
Sementara di kediaman utama keluarga Wijaya, Daniel tengah berada di dalam ruang kerjanya sambil terus mengotak atik laptopnya untuk mencari tau sesuatu.
Klik
Sebuah informasi yang selama ini tertutup rapat kini terpampang nyata di hadapannya.
"Rupanya Mr.X adalah cucu menantuku sendiri." gumam Daniel sembari menutup kembali laptopnya
"James Alexander, darahmu mengalir kental dalam aliran darah cucumu." Daniel membuka sebuah galery foto berisi fotonya dengan sahabat masa kuliahnya dulu yang satu frekuensi dengannya.
James Alexander adalah seorang hacker yang handal pada masanya seperti halnya dirinya, siapa yang tidak mengenal James Alexander hacker handal asal London pada masanya.
Nama James Alexander dulu begitu melegenda pada masanya sampai pada sang putra yakni Jackson Alexander. Daniel sempat berpikir bahwa setelah kematian Jackson pada saat itu tidak ada yang akan menuruni bakatnya lagi, tapi siapa yang menyangka bahwa Sandiego yang menuruni bakat alami James Alexander sebagai cucunya.
Karena yang Daniel tau dari kedua putra James hanya Jackson saja yang menuruni bakatnya.
"Sekarang aku bisa lebih tenang karena cucuku berada di samping cucumu James, dulu kita pernah berencana untuk menjodohkan anak-anak kita tapi takdir berkata lain, dan ternyata cucu kita lah yang berjodoh." Daniel tersenyum sambil menatap foto sang sahabat.
Universitas Oxford.
Alexa tengah mengikuti pelajaran di dalam kelasnya dengan serius saat tiba-tiba ada notifikasi yang masuk ke dalam i-pad nya, Alexa pun mengambil dan mengecek ternyata adalah pesan dari sang opa yang menanyakan tentang kenyataan yang baru saja di ketahuinya itu.
Alexa pun langsung membalas dan mengirimkan informasi detail tentang sang suami kepada opa nya.
Selang beberapa saat, jam kuliah pun berakhir dan Alexa memilih untuk pergi ke kantin bersama Alaska dan Melinda.
"Kantin guys." ajak Alexa sembari berlalu tanpa menunggu keduanya
Alaska dan Melinda pun saling tatap sebelum akhirnya mengikuti langkah Alexa untuk menuju ke kantin.
Di tengah jalan menuju ke kantin, Alexa berpapasan dengan sang suami yang tengah berjalan sendiri.
Alexa melirik ke arah kiri dan ternyata disana ada Jessica yang tengah mengawasinya.
Alexa pun segera menghentikan langkahnya tepat di depan Diego membuat sang suami ikut menghentikan langkahnya, begitu pun Alaska dan Meli yang ikut menghentikan langkahnya.
Alexa yang melihat kedua sahabatnya ikut berhenti pun memberikan kode agar mereka lanjut ke kantin, Alaska yang mengerti kode itu pun segera menggandeng tangan Meli untuk menuju ke kantin.
Grep
Alexa langsung memeluk sang suami yang membuat Diego terkejut.
"Maaf." ucap Alexa yang membuat Diego mengernyit bingung
__ADS_1
Diego pun mendorong pelan pundak sang istri dan di belainya lembut pipi sang istri.
"Kenapa ?" tanya Diego lembut yang di balas dengan kode menggunakan mata oleh sang istri.
Diego yang mengerti pun mengangguk kecil tanda mengerti.
"Tolong maafkan aku kak, jangan lagi mengabaikanku." ucap Alexa dengan lirih
"Apa yang bisa kamu jelaskan mengenai foto-foto itu Alexa ?" tanya Diego yang membuat Alexa langsung menunduk.
Diego pun memegang dagu sang istri agar menghadap ke arahnya.
"Jelaskan." tegas Diego yang membuat Alexa kembali memeluk sang suami tapi Diego diam tidak membalas pelukan sang istri.
Ingin rasanya dia pun memeluk erat sang istri namun keadaannya sangat tidak mendukung.
"Maaf." Alexa semakin mengeratkan pelukannya tanpa berniat menjelaskan apa-apa pada sang suami membuat Diego mendorong kedua bahu Alexa dan berlalu begitu saja.
Dan kejadian itu membuat seseorang di yang tengah mengawasi mereka tersenyum penuh kemenangan.
"Satu langkah lagi maka semuanya akan berakhir Alexandria." ucap Jessica sambil menyeringai dan berlalu.
Alexa yang melihat Jessica sudah pergi pun tersenyum miring dan segera pergi ke kantin untuk menemui kedua sahabatnya.
Alexa pun segera mendudukkan dirinya di sebelah Meli.
"Udah ?" tanya Alaska yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Alexa
"Nih." Alaska menyodorkan 1 mangkok bakso dan jus jambu kesukaan sang sahabat.
"Thank's." Alexa segera menyantap baksonya.
Sementara di meja paling ujung nampak Diego tengah duduk seorang diri sembari menatap layar laptopnya.
Alexa melirik ke arah sang suami dan memberi kode kepada Alaska.
Alaska yang mengerti pun segera beranjak dan menghampiri meja sang sahabat.
"Apa ada masalah ?" tanya Alaska
"Hmmm." jawab Diego bergumam
Alaska pun menggeser kursinya dan ikut menatap layar laptop sang sahabat.
__ADS_1
Terdapat banyak kode di dalam laptop Diego yang sulit di mengerti oleh Alaska, tapi dia berusaha memfokuskan pikirannya untuk bisa menebak kode-kode dalam laptop sang sahabat.
"Daebak." heboh Alaska begitu bisa membaca kode-kode itu, dan kehebohan Alaska membuat seisi kantin menatap ke arahnya
"Sorry-sorry." ucap Alaska sambil menunduk
"Bisa ga sih ga usah heboh begitu." kesal Diego sembari menutup laptopnya.
"Sorry San, aku benar-benar kaget kalau kamu..." ucap Alaska menggantung begitu mendapat tatapan tajam dari sang sahabat yang membuatnya menjadi salah tingkah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Alexa hanya menatap dari kejauhan kehebohan yang di buat Alaska di meja sang suami.
"Kenapa dengan Alaska ?" tanya Meli sambil melihat ke arah Alaska
"Entah." jawab Alexa sembari mengedikkan bahunya
"Ayo ke kelas." ajak Alexa sembari beranjak diikuti Meli di belakangnya.
"Kembalilah ke kelas." perintah Diego kepada Alaska yang di balas anggukan kepala oleh Alaska.
Alaska pun beranjak dan berlalu pergi meninggalkan sang sahabat.
Selesai kuliah mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya masing-masing.
Di apartemen Tifolia, Diego tiba di basemant bersamaan dengan Alexa yang juga baru sampai dengan di antar oleh Jordy.
"Kamu baru datang ?" tanya Diego begitu melihat sang istri turun dari mobil Jordy "Terima kasih om." ucap Diego kepada Jordy yang di jawab anggukan kepala oleh Jordy.
"Iya kak, tadi mampir belanja dulu." jawab Alexa sembari mengambil kantong plastik dari jok belakang.
"Sini biar aku yang bawa." Diego mengambil alih kantong plastik di tangan sang istri.
Mereka pun berjalan beriringan memasuki gedung apartemen.
Sesampainya di apartemen, Alexa langsung menyusun belanjaannya dan segera menyiapkan makan siang untuk sang suami.
Diego menunggu sang istri yang tengah menyiapkan makan siangnya dengan memainkan ponselnya dan duduk di kursi makan.
Sesekali Diego melirik ke arah sang istri yang tengah berkutat dengan peralatan dapurnya dengan keringat yang mengalir dari pelipis hingga ke leher membuat Diego menelan ludahnya.
Diego pun beranjak dari kursinya dan menghampiri sang istri yang tengah serius dengan acara memasaknya.
Di peluknya sang istri dari belakang dan di tumpukkannya dagunya di bahu sang istri sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang menjadi candunya.
__ADS_1