
Setelah dua hari kepulangan mereka, acara doa untuk tujuh bulan kehamilan Alexandria pun dilakukan. Keluarga dan kerabat pun diundang untuk acara itu. Acara berlangsung khusuk, mereka semua bahagia mendengar Alexandria hamil anak kembar dan berdoa dengan tulus agar kelahiran lancar, ibu dan kedua anaknya sehat.
Dan waktu pun terus berlalu. Alexandria dan Vadeo menyiapkan segalanya untuk kelahiran kedua anaknya. Vadeo dengan senang hati menemani Alexandria jalan jalan pagi untuk olah raga agar kesehatan Alexandria mendukung kelancaran kelahirannya. Apalagi jika olah raga malam Vadeo dengan bahagia melakukannya.
“Sayang benar kamu memilih melahirkan dengan cara normal?” tanya Vadeo di suatu hari saat mereka berdua duduk santai di sofa ruang keluarga.
“Iya Kak, kata Dokter kesehatanku dan kedua anak kita memungkinkan untuk melahirkan secara normal.” ucap Alexandria sambil mengusap usap perutnya.
“Makanya aku harus rutin olah raga dan makan yang terus sehat dan cukup agar besok kuat saat melahirkan mereka.” ucap Alexandria lagi. Terlihat ekspresi wajah Vadeo datar saja, sebab dia kuatir lebih berisiko jika melahirkan dengan cara normal.
“Nanti juga terus dipantau kondisinya Kak, jika tidak memungkinkan langsung dipindah ke ruang operasi.” ucap Alexandria sambil mengusap usap lengan suaminya karena merasakan suaminya kuatir akan keselamatan dirinya dan kedua anaknya.
“Aku inginkan yang terbaik untuk keselamatan istri dan anak anakku.” ucap Vadeo sambil mengecup puncak kepala Alexandria sambil mengusap usap perut Alexandria.
“Al ini diminum juice nya..” ucap Nyonya Jonathan yang baru saja datang sambil membawa dua gelas jus buah.
“Al apa kamu yakin mau melahirkan secara normal?” tanya Nyonya Jonathan sambil menaruh dua gelas jus itu lalu duduk di sofa.
“Iya Ma, doakan kondisi Alexa dan kedua cucu Mama sehat terus sampai pada waktunya.” jawab Alexandria sambil menatap Sang Mama mertua.
“Baiklah jika itu mau mu, semoga lancar. Sekarang diminum itu..”
“Iya Ma, terima kasih. “ jawab Alexandria lalu mengambil satu gelas jus buahnya. Di saat Vadeo mau mengambil satu gelas lainnya.
“Kak, itu juga buat aku, kan aku minum untuk kedua anak kita.” ucap Alexandria sambil menatap Vadeo
__ADS_1
“Iya aku bawakan untuk kedua cucuku, kamu ambil sendiri sana.” ucap Nyonya Jonathan sambil tersenyum. Vadeo pun hanya mengalah.
Hari hari pun terus berlalu tidak terasa sudah menjelang hari kelahiran. Kini Vadeo dan Alexandria tidur di kamar tamu di lantai bawah, sebab sudah mendekati hari perkiraan kelahiran agar tidak kerepotan jika sewaktu waktu tiba saatnya. Vadeo dan Alexandria perasaannya campur aduk antara bahagia dan was was menghadapi waktu kelahiran yang semakin dekat.
“Al apa sudah merasakan sakit?” tanya Vadeo yang melihat Alexandria bolak balik ke kamar mandi.
“Tidak sakit, cuma rasanya mau bab tetapi tidak keluar.” jawab Alexandria sebelum Vadeo berucap dia sudah melangkah dengan cepat kembali lagi ke kamar mandi.
“Apa sudah tanda tanda mau lahiran ya, apa maju dari hari yang diperkirakan.” gumam Vadeo lalu segera menyusul isterinya menuju ke kamar mandi. Sebab dia sudah mendapatkan informasi jika tanda tanda akan lahiran merasakan bagai akan bab.
Vadeo dengan cepat membuka pintu kamar mandi. Dia terus melangkah menuju ke tempat kloset.
“Al...” panggil Vadeo sambil melangkah.
“Kak... sakit...” ucap Alexandria lirih
“Al kita ke rumah sakit sekarang, kamu bukan karena mau bab, mungkin karena mau lahiran.” ucap Vadeo sambil mendekat ke arah istrinya lalu dia membantu Alexandria bangkit berdiri dan membetulkan letak celana dhalem Alexandria.
“Kak mulai sakit melilit..” ucap Alexandria dengan wajah menahan sakit. Vadeo lalu menuntun Alexandria untuk keluar dari kamar mandi. Vadeo akan menggendong Alexandria akan tetapi dia urungkan sebab kuatir jika terpeleset dan akan kesulitan saat keluar dari pintu kamar mandi yang sudah tertutup saat dia masuk tadi.
“Sabar Sayang....” ucap Vadeo sambil terus menuntun Alexandria. Dan saat sudah keluar dari pintu kamar mandi Vadeo segera menggendong tubuh Alexandria. Dengan langkah lebar dan hati hati dia segera berjalan menuju ke pintu kamar.
Saat sampai di depan pintu kamar, Vadeo kesulitan untuk membuka pintu karena tangannya menahan beban tubuh Alexandria yang semakin berat. Alexandria pun tangannya mengalung di leher Vadeo dengan memegang erat sambil menahan rasa sakit pada perutnya.
“Sayang turun dulu.” ucap Vadeo sambil menurunkan tubuh istrinya. Vadeo dengan cepat membuka pintu kamar dengan lebar lebar.
__ADS_1
“TOLLLLOOOOOOONG.” teriak Vadeo setelah pintu terbuka.
Vadeo segera menggendong tubuh Alexandria lagi dan melanjutkan langkahnya menuju ke pintu utama Mension. Sesaat kemudian beberapa pelayan terlihat tergopoh gopoh lari mendekati Vadeo.
“Siapkan segera mobil dan perlengkapan Alexa.” perintah Vadeo . Salah satu pelayan segera berlari untuk menelpon sopir agar segera mengeluarkan mobil sementara yang lain menuju ke kamar untuk mengambil perlengkapan Alexa.
Sementara itu di kamar Tuan dan Nyonya Jonathan.
“Pa, suara Vadeo.” ucap Nyonya Jonathan yang sedang bergoyang goyang enak mendengar sayup sayup teriakan Vadeo.
“Pa... Alexa...” ucap Nyonya Jonathan selanjutnya sambil begitu saja melepas apa yang masih berada di dalam onderdil nya. Apalagi pintu kamarnya terdengar suara ketukan pintu dengan keras dan bertubi tubi. Nyonya Jonathan segera meloncat turun dari tempat tidurnya dan dengan cepat pula dia memakai bajunya.
“Pa .. ayo.” teriak Nyonya Jonathan lalu melangkah keluar kamar.
Sedangkan Tuan Jonathan masih terbaring dengan ekspresi wajah terlihat frustasi, dan dia masih terlihat menenangkan jiwa dan senjatanya.
“Cucu cucuku kenapa malam malam begini mau lahir.” gumam Tuan Jonathan sambil mengusap wajahnya dengan kasar lalu dia mulai bangkit setelah senjatanya sudah mau luluh berdamai.
Nyonya Jonathan terus berlari menuju ke pintu utama Mension. Para pelayan mengatakan jika Vadeo dan Alexandria sudah masuk ke dalam mobil.
“Tunggu....” teriak Nyonya Jonathan sambil berlari menuju ke mobil yang sudah akan berjalan. Mobil pun berhenti untuk menunggu Nyonya Jonathan. Dengan segera Nyonya Jonathan membuka pintu depan dan dia segera masuk ke dalam mobil.
“Cepat Pak.” perintah Vadeo pada pak sopir karena Alexandria tampak terus meringis menahan sakit. Dan tidak hanya itu lengan Vadeo pun juga ikut sakit karena cengkeraman jari jari tangan Alexandria yang menahan sakit.
“Ma sudah basah.” ucap Alexandria lirih.
__ADS_1