
"mas..... aku.. ak... hiks... hiks... ". Shindy langsung berhambur memeluk Dylan.
Dylan juga membalas pelukan istrinya, membelai rambut istrinya dengan penuh cinta.
"maafkan aku mas... maafkan aku ..aku yang salah.. maafkan.. aku hiks.. hiks.. ". Shindy terus saja berucap maaf, suaranya tersendat-sendat karna sesegukannya.
"aku baik-baik aja sayang.. tidak ada yang perlu kamu sesalkan! aku senang kamu tetap bertahan di sini, aku tau aku egois tapi aku tidak bisa menempatkanmu dalam bahaya sayang, kamu dan anak kita bukan kelemahanku tapi kekuatanku untuk bertahan hidup ditengah bahaya mengintaiku".
Shindy terus saja menangis sambil memejamkan mata lalu entah mengapa ia langsung tertidur begitu saja.
Dylan melepaskan pelukan Shindy yang mulai mengendur, ia merebahkan tubuh Shindy secara perlahan lalu menggendongnya membawanya kembali ke kamarnya sambil membawa semua makanan yang dia beli tadi.
diluar sudah ada Nova, Candra, Keyzo dan Rilly (Lyli).
"bang ! ". sapa Candra
"kak ! bagaimana keadaan kakak ipar? " tanya Nova berkaca-kaca
Lyli tidak berkata-kata hanya diam dengan wajah tertunduk, ia merasa semua yang terjadi dengan Dylan dan Shindy adalah salahnya.
"ikut aku Rilly". perintah Dylan tanpa menjawab pertanyaan Nova
"Kak ?". rengek Nova menahan lengan Dylan
"kakak iparmu baik-baik aja dek..! kamu istirahat yang benar jaga kandunganmu baik-baik! " ujar Dylan dengan lembut
Nova membelalakkan matanya, bagaimana bisa Dylan tau dirinya hamil padahal Nova belum mengatakan apapun lalu matanya beralih ke Shindy seperti berpikir Shindylah yang memberi tau Dylan.
Dylan seperti tau tatapan Nova. "kakak tau sejak kamu makan Cilok begitu lahap seperti kakak iparmu yang memang berbadan 3, karna masalah kakak sekarang ini, Kakak tidak bisa mengintrogasi suamimu.. "
sedangkan Keyzo menganga tak percaya Nova hamil begitu cepat, Rilly masih tertunduk tidak berani berbicara sepatah katapun.
"apa maksud kakak? " tanya Nova merentangkan tangannya melindungi Candra yang diam mendengarkan pembicaraan mereka tanpa ikut campur.
"kau Candra !! apa kau menyentuh adikku sebelum halal? " tanya Dylan memicing curiga
"aku bersumpah atas nama mendiang mamaku bang! aku tidak pernah melakukan hal diluar batas milikku sebelum kami menikah! aku mencintainya ! cinta yang tulus akan membuatku bisa menjaganya, cintaku suci bang hingga bisa mengalahkan Nafs* birahi itu sendiri".
Nova tersenyum manis mendengar penuturan romantis Candra.
Dylan bisa melihat Candra yang tidak terlihat takut menatap matanya,
"sungguh? " tanya Dylan memancing dengan tatapan yang lebih tajam
"sungguh...! aku tidak takut apapun yang abang katakan! karna aku memang tidak menyentuh Nova sebelum kami menikah" jawab Candra dengan yakin
__ADS_1
"sudahlah kak...! bawa aja kakak ipar ke kamar, masih sempatnya kakak mengomeli orang lain setelah membuat kami kocar-kacir karna kecelakaan menimpa kakak tadi". sambar Keyzo
Dylan mendengus
"bawa adikku ke kamarnya".perintah Dylan dibalas anggukan patuh dari Candra.
Candra membawa Nova pergi dari tempat itu.
"kau Kembali saja ke kamarmu dek". Dylan juga mengusir Keyzo yang terpaksa mengangguk patuh tapi melihat ragu ke Shindy
"tenang aja! kakak bisa merawatnya" jawab Dylan menghilangkan keraguan Keyzo.
Rilly menunggu di luar, Dylan mengantarkan Shindy ke kamarnya lalu meletakkan semua belanjaan yang dia beli tadi di meja sofa.
Dylan menyelimuti Shindy mencium hangat keningnya lalu beranjak keluar dari kamar itu menemui Rilly
Dylan membawa Rilly ke Rooftop.
"Katakan!! ". seru Dylan dengan nada penuh perintah hingga Rilly gemetar.
"D.. daniel mengancam saya tuan" kata Rilly tercekat
"Daniel? mantan suamimu itu yang suka melakukan kekerasan fisik? " tanya Dylan
"benar tuan..! dia meminta saya kembali atau anda akan menjadi target utamanya jika saya tidak pergi dari sisi anda ". Rilly bersimpuh memohon pengampunan Dylan.
"apa yang kau katakan padanya? " tanya Dylan dengan dingin
"anda selalu mengajarkan saya tentang apa artinya kebodohan yang telah saya lalui selama ini.. Saya tidak akan kembali bahkan jika nyawa saya sendiri yang dalam bahaya, tapi sekarang dia berubah pikiran dan mengubah targetnya menjadi anda tuan".
"jadi selama ini kau selalu izin karna dia menargetkanmu sebelumnya? " tanya Dylan dengan dingin
Rilly tidak menjawab hanya makin menundukkan pandangannya.
"kau tidak mau istriku juga terkena imbasmu, itu sebabnya kau menjaga jarak dari istriku dengan alasan tugas diluar sana". tanya Dylan lagi
Rilly masih tidak menjawab, kebisuan Rilly sudah menjawab pertanyaan Dylan.
Dylan mendekati Rilly dan memegang bahu Rilly. "tatap Aku..! "
Rilly menggeleng kepalanya.
"kau seperti adik bagiku! tidak masalah kau mengadukan kesulitanmu padaku, apa aku tidak begitu berarti bagimu? bukankah kau sendiri yang mengatakan ada sisi ayahmu di diriku? lalu kenapa kau menanggungnya sendiri? "
Rilly menangis tanpa bersuara,
__ADS_1
"sa.. saya hanya tidak mau menyusahkan anda tuan! anda begitu baik pada saya dan keluarga saya jadi saya fikir tidak baik menambah masalah anda dengan masalah saya sendiri". Rilly masih menunduk
Dylan menghela nafas panjang. "kau tidak perlu memikirkan masalahku! kau fikirkan saja masalahmu selesai secepatnya,, tidak ada masalah yang membuatku sakit kepala kecuali ngidam istriku itu"
Rilly spontan saja menatap Dylan. "tuan tidak marah? tuan tidak memecat saya? atau menghukum saya? "
Dylan menepuk-nepuk kepala Rilly bukan membelai melainkan menepuk-nepuknya.
"aku akan atasi masalah Daniel itu untukmu!, mati pantas untuknya jika dia berani memintamu kembali untuk menjadi samsak tinjunya lagi".
Dylan meninggalkan Rilly yang terpaku lalu Rilly terduduk lemas, inilah yang membuat semua prajurit khusus Dylan setia sampai maut menjemput karna Dylan sangat baik dimata mereka, walaupun Dylan lebih sering memasang wajah dingin dan tatapan tajamnya yang membunuh, tak membuat mereka takut sebab mereka berpikir Dylan malaikat tak bersayap yang di turunkan Tuhan itu mereka semua yang tertindas.
Rilly bersumpah akan tetap setia pada Dylan dan selalu datang saat Dylan membutuhkannya.
.
.
Dylan kembali ke kamarnya lalu membersihkan diri, Dylan naik ke ranjangnya dan memeluk tubuh Shindy dengan mesra.
.
ke esokan paginya Shindy terbangun duluan lalu matanya mengedar dan menemukan Dylan tengah tertidur lelap memegang perutnya.
Shindy berkaca-kaca melihat Dylan yang kembali dalam keadaan baik-baik saja.
"Tuhanku... terimakasih telah menyelamatkannya untukku". batin Shindy mengusap rahang Dylan dengan hati-hati.
Dylan menarik nafas panjang lalu makin mengeratkan pelukannya ke Shindy..
Shindy juga ikut memeluk Dylan dan memilih memejamkan mata lagi di leher Dylan, wangi tubuh Dylan membuat Shindy begitu tenang.
"sayang... papi kalian kembali sayang... lain kali mami tidak akan membiarkan papi kalian jauh dari jangkauan mami biar kalian tetap punya papi, mami mohon sayang mintalah yang lain saja, jangan menyusahkan Papi kalian". Shindy membatin mengajak anak-anaknya berbicara..
.
.
.
Yeeey...sambung esok ye... selamat beraktifitas!!
.
.
__ADS_1
.