
Kini Dylan dan Shindy ada di ruangan fitness, Shindy memakai pakaian cukup terbuka tidak seperti biasanya.
"kenapa kamu hanya pakai dalaman? ". tanya Dylan dengan datar.
"apa sih mas? ini bukan dalaman ini Sport bra khusus buat olahraga bukan dalaman seperti biasa mas dan ini celana pendek bukan semp*k ". jelas Shindy dengan sabar.
Dylan memutar bola matanya.
"ya itu sama saja dalaman".
"berbeda mas". tegas Shindy membuat Dylan diam tanpa membalas.
Dylan dan Shindy pemanasan terlebih dahulu barulah ia mulai mengajari Shindy ilmu beladiri simpel namun cukup membantu disaat-saat dibutuhkan.
Shindy terkejut saat Dylan memeluknya dari belakang,
"pikirkan cara terbaikmu untuk melepaskan pelukanku! aku ingin tau ".
kata Dylan serius.
Shindy memejamkan matanya lalu menenangkan diri ia mulai fokus lalu melepaskan tangan Dylan sekuat tenaga tapi tidak bisa.
"mas kok ngga bisa? ". tanya Shindy berusaha melepaskan tangan Dylan.
"kenapa malah bertanya padaku? ". Dylan
"biasanya aku bisa melepaskannya mas tapi kamu ngga bisa". Shindy berusaha lagi melepaskan tangan Dylan
"sudah aku bilang musuhku bukan kalangan preman atau sekedar tukang Jaga(Bodyguard) tapi kalangan Mafia mungkin lebih diatasnya". jelas Dylan
"artinya kekuatannya lebih kuat dari biasanya? ". tebak Shindy menoleh ke Dylan hingga wajah mereka berdekatan
"hmm.. kamu harus melatih diri supaya bisa mengimbangi mereka". ujar Dylan lagi menahan diri untuk tidak menyentuh hidung Shindy
Shindy mengangguk-ngangguk.
"coba lagi mas! aku akan coba dengan cara lain".
Dylan mengeratkan pelukannya, wangi tubuh Shindy menyeruak di indra penciumannya.
Shindy konsentrasi ia harus bersungguh-sungguh belajar ilmu beladiri supaya bisa berguna untuk Dylan nantinya.
Shindy meraba tangan Dylan dengan perlahan supaya pelukannya mengendur butuh waktu lama bagi Shindy dan akhirnya pelukannya mengendur, Shindy langsung melepaskan pelukan Dylan menahan tangan kiri Dylan dan membanting tubuh suaminya ke matras latihan.
"Yesss... aku bisa". pekik Shindy
Dylan merutuki diri karna sempat tergoda sentuhan lembut Shindy tapi bibirnya tersenyum tipis setidaknya Shindy cepat belajar walau dengan cara curang.
"bagaimana mas? ". Shindy duduk diatas tubuh Dylan.
Dylan membuka matanya dengan kaget Shindy ada diatasnya.
"apa yang kamu lakukan diatas tubuhku? ".
"apa yang aku lakukan mas? kita sedang latihan kan? bagaimana jika ada pria yang mencoba melecehkanku? aku harus bisa beladiri kan? ". elak Shindy dengan aktingnya yang terlampau baik.
Dylan menggeram dalam hati, kenapa dia malah terjebak dalam mengajarannya sendiri
"nah kalau begini mas? ". Shindy memegang pergelangan tangan Dylan menguncinya persis seperti pria hendak melecehkan wanita bedanya posisi mereka terbalik.
"apa yang harus aku lakukan? ". tanya Shindy dengan polos diatas tubuh Dylan.
Dylan berusaha mengontrol dirinya dan beberapa menit kemudian dia ikut larut dalam permainan Shindy yang lama kelamaan makin intim, Shindy mempelajarinya dengan baik walau jantungnya berdebar tidak karuan begitu pun Dylan masih bisa di sembunyikan dengan wajah tenang dan super datarnya.
__ADS_1
"udah mas! capek juga". Shindy ambruk di lengan Dylan.
Dylan memutar bola matanya ke arah Shindy yang tampak sexy dengan keringat bercucuran di seluruh wajah dan tubuhnya.
"kenapa aku malah tergoda dengan keringat perempuan? ". batin Dylan keheranan.
Dylan sering melihat tubuh wanita tidak berpakaian bahkan menggodanya terang-terangan tapi tidak pernah membuatnya tergoda sekarang perempuan disampingnya kini bisa membangunkan birahinya walau belum sepenuhnya tapi godaan Shindy mulai membuatnya goyah.
"mas? ". Shindy menoleh ke Dylan hingga tatapan mereka beradu pandang.
Shindy mengerjabkan matanya melihat cara Dylan menatapnya.
"apa dia sudah melihatku sebagai perempuan? ". batin Shindy
Dylan beralih dan mulai bangkit memijit pelipisnya.
"kenapa mas? ". tanya Shindy
Dylan menggeleng kepalanya.
"sedikit pusing"
Shindy memijit pelipisnya Dylan dengan hati-hati, tanpa sadar Dylan memejamkan matanya dengan perlakuan Shindy.
"kamu bisa memijit Ndy? ". tanya Dylan dengan mata terpejam
"sedikit mas! mama aku mantan pemijit". jawab Shindy
"mantan pemijit? ". beo Dylan
"sebelum menikah dengan papaku yang jualan elektronik mama ku juga pemijat mas"
jawab Shindy
"iya mas Sartika group di bangun saat mama dan papaku menikah, karna papaku sangat mencintai mamaku itu sebabnya nama perusahaannya nama mendiang mamaku! ".
"tapi perusahaan peninggalan kakek dan nenekmu ada kan? ".
"ada mas tapi mamaku hanya diberi 20% sedangkan bibi 80%,, tapi kenyataannya kakek langsung meninggal karna serangan jantung saat beberapa bulan kemudian perusahaan bibi bangkrut sedangkan perusahaan papa dan mamaku melejit pesat".
mereka makin akrab saat Shindy menceritakan masa lalunya pada Dylan.
"huuh.. kenapa hatiku lega sekali menceritakan semuanya sama kamu mas? ".
Shindy mengusap rahang Dylan
Dylan melirik tangan Shindy yang menyentuh wajahnya.
"terimakasih mas sudah hadir di hidupku". ucap Shindy dengan tulus
"memang apa yang aku lakukan? ". tanya Dylan
"kamu menerimaku sebagai wanita pembawa sial mas! sebelumnya tidak ada yang mau menampungku "
Dylan hanya diam sambil melihat arah lain.
.
.
Dylan dan Shindy mulai melangkah keluar ruangan fitness tapi tiba-tiba kaki Shindy tersandung matras hingga ia memekik
Dylan yang kaget refleks menarik pinggang Shindy tapi hilang ke seimbangan saat ia berhasil membalik tubuh Shindy tapi tidak bisa menahan tubuh Shindy supaya tidak jatuh ia juga ikut terjatuh
__ADS_1
"aduuh... ". ringis Shindy memegang kepala belakangnya yang sakit.
Dylan tak sengaja mencium leher Shindy, mereka jatuh dengan posisi intim.
"mas? ". Shindy mengguncang pelan bahu Dylan
Dylan dan Shindy saling bertatapan.
"mas baik-baik aja? ". tanya Shindy
Dylan menggeleng kepalanya dengan kaku, ia bangkit dan membantu Shindy berdiri.
"ke kenapa kamu selalu ceroboh? ". tanya Dylan sedikit tergagap
"mana aku tau mas bakal tersandung matras kepala aku sakit nih". Shindy mengusap-ngusap kepalanya yang terantuk keramik bukan matras.
Dylan berdehem lalu mengecek kepala belakang Shindy yang memerah.
"sakit mas jangan di tonyor-tonyor juga sih". keluh Shindy
Dylan berjalan ke arah lemari kecil dan mengambil kotak P3K.
"hebat ya mas! dimana-mana ada kotak P3K "
senyum takjub Shindy setiap ruangan mansion ini pasti ada kotak obat itu.
"hmmm.. Daddyku yang menerapkannya". jawab Dylan
Shindy manggut-manggut,, Dylan mengobati kepala Shindy setelah itu baru mereka kembali ke kamarnya.
"jangan keramas " peringatan Dylan
"hah? tapi kepalaku gerah mas kan habis olahraga".
"obat di kepalamu tadi belum kering kalau di siram air dan sampo bakal hilang lagi". Dylan
"biarin aja" Shindy berlari ke kamar mandi membersihkan diri.
Dylan menghela nafas panjang.
"biarkan saja apa peduliku? ". Dylan memukul kepalanya sendiri.
.
.
selama berhari-hari Dylan melatih Shindy dengan baik tapi kenyataannya pertahanan Dylan mulai mengikis sedikit demi sedikit karna godaan Shindy bagaimanapun ia seorang pria juga.
kini Dylan sedang bekerja di perusahaan sedangkan Shindy di kamar sedang menonton film dewasa yang berhasil membuat tubuh shindy panas dingin.
Glek..!
"ap apa aku akan menjerit seperti itu? ih.. ih.. aah.. ah.. ahh.. "
"aaaaaaaaakkk.. tidaaak... geliii". jeritnya membayangkan hal itu.
.
.
Musuh OTW ya? bersabar sayangku Shindy harus bisa beladiri supaya lebih greget nantinya..
.
__ADS_1
.