
Kini hari yang dinanti nanti oleh keluarga William dan keluarga Jonathan pun telah tiba. Pagi hari setelah sarapan Alexandria segera diantar oleh Sang Mama menuju ke kamar rias yang berada tidak jauh dari ballroom tempat acara terselenggara.
Alexandria pun seperti hal nya Vadeo sudah sangat merindukan kekasih hatinya itu. Dia berharap sudah bisa bertemu dengan Vadeo. Saat berjalan menuju kamar rias, pandangan matanya mencari cari sosok Vadeo yang kalau kalau juga berjalan menuju ke kamar rias untuk pengantin laki laki yang tempatnya tidak jauh. Namun terlihat masih sepi.
“Vadeo mungkin masih tidur, jadwal dia dirias agak siang. Pengantin laki laki tidak serepot pengantin perempuan riasannya.” ucap Nyonya William sambil menggandeng lengan Alexandria karena dia tahu kalau Alexandria mencari cari sosok Vadeo, dari gestur tubuh Alexandria. Alexandria pun akhirnya masuk ke kamar rias pengantin perempuan itu.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Dan akhirnya riasan kedua mempelai dan juga semua kerabat sudah selesai. Mereka semua sudah tampil dengan dandanan sempurna sesuai rencana. Di acara ijab ini mereka memakai baju adat.
Para tamu dan kerabat sanak saudara handai taulan yang akan menjadi saksi pun sudah duduk manis di kursi yang dihiasi dengan kain putih satin berenda di dalam ballroom hotel tersebut. Dealova dan Ixora pun juga sudah duduk manis sambil selfie selfie. Mata Ixora selalu saja mencuri curi pandang pada Bang Bule yang sudah duduk di kursi barisan keluarga pihak mempelai laki laki. Sedangkan mata Dealova ke sana kemari mencari cari wajah wajah cowok ganteng dan keren. Tidak ketinggalan sosok Edwind dan Sean pun menjadi sasaran tatapan mata Dealova.
“Ayo Al, kita keluar sambil menunggu Pak Penghulu kita bisa melakukan pemotretan dulu. Vadeo dan Papa sudah di sana.” ucap Sang Mama pada Alexandria yang masih di dalam kamar rias pengantin perempuan.
“Ma, sekarang kok aku yang deg deg an ya...” ucap Alexandria lirih.
“Maklum Nona semua pengantin begitu. Tenang saja.. minum air putih dulu.” ucap sang make up artis pada Alexandria lalu dia mengambilkan satu gelas air putih lengkap dengan sedotan untuk meminimalisir kerusakan lipstik di bibir cantik Alexandria.
Alexandria pun lalu digandeng oleh Sang Mama dan Tante Lisbeth dan Sang make up artis terus berada di dekat mereka, mereka pun keluar dari kamar rias. Beberapa kerabat dekat juga mengikuti mereka dari belakang.
Saat Alexandria dan para pengantar memasuki ballroom semua pandangan mata tertuju kepadanya. Vadeo yang tadi sedang tertunduk sambil di dalam hati menghafalkan kalimat yang harus nanti dia ucapkan pun juga spontan menoleh ke arah pintu masuk. Sebab ada gerakan dalam hati yang membuat dia menoleh ke arah pintu masuk.
Mata Vadeo langsung terbelalak melihat tampilan sempurna dari Alexandria, wajah Alexandria tampak cantik segar dan bersinar, tubuhnya yang terbalut oleh baju adat pengantin pun terlihat sexy di mata Vadeo.
“Kok tubuhnya terlihat lebih sexy ya..” gumam Vadeo dalam hati dia terlihat akan bangkit berdiri akan tetapi tangan Tuan Jonathan yang duduk di sampingnya menepuk pahanya.
“Kamu duduk tenang di sini. Alexandria juga akan datang dan duduk di samping mu nanti.” bisik Tuan Jonathan. Dan Vadeo pun menurut lalu kembali duduk manis sambil pandangan matanya tertuju pada sosok Alexandria yang berjalan semakin mendekat.
__ADS_1
Pandangan mata Alexandria pun tertuju pada sosok Vadeo yang selama ini dia rindu. Alexandria terus saja memandang sosok Vadeo yang tampak gagah, ganteng, dan keren dengan baju adat pengantinnya. Rasanya dia ingin berlari lalu memeluk Vadeo seperti saat di bandara Warsawa dulu, akan tetapi jelas jelas itu tidak mungkin. Alexandria pun terus melangkah pelan pelan dengan senyuman terus menghiasi bibirnya.
Dan tidak lama kemudian Alexandria sudah sampai di kursi tempat duduknya. Sambil menunggu waktu datangnya Pak Penghulu mereka melakukan pemotretan pemotretan.
Dan kini waktu pun sudah tiba, mereka semua kembali ke tempat duduknya masing masing. Suasana pun menjadi hening, mereka mendengarkan suara sang MC ( master of ceremony ) yang sedang berbicara.
Akan tetapi waktu terus berlalu, namun Pak Penghulu juga belum datang. Bang Bule sebagai ketua panitia terlihat sibuk dan ekspres wajahnya tampak gelisah. Dia bolak balik sibuk dengan hand phone nya.
“Bule bagaimana ini sudah hampir satu jam Pak Penghulu belum datang?” tanya Tuan William yang sudah berdiri di dekat Vincent.
“Maaf Tuan sudah saya hubungi nomor hand phone nya tetapi tidak diangkat.” jawab Bang Bule, dia kembali sibuk dengan hand phone nya untuk melacak keberadaan Pak Penghulu.
“Kenapa tidak dijemput saja Pak Penghulu tadi?” tanya Tuan William
“Sudah akan dijemput beliau tidak mau, katanya pagi hari dia juga menikahkan pengantin lain, dari lokasi itu dia menuju ke sini.” ucap Bang Bule kemudian. Saat melihat keberadaan Pak Penghulu semakin menjauh. Bang Bule lalu terlihat sibuk kembali dengan hand phone nya, dia menghubungi kantor KUA tempat mendaftarkan pernikahan. Vadeo dan Alexandria.
“Aku tidak mau tahu, kalau Pak Penghulu itu kabur, cari penghulu pengganti.” ucap Tuan William dengan nada tinggi. Hingga ucapan itu terdengar di telinga Dealova.
“Apa Papa ikut membaca novel Mama ya Kak?” bisik Dealova di telinga Ixora
“Mungkin.. kok tahu ada peran pengganti di pernikahan.” jawab Ixora yang berbisik juga.
“Tapi penghulu pengganti, aku pengen tertawa tetapi kok tidak etis semua sedang gelisah.” ucap Dealova dengan nada serius.
Sesaat kemudian Bang Bule mendekati Tuan William.
__ADS_1
“Tuan saya sudah menghubungi pegawai KUA, katanya acara pernikahan bisa dilaksanakan lebih dulu. Katanya masalah pencatatan pernikahan bisa menyusul kemudian. Kalau nanti Pak Penghulu tidak datang, besok kita bisa datang untuk mencatatkan pernikahan Vadeo dan Alexandria ke kantor.” ucap Vincent dengan nada serius
“Kata beliau pernikahan sah, cuma belum tercatat dan belum mendapatkan buku nikah sekarang.” ucap Vincent lagi yang sudah mendapatkan penjelasan dari pegawai KUA.
“Syukurlah kita laksanakan setelah para saksi selesai makan siang dulu. Syukur syukur Pak Penghulu sudah datang.” ucap Tuan William terlihat sedikit lega.
“Baik Tuan, lebih baik kita dan calon pengantin juga makan siang dulu.” ucap Vincent kemudian.
Sementara itu teman Justin yang berhasil menculik pak Penghulu terus saja melajukan mobilnya semakin menjauh dari lokasi hotel tempat acara pernikahan Vadeo dan Alexandria.
“Kalian siapa, aku mau dibawa kemana?” tanya Pak Penghulu yang duduk di jok belakang mobil teman Justin dengan tangan terikat sehingga dia tidak bisa menerima atau pun menghubungi orang lewat hand phone nya.
“Ini bukan jalan menuju ke hotel tempat acara pernikahan yang akan aku datangi.” ucap Pak Penghulu selanjutnya sebab saat tadi dia bertanya akan dibawa ke tempat hotel tempat pernikahan
“Diam saja Pak Penghulu kami akan membawa Pak Penghulu ke ujung dunia, agar tidak bisa menikahkan mereka.” jawab temannya Justin.
“Mereka tetap sah menikah tanpa hadirnya aku. Tugasku hanya mencatat pernikahan mereka. Mereka bisa mencatatkan pernikahan di kantor KUA besok.” ucap Pak Penghulu. Terlihat temannya Justin dan temannya itu matanya melotot karena kaget.
“Benarkah begitu?” tanya temannya Justin kemudian.
“Kalau tidak percaya ya sudah.” ucap Pak Penghulu frustasi.
Dan akhirnya mobil teman Justin berhenti lalu dia membuka pintu dan keluar dari mobil, selanjutnya dia membuka pintu mobil belakang dan menarik tangan pak Penghulu agar keluar dari mobilnya.
....
__ADS_1
Bersambung ya...