
Shindy di bawa oleh Keyzo ke halaman depan dan berjalan mengitari mansion hingga tiba di sebuah rumah kecil nan cantik.
"kenapa kucingnya di luar rumah Keyzo? seharusnya kan di dalam rumah kan? ". cecar shindy melihat rumah ukuran kucing Dylan yang tak biasa.
"Black? ". panggil Keyzo
Shindy mengikuti Keyzo dan melebarkan matanya melihat hewan peliharaan yang dibilang kucing oleh Keyzo.
"ini peliharaan kak Dylan kakak ipar ". ujar Keyzo mengelus kepala Black
macan hitam itu malah sibuk makan dengan lahap tak menerkam Shindy yang asing baginya.
Keyzo menjitak kepala Black.
"dasar macan mesum! ".
"hah? ". Shindy malah bingung kenapa Keyzo mengejek macan hitam yang keliatan buas itu dengan sebutan mesum.
"biasalah kakak ipar kalau sama perempuan dia nggak mau nyakitin tapi kalau sama laki-laki asing jangan harap kulit pria itu mulus kalau sudah bertemu dengannya! hewan ini sama buasnya dengan kak Dylan kakak ipar".
curhat Keyzo tanpa sadar.
"tuan muda buas? ". beo Shindy
Keyzo menggigit bibir bawahnya, ia lupa kalau Shindy belum tau sosok kakaknya itu.
"aah iya,, bukannya kakak ipar tau kalau kak Dylan itu jendral besar perang ! dia dapat penghargaan sebagai jendral perang termuda sepanjang sejarah". jelas Keyzo mana tidak mungkin Keyzo mengatakan kakaknya itu seorang Mafia.
Shindy manggut-manggut, ia tau kalau Dylan seorang mantan jendral perang yang handal cukup di takuti oleh lawannya.
"coba deh kakak ipar dekati". pinta Keyzo mengalihkan
"apa benar dia tidak jahat? kakak takut". rengek Shindy dengan memelas mata kucing manisnya hingga Keyzo tergelak melihatnya.
"pantas aja kak Dylan suka tertawa sama kakak ipar ya? selalu menggemaskan". goda Keyzo
Shindy malah tidak mendengarnya ia sibuk melihat hewan buas itu, ia memang bar-bar melawan orang jahat tapi kalau hewan buas siapapun pasti takut apalagi hewan buas memiliki taring dan cakar yang sudah pasti bisa mencabik-cabik tubuh manusia.
"jangan takut kakak ipar! dia ini suka sama perempuan ". goda Keyzo
Shindy perlahan melangkahkan kakinya dengan keringat dingin di pelipisnya membayangkan hewan ini akan membunuhnya.
Shindy mengulurkan tangannya sambil memejamkan mata saat tangannya hendak menyentuh kepala macan hitam itu, Keyzo di buat kekeh dengan tingkah Shindy yang sangat lucu sangat cocok buat kakaknya yang arogan dan jarang tertawa pasti kakak dinginnya itu akan selalu terhibur dengan tingkah Shindy.
"aawh..! ". Shindy terpekik saat menyentuh kepala hewan itu tanpa ada pergerakan dari hewan itu sendiri.
"buka mata kakak ipar". pinta Keyzo.
Shindy membuka matanya dan melihat sorot mata hewan itu sangat menggemaskan hilang sudah rasa takut Shindy tanpa sadar mulai menggerakkan tangannya mengelus kepala Black.
"dasar mesum". Keyzo menjitak lagi badan Black
Black seakan tak peduli malah begitu menikmati belaian lembut Shindy,,
.
__ADS_1
"apa yang kalian lakukan? ".
suara itu membuat Keyzo dan Shindy menoleh
"kakak? ". cengir Keyzo
"tuan? ". Shindy juga gugup saat tertangkap basah oleh Dylan mengunjungi hewan peliharaannya tanpa persetujuan Dylan.
"lihat lah kak! Black langsung nempel sama kakak ipar". adu keyzo menunjuk Black yang tampak tenang di samping Shindy.
"mommy ku mencarimu" Dylan melihat Shindy
"eeh.. iya tuan". jawab Shindy segera meninggalkan tempat itu karna tidak mungkin membuat nyonya besar mansion Melviano menunggu nya.
Dylan menatap datar adiknya yang menunjukkan deretan giginya yang putih, Dylan membelai kepala Black lalu meninggalkan kandang Black bersama Keyzo.
Keyzo beralih ke Black,,
"biasalah black..! kau menyukai gadisnya maka nya dia begitu.. bersabarlah sampai aku menemukan macan betina untukmu".
.
.
sementara Shindy menemui Kaira di sofa ruang tamu.
"tante? ". sapa Shindy
"manggil Kaira tante tapi manggil granma masa iya nyonya besar". celutuk Mely
"kenapa manggil nyonya sih? maksud mama itu jangan manggil nyonya besar juga ke mamah panggil aja nyonya granma ya? ". Kaira menangkup pipi Shindy
"n nyonya Granma? " beo Shindy tergagap
Kaisha yang sedang memeluk Pasha pun cekikikan melihat wajah polos Shindy yang sangat lucu dibodohi.
"mana kakakmu sayang? ". tanya Matt
"biasa granfa main komputernya lah". jawab Kaisha malas.
Pasha menggeleng pelan kepalanya dengan senyum lebarnya sambil menciumi puncak kepala putrinya yang super manja padanya.
"bisa kan? ". tanya Kaira
"bi bisa tante mommy" jawab Shindy.
semua yang mendengarnya mematung lalu tertawa terbahak-bahak, Shindy malah menatap bingung semuanya.
"a apa saya salah? ". tanya Shindy dengan raut wajah ketakutan.
Kaira mencubit kedua pipi Shindy dan menggeleng-geleng cepat kepalanya, Kaisha tak berhenti tertawa ternyata seorang perempuan yang cantik seperti Shindy mudah di bodohi tapi sangat lucu.
"kenapa mereka bukannya marahin aku? atau bilang dimana letak kesalahanku supaya aku bisa memperbaikinya tapi kenapa sekarang aku merasa mereka suka sekali membuliku..". batin Shindy kebingungan.
"m maaf kan saya tante ". ucap Shindy tergagap.
__ADS_1
"apa kau bisa bekerja hari ini? ".tanya Dylan memecah situasi mereka semua.
Shindy menoleh dan menjawab "iya bisa tuan".
"tidak boleh!". seru Kaisha, Kaira dan Mely.
Shindy membalik tubuhnya melihat ke arah Mely, Kaira ia takut tapi memohon pada Dylan pun percuma karna Dylan sangat patuh dan hormat pada keluarganya.
Dylan meninggalkan Shindy, tapi Shindy pamit pada keluarga Dylan untuk mengantar Dylan ke depan.
Shindy berlari mengejar Dylan yang terlihat santai.
"tuan? ".
"hmm? ". sahut Dylan tanpa melirik ke Shindy
"Hmm? sabarlah Shindy". teriak Shindy dalam hati.
"kapan saya kembali ke rumah anda! saya tidak nyaman disini tuan". bisik Shindy dengan gugup
"apa keluargaku membuatmu tidak nyaman? ". tanya Dylan dengan santai
"b bukan sa saya nyaman disini tuan! tapi semuanya akan semakin kacau kalau saya terus berada di dekat tuan muda saya takut mereka makin salah faham tuan"
"aku bisa apa kalau mereka yang memintamu sendiri..? apa aku terlihat berkuasa di mansion ini? ".
Shindy menggigit bibir bawahnya.
"diamlah di sini jangan keluar dari mansion tanpa seizinku..! "
Shindy tersentak mendengar perkataan Dylan yang langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan Shindy yang masih termangu
"kenapa aku merasa kalau aku bukan seorang pelayan? astagah...!! mikir apa aku ini? jangan mikir yang mimpi tinggi-tinggi deh kalau jatuh sakit ".
gerutu Shindy.
Shindy kembali masuk ke Mansion, selama berhari-hari Shindy di mansion Melviano sudah mulai akrab dengan semua pelayan dan seluruh keluarga Dylan.
tapi sepertinya Dylan begitu sibuk di luar hingga sering pulang malam, Shindy sama sekali tidak keluar dari mansion kalau tidak meminta izin dari Dylan, ia begitu patuh akan perintah Dylan.
"kakak ipar kenapa nggak mau keluar mansion sih? nggak bosan apa ya? ". tanya Kaisha penasaran
Shindy sudah tak heran lagi adik-adik Dylan memanggilnya kakak ipar tapi sosok Dylan begitu jarang jumpa dengannya.
"mana mungkin aku bilang kalau aku di kurung oleh kakak kalian di sini! bahkan minta bekerja saja di tatap Salju olehnya ". batin Shindy dengan kecut.
.
.
Salju -> Dingin seperti Es.
.
.
__ADS_1