Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
menghadiri pesta (part. 2)


__ADS_3

Willy makin geram melihat kemesraan Dylan dan Shindy.


"aku sekarang mengerti kalau kau juga jenius seperti suamimu dan kau menggunakan kecantikanmu untuk melihat rahasia ku saat itu hingga aku kehilangan uangku "


"aku tidak akan mengampunimu !! aku akan menjadikanmu jal*ngku sekali lalu menyebar luaskan vidio kita hingga reputasimu dan suamimu hancur dalam semalam".


Willy langsung meninggalkan tempat itu mencari seseorang untuk melancarkan aksi bulusnya.


sedangkan Dylan masih menahan tawanya melihat senyum canggung Shindy yang terlihat lucu


"kenapa kamu malu hmm bukannya kamu sudah sering melakukannya bahkan leb... ? " ledek Dylan


Shindy membekap mulut Dylan dan tertawa hambar melihat sekeliling.


"maaf suami saya memang sedikit usil dan suka menggoda saya ". jelas Shindy dengan muka merah padamnya yang malu.


Shindy beralih ke Kaira, Kaisha dan Nova sedang tertawa terbahak-bahak dan melihat ke tempat lain dimana Mely, Arabela tertawa tak kalah keras mereka tidak bisa menahan Wibawa mereka di dalam acara pesta saking gemasnya dengan tingkah Shindy dan Dylan


Shindy kembali menatap suaminya.


"bawa aku kabur mas! ". bisik Shindy memelas


Dylan akhirnya tertawa hingga semua orang makin terbelalak melihat seluruh keluarga Melviano tertawa layaknya keluarga yang sangat dekat seperti tidak ada kasta diantara mereka bahkan Pasha, Matt dan Lexy tersenyum lebar untuk pertama kalinya didepan umum.


Shindy menatap kesal suaminya bukannya membawanya lari malah menertawainya hingga semua orang makin memperhatikan nya dengan Dylan apalagi Shindy melihat tatapan memuja para wanita tertuju pada Dylan.


"mas! ". rengek Shindy memelas tapi matanya melototi suaminya seperti sedang mengancam Dylan.


Dylan pun berusaha sekuat tenaga menahan tawanya menutupi wajahnya di bahu terbuka Shindy hingga makin banyak saja wanita pada melototkan mata karna iri dengan keromantisan Dylan dan Shindy.


"mas.. " Shindy mengusap punggung Dylan menatap tak suka para wanita sedang menatap suaminya yang super tampan saat tertawa.


.


.


hari sudah makin larut keluarga Dylan pamit pulang terlebih dahulu hanya Dylan yang harus tetap di acara pesta mewakili keluarganya yang sudah kembali sedangkan Shindy setia menunggu suaminya.


Shindy duduk tenang di sofa sedangkan Dylan bercengkrama dengan rekan bisnisnya dengan serius.


"nona silahkan di minum". seru seorang pelayan wanita dengan anggun


Shindy mengalihkan pandangannya


"maaf aku tidak pesan minuman" tolak Shindy.


"tapi semua orang menerima minuman nona". pelayan itu menunjuk sopan semua orang yang mendapatkan jatah segelas minuman.


Shindy melihat sekeliling tanpa menaruh curiga Shindy menerima segelas minuman itu lalu pelayan wanita itu pergi meninggalkan Shindy memberi minuman ke yang lainnya.


"aku tidak boleh berfikir buruk! buktinya semua orang juga diberi minuman ini". Shindy menatap serius gelas berwarna merah ceri itu.


Shindy meletakkan gelas nya tidak jadi meminumnya hanya membiarkannya saja.


wanita yang bertugas memberi minuman untuk Shindy kembali menemui Willy.

__ADS_1


"bagaimana? kau sudah memberinya? "


"sudah pak! saya memberinya senatural mungkin hingga dia tidak curiga sedikitpun". jawab pelayan bernama Ria dengan antusias.


Willy tersenyum puas.


"ini tips mu ". Willy menyodorkan beberapa lembar uang ke Ria hingga wanita itu kegirangan seperti dapat rezeki berlimpah saja.


"terimakasih pak..! ". ucap Ria dengan senang.


"hmn! sana pergi". usir Willy merasa diatas awan karna berfikir rencananya berhasil


Willy mengintip Shindy yang terlihat sangat sexy saat mengibaskan rambutnya.


"kenapa dia belum minum juga? " gumam Willy terlihat tidak sabar.


Shindy tersenyum manis melihat suaminya yang sangat gagah.


"mas Dylanku sangat tinggi juga sangat lihai diatas ranjang! aah... aku ingin mengusap otot dada dan perutnya". gumam Shindy dengan mata berbinar melihat Dylan yang sangat mempesona.


pikirannya melayang-layang seketika.


Glek...!


"issh.. kenapa aku jadi berpikir kotor di tempat seperti ini? ". Shindy menekan kedua pipinya yang terasa panas.


Shindy mulai kepanasan mengipas-ngipasi wajahnya sendiri Shindy melihat segelas minuman yang diletakkannya tadi tanpa menunggu lagi ia menyambar minuman itu hingga tandas Willy tersenyum puas melihatnya.


Shindy tersenyum lega ia menetralkan degub jantungnya yang sangat bergemuruh melihat pose Dylan yang sangat keren padahal Dylan hanya berdiri tegak saja tangannya masuk ke kantong celananya.


.


ia melihat ke arah minumannya tadi.


"astagah..! seharusnya aku tidak meminumnya tadi aku yakin ada sesuatu di minuman itu".


Willy memperhatikan gerak-gerik Shindy yang terlihat gelisah.


"cepat pergi ke toilet! aku akan membawamu ke kamar hotel dan melakukan aksi ku! kau akan menerima balasanku wanita sialan kau akan ku jadikan jal*ngku ". seringai jahat Willy.


Shindy menggeleng-geleng kepalanya yang terasa pusing.


"mas? Mas? "


Shindy berdiri dari duduknya.


Dylan seketika menoleh ke Shindy


"Ndy? "


"mas? " Shindy berjalan sempoyongan ke arah Dylan yang tidak jelas dimata Shindy


pandangan Shindy sudah mulai buram.


Dylan berlari ke arah Shindy yang hampir jatuh beruntung Dylan berhasil menangkap tubuh istrinya.

__ADS_1


"Ndy? kamu kenapa sayang? ". tanya Dylan khawatir mengusap pipi Shindy.


"mas? badanku panas". Shindy memejamkan matanya.


Dylan melihat wajah Shindy yang merah, tentu Dylan tau artinya ia mengumpat geram melihat sekeliling.


Willy yang merasa rencananya gagal segera bersembunyi, Dylan menggendong tubuh Shindy membawanya keluar area pesta.


"sabar sayang! aku akan mendinginkanmu". ujar Dylan dengan khawatir


tamu undangan tidak ada yang bergerak hanya diam dengan wajah pias, siapa yang berani berbuat seperti itu pada seorang istri Tuan Melviano pikir mereka.


Dewi dan Gine yang baru saja kembali melihat Dylan menggendong Shindy


"Shiitt!! siapa yang berani melangkahiku? ". geram Gine yang tau Shindy terkena efek obat perangs*ng dari gerakan tubuh Shindy yang gelisah di gendongan Dylan.


"kenapa wanita itu? " tanya Dewi


"bantu aku cari dalangnya! aku akan memberinya pelajaran". perintah Gine


Dewi yang tidak tau apa-apa terpaksa mengikuti Gine,,


sementara Dylan membawa kendaraannya dengan kecepatan tinggi ke rumahnya yang lebih dekat dengan lokasi pesta.


"aku akan membalas orang yang membuatmu begini sayang! ".


Setibanya di kamarnya Shindy sudah menerkam bibir Dylan dengan tangan yang sudah kemana-mana Dylan menggendong istrinya menuju kamarnya pangutan mereka tidak terlepas Dylan sangat hafal setiap sudut ruangan di rumahnya walau dengan mata terpejam.


.


.


.


Dylan memandikan Shindy yang sudah terlelap kelelahan Dylan memakaikan jubah mandi untuk Shindy lalu meletakkan tubuh istrinya dengan hati-hati, Dylan menyelimuti tubuh Shindy lalu mengecup lama kening Shindy


"bersabarlah sayang! aku akan keluar sebentar membalas pelaku yang sudah membuatmu seperti sekarang" Dylan berkata dengan pelan lalu beranjak dari kamarnya.


Dylan kembali ke acara pesta dengan pakaian rajut yang membalut tubuh gagahnya, Dylan malah menuju ke ruang keamanan.


"t tuan muda? ". gagap 2 pria penjaga ruang keamanan.


"aku butuh komputer kalian mencari bukti seorang penghianat".


mendengar suara dingin Dylan kedua penjaga keamanan langsung menundukkan kepala lalu meninggalkan Dylan yang membutuhkan privasi mencari rekaman CCTV yang dibutuhkannya.


.


.


.


besok lagi Say...


selamat beraktifitas...!

__ADS_1


.


.


__ADS_2