
Dylan membawa Shindy ke Warteg dibelakang acara pesta.
"mas suka makan ini juga? " tanya Shindy tak percaya suaminya juga bisa makan-makanan murah.
Dylan menautkan alisnya. "tentu saja sayang! apa menurutmu aku orang yang begitu pemilih makanan? "
"Brokoli? " kekeh Shindy
"itu yang aku tidak suka". jawab Dylan mengalihkan pandangannya hingga Shindy tertawa merangkul Dylan dengan manja.
pertengkaran sayang mereka malah membuat orang-orang yang makan di warung itu iri, ditambah Dylan mengorbankan jas mahalnya untuk menjadi alas Shindy makan supaya gaun Shindy tidak kotor.
Aria mendengar bisik-bisik orang yang melewatinya hampir semua manusia yang lewat membahas Shindy dan Dylan hingga Aria mengepalkan tangannya.
"kenapa aku bisa begitu sial? kenapa tidak aku di posisinya? kenapaaaa...? apa bagusnya? hanya aku yang pantas bersanding dengan Tuan muda.. aku sangat sexy.. ". Aria membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan Shindy tanpa tau kelebihan Shindy.
gaun yang melekat di tubuh Shindy benar-benar membuat darah Aria mendidih menginginkannya,
"itu gaun berharga ratusan juta buatan desaigner ternama X, gaun itu baru keluar 2 hari yang lalu dan sekarang gaun yang membius mataku dipakai olehnya. !" batin Aria
"jika aku memiliki tuan muda aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau termasuk sebuah Hotel". gumam Aria membayangkan kekayaan Dylan.
tekatnya makin kuat ingin posisi Shindy, dengan begitu ia akan berusaha menyingkirkan Shindy terlebih dahulu.
telinga Aria sudah panas mendengar ocehan orang-orang yang iri dengan kemesraan Dylan dan Shindy, ia kembali mencari cara untuk merusak gaun Shindy terlebih dahulu.
"sebenarnya apa rencanamu sayang? " tanya Dylan menyibakkan rambut Shindy dan tanpa malu mengecup bahu Shindy yang terbuka hingga para wanita di belakang Shindy memekik.
Shindy malah tidak malu-malu malahan senang dengan perlakuan Dylan, ia ikutan mencium bahu kokoh Dylan hingga siempunya tertawa mencubit pipi Shindy.
"mas makan aja ". Shindy mendekatkan keningnya ke bahu Dylan.
"iya, tapi kamu belum jawab pertanyaanku sayang! apa rencanamu sebenarnya? ". tanya Dylan sekali lagi.
"aku ingin membuatnya marah hingga tujuannya berubah yaitu menyingkirkanku". jawab Shindy dengan enteng.
"APA..? " Dylan sampai berdiri hingga orang-orang yang melihatnya juga ikut terkejut.
Shindy menarik tangan Dylan untuk kembali duduk.
"aku tidak akan membiarkannya". Dylan berkata dengan penuh penekanan.
"mas...?". Shindy memegang tangan Dylan dengan tatapan serius.
"aku akan membunuhnya". bisik Shindy dengan seringai liciknya.
"kamu kan tidak mencintainya mas! jadi tidak masalah kan aku mencongkel matanya? ". bisik Shindy
Dylan tertegun lalu tersenyum tidak mungkin Dylan melarang nya bisa-bisa Shindy salah faham dan memperumit keadaan, lebih baik membiarkan Shindy melakukan kesenangannya.
__ADS_1
"ok... tapi kamu harus bisa jaga diri dan Embrio kita". pasrah Dylan
Shindy melebarkan matanya. "mas...? " rengek Shindy dengan nada panjang.
Dylan tertawa. "makan"
Shindy pun makan tapi bibirnya mengerucut.
.
.
selesai makan di warteg, Dylan izin ke toilet dan meninggalkan istrinya di sofa panjang khusus untuk tamu VVIP.
tatapan Shindy mengedar dan menemukan Aria yang tengah bernyanyi lalu melenggak-lenggokkan tubuhnya hingga para pria hidung belang bersiul senang.
Bagus yang hendak melihat ke arah panggung di tahan oleh Kinan dengan memegang rahang Bagus.
"maaf Bagus..! tapi aku rasa kamu tidak pantas melihat itu" ucap Kinan dengan serius.
Bagus pun mengangguk jadinya menatap ke arah Kinan, mereka hanya berteman dekat belum berhubungan serius.
"ada apa memangnya? " tanya Bagus serius.
Bagus melihat para wanita menutupi wajah kekasih dan suami mereka, entah apa yang salah diatas sana saat ini Bagus hanya mendengar seseorang menyanyi dengan nada yang sangat menggelikan bagi Bagus tapi tidak bagi pria hidung belang yang malah menegang mendengar suara itu.
"tidak..! mamaku mana mungkin menyewa dangdutan". jawab Bagus
"lalu siapa dia ya? ". gumam Kinan keheranan.
"coba aku lihat..! " Bagus hendak menoleh tapi Kinan masih menahannya.
"aku yakin kamu tidak akan suka pemandangan diatas... " jelas Kinan meyakinkan
sedangkan Shindy hanya menatap datar lekuk tubuh Aria yang persis seperti wanita diskotik saja.
"apa maksudnya? apa dia fikir mas Dylan mau meliriknya? bahkan dia bertelanj*ng pun mas Dylan tidak akan meliriknya". gumam Shindy dengan dingin.
Shindy mencari sesuatu disekelilingnya untuk menghentikan ulat keket yang satu itu.
senyumnya terbit melihat lampu gantungan di atas Aria, ia mencari cara supaya bisa menjatuhkan lampu gantung itu.
Shindy bangkit dari sofa nya lalu melangkahkan kakinya dengan tenang ke saklar lampu keseluruhan dan dengan entengnya membalik saklarnya hingga terdengar oleh Shindy jeritan orang-orang, entah kenapa Shindy bisa melihat dengan jelas saat situasi begitu gelap gulita.
Shindy memutus penyanggah lampu gantung hingga hanya beberapa cm lagi tersisa, Shindy berjalan tenang ke arah tempat semula dengan lampu yang masih padam itu. orang disekitarnya sudah kocar-kacir entah kemana.
hanya hitungan menit lampu kembali menyala,
"lampu sudah kembali menyala semuanya..! apa mau saya lanjutkan lagi? " tanya Aria dengan genitnya.
__ADS_1
"mau.... ". jawab semua pria serentak.
Aria dengan gembira berjoget-joget ria diatas panggung, tanpa menyadari lampu gantung sudah mulai bergeser.
Dylan kembali ke Shindy dan mengecup pelipis istrinya.
"apa kamu baik-baik aja saat tadi mati lampu sayang hmm? "tanya Dylan
Shindy menganggukkan kepalanya menatap lurus ke arah lampu gantung.
Dylan melihat arah tatapan Shindy dalam hitungan detik lampu gantung mulai bergelantungan hingga penonton pada histeris, Aria melihat ke arah tatapan semua orang yang ketakutan lalu ia dengan cepat berlari ke arah samping hingga mic nya terbang entah kemana.
pecahan kaca lampu gantung mengenai betis Aria hingga siempunya menjerit kesakitan,
Dylan melebarkan matanya lalu melihat ke arah Shindy yang tengah tersenyum puas.
"apa Shindy pelakunya? ". batin Dylan menebak.
Dylan memeluk Shindy saja dengan erat takut ada seseorang yang mengetahui Shindylah pelakunya.
semua orang mulai menjerit menyelamatkan diri, Ella dan Ramzi sibuk menghubungi Ambulance sedangkan Kinan dan Bagus naik ke atas panggung.
"kamu bisa mengobatinya Kinan? " tanya Bagus khawatir.
"bisa..! tolong bantu aku". pinta Kinan.
karna kekurangan alat-alat pertolongan Kinan bisa mengeluarkan pecahan beling di betis Aria tapi tidak bisa menjahit luka Aria yang cukup lebar, Aria yang sudah pingsan karna terlalu syok langsung dibawa ke rumah sakit.
Bagus berdecak kagum dengan kemampuan Kinan sampai Aria masuk ke mobil Ambulance.
"kamu seorang dokter sayang? " tanya Ella mendekat dan menangkup pipi Kinan.
Kinan nyengar-nyengir malu sendiri. "masih banyak belajar nyonya". jawab Kinan
"No.. no.. no... panggil mama bukan Nyonya". tegas Ella
Ella melihat ke arah Bagus yang tersenyum.
"kamu tidak mengenalkannya pada mama sayang? ". dengus Ella
"maaf ma! tadi mama sama papa terlalu sibuk jadi Bagus tidak sempat mengenalkannya". jawab Bagus jujur.
"sudah.. sudah.. ayo kita masuk". ajak Ramzi
.
.
.
__ADS_1