
“Kok tidak menari malah bergerak ke sini.” gumam Vadeo
“Tapi tidak apa jarak masih jauh yang penting Richardo bisa turun lebih dulu.” ucap Vadeo selanjutnya sambil berjalan mundur dengan pelan pelan tanpa menimbulkan suara.
Richardo pun yang melihat ular mulai bergerak menjauh dari batang bawah pohon, dia dengan cepat turun dari pohon. Dengan hati hati satu kakinya dia injakan pada tanah tanpa menimbulkan suara, lalu satu lagi kakinya menyusul menginjakkan tanah dan tanpa menimbulkan suara juga. Lalu dia segera menunduk untuk mengambil sepatunya. Dia tidak sempat memakai sepatu itu, sepasang sepatunya dia bawa lalu dia berjingkat jingkat berjalan untuk menyusul ketiga laki laki yang sudah berjalan meninggalkan lokasi dengan jalan yang berjingkat jingkat pula.
Ketiga laki laki itu itu kini sudah memasuki jalan setapak dan masih berjalan hati hati dan berjingkat jingkat agar tidak menimbulkan suara, mereka pun takut jika ada ular ular lainnya di sekitar jalan setapak itu.
Richardo yang sudah selamat dari ular yang berada di lokasi dekat pohon asam pun mempercepat langkahnya untuk menyusul ketiga laki laki lainnya.
Beberapa menit kemudian ketiga laki laki itu sudah sampai di batu besar, mereka bertiga menoleh ke belakang dan Richardo pun sudah tidak jauh dari posisi mereka. Richardo berjalan setengah berlari sambil kedua tangannya memegang sepatunya.
Pak Sopir segera berjalan menuju ke pintu mobil bagian kemudi dan segera membuka pintunya. Lalu dia masuk ke dalam mobil. Pak tukang kebun pun demikian. Dia membuka pintu mobil bagian depan lalu dia tumpahkan buah buah asam yang dia taruh pada tshirt nya. Lalu dia kibas kibas kan tshirt itu di udara samping mobil lalu dia pakai lagi tshirt itu dan setelahnya dia mulai masuk ke dalam mobil.
Sementara Vadeo masih menunggu Richardo. Dan tidak lama kemudian Richardo sudah berada di dekat Vadeo.
“Sepatu dipakai di dalam mobil saja, takutnya keburu hujan jalan licin.” ucap Vadeo sambil menatap Richardo yang wajahnya masih tampak pucat.
Richardo menganggukkan kepala dan terus berjalan menuju ke mobil demikian juga Vadeo.
“Terima kasih ya..” ucap Vadeo sambil menepuk pundak Richardo yang berjalan di sampingnya.
Sementara itu di rumah, Alexandria terlihat gelisah sebab hari sudah mulai gelap suaminya belum juga pulang. Dia lalu turun ke lantai bawah.
Alexandria berjalan menuju ke pintu dapur. Dia putar pelan handel pintu dapur itu lalu dia dorong dengan pelan pelan pula daun pintu itu. Terlihat sang pelayan sedang sibuk memasak untuk makan malam.
__ADS_1
“Bu, kok mereka belum pulang ya..?” tanya Alexandria sambil berjalan mendekat sang pelayan.
“Ditunggu saja Non, kita doakan mereka selamat.” jawab sang pelayan sambil menatap wajah Alexandria. Sang pelayan pun dalam hati juga kuatir dan gelisah.
“Apa tempatnya jauh Bu?” tanya Alexandria kemudian
“Saya juga belum tahu Non, kata pak tukang kebun di bukit pohon itu.” jawab sang pelayan yang memang belum tahu lokasi bukit apalagi posisi pohon asam itu. Pak tukang kebun pun tidak menceritakan jika harus melewati jalan tanah dan jalan setapak.
“Non Alexa tunggu saja di kamar atau di ruang keluarga.” ucap sang pelayan selanjutnya saat melihat wajah Alexandria terlihat cemas.
“Aku naik ke atas mau sembayang Bu, nanti panggil aku kalau mereka sudah datang ya...” ucap Alexandria kemudian, tampak sang pelayan menganggukkan kepalanya.
Alexandria pun lalu keluar dari dapur dan berjalan menuju ke kamarnya dia akan berdoa di dalam kamarnya.
“Turunkan itu buah buah asam nya.” perintah Vadeo pada pak tukang kebun.
“Dan setelahnya kalian langsung menuju ke guest house dan mess. Hari sudah gelap.” ucap Vadeo sambil membuka pintu mobilnya.
Pak tukang kebun pun menuruti perintah Vadeo, menurunkan buah buah asam itu dari mobil dan dia taruh pada tanah di dekat mobil.
Sementara itu pintu depan sudah terbuka dan tampak sosok pelayan berjalan mendekati mobil yang sudah berhenti dan pak sopir telah mematikan mesin mobilnya.
“Wow banyak dan besar besar... alhamdulillah semua sudah selamat sampai rumah.” ucap sang pelayan sambil menengadahkan tangannya mengucapkan syukur.
“Bu tolong ambil tempat buat buah buah ini.” ucap Vadeo sambil berjongkok di depan buah buah asam itu, untuk menjauhkan buah buah itu dari mobil. Sang pelayan pun segera berlari lagi kembali ke dalam rumah untuk mengambil tempat.
__ADS_1
Setelah buah buah itu sudah agak jauh dari mobil. Vadeo berdiri dan mobil pun lalu berjalan meninggalkan halaman rumah Vadeo.
Vadeo masih berdiri sambil menunduk melihat buah buah asam yang masih teronggok di tanah. Dia kini sedang berpikir jawaban apa yang akan diberikan pada isterinya jika Alexandria bertanya siapa yang memanjat pohon asam. Pak Satpam pun berjalan mendekati Vadeo karena melihat sang Tuan nya masih berdiri dan tampak gelisah.
Tidak lama kemudian sang pelayan datang sambil membawa waskom besar untuk tempat buah buah asam itu.
“Bu, tolong ambilkan pakaian ganti saya ya.. saya akan mandi di lantai bawah. Baju saya sangat kotor kasihan Alexandria.” ucap Vadeo sambil menerima waskom besar itu.
“Iya iya Tuan benar itu, jangan masuk kamar Non Alexa dari perjalanan jauh apalagi dari bukit.” ucap sang pelayan lalu dia pun kembali berjalan cepat masuk ke dalam rumah lagi.
Sementara itu Vadeo dibantu pak Satpam menaruh buah buah asam itu ke dalam waskom besar. Setelah selesai Vadeo langsung membawa waskom besar itu dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Alexandria yang mendengar ramai ramai di halaman bawah bermaksud akan turun ke lantai bawah. Tetapi sesaat sang pelayan datang meminta pakaian ganti buat Vadeo. Alexandria pun berjalan lagi ke kamarnya untuk mengambilkan baju ganti suaminya.
“Bu, biar saya yang memberikan buat Kak Deo kasihan Kak Deo sudah capek capek mengambil buah asam buat saya.” ucap Alexandria dengan tangan membawa baju ganti suami dan handuk.
“Biar saya saja Non, Tuan dari perjalanan jauh ke bukit lagi, tidak baik buat Non, takutnya masih ada sawan sawan yang menempel.” ucap sang pelayan sambil menarik baju dan handuk di tangan Alexandria.
“Sawan?” tanya Alexandria sambil mengeryitkan dahinya.
“Tidak tahu Non, bagaimana menjelaskannya, tapi tidak baik buat Non Alexa karena Non kan masih sakit, siapa tahu Tuan ketempelan pirus pirus dalam perjalanan tadi..” jawab sang pelayan dengan ekspresi wajah bingung karena tidak bisa menjelaskan.
“Ooo virus.” gumam Alexandria selanjutnya lalu dia nurut memberikan baju dan handuk buat suaminya pada sang pelayan . Dan dia menunggu di dalam kamar padahal sebenarnya dia sudah sangat rindu pada suami nya.
...
__ADS_1