Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
membantu


__ADS_3

Nova meregangkan jemari nya


"ngapain nak? ". tanya Abibama


"pemanasan om". jawab Nova dengan memutar kepalanya hingga terdengar suara menakutkan oleh Abibama dan Candra


"apa dia barusan mematahkan lehernya? ". gumam Candra dengan ngeri memegang lehernya sendiri.


"let's go to play" Nova tersenyum miring mulai meletakkan jemari tangannya yang sangat berharga di keyboard cantik motif kucing berwarna hitam.


Abibama sampai Syok melihat kecepatan tangan Nova, Candra menganga lebar.


"bagaimana bisa tangannya secepat dan selihai itu? dia sangat sexy ".


gumam Candra


"Astagah..! aku sampai Syok melihatnya padahal aku sudah tau dia KO". Abibama memegang pilar di sampingnya seolah dirinya tidak sanggup berdiri tegak saat ini.


"Aaah.. Om dapat om". pekik Nova


Abibama yang tadinya tidak sanggup berdiri langsung berdiri tegak berlari ke arah Nova.


"Clear...! ". Nova menekan enter dengan senyum puasnya.


"udah kah? " tanya Abibama dengan raut wajah bodoh melihat ke layar alat teknologi canggihnya


"sangat kecil Om.. kenapa tidak bisa diatasi..! tadi Nova udah instal aplikasi terbaik yang Nova ciptakan bisa melindungi data rahasia om"


Nova izin memegang tangan Abibama meletakkannya di layar untuk menjadi sandi komputer ini hanya dalam hitungan menit Nova bisa menciptakan sandi baru menggunakan lensa mata, detak jantung dan sidik jari, Nova juga menambahkan sandi lain yaitu Candra .


"saat ini hanya Om dan kak Candra aja yang bisa memakai komputer ini". senyum manis Nova


Abibama langsung memeluk Nova yang gelagapan saat pria paruh baya itu berucap terimakasih berkali-kali.


"om.. itu hanya bantuan kecil bukan hal yang sulit buat aku om". Nova berkata begitu tulus.


"tapi kami tidak bisa mengatasinya bahkan sudah membawa para hacker ternama sekalipun tidak ada yang bisa membantu masalah ini hingga ide-ide kami selalu bocor di perusahaan lain".


Nova mengusap-ngusap punggung Abibama dan melihat Candra tengah menatap intens dirinya.


panggilan telfon membuyarkan semuanya, Nova mengangkat panggilannya dan mengerucutkan bibirnya begitu menggemaskan seperti anak kecil yang baru aja kenak tegur oleh papanya.


Candra tersenyum melihat hal itu ingin sekali Candra menggigit bibir mengerucut itu yang sangat manis dimatanya.


"maaf Om..! aku harus kembali daddy dan mommyku sudah kembali, keluargaku jadi mengomeliku karna tidak ada di kamar"


Abibama terkekeh lalu inisiatif mengantarkan Nova ke penginapannya supaya bisa bertemu dengan sosok orangtua yang memiliki putri yang begitu hebat seperti Nova.


.


.


di negara Indonesia


"bagaimana keadaanmu mas? apa pegal-pegal? ". Shindy mengusap dada bidang suaminya dan bahunya Dylan

__ADS_1


"udah enakan..! mungkin efek obat yang kamu beri sayang ". Dylan mengusap pipi Shindy


"mas sih pake begadang segala ngurusin kerjaan begini deh jadinya ". omel Shindy


"aku harus cepat selesaikan projectku saat ini sayang agar kamu cepat kembali ke kota pusat terus bisa melihat keadaan Alexa".


Shindy terharu mendengarnya


"tapi tidak harus menyakiti dirimu juga mas! aku nggak suka"


"hmm.. aku tidak akan ulangi".


senyum tampan Dylan


"hari ini kita sudah bisa kembali! "


"aku yang nyetir". seru Shindy dapat gelengan kepala dari Dylan.


Shindy mengabaikannya karna memikirkan keselamatan Dylan yang harus tetap nyetir sementara jam tidur suaminya sangat kurang tadi malam.


.


.


"mas? ".


"hmm? ". Sahut Dylan dengan bantal yang sudah dimana-mana


Shindy ingin membuat Dylan tertidur dalam perjalanan selama dirinya bawa mobil setidaknya Dylan bisa istirahat jadi Dylan sudah dikasih bantal di kiri, kanan bahkan di leher lengkap dengan selimutnya


"hmm! biarkan saja mereka dapat ganjarannya! "


balas Dylan seolah tak peduli


"ya udah mas tidur aja ya! ". Shindy mengusap kepala Dylan dengan lembut.


Dylan mengangguk patuh matanya mulai mengantuk apalagi disekelilingnya ada banyak bantal empuk


Shindy tersenyum melihat Dylan yang memejamkan matanya, Shindy jadi ada ide untuk buat cerita bab baru di novel online nya.


.


.


.


Shindy sudah tiba digaransi mobil di mansion Melviano Shindy menatap Dylan yang tengah tertidur pulas tak ada keinginan Shindy untuk membangunkan Dylan.


"mas pasti lelah sekali ". batin Shindy tersenyum lembut menatap wajah Dylan yang terlelap.


Shindy keluar dari mobil dan berlari memasuki mansion setelah menyamar dengan sempurna pak Nunung mengantarkan Shindy keluar mansion.


Shindy tiba di gubuk kecil Alexa, terdengar olehnya Alexa tengah menangis meratapi nasibnya mata Shindy berkaca-kaca mendengar ratapan Alexa mengingatkannya pada dirinya dulu.


"Assalamualaikum mbak Alexa? ".

__ADS_1


Alexa tidak menjawab pikirannya kosong saat ini, bibirnya terus meratapi nasib, Shindy terkejut melihat mata Alexa yang sudah membengkak karna menangis.


"Mbak? ". Sapa Shindy dengan topeng wajah yang menutupi wajah aslinya.


Alexa perlahan mendongak lalu ia berdiri dan menyambar tubuh Shindy memeluknya begitu takut.


"Mbak aku takut...! aku tidak punya siapa-siapa lagi aku.. aku.. aku tidak akan bisa bekerja karna janinku masih terlalu muda.. kata dokter aku tidak boleh bekerja keras mbak.. aku bisa kehilangan bayiku kalau aku tetap bersikeras bekerja".


Shindy mengusap kepala Alexa, air matanya juga mengalir deras apa yang dialami Alexa jauh lebih menyakitkan dari dirinya dulu.


"ikut aku ya mbak".


"hm? maksud mbak apa? " tanya Alexa melepaskan pelukannya dari Shindy


"saya punya rumah bagus tapi tidak ada yang urus hanya bibi rumah tangga dan saya juga tidak bisa menjualnya karna rumah itu berisi kenangan manis dari keluarga saya dulu mbak tidak perlu membayar kontrakan tapi bantu saya mengurus rumah peninggalan orangtua saya mbak".


Alexa menangis seketika, tangisnya pecah begitu saja saat mendengar perkataan Shindy yang sangat baik padanya memberinya tempat tinggal.


.


Shindy membawa Alexa ke rumahnya,,


"tempat ini memang sedikit jauh dari kota pusat tapi saya yakin mbak pasti bisa hidup damai di tempat ini, disana ada sekolah dan kantinnya milik keluarga saya anda bisa berjualan di sana hanya buka dari jam 6 sampai jam 11 siang aja setelah itu anda bisa istirahat di rumah jadi tidak banyak bekerja iya kan?"


"kenapa mbak begitu baik pada saya? ". tanya Alexa berkaca-kaca


"jujur saya teringat saudara saya yang sudah tiada, saya juga hidup sendiri tapi mbak tidak sendiri karna ada calon anak mbak disini". Shindy mengusap perut Alexa


"terimakasih mbak saya benar-benar terharu dengan kebaikan mbak ". ucap Alexa dengan air mata yang sudah mengalir begitu saja.


"iya mbak..! ayo masuk di dalam ada bi ijah yang akan membantu Mbak disini".


.


.


"bi...? bi ijah? "


"iya Nyonya? ". bi Ijah keluar dari dapur mengelap tangannya yang basah.


"kenalkan ini mbak Alexa teman baik saya bi.. mohon dijaga dia dengan baik ya bi! pola makan cara kerjanya nya juga karna dia sedang hamil muda bi".


"baik nyonya ". jawab Bi Ijah dengan sopan


"setidaknya bibi punya teman disini iyakan bi". senyum manis Shindy


"terimakasih Nyonya". ucap Bi Ijah


Alexa di bantu oleh Shindy masuk ke kamarnya, Alexa merasa rumah itu sangat nyaman seolah Alexa tau tempat itu sebelumnya tapi ia menepisnya karna menurutnya mustahil pernah datang ketempat itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2