
.
.
"mas mau kemana? ". tanya Shindy dengan pipi yang sudah belepotan cake tiramisu ditambah mata besar Shindy yang mengerjab lucu membuat bibir Dylan berkedut menahan tawa.
"aku keluar sebentar saja! habiskan cake mu".
"mau mau ?". Shindy menyodorkan cake nya dengan tangannya yang belepotan juga.
tanpa rasa jijik Dylan membuka mulutnya,
"manis! "
"emang manis mas! saat aku makan cake tiramisu lidahku terasa meleleh mas! uuh... enak sekali"
"terus kenapa jarang beli? ". tanya Dylan
"hmm mungkin karna mahal mas! terus aku juga jarang keluar mansion jadi ngga sempat beli ". cengir Shindy
"saat di mansion nanti aku akan minta nomor hp toko cake jadi kalau kamu mau mereka akan tinggal antarin".
Dylan beranjak pergi meninggalkan Shindy yang menganga lebar.
"Sultan mah bebas!! ". seru Shindy menggeleng kepalanya dengan perkataan Dylan
Shindy kembali memakan cake nya.
"mas Dylan belinya banyak juga sih..! tau aja bakal jadi cemilanku nanti"
Shindy membawa cake yang belum dibuka dan memasukkannya ke dalam kulkas fasilitas kamar hotel di kota itu.
.
Dylan keluar dari hotel dan menendang punggung Gine dari belakang
Gine tersungkur rasa sakit di bagian bawahnya belum hilang sekarang nambah lagi rasa sakit di punggungnya
"Sial siapa yang berani menen...?" Gine diam melihat pelaku yang menendangnya tanpa hati.
"Dylan? kau rupanya aku fikir siapa? ". acuh Gine menahan rasa sakit di punggungnya.
"dasar monster pantas saja ayahku saat itu bilang pria ini sangat mengerikan ternyata pukulannya memang sangat kuat bagi seorang pria kalangan sepertiku, ayah dan kakakku yang kalangan hebat bilang pria ini monster apalagi aku yang tidak punya beladiri setinggi ayah dan kakakku".
"kau berani melepas topengmu didepanku? ". wajah dingin Dylan memasukkan tangannya ke kantong celananya.
"hmm... demi mendapatkan Shindy aku memang harus menunjukkan diri". jawab Gine dengan percaya dirinya
Dylan mendecih.
"kau fikir bisa merebut nya dariku? "
"kalau dia mudah di dapatkan permainan tidak menarik! justru hal itu malah membuatku semakin tertarik pada istrimu itu"
Dylan masih bisa tenang tanpa terpancing sedikitpun.
"kenapa kau tidak membunuhku hah? ". ejek Gine menunjuk posisi jantungnya berada.
Dylan menatap datar Gine.
"kau punya sekutu dan aku pastikan akan mendapatkan orang-orang yang membantumu"
Gine terkejut mendengar penuturan Dylan yang tau dirinya tidak sendirian
"kau memang hebat Dylan tapi aku tidak akan membiarkanmu menemukan orang-orang dibelakangku".
Dylan menyeringai tipis.
"lihat saja! bagi seorang Dylan tidak sulit mencari komplotanmu ".
__ADS_1
Dylan melenggang pergi begitu saja, Gine yang terpancing mengambil kayu panjang di sampingnya lalu melemparnya ke arah Dylan, Dylan hanya berpindah posisi dan kayu itu malah meleset.
Gine terbelalak melihat hal itu, Dylan tidak menoleh sedikitpun bagaimana bisa Dylan tau Gine menyerangnya dengan kayu.
"aku tidak mendengar langkah kakinya tadi! apa dia benar semengerikan itu? apa kata Ayah dan Kakakku itu memang benar dia monster dalam wujud manusia tampan? ".
"ciuh... tampan? aku lebih tampan". percaya diri Gine merasa dirinya jauh lebih tampan dari Dylan
Gine berbalik segera pergi dari tempat itu karna rasa sakit dibagian bawah dan punggungnya sudah jauh lebih baik.
"semoga saja dia tidak tau siapa saja orang-orang yang ada di pihakku". gumam Gine penuh harap.
.
ketua Daniel seorang bos besar dari wanita penghibur terbesar di kota pusat datang ke hotel itu bersama wanita penghibur untuk klien VIP nya menginap di hotel itu kini. .
Dylan berpapasan dengan Daniel.
"tuan muda! ". sapa Daniel
Dylan bersikap dingin dan menatap Daniel dengan datar lalu meninggalkan tempat itu tanpa berbicara sepatah katapun pada Daniel.
"apa tuan muda Melviano menginap disini? ". tanya Daniel pada anak buahnya.
"iya ketua tapi saya tidak tau apa istrinya juga ada di hotel ini". jawab bodyguardnya Daniel.
Daniel menatap ke atas lalu tersenyum miring di wajahnya yang sudah mulai keriput.
"cari tau". perintah Daniel.
"baik ketua".
sementara wanita penghibur yang dibawa Daniel memperhatikan Dylan sambil menahan nafas.
"sempurna sekali tubuhnya!! pasti sangat memuaskan wanita diatas ranjang". batin wanita itu menggerakkan jemarinya mengukur tubuh Dylan dengan jarinya seperti kebiasaannya.
"ayo jalan Tina ". Daniel menepuk bokong wanita penghibur yang bertugas melayani nafsu pelanggan setianya.
Dylan melihat kebelakang dimana Daniel yang sudah masuk Lift.
"ck... dasar muncikari tua".
Dylan masuk ke lift menuju kamarnya di lantai teratas fasilitas terbaik hotel itu.
.
.
"mas? ". Shindy keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi melilit di tubuhnya.
"kok keramas? apa kita tadi sudah bercint*?". goda Dylan melihat Shindy keramas padahal mereka belum melakukan apa-apa di kamar penginapannya kini
"ihh...tadi rambut aku lengket dengan cake tiramisu nya mas! masa iya aku ngga keramas". jelas Shindy menunjuk ke tong sampah.
Dylan terkekeh.
"apa perlu kita melakukannya lagi? ".
"aku udah mandi mas ....". kata Shindy tergantung lalu menebarkan senyum manisnya merentangkan tangan ke Dylan.
"kamu mandikan aku ya? ". gemas Dylan mengecup bibir Shindy sekilas
Shindy mengangguk-ngangguk melingkarkan tangannya di leher Dylan saat membopong tubuhnya ke kamar mandi lagi.
.
.
"Ndy..? "
__ADS_1
"iya mas? " sahut Shindy menatap Dylan yang sedang serius mengotak-ngatik IPed dan laptopnya
Shindy beranjak dari kasur dan menghampiri Dylan dengan duduk disamping Dylan
"berhati-hatilah saat keluar kamar ". peringatan Dylan serius.
"hah? iya aku tau harus hati-hati dari pria gila itu kan? ". tebak Shindy menyandarkan sisi wajahnya di bahu Dylan.
"bukan pria itu saja". ujar Dylan serius
"terus siapa? ada pria lain? ". tanya Shindy
"pria Tua itu juga disini ". jawab Dylan tenang
Shindy mencerna kata-kata Dylan,
"pria tua itu disini? hmm? pria tua yang man....?". gumam Shindy tergantung menyadari sesuatu
"pria hidung belang itu? ". tanya Shindy
Dylan mengangguk.
"aku melihatnya tadi di lobi".
wajah Shindy memucat seketika langsung memeluk Dylan dengan erat.
"kalau begitu aku akan ikut kemanapun kamu pergi mas! jangan tinggalkan aku di kamar sendiri karna aku dengar bos pemilik hotel ini seorang cassanova aku yakin dia akan membantu pria tua itu hingga bisa masuk ke tempat ini saat kamu tidak ada"
"dari mana kamu tau berita itu? ". tanya Dylan serius.
"tadi aku dengar gosip pelayan yang bertugas mengantar makanan ". jawab Shindy
"hm... aku akan membawamu kemanapun aku pergi". bisik Dylan menenangkan hati Shindy yang masih ada terselip rasa takut.
.
.
Shindy tertidur di pangkuan Dylan sementara Dylan masih berkutat dengan laptopnya. Dylan membenarkan selimut yang membalut tubuh Shindy.
"aku akan melindungimu wanita mesumku! jangan takut sama siapapun termasuk pria tua itu!! lawan rasa takutmu aku akan berdiri disampingmu untuk melindungimu". batin Dylan mengusap lembut kepala Shindy
Shindy yang tertidur seperti orang mati pun begitu nyaman di pangkuan Dylan.
Dylan melirik ponsel Shindy yang mendapat pesan, Dylan mengambilnya dan membacanya ternyata pesan dari Alexa.
"terimakasih Nona..! berkat anda saya bisa makan-makanan sehat demi bayi saya supaya tumbuh dengan baik semoga Tuhan melimpahkan kebahagiaan untuk anda nona..
Alexa "
Dylan tersenyum tipis,
"aku hanya membantumu karna bayimu itu! jika orangtuamu jangan salahkan aku tidak memberi mereka pekerjaan ,, ck sudah menjadi pemulung masih sombong menjelek-jelekkan nama istriku".
Dylan tidak menghapus pesan Alexa supaya Shindy bisa membacanya besok pagi.
.
.
.
Esok lagi readersku sayang..!
banyak musuh beterbangan... wkwkwkwk..
.
.
__ADS_1
.