Alexandria

Alexandria
Bonchap. 7. Vadeo Pingsan


__ADS_3

Vadeo dan Richardo wajahnya sudah tampak pucat pasi. Mereka berdua melangkahkan kaki dengan sangat pelan agar tidak membunyikan suara, mereka berdua akan menyahut tubuh Valexa dan Deondria dan selanjutnya akan mereka berdua gendong satu satu dan selanjutnya dibawa lari menjauh dari ular besar itu.


Akan tetapi Valexa dan Deondria tangan tangan mungilnya masih mengelus elus tubuh binatang melata itu. Dan tidak hanya itu kini kedua bocah itu bahkan menundukkan kepala nya dan menempelkan pipi mulus mereka ke tubuh binatang melata itu.


Dan ular besar itu pun mulai mengarahkan kepalanya ke pada dua bocah itu bahkan lidah ular itu menjulur ke arah kepala Valexa.


Vadeo yang sudah pucat pasi pun semakin gemetaran dan tiba tiba...


BRRUUUKK


Vadeo terjatuh karena pingsan. Richardo tampak bingung.


“Pa Pa...” teriak Valexa dan Deondria mendongakkan wajah nya untuk melihat Papa nya yang terjatuh. Ular besar itu terlihat bergerak menuju ke arah Vadeo yang terbaring di tanah di antara semak semak.


“Pa .. Pa... tit.. tit..” ucap mereka berdua mungkin maksud nya Papa sakit. Kedua bocah itu pun bangkit dan berjalan ke arah sang Papa. Sedangkan Richardo lututnya bergetar tak bisa berjalan karena melihat Sang Ular bagai menjaga Valexa dan Deondria agar tidak ada orang yang mendekati mereka.

__ADS_1


Ular besar itu pun terus menggeserkan tubuhnya menuju ke arah Vadeo dan tentu saja ke arah Richardo yang kini sudah terduduk tak berdaya di samping Vadeo yang masih terbaring tidak sadar. Valexa dan Deondria pun berjalan di dekat Sang ular.


Sesaat kemudian Valexa dan Deondria sudah berada di dekat Vadeo yang masih terbaring tak sadarkan diri. Saat tangan Richardo dengan gemetar akan meraih tubuh Valexa dan Deondria. Kepala ular itu langsung mendekat ke arah tangan Richardo dengan lidah ular yang menjulur njulur. Dengan gerakan spontan Richardo menarik lagi tangannya.


“Pa.. Pa... tit ...” ucap Valexa dan Deondria yang kini sudah duduk di samping Vadeo.


Sang ular pun juga mendekat ke arah Vadeo, kepalanya terulur ke wajah Vadeo dan selanjutnya lidah ular itu menjilaat i wajah Vadeo. Richardo yang melihat tidak bisa berkata kata, dia sebenarnya juga terasa akan pingsan saja akan tetapi masih dikuat kuatkan demi mengawasi Valexa dan Deondria meskipun tidak bisa melakukan apa apa. Richardo menghirup nafas dalam dalam agar tidak sampai pingsan.


Setelah menjilaat i wajah Vadeo , ular itu kepala terulur ke kepala Valexa dan Deondria ular itu menjilaat i puncak kepala dua bocah itu. Dan tangan tangan mungil Valexa dan Deondria pun membelai belai tubuh ular itu. Dan selanjutnya ular itu pelan pelan menggeser tubuh nya meninggalkan mereka berdua.


Dan sesaat kemudian mata Vadeo terbuka dan dia segera bangun dari terbaring nya.


“Aca, Aya.. Kalian tidak apa apa?” tanya Vadeo yang melihat kedua anak nya sudah duduk di dekat nya. Tangan Vadeo pun segera meraih tubuh kedua anak nya itu dan dipeluk lah kedua bocah itu.


“Pulang ya Nak, Papa sangat khawatir .” ucap Vadeo selanjutnya sambil mendekap erat tubuh mungil kedua anak nya itu. Sementara Richardo masih duduk diam terpaku.

__ADS_1


“Man Pa.. Man...” bisik mereka berdua yang berada di dalam dekapan sang Papa. Entah maksudnya mengatakan situasi aman atau ular tadi adalah teman agar Sang Papa tidak perlu khawatir. Vadeo pun mencium wajah kedua anak itu lalu dia bangkit berdiri sambil menggendong Valexa dan Deondria.


“Di mana ular tadi?” tanya Vadeo sambil menatap Richardo yang masih terduduk di tanah itu. Richardo yang masih gemetaran tidak bisa berkata kata hanya wajah nya menoleh tertuju ke arah ular besar itu pergi.


Di saat Richardo wajah nya masih menoleh ke arah ular itu pergi. Terdengar suara dering hand phone di dalam saku pakaian Vadeo. Vadeo pun segera mengambil hand phone dari saku pakaiannya. Saat di lihat di layar hand phone nya Sang istri Alexandria melakukan panggilan video.


"Alexa, apa wajahku masih pucat dan tampak kotor?" tanya Vadeo sambil menatap Richardo yang belum bisa berdiri dan wajahnya Richardo masih terlihat pucat pasi, dia pun khawatir jika wajah nya sama dengan wajah Richardo. Richardo yang belum bisa berkata kata itu pun hanya menggelengkan kepala nya.


Merasa tidak yakin dengan jawaban Richardo. Vadeo pun menolak panggilan video sang istri nya. Dia lalu melakukan panggilan suara pada sang isteri tercinta.


"Pa cepat pulang." suara Alexandria setelah menerima panggilan suara dari Vadeo.


"iya Sayang ini juga mau pulang." ucap Vadeo, lalu dia segera memutus sambungan telepon itu.


"Ayo Do, cepat berdiri dan jangan cerita pada Alexa tentang ular besar tadi. Alexa pasti akan marah marah kita sudah membawa Aca dan Aya di tempat yang berbahaya." ucap Vadeo sambil menunduk menatap Richardo yang masih berusaha berdiri. Richardo pun lalu memegang kaki Vadeo untuk penahan agar bisa berdiri.

__ADS_1


"Man Pa... Men..." ucap Valexa dan Deondria yang berada di dalam gendongan sang Papa, untuk menyakinkan pada sang Papa kalau di tempat ini aman atau ular tadi adalah teman. Ahhh hanya Valexa dan Deondria yang tahu arti kosa kata mereka.


__ADS_2