
Dokter Loly terus berjalan menuju ke kamarnya. Dia membuka kunci pintu kamarnya lalu memutar pelan handel pintu dan mendorong daun pintu kamarnya. Setelah kaki nya sudah memasuki kamar, Dokter Loly cepat cepat menutup pintu kamarnya lalu tidak lupa dia mengunci pintu kamarnya itu.
Dokter Loly lalu berjalan menuju ke jendela kamarnya, dia tarik tirai yang menjuntai menutupi kaca tebal dan lebar jendela kamar itu. Dia melihat pemandangan di luar dari jendela kaca itu.
“Kenapa dadaku berdebar debar membayangkan Tuan Vadeo.” gumam Dokter Loly dalam hati.
“Kalau Nona Alexandria segera hamil, tugasku akan segera selesai kita semua pulang dan aku tidak bisa lagi setiap hari melihat wajah Tuan Vadeo.” gumam Dokter Loly lagi
“Melihat wajahnya saja aku sudah senang.” gumam Dokter Loly selanjutnya sambil terlihat berpikir keras.
“Hmmm apa bisa ya aku tinggal di tempat tinggal mereka. Coba nanti tenaga therapis aku ajak untuk berkunjung ke tempat Nona Alexandria.. He.. he... dengan alasan untuk cek awal kesehatan Nona Alexandria saat tiba di pulau ini.” ucap Dokter Loly sambil tertawa kecil.
“Okey, begitu lah sekarang aku istirahat sebentar.” ucap Dokter Loly lalu menutup lagi jendela kaca kamarnya dengan tirai tebal yang menjuntai sampai lantai.
Dokter Loly lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur itu.
“Hmmm tugas yang menyenangkan akan tetapi berat. Apa aku tertarik pada Tuan Vadeo, kenapa aku ingin selalu melihat dirinya.” gumam Dokter Loly lagi sambil masih berbaring di tempat tidurnya.. Dia memejamkan matanya akan tetapi bayangan Vadeo yang memperlihatkan kemesraan pada Alexandria muncul di pelupuk matanya.
Sementara itu di lain tempat, Alexandria dan Vadeo masih melihat lihat kebun sayur dan buah.
“Kak itu sungainya jernih sekali yuk kita ke sana.” ajak Alexandria saat melihat ada sungai tidak jauh dari kebun buahnya.
“Ayo kita mandi di sana.” ucap Vadeo sambil tersenyum
“Bahaya tidak Kak? Nanti ada binatang buas.” ucap Alexandria saat sudah berada di tepi sungai yang lebar dan jernih itu.
“Aman Sayang, di sebelah sana dan sana sudah dipasang saringan dari besi tidak ada binatang buas masuk di area sungai sini dan aman tidak akan hanyut. Aliran tidak deras dan juga sudah ada pengaman saringan besi kuat dan tinggi di kiri dan kanan.” jawab Vadeo sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah kanan dan kiri sungai.
__ADS_1
“Pegawai pegawai yang menyiapkan rumah dan kebun ini kemarin juga mandi di sungai itu.” ucap Vadeo Vadeo selanjutnya
“Bersih, aman. Mereka semua sehat dan selamat tidak ada yang sakit kulit dan diare he.. he...” ucap Vadeo selanjutnya sambil tertawa kecil.
“Malu, padahal asyik ya Kak.. benar benar alami he.. he...” ucap Alexandria sambil tertawa kecil namun tiba tiba pipinya merona. Ah Al kamu membayangkan dan apa yang sedang kamu pikirkan kenapa tiba tiba pipimu merona.
“Kenapa malu tidak ada orang lain, hanya ada aku dan kamu di area sini.” ucap Vadeo sambil merangkul bahu Alexandria.
“Malu Kak...” ucap Alexandria lagi.
“Okey lah nanti atau besok, kamu lihat aku mandi di situ. Pasti kamu akan tidak tahan untuk ikut... he... he...” ucap Vadeo kemudian sambil tertawa kecil dan memencet hidung mancung Alexandria karena gemas melihat pipi Alexandria yang masih merona.
“Ayo Kita kembali, kita belum mengabari pada Mama dan Papa kalau kita sudah sampai dengan selamat.” ucap Vadeo selanjutnya mengajak Alexandria untuk kembali ke rumah.
“Ada jaringan Kak di sini?” tanya Alexandria sambil berjalan di samping suaminya.
Saat mereka berdua sudah sampai di kebun sayur organik, Alexandria kembali mengambil sayuran yang tadi sudah dipanen, karena tadi ditinggal dulu karena mereka melihat lihat kebun buah dan sungai.
“Kak, hemat biaya hidup ya kalau kita tinggal di sini.” ucap Alexandria sambil membawa sayur sayuran segar itu.
“Ha.. ha.. iya tidak usah ke pasar..” ucap Vadeo sambil tertawa. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah.
“Tuan, maaf Nyonya tadi menelpon saya, beliau berpesan agar Tuan Muda menghubungi Nyonya.” ucap sang pelayan yang segera mendatangi Vadeo dan Alexandria saat mendengar pintu belakang dibuka.
Pelayan itu terlihat menerima sayuran yang diberikan oleh Alexandria.
“Nona apa ingin salad sayuran?” tanya sang pelayan pada Alexandria dan Alexandria pun mengangguk senang.
__ADS_1
“Terima kasih Bu.” ucap Alexandria pada pelayan yang sudah setengah baya itu. Dia termasuk pelayan kepercayaan keluarga Jonathan, dia juga dulu yang menyiapkan makanan buat Vadeo sejak bayi hingga Vadeo pergi ke luar negeri untuk bersekolah yang tujuannya untuk mencari gadis kecilnya.
Alexandria pun ikut masuk ke dalam dapur itu, dia ingin tahu karena tadi Vadeo juga bercerita ada alat alat dapur yang bisa digunakan untuk memasak dengan menggunakan energi surya. Sementara Alexandria ikut sang pelayan masuk dapur, Vadeo berjalan menuju ruang kerjanya untuk menghubungi orang tuanya. Sebab tas kerja yang berisi hand phone dan peralatan kerjanya dibawa masuk pelayan ke ruang kerja.
“Nona jalan jalan sampai mana?” tanya sang pelayan sambil mencuci sayur yang dibawa oleh Alexandria
“Sampai sungai Bu, airnya sangat jernih banyak ikannya juga.” jawab Alexandria
“Iya Nona, saya sudah mandi di sungai itu, segar sekali.. saya merasa bagai dewi Nawang Wulan yang turun dari kahyangan dan mandi di kali he.. he... untung tidak ada Joko Tarub yang mengambil baju saya hi... hi... hi....” ucap sang pelayan sambil tertawa
“Ha... ha... Ibu bisa saja..” ucap Alexandria juga ikut tertawa lepas mendengar ucapan dan canda sang pelayan.
“Benar Nona coba besok mandi di sana, kalau malu besok pagi pagi kita ke sana saat hari belum begitu terang.” ucap sang pelayan dengan nada serius sambil menatap Alexandria.
“Okey Bu, besok antar saya ya, saat Kak Deo masih tidur.” ucap Alexandria dan sang pelayan pun dengan senang hati akan mengantar Alexandria.
Saat mereka berdua masih berbincang bincang dan bercanda tiba tiba pesawat telepon yang ada di dapur itu berdering. Sang pelayan segera berjalan dan mengangkat ganggang telepon. Rupanya satpam yang menjaga pintu gerbang yang menghubungi Sang pelayan.
“Baiklah saya sampaikan pada Nona Alexandria dia sedang membantu aku di dapur.” ucap sang pelayan lalu dia segera menutup gagang telepon.
“Nona Ibu Dokter dan Ibu therapis akan menemui Nona katanya mau cek kesehatan Nona.” ucap sang pelayan sambil menatap Alexandria.
“Baiklah Bu, saya temui mereka.” ucap Alexandria lalu meletakkan sayur sayuran yang tadi dia pegang untuk dipotong potong.
Alexandria terus berjalan keluar dari dapur dan terus melangkah menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu depan.
...
__ADS_1