Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
kelahiran


__ADS_3

.


.


hari terus berlalu hingga tak terasa 9 bulan sudah Shindy mengandung, kini ia tengah berjalan-jalan di halaman belakang.


"kamu yakin tidak mau pakai kursi roda sayang? " tanya Dylan khawatir.


Rilly bahkan berjaga-jaga membawa kursi roda untuk nona nya kalau mulai terasa letih.


"tidak apa mas..! " senyum manis Shindy memegang pinggangnya berjalan di bantu Dylan.


Dylan masih was-was dengan sikap keras istrinya yang tidak bisa di bilangin, Dylan tidak bisa melarang Shindy untuk tetap diam di atas ranjang.


"aku senang aja berjalan-jalan". ucapnya tersenyum hangat menyapa mentari pagi.


"awhh... aduh... " Shindy memegang perutnya seketika.


"cepat bawa kursi rodanya" perintah Dylan


Rilly langsung membawa kursi rodanya didekat Shindy dan menguncinya supaya tidak bergerak saat Dylan membantu Shindy duduk.


"cepat siapkan mobil... " perintah Dylan menggema


Rilly dengan cepat berlari meninggalkan Dylan dan Shindy, Dylan membuka jasnya dan menutupi paha istrinya.


"ayo kita berangkat sayang.. bertahanlah". Dylan berucap sambil mendorong kursi roda istrinya


Shindy menarik nafas lalu menghembusnya pelan, sepertinya rasa sakit tadi masih tipuan alias Kontraksi Palsu


"kenapa sayang? apa ada yang sakit? " tanya Dylan panik dan khawatir


"t tidak apa mas! " jawab Shindy berusaha untuk tersenyum.


mobil Dylan membelah jalan dengan kecepatan cukup tinggi tapi masih waspada melihat jalan, Rilly memeluk Shindy dari belakang walau sudah pakai seatbelt tapi tetap saja mereka harus tetap waspada.


bersamaan Nova juga tiba-tiba mengalami kontraksi, entah kenapa mereka bisa mendadak sama hari kelahiran anak mereka padahal Shindy hamil duluan.


Abi dan Arla serta anak mereka Adira sudah berangkat dari negara M, mungkin mereka akan terlambat tapi setidaknya mereka harus datang demi sang anak sambung nya Arla.


Arla merasa senang memiliki Candra walau tidak terlalu dekat karna anak sambungnya itu sudah berkeluarga tapi Adira anaknya begitu dekat dengan Candra yang tanpa segan memanjakan Adira seperti adik kandung sendiri.


.


.


"Mommy? Nova juga kesini? " tanya Dylan khawatir melihat Candra juga kelimpungan di ruang persalinan


"iya.. cepat.. cepat kalian masuk.. biar kami yang urus biaya administrasinya" Kaira mendorong Dylan masuk ke Ruang persalinan.


Kinan dan seniornya bernama Riani juga berpencar, walau Kinan masih muda tapi ia benar-benar sudah berpengalaman membantu proses persalinan wanita hamil.

__ADS_1


Dylan dan Candra bersama di satu ruangan tapi di halangi tirai biru gelap.


Kinan membantu persalinan Shindy dan Riani membantu persalinan Nova.


"aaakh... ". Nova dan Shindy menjerit dan memekik dengan suara khas masing-masing.


Dylan dan Candra hanya sibuk dengan istri masing-masing, takut kehilangan membuat wajah Candra memucat.


"beb.. aku mohon.. kuatlah.. ". isak Candra.


Nova hendak mengejan tapi Riani melarangnya. "belum buka Nona.. tahan sampai buka 10 " . tegur Riani dengan serius.


Candra makin menangis saja apalagi Riani memegang milik istrinya terdengar ngilu di telinganya.


"mama? apa begini melahirkan ku? aku mohon beri kekuatan istriku ma..! mintakan padaNya untuk menyelamatkan Istriku..! perjuangan mama benar-benar membuatku merinding, bahkan sampai saat ini aku masih merasa bersalah padamu". Candra menangis sambil membatin menciumi wajah Nova


Dylan juga tak kalah panik...


"lakukan sesuatu Kinan...! " teriak Dylan dengan marah


"tidak bisa tuan.. saat ini belum buka 10 jadi belum bisa melahirkan..! sebaiknya di tunggu sebentar lagi.!". jawab Kinan dengan sabar.


"apa itu buka 10 ? kenapa kau memegang milik istriku? apa kau mau mati ditanganku? " Dylan marah-marah membuat bola mata Kinan memutar jengah.


"pantas saja kak Riani memintaku yang membantu melahirkan kakak ipar, ternyata ini alasannya". batin Kinan sambil menyiapkan alat-alat persalinan yang akan di butuhkan.


Shindy memegang tangan Dylan dan menggeleng lemah, Dylan pun luluh mengambil tisu di sampingnya dan mengelap keringat istrinya yang bercucur.


baru kali ini seorang pria tidak bisa apa-apa saat istri sedang berjuang melahirkan buah cinta mereka.


"lakukan sesuatu Kinaaannn" teriak Dylan frustasi


Dylan terus saja marah-marah dengan cara apapun supaya rasa sakit istrinya cepat sembuh, sedangkan Candra juga menangis takut Nova akan meninggalkannya seperti papanya dulu melihat betapa menyakitkannya Nova saat ini.


Keluarga Dylan sudah mondar-mandir seperti setrikaan di luar ruang persalinan terutama Pasha yang sangat tau derita seorang wanita saat melahirkan.


Kaisha menggigit bibir bawahnya menggenggam tangan Mely dengan erat dan tangan lainnya menggenggam tangan Rilly yang tak kalah khawatir.


Arabela dan Lexy tiba bersamaan dengan Ella dan Ramzi, Bagus tiba sedikit terlambat karna masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"ja.. jadi kedua Nona sama-sama melahirkan hari ini? " tanya Bagus tak percaya dapat tendangan kecil dari Keyzo serta pelototan tajam dari Kaisha.


"maaf..! aku kaget aja" cengir Bagus duduk manis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ella memeluk Kaira yang tengah khawatir. "tenang Kaira.. tenang ya? kamu harus ingat kalau menantu dan anakmu sangat istimewa..! mereka pasti baik-baik aja.. "


"tapi Nova pecah ketuban lebih cepat dari perkiraan Ella... bagaimana bisa aku tidak khawatir? hiks.. hiks... aku tentu takut". isaknya dipelukan Ella


Pasha tak bisa apa-apa hanya bisa mengelus kepala Kaira, Arabela mendekat dan Pasha yang tau para wanita sedang menguatkan istrinya pun segera menyingkir.


Matt, Lexy dan Pasha, Ramzi, Keyzo berkumpul disebrang,

__ADS_1


hampir 3 jam lamanya mereka menunggu jalan terbukanya kelahiran anak pertama Nova dan Shindy.


teriakan dan jeritan menyayat hati sang suami terdengar di ruangan persalinan, Candra digigit oleh Nova sedangkan Dylan di remas kuat hingga kulit mulus Dylan tergores kuku-kuku panjang Shindy.


benar-benar ajaib, anak Dylan dan Nova sama-sama lahir di detik yang sama dan di jam yang sama hanya beda jenis kelamin, hanya butuh waktu 1 menit bagi Shindy dan Nova untuk mengumpulkan tenaga anak kedua mereka sudah mengantri tak sabar ingin melihat dunia baru.


"aaakkkh....! "


"Nggghhh... "


begitu jeritan Shindy dan Nova membuat sang suami menangis tak bisa apa-apa, hanya air mata yang menunjukkan betapa sedihnya mereka tidak bisa membantu rasa sakit istri mereka.


"Oeeeeek. !!!"


bayi Nova dan Shindy dibersihkan di tempat berbeda supaya tidak tertukar, mereka tentu tidak mau salah bertindak apalagi Dylan dan Nova orang berkuasa di negara ini.


Nova dan Shindy sama-sama ambruk, Kinan dan Riani berteriak jangan membiarkan Shindy dan Nova tertidur, tentu Dylan dan Candra terus mengajak sang istri berbicara.


"terimakasih Beb... terimakasih... berjuanglah sedikit lagi... jangan biarkan anak-anak kita terlantar " Candra berkata dengan lirih terus menciumi tangan Nova.


Nova yang masih ngos-ngosan dan lemah pun tersenyum di wajahnya yang penuh keringat dan sedikit pucat.


"kakak.. kita akan membesarkan anak-anak kita bersama-sama" Nova berkata pelan sambil mengusap rahang Candra.


di tempat Dylan.


"sayang? anak kita lahir bersamaan dengan anak Nova... jam yang sama dan menit yang sama" Dylan membersihkan wajah istrinya yang terlihat kelelahan.


"benarkah? kenapa bisa sama? " ucapnya terkekeh pelan di wajah pucatnya.


"terimakasih sayang..! maafkan aku yang tidak bisa membantu rasa sakitmu". lirih Dylan berkaca-kaca


Shindy tersenyum. "aku menjadi wanita sempurna mas..! memberimu keturunan adalah impian aku". bisik Shindy.


Dylan yang terharu menciumi wajah lelah istrinya yang baru saja berjuang melahirkan 2 malaikat kecilnya.


"mari kita pindahkan di ruangan VIP 2 Brankar " . perintah Kinan


ruangan VVIP hanya ada 1 Brankar kalau 2 brankar hanya ada di VIP.


.


.


.


selamat kembar penguasa atas kelahiran baby kembar, hebat ya lahirnya sama..!! hehe entah kemana cerita Othor nih suka-suka aja membuat pemerannya melahirkan bersama.. wkwkwk.. kayaknya unik aja dan Othor suka hal berbaur unik.. 😊😚😚😘


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2