
"iya ayo kita makan! " ajak Shindy juga mencium kening Dylan
Keyzo dan Nova menghela nafas panjang melihat adegan mesra sepasang suami istri yang tengah dimabuk cinta itu.
"ayo kak! kasihan Black yang udah capek dari tadi nyariin kakak ipar" seru Keyzo dengan jengah melihat kemesraan kakaknya itu.
Dylan dan Shindy beralih ke adik-adiknya, Dylan segera merangkul Shindy membawanya keluar dari hutan bambu, Nova membawa bambu runcing yang menjadi barang bukti Shindy membunuh pria asing itu, sedangkan Keyzo membawa Black yang dengan setia berjalan tenang di samping Keyzo.
.
.
Nova membuang barang buktinya ke laut, lalu Dylan masuk ke Vilanya mencuci tangan dan tubuh istrinya yang terkena darah yang sudah mengering, dengan sabar Dylan memandikan istrinya.
Keyzo membeli makanan di luar membawa mobil Dylan ditemani Nova,
"mas marah sama aku? " tanya Shindy berkaca-kaca
sejak tadi Dylan tidak berbicara bahkan sekarang memandikan Shindy pun tidak berbicara sepatah katapun.
"ngga sayang! aku cuma kurang enak badan" bohong Dylan.
"terus mas kok ngga bicara sejak tadi? hiks.. hiks.. kan aku udah berkali-kali minta izin sama mas buat manjat tapi mas nggak ngizinin, sementara tidurku tidak bisa tenang sebelum keinginanku tercapai ! mas bisa tidur tenang karna bukan mas yang sedang hamil hiks.. hiks... kenapa malah marah sama aku? nih... adek bayinya salahin...hiks. hiks.. "
Bagaimana Dylan bisa marah mendengar tangisan manja istrinya itu. bibir Dylan melengkung tipis lalu segera memakaikan jubah mandi ke tubuh polos istrinya.
seperti kata Kinan usia kandungan Shindy masih sangat muda dan rentan jadi harus berhati-hati walaupun Kinan mengakui kandungan Shindy sangat kuat tapi tetap saja berhati-hati itu perlu, Dylan jadi bisa menahan hasratnya melihat tubuh istrinya yang polos apalagi sedang mengandung anaknya, menurut Dylan, ia tidak akan melakukan hubungan itu kalau Shindy tidak berinisiatif sendiri.
"aku ngga marah sama kalian sayang! aku hanya marah sama diriku sendiri" ucap Dylan dengan lembut sambil mengusap perut datar Shindy.
"ke kenapa? " tanya Shindy sesegukan.
Dylan menghapus air mata Shindy, istrinya itu seperti memiliki 2 kepribadian saja, terkadang kuat dan kejam kadang bisa cengeng menangis karna masalah kecil.
"karna aku tidak mengerti keinginanmu dan anak kita" jawab Dylan.
"jadi mas ngga marah kan sama aku? " tanya Shindy
"tidak, ayo bangun...! " ajak Dylan.
.
.
setelah makan bersama Dylan dan yang lainnya harus kembali hari ini juga karna semua keluarga Melviano sangat khawatir dengan keadaan Shindy.
Nova memberi tau keluarganya tanpa ada yang di kurang-kurangin olehnya hingga keluarga nya itu makin stress saja dengan calon penerus Melviano yang baru.
"mau makan apa sayang? " tanya Dylan mengusap kepala Shindy yang tengah memeluk Black seperti kucing saja.
"aku mau makan daging panggang! ". jawab Shindy tersenyum cerah
Dylan menjitak kepala Black yang terlihat begitu menyebalkan dimatanya. Black seakan tidak bersalah sedikitpun hingga Nova dan Keyzo terbahak melihatnya.
"kak Dylan bucin parah! kok bisa cemburu sama hewan? ahahaha" gelak tawa Keyzo.
Dylan melirik adiknya dengan tajam, Shindy terlihat tidak peka malah masih memanjakan macan hitam itu.
__ADS_1
"kakak ipar! itu kak Dylan udah cemburu itu". tegur Nova
Shindy menoleh ke Dylan dan mengerjab-ngerjabkan matanya dengan lucu.
"mas cemburu? " tanya Shindy
Dylan mengangguk tanpa mengelak lagi.
Shindy tersenyum begitu menawan, ia meletakkan Black ke pangkuan Keyzo lalu tersenyum manis ke arah Dylan yang tengah gemas dengan tingkahnya.
Nova menganga lebar dan Keyzo mengelus kepala Black sambil tertawa cekikikan melihat mata sayu Black yang terlihat tak bersemangat dipangkuannya karna bukan dipangkuan perempuan.
"ckk... Nova jadi pengen cepat nikah sama kak Kitty.. " keluh Nova dengan kesal.
Dylan melirik Nova lewat kaca mobilnya dan Shindy memutar kepalanya melihat ke Nova.
"serius kak? " tanya Keyzo berbinar
"lihat saja kelakuan mereka berdua..? pokoknya Nova mau menikah sama Kak kitty"
Dylan memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri, Shindy malah bertepuk tangan senang.
.
.
.
setibanya di mansion saat semua keluarga Melviano mengkhawatirkan Shindy,
Candra juga terkejut mendengarnya tapi hatinya seakan melompat dari tempatnya dan terasa banyak ribuan kupu-kupu di perutnya Candra.
"kamu serius nak? " tanya Abi tak percaya
"sangat serius Papa" jawab Nova yakin.
"kekacauan macam apa lagi ini? belum selesai satu nambah lagi satu" ujar Mely berdenyut nyeri
"pernikahan dan pertunangan kalian 12 hari lagi, terus kalau dijadikan hari pernikahanmu sayang berarti semua harus di ubah lagi tidak mungkin di undur karna undangan sudah tersebar luas. " Kaira
Pasha tak bisa berkata-kata mulutnya seakan terkunci saat ini, sedangkan Dylan melihat kesamping istrinya sudah menghilang.
"Sayang? Ndy? kamu dimana sayang? " tanya Dylan segera masuk ke mansion mencari istrinya.
"kita bahas didalam! ". perintah Matt.
Keluarga Melviano makin stress dengan situasi nya saat ini, Shindy yang tengah hamil dan masih masa ngidam lalu ada masalah lain lagi, yaitu Nova yang tiba-tiba mengubah rencana pertunangan menjadi hari pernikahan.
masalah Nova selesai saat Candra yang memberi saran bijaknya hingga semua orang setuju, yaitu akan di jadikan sebuah kejutan di akhir acara perihal hari Ijab kabul sekaligus Pesta pernikahannya, Candra juga akan menyewa seseorang untuk membuat mimbar pengantin yang sangat megah nantinya untuk sang pujaan hati.
.
Dylan mencari istrinya di dapur lalu melihat Shindy yang tengah duduk menung didepan Oven.
"sayang? "
"mas..? masakin aku " rengek Shindy
__ADS_1
"lalu kenapa kamu kabur tadi hmm? " tanya Dylan
"aku tadi mau mual saat ramai-ramai tadi mas ! jadi aku muntah di westafel" Shindy menunjuk westafel dapur.
Dylan menangkup pipi Shindy "lalu sekarang bagaimana? masih mual? "
Shindy menggeleng kepalanya "tapi lapar"
Dylan menghela nafas lega. "iya aku buatkan tapi minum susu dulu ya? "
Shindy mengangguk patah-patah.
Dylan membuatkan susu ibu hamil untuk Shindy kemudian dirinya fokus membuat bumbu daging panggang spesial buatannya untuk sang istri.
Shindy duduk manis menunggu Dylan yang sedang memasakkannya daging panggang.
.
.
"gimana? enak? " tanya Dylan menyibakkan rambut Shindy
"enak tapi kurang" jawab Shindy
Dylan dengan sabar memasakkan semua menu makanan yang dimau istrinya, persis seperti pelanggan meminta masakan pada Chefnya.
melihat betapa lahapnya Shindy makan membuat Dylan begitu semangat memasak walau berkali-kali ia harus melakukannya.
"udah? " kekeh Dylan melihat Shindy yang terkapar kekenyangan.
"masakan mas enak banget loh...! aku suka aku suka.. suka.. sekali... " Shindy memuji masakan Dylan begitu bersemangat walau masih sangat kekenyangan.
"ayo kita kembali" ajak Dylan
Kaira datang lalu bertanya keadaan Shindy
"kenapa Shindy sayang? " tanya kaira khawatir.
"dia kekenyangan mom" kekeh Dylan
"Apa? jadi wangi masakan tadi memang dari dapur, kamu yang masak ya? "
Dylan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"maafkan mommy sayang! kami tadi sibuk mengurusi masalah Nova yang mengubah rencana pertunangannya. " jelas Kaira dengan merasa bersalah.
"nggak apa mom..! lagian tadi Shindy cuma mual aja kok terus kesini karna lapar, tapi ngga mood masak jadi mas Dylan yang masakin" cengir Shindy
Kaira tersenyum lembut. "mual itu biasa bagi wanita hamil! kamu hati-hati jaga kandunganmu ya sayang"
"iya mom" Dylan dan Shindy menjawab dengan serentak.
.
.
.
__ADS_1