Alexandria

Alexandria
Bab. 192.


__ADS_3

Setelah manisan buah tomat habis, Vadeo segera menegak minuman jeruk di dalam gelas itu.


“Kak.. minta... “ ucap Alexandria sambil menarik gelas yang masih dipegang oleh Vadeo dan masih ditegak isi di dalamnya. Vadeo pun memberikan gelas yang isinya tinggal sepertiga itu.


“Kok tinggal dikit...” ucap Alexandria sambil melihat isi di dalam gelas itu. Ekspresi wajahnya tampak kecewa.


“Tadi kamu tidak mau. Aku minum untuk menghilangkan rasa getir getir buah tomat tadi.” ucap Vadeo sambil mengusap kepala istrinya.


“Saat diminum Kak Deo kayaknya enak banget..” ucap Alexandria lalu menghabiskan isi di dalam gelas itu.


“Besok buat lagi.” ucap Vadeo selanjutnya.


Setelah isi di dalam gelas itu habis. Mereka berdua berjalan menuju ke kamar mandi. Membersihkan gelas dan mangkok itu di dekat wastafel di kamar mandi agar tidak ada barang kotor di dalam kamar mereka. Dan setelahnya mereka pun membersihkan diri lalu kembali berjalan menuju ke tempat tidur.


“Kak, tapi besok buatin permen asem nya ya...” ucap Alexandria yang sudah terbaring sambil memeluk suaminya.


“Iya, besok biar tukang kebun datang membawakan buah asam nya.” ucap Vadeo sambil membelai rambut kepala isterinya. Vadeo yang sudah mengantuk pun akhirnya tertidur.


Alexandria yang masih menginginkan permen asam, matanya masih ketap ketip belum bisa terpejam. Akan tetapi karena capeknya akibat habis diving tadi dan jalan jalan di pantai akhirnya Alexandria pun pulas tidurnya.


Keesokan paginya. Vadeo bangun lebih dulu, setelah selesai melakukan ritual paginya, Dia berjalan menuju ke tempat tidur untuk melihat sang istri yang masih terbaring.


Akan tetapi tiba tiba


“Kak.. kepalaku pusing ...” rintih Alexandria sambil memegang pelipisnya.


“Sayang kamu kenapa...” ucap Vadeo yang dengan segera memegang kepala Alexandria dan dia pijit pijit pelipisnya.


“Aku panggilkan Dokter ya...” ucap Vadeo yang bingung antara mau memijit kepala Alexandria dan akan mengambil hand phone nya.


“Kak.. perutku juga mual..” ucap Alexandria lalu segera bangkit dan berlari menuju ke wastafel. Vadeo pun turut berjalan cepat menyusul istrinya.


Di depan wastafel Alexandria mengeluarkan isi di dalam perutnya.


“Al kamu kemarin makan apa?” tanya Vadeo sambil memijit tengkuk dan punggung Alexandria. Setelah selesai mengeluarkan isi di dalam perutnya Alexandria berkumur kumur lalu...


“Kak.. kepalaku pusing...” ucap Alexandria lalu dia menyandarkan tubuhnya pada tubuh suaminya yang sudah berpakaian rapi.

__ADS_1


Vadeo segera menggendong tubuh istrinya untuk dibaringkan lagi di tempat tidur. Vadeo pun dengan segera menelepon Dokter pribadi keluarga William. Dan setelahnya dia memanggil sang pelayan.


“Tuan, Nona Alexandria kenapa?” tanya sang pelayan saat melihat tubuh Alexandria yang terbaring dengan wajah pucat


“Entahlah mungkin keracunan makanan laut, kamu buatkan bubur dan teh hangat buat dia.” perintah Vadeo pada sang pelayan.


“Semua isi di dalam lambung sudah keluar.” ucap Vadeo sambil memijit mijit lagi kepala Alexandria. Tampak kedua mata Alexandria hanya terpejam.


“Tunggu Dokter datang ya Sayang...” ucap Vadeo. Dan selanjutnya Vadeo bangkit berdiri dia teringat akan sesuatu.


“Mereka harus bertanggung jawab.” ucap Vadeo sambil berjalan.


Tidak lama kemudian Vadeo mengusap usap layar hand phone nya. Dia agak menjauh dari istrinya. Vadeo mencari kontak nama Richardo.


“Tuan, apa yang bisa saya bantu?” tanya Richardo setelah menggeser tombol hijau.


“Kamu semua yang kemarin membawa Alexa jalan jalan, sekarang juga datang ke sini!” perintah Vadeo lalu dia memutus sambungan teleponnya.


Vadeo pun lalu kembali berjalan menuju ke tempat tidur untuk menemani istrinya lagi. Dan tidak lama kemudian sang pelayan sudah datang dengan membawa nampan berisi satu mangkok bubur dan satu gelas teh manis hangat.


“Kak, mual lagi...” ucap Alexandria saat mencium aroma makanan.


“Tapi harus makan Sayang ..” ucap Vadeo dengan sabar. Lalu Vadeo meminumkan teh manis hangat itu ke mulut Alexandria dengan pelan pelan.


Beberapa menit kemudian sang pelayan datang lagi.


“Tuan Pak Dokter dan rombongan sudah datang.” ucap sang pelayan tampak tergopoh gopoh dan nafas sedikit tersengal sengal karena habis turun naik tangga.


“Pak Dokter saja yang suruh naik ke atas.” ucap Vadeo dan sang pelayan pun turun lagi ke bawah untuk menyuruh Pak Dokter saja yang naik ke atas.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar Vadeo dan Alexandria terdengar suara ketukan.


“Itu Pak Dokter sudah datang Sayang...” ucap Vadeo lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu untuk membukakan pintu buat Pak Dokter. Vadeo memutar handel pintu dan menarik daun pintu dengan segera.


“Ada apa dengan Nona Alexa?” tanya Dokter pribadi keluarga William sambil berjalan masuk dan dengan segera berjalan menuju ke tempat di mana Alexandria masih terbaring lemah.


“Mual dan pusing Dok.” ucap Vadeo sambil mengikuti langkah kaki Pak Dokter.

__ADS_1


“Mungkin keracunan makanan laut kemarin.” ucap Vadeo selanjutnya.


“Hmmm Nona Alexa tidak ada riwayat alergi makanan laut..” ucap Dokter pribadi keluarga William sambil memegang pergelangan tangan Alexandria untuk mengecek denyut nadi Alexandria. Pak Dokter juga menekan nekan pelan perut Alexandria bagian atas.


“Sakit?” tanya Pak Dokter masih menekan nekan pelan perut bagian atas Alexandria. Alexandria menggelengkan kepalanya. Dokter itu terlihat tersenyum. Lalu dia mengeluarkannya peralatan medisnya. Dia mengecek tensi darah Alexandria dan mengecek detak jantung Alexandria.


“Nona terakhir haid kapan?” tanya Pak Dokter.


“Sebulan yang lalu Dok.” jawab Alexandria dengan pelan sambil berusaha mengingat ingat.


“Hmmm hari hari ini sih harusnya sudah haid di bulan ini.” ucap Alexandria kemudian.


“Dok, apa Alexa hamil Dok?” tanya Vadeo dengan mata berbinar binar lalu dia menaruh pantatnya di tepi tempat tidur mendekati istrinya.


“Nanti coba di test pack dulu, besok biar Dokter Kandungan memeriksa.” ucap Pak Dokter selanjutnya.


“Saya kasih obat yang aman untuk Ibu hamil ya... semoga saja sudah isi.” ucap Pak Dokter sambil tersenyum.


“Iya Dok, tapi ini belum pasti. Takutnya besok atau lusa saya haid jadi kita semua kecewa.” ucap Alexandria dengan pelan.


“Baiklah saya permisi ya, nanti coba di test pack dulu.” ucap Pak Dokter sambil tersenyum.


“Sayang, aku mengantar Dokter sebentar ya..” ucap Vadeo sambil mengusap pelan puncak kepala Alexandria. Alexandria mengangguk pelan.


Vadeo dan Dokter pribadi keluarga William pun keluar dari kamar dan segera berjalan untuk menuruni tangga. Saat Vadeo melihat Sang pelayan, Vadeo menyuruh sang pelayan untuk naik ke atas agar menemani Alexandria sementara dia akan menemui tamu tamu yang ada di ruang tamu.


“Tuan, bagaimana dengan Nona Alexandria?” tanya Richardo, Eveline dan sang therapis juga Pak Sopir secara bersamaan. Mereka tampak ekspresi wajah nya takut dan kuatir. Takut mendapat marah dari Vadeo dan kuatir dengan kesehatan Alexandria.


“Kalian kompak sekali seperti paduan suara.” ucap Vadeo dengan nada datar.


“Aku sebenarnya akan marah pada kalian, tetapi aku tunda marahnya menunggu perkembangan lebih lanjut.” ucap Vadeo sambil menatap empat orang yang mengantar Alexandria jalan jalan ke pantai dan laut kemarin. Tampak wajah keempat orang itu terlihat heran dan bertanya tanya, sedangkan Pak Dokter hanya tersenyum.


“Sudah kalian semua kembali ke guest house.” perintah Vadeo


“Dok, terima kasih banyak ya..” ucap Vadeo lagi lalu dia membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamar akan menemani isterinya.


..

__ADS_1


__ADS_2