banyak sekali". gumam Shindy dengan takjub membayangkan gedung ini isinya permainan.


Shindy mengambil 1 koin dan menargetkan boneka landak kecil menggemaskan.


"aaah... gagal". Shindy terus saja bermain sampai ia bosan karna gagal terus.


"ternyata tidak semudah itu juga". gerutu Shindy.


Shindy memutar kepalanya dan terbelalak melihat boneka landak raksasa di sudut ruangan.


"Landakku aku akan mendapatkanmu". Shindy membayangkan landak itu adalah suaminya yang terlihat keras dan Arogan nyatanya sangat imut dan menggemaskan.


Shindy mengambil pistol mainan dan mengisi pelurunya lalu menargetkan nomor 10 untuk mendapatkan bonekanya..


"aah... tidaaak... ih... "


"aduuh...! "

__ADS_1


"peluru.. peluru abis.. ".


.


.


45 menit lamanya Shindy bermain demi mendapatkan boneka landaknya tapi selalu gagal hanya mendapatkan boneka-boneka kecil dan Shindy tidak mengambilnya.


"Sayang? ".


Shindy menoleh saat Dylan memanggilnya.


"mas? ".


"dimana? ". tanya Dylan sudah membawa semua makanan yang di mau Shindy


"disini mas? ". Shindy meletakkan pistol mainannya dan berlari kecil menghampiri asal suara Dylan.


Dylan melihat wajah cantik Shindy ditekuk masam


"kenapa Ndy? "


"itu mas! aku udah coba berkali-kali menembak angka 10 biar dapat boneka landak besar tapi malah dapat yang kecil ngga aku ambil lah!


aku maunya boneka landak yang besarnya aja".


"landak? ".


"iya mas! "


"kamu suka hewan Landak berduri tajam di punggungnya itu? ". tanya Dylan


"aku suka mas Dylan jadi sambil membayangkan Mas, aku rasa mas cocok dengan Landak yang wajahnya datar, dingin Arogan tapi pada kenyataannya mas sangat imut"


Dylan memutar bola matanya dengan jengah.


Shindy berusaha untuk tersenyum ia melihat ke arah boneka landak besar itu


Dylan menghela nafas panjang melihat tatapan Shindy lalu beranjak menuju tempat permainan itu. Shindy mengikuti Dylan yang terlihat sangat gagah.


Dor...!!


"aaaaaaaa....!! ". Shindy berteriak girang melihat Dylan berhasil mendapatkan 1 boneka impiannya hanya dengan sekali tembakan saja.


Dylan memejamkan mata menjauhkan telinganya dari Shindy yang berteriak sangat kencang.


"ambil sana! ".


Shindy berlari ke arah kaca yang baru saja terbuka memberikan boneka landak yang dia mau.


"yess... makasih mas". ucap Shindy memeluk boneka landaknya dengan senang.


"udah cepat sini makan". ajak Dylan


.


.


ke esokan paginya Dylan membawa Shindy ke luar kota, Dylan tidak tega meninggalkan Shindy sendirian di mansion.


"tunggu sebentar ya sayang? aku ke toilet sebentar sambil membelikan cake tiramisu tadi"


"iya mas! jangan lama-lama ya? ". senyum manis Shindy


"jangan beranjak dari tempat ini ok"


"iya mas! cepetan aku pengen makan cake tiramisunya. "

__ADS_1


manja Shindy


Dylan mengusap kepala Shindy lalu berlari dengan langkah lebar ke arah koridor. Shindy tersenyum manis melihat cara Dylan yang sedang berlari terlihat sangat keren.


"cantik? " sapa Gine


Shindy membulatkan matanya.


"k kau? kenapa kau bisa ada di kota ini? "


"kita berjodoh". jawab Gine santai duduk disamping Shindy membuat Shindy berpindah tempat Gine melihat tempat duduk Shindy yang kosong tadi


"dasar sinting! sana pergi jauh ". usir Shindy dengan nada dingin dan dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


"kamu menarik sekali Girl.. i like It"


senyum menawan Gine tanpa malu menatap Shindy dengan intens.


Shindy yang geram mengangkat tangannya dan diletakkan di belakang kepala Gine lalu memukulnya dengan keras.


"awwwh... sakit Girl" Gine mengusap-ngusap kepalanya


"biar kau sadar! cepat pergi...!! ". usir Shindy dengan tatapan tajamnya.


"pergi ngga? " Shindy berdiri dari duduknya.


Gine menggeleng kepalanya


" kamu mau berteman denganku? "


"tidak! ". tolak Shindy ketus


Gine melihat Dylan yang sudah terlihat dari jauh ia mendekati wajah Shindy supaya Dylan salah faham.


Shindy meninju wajah Gine secara naluriah lalu kakinya terangkat menendang bagian bawah Gine.


"dasar cab*l !". teriak Shindy hingga beberapa orang melihat ke arah Gine dengan tatapan merendahkan.


Dylan melihat hal itu hanya tersenyum tipis melihat cara murah Gine demi membuatnya salah faham pada Shindy padahal Dylan tidak sebodoh itu ia juga tau wanita mesumnya itu gadis bar-bar sebelum bertemu dengan Dylan.


"awh... aaakh...! " Gine terjingkat-jingkat di buatnya.


Shindy mengedarkan pandangannya dan terhenti pada sosok Dylan.


"mas? ". Shindy berlari ke arah Dylan dan memeluknya dengan erat.


"apa kamu baik-baik aja? ". tanya Dylan lembut tapi sorot matanya ke arah Gine


Dylan tidak bergerak karna masih ingin mencari tau siapa orang dibelakang Gine.


"aku baik-baik aja mas". jawab Shindy


"pergilah". usir Dylan dengan dingin ke Gine


muka Gine sudah merah padam karna malu belum lagi rasa sakit dibawahnya, tanpa pikir panjang lagi Gine langsung pergi sambil berjalan dengan aneh.


"gimana mas? ada cake nya? ". tanya Shindy


Dylan mengangguk menunjukkan bungkus cake yang dia beli tadi.


"ayo mas! cepat ke kamar aku lapar". rengek Shindy


Dylan melangkahkan kakinya ke tempat Shindy duduk tadi dan mengambil koper nya Shindy, Shindy tetap berdiri di posisi saat Dylan sudah dekat dengannya ia langsung melingkarkan tangannya di lengan Dylan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2