
pria itu adalah Noven di anggap ketua dari topFive yang ada di negara ini. mereka berlima selalu bersama-sama melawan orang terkuat untuk mendapatkan pamor kehebatan mereka ditambah balas dendam tersembunyi.
namun tak disangka olehnya akan kehilangan teman-temannya di hari yang sama dan pelakunya belum diketahui olehnya semua penyelidikan yang dia gunakan tidak bisa di temukan juga olehnya hingga ia langsung mengantongi 1 nama yaitu Dylan.
"siapa sebenarnya KO itu? siapaaa....? " teriak Noven frustasi
sementara bodyguard Noven hanya diam sambil menunduk tidak berani memancing amarah tuannya.
.
Dylan tiba di perusahaannya dengan wajah dingin dan datar seperti biasa mengabaikan tundukan hormat karyawannya itu. Dylan tidak suka pada orang-orang yang suka cari muka.
"Bagus? "
"saya tuan muda" Bagus mendekati Dylan tapi masih jarak aman.
umur bagus masihlah muda hanya berbeda setahun dari Kaisha dan Keyzo tapi dirinya sudah terlatih sejak umur 10 tahun berada di dekat Dylan walau mereka berbeda umur tapi sekarang Bagus tumbuh menjadi pria yang mapan di usianya yang masih remaja dan pastinya terlihat dewasa.
"aku akan bekerja di rumah! " seru Dylan dengan enteng.
"artinya tuan? " tanya Bagus mencerna semuanya.
"artinya apa lagi ? yang pasti aku ngga bekerja disini. istriku sedang hamil muda dan sebentar lagi kami juga akan adakan resepsi kau belum tau juga artinya? apa otakmu kosong? ".
"hanya seperempat tuan! ". balas Bagus sudah tak lagi tersinggung kata-kata pedas tuannya
"ck... apa asistenmu bekerja dengan baik? " tanya Dylan malas
"menurut saya pribadi sangat baik tuan muda! hanya belum berpengalaman saja" jawab Bagus
"hmm... setidaknya kau punya teman untuk mengurus perusahaan ini.. bawa kerumah kalau ada berkas yang harus di tandatangani ".
"baik tuan" jawab Bagus lagi
"kalau kau butuh Asisten lagi suruh Ali bekerja kesini" ujar Dylan dengan santai
"bukankah dia bertugas melindungi Kasmara dewi tuan? " tanya Bagus balik
"hm... tugasnya selesai aku sudah membantai 4 anggota topFive jadi dia tidak akan dalam bahaya sedangkan Noven dia akan sibuk mencari pelaku yang membunuh teman-temannya".
"jadi pelakunya memang TopFive tuan? " tanya Bagus tak percaya instingnya benar
"iya.. sepertinya aku melatihmu begitu baik! "
"terimakasih atas pujian anda tuan" ucap Bagus karna ia merasa dirinya sedang dipuji cepat tanggap diajari Dylan.
Dylan tersenyum miring. "aku akan kembali ! kalian uruslah perusahaan dengan baik"
__ADS_1
Dylan beranjak dari kursi kebesarannya lalu menepuk pundak bagus dan meninggalkan Bagus yang tak menyelah ataupun sekedar mencegah tuannya pergi.
Karyawan di perusahaan Mattgroup pada kebingungan melihat tuan mereka sudah keluar hanya beberapa menit saja sampai di gedung ini. mereka mulai bergosip saat Dylan sudah tidak terlihat lagi oleh mereka
Dylan pergi ke supermarket belanja susu untuk sang istri dan sicalon bayi karna tidak tau susu yang di suka istrinya Dylan membeli semua susu berbeda rasa.
"hmm? beli apa lagi ?" Dylan terlihat bingung apa saja belanjaan yang di perlukan ibu hamil muda hingga Dylan memilih membeli banyak makanan ringan dan lengkap dengan buah-buah berkualitas.
.
.
"mas udah kembali? " tanya Shindy yang tengah duduk di sofanya
"iya ! sayang ". Dylan duduk meletakkan semua belanjaannya.
"mas beli apa? " Shindy begitu berbinar melihat ke arah kantong kresek yang dibawa sang suami
"buka aja" pinta Dylan
dengan semangat menggebu-gebu Shindy membukanya betapa senangnya Shindy banyak makanan di beli Dylan.
Shindy memekik saat ada buah mangga ingin rasanya Shindy menelannya tanpa dikupas kulitnya.
"mau ngapain?" tanya Dylan menahan tangan Shindy yang tengah berusaha memakan mangga tanpa di kupas kulitnya.
"aku pengen makan mangga". jawab Shindy polos
"aku malas kesana ambil pisau" Shindy menunjuk sudut kamar nya dengan Dylan ada westafel khusus untuk mencuci buah dari dalam kulkas sekaligus lengkap ada pisau dapur dan sendok nya.
Dylan menghela nafas panjang. "biar aku siapkan ya? "
Shindy mengangguk-ngangguk ia hendak bangkit tapi Dylan mencegahnya alhasil Shindy harus tetap duduk di sofa demi mematuhi sang suami yang tak mengizinkannya hanya sekedar berjalan.
sore harinya Kinan datang dengan pakaian dokternya baru aja selesai dengan pekerjaannya di rumah sakit, ia harus kuat-kuatkan mental menghadapi si tuan muda Dylan yang seenak jidatnya aja menyuruhnya datang memeriksa Shindy, bukannya datang ke rumah sakit tapi dokternya yang harus datang ke rumahnya entah zaman apa sekarang dimata Dylan.
"waaah... itu bayinya tuan.. Nona.. ". Kinan memutar-mutar USG nya di perut Shindy.
Shindy dan Dylan saling berpegangan tangan melihat ke arah monitor.
sementara seluruh keluarga Dylan menunggu di luar dengan raut wajah penasaran akan kabar calon bayi penerus Melviano.
Rilly di depan mereka pun sudah persis seperti patung tak di lirik sedikitpun.
"masih berbentuk telur aja ngga bisa diam ya? saya harap anda jaga nona dengan baik tuan ! karna menurut saya calon bayinya sangat aktif bisa jadi mengajak anda bersalto ria"
"janinnya masih muda rawan keguguran jadi harus di rawat dengan baik jangan sampai terjadi sesuatu dengan nona, jika perut Nona terasa kram anda harus cepat bawa Nona kerumah sakit tanpa harus menunggu dokter datang ke sini!"
__ADS_1
"kau menyindirku? " tanya Dylan dengan datar
"tidak tuan! pasien saya sangat banyak jadi tidak bisa sepenuhnya menjadi dokter pribadi anda "
Pletak..
Rilly melototkan matanya melihat cara Dylan menyentil kening Kinan.
"udah.. udah.. kok jadi berantem sih? " Shindy menengahi perdebatan dua manusia itu.
Kinan mengusap-ngusap keningnya yang terasa berdenyut, Dylan seperti mengerahkan separuh tenaganya hanya untuk menyentilnya
"tidak sopan..! papa dan mamamu itu dokter pribadi kami" Dylan
"iya tuan tapi itu zaman kapan? itu zaman 10 tahun lebih sudah berlalu, sekarang tidak ada lagi dokter pribadi itu"
"kau menjawabku? "
"udah mas.. udah.. kenapa kamu melawan anak kecil sih? kamu nggak lihat dia sangat polos dan jujur? jangan melawannya" Shindy dengan sabar menjadi penengah diantara mereka.
Dylan menghela nafas panjang sudah tau Shindy akan menyalahkannya karna perbedaan umur mereka itu.
Rilly menahan nafas di dalam ruangan itu tanpa berani mengeluarkan sepatah dua kata sedikitpun.
.
.
di tempat lain Bagus datang ke Apartemen Dewi
"apa tuan? Ali sudah dibebas tugaskan? " tanya dewi terlihat tidak rela
"lalu apa tugas saya berikutnya tuan? " tanya Ali
"membantuku di perusahaan! ". jawab Bagus
"tuan muda akan cuti panjang dan bekerja di rumah saja karna istrinya sedang hamil muda harus di jaga dengan baik "
"baik tuan" jawab Ali langsung masuk ke kamarnya menyusun bajunya
Dewi menggerutu kesal belum mendapatkan hati bodyguardnya itu udah pergi aja darinya.
"tuan anda akan meninggalkan saya? " tanya Dewi menghentikan gerakan tangan Ali
"tugasku sudah selesai! jika tuan bilang kau aman maka kau sudah aman" Ali melanjutkan gerakan tangannya menyusun baju-bajunya masuk ke dalam koper.
.
__ADS_1
.
.