
“Pa... .. Ma... “ teriak Valexa dan Deondria lagi dan kini mereka berdua tampak memelorotkan tubuh nya turun dari gendongan Richardo dan segera berlari menuju ke arah Sang Mama dan Sang Papa.
Vadeo dan Alexandria hanya bisa menoleh saling pandang, Vadeo tampak sangat kecewa karena gagal rencananya untuk mengulang kembali menikmati melakukan hubungan suami istri di sungai yang jernih di alam terbuka. Sedangkan Alexandria hanya tertawa kecil.
“Bisa lain waktu.” Ucap Alexandria memberi harapan pada Vadeo.
“Pa... Ma... “ suara Valexa dan Deondria sambil tersenyum lebar bibirnya. Tampak ikan ikan di sungai masih berenang renang di permukaan dan tampak menari nari. Burung burung di udara dan du atas pohon pun juga masih berkicau riang menyambut kedatangan Valexa dan Deondria.
Vadeo dan Alexandria lalu menangkap tubuh kedua anak nya. Vadeo menggendong Valexa dan Alexandria menggendong Deondria.
“Nang... nang....” ucap Valexa dan Deondria sambil telunjuk mungilnya menunjuk ke arah sungai. Dan sesaat ikan ikan menyingkir untuk memberi tempat pada mereka untuk berenang.
“Ma... cih....” suara Valexa dan Deondria saat melihat ikan ikan yang menyingkir memberi tempat pada mereka untuk berenang.
“Do kamu tunggu di atas saja.” Perintah Vadeo pada Richardo yang tidak mau tubuh istrinya yang basah basah dilihat oleh mata laki laki lain.
“Di atas mana Tuan?” tanya Richardo yang masih berdiri di bawah pohon di pinggir sungai.
“Di atas pohon.” Ucap Vadeo dengan kesal.
“Sana kamu balik lagi ke rumah.” Ucap Vadeo lagi dengan nada tinggi.
“Ooo baik Tuan.” Ucap Richardo lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan lokasi sungai yang jernih dan indah itu. Sebenarnya Richardo pun juga ingin menikmati suasana yang sangat nyaman itu. Berenang di sungai yang jernih di temani oleh kilauan burung burung dan ikan ikan indah berwarna warni yang menari nari. Akan tetapi apalah daya sebab Sang Tuan menyuruh meninggalkannya karena posesif pada Sang isteri.
Dan Kini keluarga kecil itu pun mulai bersiap siap untuk berenang di sungai. Alexandria yang sudah memakai baju renang itu tinggal melepas kain pantai lebar yang sejak tadi membungkus rapat tubuh nya. Dia lalu membuka baju Valexa dan Deondria dan kini kedua anak itu memakai pakaian dalam nya. Vadeo pun segera melepas tshirt nya. Baju baju mereka pun di taruh di atas batuan besar.
Valexa dan Deondria yang di dalam gendongan kedua orang tua terlihat tertawa bahagia. Vadeo dan Alexandria pun segera melangkah dan masuk ke dalam sungai. Mereka berempat bermain main di air hingga matahari hampir terbenam.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Valexa dan Deondria sering mengajak untuk datang lagi ke pulau Alexandria. Dan jika tiba di pulau Alexandria mereka pasti akan mengajak ke bukit pohon asam dan sungai yang jernih air nya itu.
Dan Kini usia mereka sudah menginjak tiga tahun an, mereka berdua tumbuh sehat, aktif dan pintar. Dan lebih dari itu semakin hari juga intuisi dan insting mereka berdua semakin bertambah tajam.
“Sayang besok hari ulang tahun Oma William, kita besok ke sana. Mama bingung nih kasih kado apa ya buat Oma.” Ucap Alexandria saat mereka bertiga sedang duduk duduk santai di ruang keluarga
__ADS_1
“Tenan Ma.. ada tejutan tan adiyah itimewa buwat Oma.. (tenang Ma.. ada kejutan dan hadiah istimewa buat Oma).” Ucap Valexa sambil tersenyum menatap Sang Mama.
“Apa Papa sudah membelikan?” tanya Alexandria.
“Butan.. potok na yaacia... (bukan pokok nya rahasia).” Jawab Deondria dengan nada serius.
Dan waktu pun berlalu hari ulang tahun Nyonya William pun tiba. Mereka semua sudah siap akan berangkat menuju ke mansion William. Nyonya Jonathan sudah siap dengan kado satu set perhiasan edisi terbaru.
“Deo kamu belikan apa buat Mama Mertua kamu?” tanya Nyonya Jonathan sambil berjalan menuju ke pintu utama Mansion.
“Dilarang beli apa apa oleh Valexa dan Deondria. “ jawab Vadeo yang juga berjalan sambil menggendong Valexa sedangkan Deondria sudah digendong oleh Opa Jo dan sudah keluar dari pintu utama Mansion.
Mereka pun akhirnya sudah masuk ke dalam mobil, mereka memakai satu mobil. Dan mobil segera melaju menuju ke Mansion William. Dalam hati Vadeo dan Alexandria penasaran dengan kejutan apa yang akan diberikan oleh kedua anaknya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman Mansion William tampak mobil milik Bang Bule Vincent sudah terparkir manis di dekat teras mansion utama, mobil keluarga Jonathan pun berjalan pelan pelan mendekati mobil Bang Bule Vincent dan selanjutnya berhenti di belakangnya. Setelah pintu terbuka Valexa dan Deondria segera berlari menaiki anak tangga teras dan mereka berdua segera menendang nendang pintu utama Mansion. Vadeo pun turut berlari mengikuti kedua anak nya agar tidak membuat gaduh .
“Hai jangan ditendang nanti Opa marah.” Ucap Vadeo lalu tangan nya terulur akan menekan bel tamu. Akan tetapi belum juga menekan bel tamu, pintu sudah terbuka dan muncul sosok Dealova yang sudah tampil cantik dengan gaun pesta.
“Ihhhh kalian pasti tidak sabar ...” ucap Dealova lalu menggandeng tangan kedua keponakan itu untuk diajak masuk ke dalam ruang keluarga.
Vadeo lalu duduk di samping Bang Bule Vincent. Sedangkan Valexa dan Deondria sudah berjalan menuju ke kamar Nyonya William yang sedang bersiap siap.
“Deo kamu kasih hadiah apa, buat Mama Mertua?” bisik lirih Bang Bule
“Kamu kasih apa?” ucap Vadeo balik bertanya.
“Rahasia.” Jawab Bang Bule Vincent.
“Ya sudah sama.” Ucap Vadeo.
Beberapa saat kemudian Nyonya William pun sudah keluar dari kamar didampingi oleh Tuan William dan kedua cucu nya. Wajah Nyonya William tampak cantik dan penuh dengan kebahagiaan.
Dan pesta ulang tahun pun berjalan lancar. Hadiah hadiah sudah diberikan pada Nyonya William. Vadeo dan Alexandria terlihat kikuk karena hanya mereka berdua yang belum memberikan hadiah.
__ADS_1
“Ma, hadiah dari kami kedua cucu Oma yang cantik cantik dan manis manis itu.” Ucap Vadeo dengan hati hati.
“Deo kamu jangan nyindir aku yang belum bisa kasih cucu pada Oma.” Ucap Bang Bule sambil menatap Vadeo dengan tajam.
“Oma ayo itut tita ada adiyah tok... (Oma ayo ikut kita ada hadiah kok..).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menarik tangan Oma William.
Nyonya William pun menurut pada kedua cucunya, mereka terus berjalan ke belakang ke luar dari pintu samping Mansion . Semua pun penasaran dan mengikuti langkah kaki kedua bocah itu.
Valexa dan Deondria terus melangkah menuju ke kebun di belakang yang letaknya jauh dari Mansion utama. Para pelayan pun heran karena semua juragan nya berbondong bondong menuju ke kebun.
Dan sesaat kemudian Valexa dan Deondria berhenti di suatu tempat. Tampak Valexa dan Deondria lalu mengambil satu potong kayu dan mereka berdua jongkok lalu mencongkel congkel tanah di depan nya.
“Papa bantu atu.. ( Papa bantu aku..)” teriak Valexa dan Deondria yang sudah melihat Sang Papa berada tidak jauh dari diri mereka.
Vadeo pun berjalan mendekat dan minta alat kebun pada pelayan, karena pelayan pelayan pun juga mengikuti mereka.
Setelah mendapat alat kebun dari salah satu pelayan, Vadeo mencongkel congkel tanah yang sudah memadat itu. Semua orang berkerumun di sekitar situ.
Akan tetapi ada dua orang yang jantung nya berdebar debar, sebab rahasia mereka berdua yang sudah tersimpan bertahun tahun akan terkuak.
“Cudah Pa belenti nanti pecah... ( sudah Pa berhenti nanti pecah).” Teriak Valexa dan Deondria. Vadeo pun menghentikan kegiatan nya. Tangan tangan mungil Valexa dan Deondria lalu terulur ke lobang tanah yang sudah dibuka oleh Sang Papa.
Dan tidak lama kemudian, tangan mungil itu sudah membawa satu buah benda.
“Hah cangkir yang aku cari cari sudah ketemu, ternyata ada di sini.” Ucap Nyonya William dengan tangis haru bahagia dan segera mendekati kedua cucunya itu dan mengambil cangkir nenek buyut yang sudah dicari cari di seluruh negeri.
“Retak. Tapi tidak apa apa. Terima kasih ya Sayang ini kado terindah.” Ucap Nyonya William sambil menciumi wajah kedua cucu nya itu.
“Tapi siapa yang menyembunyikan di sini?” tanya Nyonya William selanjutnya sambil menoleh memandang semua orang yang berkerumun di situ.
Sementara Valexa dan Deondria menatap tajam wajah Dealova dan satu orang pelayan yang dulu sebagai pengasuh saat Dealova masih kecil.
♥️♥️♥️
__ADS_1
Cerita selanjutnya di novel dengan judul Valexa Deondria Kembar Ajaib, ya reader tersayang.
Terima kasih dan mohon maaf jika ada salah nya 🙏🥰🤗