Alexandria

Alexandria
Bab. 172. Rahasia Keluarga


__ADS_3

“Dari hasil pengalaman kerjanya dia profesional Deo. Pernah aku tugaskan untuk menjadi pengawal seorang puteri yang memiliki pasangan pangeran yang sangat tampan dan puteri nya itu hanya biasa biasa saja tapi Eveline tidak menggoda pangeran itu hingga Eveline mendapat penghargaan dari kerajaan itu dia dijadikan saudara sang puteri tadi.” jawab Vincent dengan nada serius


“Kalau Ricardo juga sama tetapi aku yakin seyakin yakinnya kalau kamu pasti yang cemburu.” ucap Vincent selanjutnya sambil tersenyum namun Vadeo tidak melihatnya


“Kamu kirimkan data dua orang itu, biar Alexandria yang memilih.” ucap Vadeo lalu dia memutus sambungan teleponnya. Dan tidak lama kemudian terdengar suara notifikasi di hand phone Vadeo. Vadeo lalu mengusap usap hand phone nya dan selanjutnya dia mendekati Alexandria yang masih terbaring dengan punggung menyandar di sandaran tempat tidur. Alexandria sejak tadi mendengar kan pembicaraan Vadeo.


“Al, menurut kamu siapa yang terbaik untuk menjadi pengawalmu di pulau nanti. Karena aku di sana tetap harus kerja. Aku kasihan jika kamu sendirian saat aku kerja.” ucap Vadeo sambil memperlihatkan data dua calon pengawalnya.


“Aku kan bisa menemani Kak Deo kerja tidak usah pakai pengawal khusus buat aku.” ucap Alexandria setelah melihat data calon pengawal termasuk sudah melihat foto foto nya.


“Tapi di ruang kerja kan dengan alat alat yang memancarkan gelombang elektromagnetik. Sementara demi kesehatan kamu kan harus seminimal mungkin terpapar gelombang elektromagnetik.” ucap Vadeo sambil menatap Alexandria penuh cinta.


“Aku pun kalau sedang beristirahat akan mendatangi kamu Sayang. Tapi ini demi keamanan dan agar kamu tidak kesepian.” ucap Vadeo selanjutnya


“Kalau aku pilih yang laki laki pasti Kak Deo tidak suka.” ucap Alexandria kemudian mencoba untuk memilih salah satu calon pengawal pribadinya.


“Jelas itu.” ucap Vadeo singkat


“Kalau aku pilih yang perempuan, nanti kalau menggoda Kak Deo, bagaimana?” tanya Alexandria


“Aku tidak tergoda orang jelek kayak gitu.” ucap Vadeo dengan nada serius.


“Yang cowok juga jelek.” ucap Alexandria sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kamu bohong ya....” ucap Vadeo sambil tersenyum lalu memeluk tubuh Alexandria dan menaruh begitu saja hand phone nya.


“Kak, di off kan dulu hand phone nya. “ ucap Alexandria dan Vadeo pun segera menon aktifkan hand phone nya.


“Al, besok kamu list segala kebutuhan yang diperlukan untuk kita hidup di pulau itu. Pengawal handal, tenaga medis dan tenaga terapi buat kamu, pelayan, semua yang kamu butuhkan kamu list dan aku akan suruh mereka segera siap siap satu minggu lagi kita berangkat.” ucap Vadeo lalu dia membaringkan tubuhnya dengan posisi yang siap untuk tidur. Alexandria pun juga sudah menaruh kepala nya pada bantal


“Besok kita ke Dokter dan setelahnya kita ke mension William.” ucap Vadeo sambil memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah Alexandria. Alexandria tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu tangannya memeluk tubuh Vadeo dan selanjutnya mereka berdua terlelap.


Keesokan paginya seperti biasanya mereka pagi pagi sudah siap untuk ke perusahaan. Akan tetapi bedanya kini Alexandria sangat dibatasi dalam menggunakan alat alat elektroniknya. Hand phone Alexandria pun kini yang mengaktifkan dan yang mengoperasikan Vadeo sang suami tercinta. Vadeo pun menjauh jika sedang sibuk dengan benda benda yang memancarkan gelombang elektromagnetik.


“Al, ingat ya pesan dari Dokter berapa lama kamu diijinkan menggunakan alat alatmu. Dan ingat jarak dari perutmu.” pesan Nyonya Jonathan saat mereka berdua akan berangkat kerja.


“Iya Ma.” jawab Alexandria lalu dia dan Vadeo pamit pada Nyonya Jonathan, sedangkan Tuan Jonathan sudah lebih dulu berangkat. Alexandria hanya membawa tas kecil dan tidak ada hand phone di dalamnya. Semua alat alat nya dibawa oleh Vadeo. Itu pun Vadeo menon aktifkan semua nya. Dia benar benar paranoid radiasi mengenai istrinya dan semakin memperburuk kondisi kesehatannya.


“Dua duanya.” jawab Vadeo sambil fokus pada kemudi mobilnya.


“Ricardo mengawal kamu, dan Eveline menjaga agar Ricardo tidak dekat dekat dengan kamu.” ucap Vadeo selanjutnya.


“Memang boleh sama Bang Vincent dua duanya ikut kita?” tanya Alexandria sambil menoleh menatap Vadeo yang sedang fokus pada kemudi mobilnya sebab lalu lintas sedang ramai.


“Harus boleh, nanti aku hubungi Vincent.” jawab Vadeo yang akhirnya memutuskan untuk memilih keduanya agar keamanan Alexandria lebih terjamin.


Mobil terus melaju, di sepanjang perjalanan mereka berbincang bincang tentang rencananya yang akan pergi ke pulau. Alexandria menulis secara manual apa apa yang dibutuhkan. Kini dia jadi teringat saat dipingit yang harus menulis secara manual apa yang akan disampaikan pada Vadeo.

__ADS_1


Alexandria tersenyum mengingat hal itu. Vadeo menoleh sekilas.


“Kenapa senyum senyum senang ada Ricardo?” tanya Vadeo yang mulai cemburu


“Ih... Kak Deo asal menuduh, ini aku ingat jaman dipingit harus menulis gini.” ucap Alexandria sambil menunjukkan kertas yang sudah dia tulis. Vadeo pun akhirnya tertawa kecil dia pun mengingat masa pingitan dulu.


Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman Jonathan Co. Vadeo segera memarkir mobilnya dan setelahnya mereka berdua segera menuju ke ruang kerjanya.


Saat sudah memasuki ruang kerja tampak Tuan Jonathan sudah sibuk di meja kerja Vadeo.


“Al kamu kerja di dalam kamar pribadi saja, di sana minim radiasi dan kamu tanda tangani dan cek berkas berkas saja.” ucap Tuan Jonathan saat melihat anak dan menantunya sudah masuk di dalam ruang kerja. Alexandria menuruti perintah Papa mertuanya, dia menganggukan kepalanya dan akan melangkah menuju ke kamar pribadi.


“Deo kamu bawa itu berkas berkas dan kamu selanjutnya duduk di kursi kerja Alexandria.” perintah Tuan Jonathan pada Vadeo.


“Kalau aku dan Alexandria di kamar pribadi saja bagaimana Pa?” tanya Vadeo sambil tersenyum dan mengambil setumpuk berkas berkas. Tuan Jonathan tidak menjawab dengan ucapan hanya menatap Vadeo dengan tajam.


Sementara Pak Rio yang duduk di kursi kerjanya tersenyum mendengar ucapan Vadeo. Tuan Jonathan tadi mengatakan pada Pak Rio kalau dia kembali ke perusahaan karena Vadeo dan Alexandria akan melanjutkan bulan madu dalam rangka program hamil. Beliau tidak mengatakan jika Alexandria agak sulit hamil. Tuan Jonathan berusaha sebisa mungkin agar hanya keluarga saja mengetahui masalah Alexandria, namun tentu saja kecuali Justin meskipun dia masih keponakannya sudah pasti tidak akan diberi tahu. Jika Justin tahu bisa bisa dia menyuruh seorang wanita untuk menggoda dan menjebak Vadeo.


Tuan Jonathan menatap Vadeo dan Alexandria yang berjalan menuju ke kamar pribadi. Di sana adalah kamar yang biasa digunakan untuk istirahat Tuan Jonathan dulu saat dia masih aktif. Dan selanjutnya untuk kamar pribadi Vadeo, dan kini tentu saja untuk kamar pribadi Vadeo dan Alexandria setelah mereka berdua resmi menikah.


“Hmmm ujian untuk cinta kalian belum selesai semoga kalian berdua kuat.” gumam Tuan Jonathan dalam hati sambil melihat punggung Alexandria dan Vadeo yang terus berjalan menuju ke kamar pribadi.


“Jangan sampai Justin mendengar masalah ini, bisa tambah runyam masalahnya jika anak itu tahu. Tembok di Jonathan Co pun tidak boleh mendengar masalah Alexandria, aku kuatir jika masih ada orang orang yang berpihak pada Justin, pasti ada orang orang yang diuntungkan saat Justin mendapat jabatan di sini.” gumam Tuan Jonathan dalam hati yang kini sudah mulai serius menatap layar komputer.

__ADS_1


....


__ADS_2