Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
minta aneh (part. 1)


__ADS_3

Nova berhasil menenangkan Candra yang terisak sejak tadi, Nova baru melihat sisi berbeda Candra setelah beberapa hari mengenal Candra.


"kak Kitty begitu rapuh dibalik sikap ceria dan sikapnya yang seperti playboy itu.. " batin Nova juga ikut menghapus air matanya.


Nova beruntung berada di keluarga Melviano yang mana dirinya masih memiliki keluarga yang lengkap sementara Candra kekurangan kasih sayang dan hidup dengan rasa bersalah pada sang Abi.


"terimakasih telah menghiburku beby" ucap Candra menghapus air mata Nova yang merasakan kesedihannya.


Nova memegang tangan Candra. "kak Kitty jangan nangis lagi ya? kan ada mommy Nova yang sayang juga sama kak Kitty! semua keluargaku keluarga kakak juga.. "


Candra mengecup punggung tangan Nova. "aku baru mengenal mommymu tapi aku sangat menyayanginya! karna untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya memiliki punya mama".


Nova tersenyum "iya mommyku wanita terbaik di dunia ini"


Candra terkekeh lalu memeluk Nova dengan mesra sambil menghela nafas lega akhirnya memiliki seseorang seperti Nova yang sangat berperan penting untuk membahagiakannya.


Nova membalas pelukan Candra "aku akan selalu ada disisi kak Kitty..! aku akan membuat kakak melupakan masa lalu suram kakak, tidak akan bersedih lagi jika bersama ku" batin Nova penuh tekat.


"kita pulang? " tanya Nova mengusap punggung Candra.


"hmm... kita pulang" saut Candra sambil melepaskan pelukannya lalu tangannya mencubit pipi Nova.


.


.


.


Dylan memijit pelipisnya saat Shindy merengek minta izin menunggangi kuda liar yang sedang hamil juga sama sepertinya.


"mana ada kuda liar di hutan sayang" ujar Dylan memelas seolah menyiratkan melarang Shindy hendak menaiki kuda liar yang tengah hamil juga.


"mas... aku ngga mau tau cepat carikan kuda liar yang sedang hamil juga" suara Shindy terdengar tegas


Dylan masih berusaha membujuk tapi lama kelamaan Dylan makin frustasi saat Shindy menangis seperti anak kecil yang tidak dikasih mainan.


"sayang.. jangan menangis ya? aku akan cari tempat yang ada melihara kuda ya? " bujuk Dylan menghapus air mata Shindy


Shindy sesegukan menatap pemilik manik mata biru nan lembut itu.


"anak mas nih yang minta... hiks.. hiks.. aku ngga tenang mas kalau keinginanku belum tercapai! cepat carikan atau aku akan kabur lagi dimalam hari masuk hutan mencari hewan buas yang lebih mengerikan" ancam Shindy terlihat serius dengan mata sembabnya.


Dylan tak bisa berkata-kata lagi, Shindy selalu patuh padanya tapi sekarang sejak hamil Shindy jadi keras kepala seperti batu dan sulit di kasih tau hal itu berbahaya atau tidaknya yang penting keinginan Ekstrim Shindy tercapai.


"iya.. sayang aku carikan tapi kamu ngga boleh kemana-mana saat aku keluar ok? aku carikan kuda yang kamu mau ya? " Dylan dengan serius menangkup pipi Shindy


Shindy yang sesegukan masih bisa mengangguk-ngangguk.

__ADS_1


.


.


.


Dylan menemukan apa yang Shindy inginkan, kini Dylan tengah membawa istrinya ke gurun X yang mana tempat itu menyebrangi laut hingga mereka harus naik kapal Feri untuk pergi ke tempat itu


Shindy melihat banyaknya orang yang tengah menyambutnya, rahang Shindy terbuka lebar melihat Ambulance, ada 10 dokter dan banyaknya perawat bersejajar rapi serta pekerja yang berpenampilan kotor, mereka adalah penjaga kandang kuda sekaligus pembersih kotoran kuda.


"ke kenapa banyak sekali dokter mas? " tanya Shindy kebingungan.


"aku hanya melindungimu jika terjadi sesuatu dengan anak kita! kamu tau sendirikan bagaimana besarnya kuda? yang kamu mau naiki kuda liar bukan kuda jinak jadi aku bawakan 10 dokter berbeda spesialis untuk menyelamatkan anak kita nanti" . jelas Dylan


Shindy makin menganga lebar dengan mata melotot tak percaya.


"kok berlebihan begini sih mas? " tanya Shindy dengan kesal.


"pilih aku larang atau boleh? ". tanya Dylan membuat Shindy tak bisa berkata-kata karna dirinya memang sangat ingin naik kuda betina yang sedang mengandung juga sama sepertinya.


Dylan tidak mau Shindy kabur lagi di malam hari jadi beginilah akhirnya untuk memenuhi keinginan Shindy tapi Dylan juga harus melindungi Shindy dan anaknya yang super nakal itu hingga membuat ibunya (shindy) begitu berani membantahnya.


.


sesi perkenalan selesai,


.


"mas... apa ini mas? panas" rengek Shindy melepaskan kostum anehnya


"itu untuk melindungimu" jawab Dylan mencium kening Shindy dengan penuh cinta


semua yang melihat itu begitu gemas, rasa cinta Dylan begitu besar tapi mengizinkan juga Shindy naiki 1 kuda liar yang sulit untuk mereka jinakkan sejak lama.


Shindy menekuk wajah cantiknya dengan kostum aneh yang melekat di tubuhnya.


"mas.. ini tubuhku mekar banget mas.. gendut.. jelek.. aku ngga mau.. " rengek Shindy menginjak-nginjak kesal tanah pijakannya kini.


Dylan mengabaikannya, ia memeluk Shindy sebisanya, karna tubuh Shindy memang sangat besar karna kostum pelindung yang dipakaikan olehnya, jujur Dylan ingin tertawa tapi ia harus bisa menahannya kalau tidak istrinya bisa mengamuk seperti banteng marah.


"mari saya antar tuan.. " kata penjaga kuda bernama Niko


Dylan mengangguk memegang tangan Shindy dengan menggenggamnya mesra, dengan muka memberengut masam Shindy terpaksa mengikuti Dylan.


Sungguh tubuh Shindy seperti balon mekar saat ini tapi dijamin akan melindungi Shindy nantinya saat menaiki kuda, bahkan kaki shindy harus berjalan aneh, sebab kakinya juga menggembung lucu.


"ini kandang kudanya Tuan muda! sejak dahulu tidak ada yang mau mendekati kuda itu tuan! bahkan kotorannya dibersihkan harus saat kuda itu pergi jalan-jalan masuk hutan tapi kuda liar itu tidak pernah kabur dari tempat ini tuan, dan tidak ada juga pemiliknya yang bertugas memandikannya karna takut, " ujar Niko

__ADS_1


"jadi kalau mandinya bagaimana? " tanya Dylan


"kuda itu mandi sendiri saat masuk hutan tuan, diujung sana ada sungai dan disitulah kuda betina itu mandi sendiri" jawab Niko


"lalu dia sedang mengandung juga? " tanya Shindy


"iya nona..! kami tidak bisa memeriksanya karna kuda itu terlihat marah saat kami membawa dokter hewan. jadi tidak ada yang berani mendekatinya sampai saat ini"


Dylan melihat ke arah shindy "kamu yakin sayang? mau naik kuda itu sayang? "


Shindy tersenyum lebar "mau"


Dylan menghela nafas panjang tidak bisa mencegah istrinya yang sangat menginginkan naik kuda liar.


"kami akan masuk" ujar Dylan


Niko menunduk sopan lalu membukakan pagar yang menjadi pembatas kawasan kuda liar itu.


Dylan membawa Shindy masih menjaganya dengan begitu baik,


"semoga aku masih punya kemampuan menjinakkan hewan buas seperti dulu". batin Dylan penuh harap.


saat hendak sampai ke kandang kuda, Dylan berteriak panik saat Shindy berlari duluan masuk ke kandang Kuda hingga tubuhnya yang aneh itu melompat-lompat lucu karna kostumnya terbuat dari balon air.


Bugh...


"sayang? " pekik Dylan kaget melihat Shindy tersungkur hingga tangannya mengenai kotoran kuda.


bukannya marah atau menangis Shindy bangkit sendiri dan mengendap-ngendap mencari kuda liar itu yang sedang bersembunyi.


Dylan memegang tangan Shindy yang lain untuk menahannya supaya melihat kearahnya, lalu Dylan menatapnya khawatir.


"kamu baik-baik aja sayang? " tanya Dylan.


"baik mas! kostum ini buat aku mental-mental hehehe... makasih ya perlindungan mas padaku dan anak kita" cengir Shindy


Dylan menghela nafas lega. "jangan berlarian! "


Shindy mengangguk. "sepertinya kudanya bersembunyi mas"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2