Alexandria

Alexandria
Kemarahan Alexa


__ADS_3

Beberapa waktu telah berlalu dan semua masih di bawah pengawasan Alexa dan orang-orangnya.


Belum ada yang bertindak lebih jauh karena Angelica cukup cerdik untuk tidak bertindak gegabah seperti sebelumnya yang malah membuat dirinya masuk ke dalam jebakannya sendiri.


Kali ini dia akan bermain cantik untuk bisa memuluskan rencana yang sudah di susun secara apik olehnya beserta keluarga Irawan untuk menjatuhkan keluarga Alexander.


"Kapan kita akan bertindak Angel ? Sudah lama kita hanya membiarkan mereka saja ." tanya Jessica yang sudah jengah dengan sang sepupu yang belum bertindak sama sekali


"Kamu dengar aku baik-baik Jessica, mereka tidak bisa di remehkan apalagi ada keluarga Wijaya di belakangnya, bisa jadi mereka sudah mengawasi semua pergerakan kita, jadi jangan pernah gegabah dalam mengambil tindakan atau rencana kita akan berantakan." jawab Angelica sambil menatap tajam sang sepupu


"Jangan menatapku seperti itu, dasar psikopat." ucap Jessica dengan suara pelan di akhir kalimatnya sambil beranjak pergi karena cukup takut melihat tatapan tajam Angel.


Melihat kepergian sang sepupu, Angelica pun segera beranjak dari duduknya dan segera berjalan ke arah jendela yang menampakkan pemandangan kota London.


"Berpikirlah Angel, kamu tidak bisa bertindak sembarangan seperti dulu atau semuanya akan sia-sia." gumam Angel sambil menatap lurus ke depan


"Aku harus mencari kelemahan Alexa untuk bisa menyerangnya, tapi apa yang menjadi kelemahannya." batin Angelica sambil terus berpikir sampai dia menemukan jawaban yang kemungkinan besar merupakan kelemahannya.


"Ya, aku tau sekarang selain keluarganya, sahabat-sahabatnya pasti menjadi kelemahannya, kalau aku tidak bisa menyentuh keluarganya maka aku akan menyentuhnya lewat sahabatnya, ya aku akan menggunakan sahabatnya sebagai kelemahannya, bersiaplah Alexandria Vernandes karena kamu juga menjadi kelemahan terbesar untuk Sandiego dan juga keluargamu." ucap Angelica menyeringai


Perusahaan Alexander


Tok tok tok


"Masuk." teriaknya dari dalam ruangan


Ceklek


Diego yang tengah fokus dengan laptopnya pun segera mengangkat wajahnya begitu pintu ruangan terbuka.


Nampak Irawan yang merupakan salah satu pemegang saham di perusahaannya tengah melangkah masuk ke dalam ruangannya.


"Maaf mengganggu waktunya tuan." ucapnya sembari menunduk hormat karena bagaimana pun orang yang tengah menatapnya adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja.


"Apa yang membuat anda datang keruangan saya tuan Irawan ?" tanya Diego to the point


"Anda sungguh tidak bisa berbasa basi tuan, sama persis seperti Devano." jawabnya sembari tersenyum miring


"Saya tau anda merupakan orang kepercayaan daddy, tapi saya tidak menjamin daddy masih percaya setelah mengetahui semua kebusukan anda." ucap Diego dengan nada tenang membuat Irawan mengepalkan tangannya menahan emosi

__ADS_1


"Saya pikir tadinya akan menggunakan Jessica untuk menjerat anda tuan, tapi siapa yang menyangka bahwa di usia anda yang masih terbilang muda justru sudah menikah dengan keturunan Wijaya." balas Irawan


"Jessica ya....." Diego mengetukkan pulpennya di atas meja kacanya.


"Ya Jessica putriku dan Angelica yang merupakan keponakanku, aku pastikan mereka akan menghancurkanmu Sandiego karena sekarang aku sudah mengetahui kelemahan terbesar mu selain Ayra yang penyakitan itu." ucap Irawan yang membuat Diego langsung berdiri dari duduknya


"Sedikit saja kamu menyentuh istri dan keluargaku maka aku tidak akan melepaskan seluruh keturunanmu Irawan." ucap Diego penuh penekanan yang membuat Irawan justru menertawakan perkataan Diego.


"Tunggu kehancuranmu Sandiego." ucap Irawan sembari berlalu meninggalkan ruangan Sandiego.


Diego pun terdiam masih dalam posisinya yang berdiri sambil kedua tangannya bertumpu di meja kacanya.


Prang


Diego meninju meja kaca itu dengan sang kencang hingga kacanya pecah berserakan di lantai.


"Sandi." Alaska langsung berlari ke arahnya begitu melihat kekacauan di ruangan CEO


"Apa kau gila, meninju meja kaca ini." Alaska meraih tangan Diego dan menuntunnya ke arah sofa untuk segera di obati


Diego terus diam selama Alaska mengobati luka di tangannya.


Huft


Diego menghela nafasnya untuk mengurangi emosinya.


"Irawan datang menemuiku dan mengancam akan menyakiti Alexa." lirih Diego sembari menunduk


"Semua akan baik-baik saja." Alaska menepuk pundak sang sahabat sebelum akhirnya beranjak meninggalkan ruangan CEO


Alexa tengah berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan sang suami, apalagi setelah menyaksikan sendiri apa yang sudah terjadi di ruangan sang suami beberapa waktu lalu.


Ceklek


Diego masuk ke dalam kamarnya dan mendapati sang istri yang tengah berdiri sembari melipatkan tangannya di depan dada dan jangan lupakan tatapan matanya yang tajam.


Ehm


Diego berdehem sebelum akhirnya menghampiri sang istri.

__ADS_1


"Sayang." panggil Diego yang tidak di hiraukan sama sekali oleh sang istri


"Mau jadi jagoan ?" tanya Alexa sambil terus menatap tajam sang suami yang masih terdiam "Apa kakak pikir dengan menyakiti diri sendiri semuanya akan selesai ?" tanya Alexa yang membuat Diego menunduk "Jawab." teriak Alexa yang langsung membuat Diego mengangkat wajahnya mendengar suara sang istri yang nampak sangat marah.


"Tidak seperti itu sayang, aku hanya emosi saja." jawab Diego mencoba untuk tetap tenang


"Emosi ? Apa dengan kakak yang mudah terprovokasi seperti ini semua masalah akan bisa selesai ? Justru kalau seperti ini semuanya hanya akan sia-sia." ucap Alexa sembari berlalu pergi meninggalkan sang suami yang masih tidak bergeming dari tempatnya.


Brak


Alexa keluar dari kamarnya dengan membanting pintunya kasar sehingga membuat Diego memejamkan matanya sesaat untuk bisa mengontrol emosinya.


Diego mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Astaga, apa benar tadi itu Alexa istriku ?" batin Diego tak habis pikir


Sementara di dapur, Alexa tengah menyiapkan makan malam untuk sang suami.


Ceklek


Alexa masuk ke dalam kamarnya dan mendapati sang suami yang tengah berbaring di atas ranjang dengan satu tangan menutup matanya dan satu tangan sebagai bantalan kepalanya.


Alexa mendekat ke arah ranjang dan meraih tangan sang suami yang terdapat perban disana membuat Diego sontak membuka matanya.


"Maaf." sesal Alexa sembari menunduk membuat Diego langsung beranjak untuk duduk


"Untuk ?" tanya Diego sembari mengangkat dagu sang istri agar menghadapnya


"Sudah berteriak di depan kakak." jawab Alexa sembari meneteskan air mata.


Diego tersenyum saat mengetahui bahwa sang istri tengah menyesali perbuatannya yang sudah berteriak di depannya tadi.


"Tidak apa, aku yang salah." ucap Diego sembari membelai lembut pipi sang istri.


Alexa pun menggenggam tangan sang suami yang berada di pipinya.


"Lain kali jangan seperti ini kak." pinta Alexa yang di angguki oleh Diego


"Iya sayang, aku akan berusaha untuk bisa lebih mengontrol emosi ke depannya, maaf sudah membuatmu khawatir." balas Diego yang membuat Alexa langsung menghambur ke pelukan sang suami.

__ADS_1


Diego pun menyambut dengan hangat pelukan sang istri


__ADS_2