Alexandria

Alexandria
Bab. 187.


__ADS_3

Vadeo terus melangkah dengan cepat menuju ke pintu kaca penghubung antara tangga dan lantai dua.


Sesampai di depan pintu kaca itu, Vadeo segara mengunci pintu kaca itu dengan rapat rapat.


“Hmmm aku lupa tidak mengunci, tadi tidak terpikirkan ada orang lain selain sang therapis yang akan datang.” gumam Vadeo sambil berjalan lagi menuju ke ruang kerjanya setelah mengunci pintu kaca penghubung.


“Kenapa juga Dokter Loly itu jalan jalan di dalam rumahku.” gumam Vadeo lalu dia kembali duduk di kursi kerjanya. Dia kembali bekerja sambil sesekali mengamati ruangan di bawah lewat CCTV.


Sementara itu Dokter Loly di lantai bawah masih berjalan jalan, dia memang berusaha untuk mencari Vadeo.


“Kenapa tidak ada Tuan Vadeo, ya.. ?” tanya Dokter Loly pada dirinya sendiri di dalam hati sambil matanya mencari cari sosok Vadeo.


Dan sesaat kemudian dia sampai pada taman in door yang ada di rumah itu.


“Hmmm bagus dan asri sekali rumah ini, bahagia sekali yang memiliki suami Tuan Vadeo.. hidup berdua dengan pelimpahan harta dan cinta... “ gumam Dokter Loly sambil melihat taman in door yang indah sejuk di mata.


“Owh.. ini ada tangga pasti Tuan Vadeo berada di atas sana.. “ gumam Dokter Loly sambil tersenyum senang, dia pun mempercepat langkahnya dia akan menaiki anak tangga.


Di saat satu kakinya sudah menginjakkan anak tangga....


“Dokter mau kemana?” suara sang pelayan dari dapur sambil membawa nampan berisi tiga cangkir teh herbal.


“Owh.. aku mau mencari letak toilet di mana, aku kebelet nih..” jawab Dokter Loly beralasan.


“Oo ... itu Dok di dekat taman itu ada pintu, itu toilet, di samping dapur itu juga ada toilet...” ucap Sang pelayan sambil dagunya menunjukkan letak toilet.

__ADS_1


“Oo terima kasih, maaf saya tidak tahu kalau itu pintu toilet aku kira pintu kamar" ucap Dokter Loly lalu menurunkan kakinya yang tadi sudah menginjak pada anak tangga. Dokter Loly pun segera berjalan menuju ke pintu toilet dan membuka pintu toilet itu dan dia segera masuk ke dalam nya, meskipun itu hanya modusnya saja, sebab sebenarnya dia tidak sungguh sungguh kebelet.


“Sial benar pelayan itu.. kenapa juga melihat aku sebelum aku naik ke atas.” umpat Dokter Loly saat dia berada di dalam toilet. Dokter Loly hanya berdiri sebentar di dalam toilet lalu dia pun segera keluar lagi. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Dokter Loly di dalam toilet tidak terpantau oleh Vadeo sebab tidak dipasang CCTV di dalam toilet.


Dokter Loly melihat lihat lagi ke arah atas dan ke arah depan. Sebab dia masih ingin ke lantai atas akan tetapi kuatir jika sang pelayan sudah akan kembali dari ruang tamu.


Saat dilihat tidak ada sosok sang pelayan yang berjalan dari ruang tamu Dokter Loly pun cepat cepat untuk melangkahkan kaki nya menuju ke tangga dan dengan cepat dia menaiki anak tangga.


Sementara itu, sang pelayan setelah menaruh tiga cangkir teh herbal, segera berjalan meninggalkan ruang tamu. Dia melangkah dengan cepat untuk kembali menuju ke dapurnya.


Saat sang pelayan kembali sampai di dekat tangga dia kembali lagi melihat Dokter Loly yang berada di atas tangga. Sang pelayan pun mengeryitkan dahinya.


“Dokter mau kemana?” tanya sang pelayan dengan suara meninggi


“Saya sangat kagum dengan design rumah ini, saya ingin melihat design yang ada di lantai atas.” jawab Dokter Loly sambil menoleh ke bawah ke arah sang pelayan, suara Dokter Loly pun tampak tenang bagai sungguh sungguh dia hanya ingin melihat lihat design rumah itu.


“Kalau kamu saja yang mengantar bagaimana, sekalian aku menunggu sang therapis selesai bekerja aku melihat lihat design rumah ini.” ucap Dokter Loly sambil tersenyum suara nya pun agak keras, dia memang sengaja agar Vadeo mendengar dan mendatanginya, juga berharap Vadeo yang akan mengantar dia jalan jalan untuk melihat lihat design rumah itu.


“Maaf Dok, saya harus bekerja juga. Saya teleponkan pak satpam saja agar dia mengantar Dokter untuk jalan jalan di taman bunga.” ucap sang pelayan sambil menarik tangan Dokter Loly untuk turun dari tangga.


Dokter Loly pun akhirnya menurut pada sang pelayan itu. Sebab dia sudah bersuara keras tetap saja sosok Vadeo tidak muncul.


“Hmmm apa Tuan Vadeo tidak berada di dalam rumah ini.” gumam Dokter Loly dalam hati.


“Baiklah saya menunggu sambil jalan jalan di taman bunga saja, saya melihat lihat design rumah menunggu Nona Alexandria selesai terapi nya.” ucap Dokter Loly lalu dia kembali berjalan menuju ke ruang tamu. Dan sang pelayan pun lega, lalu dia menelepon pak satpam agar mengantar Dokter Loly jalan jalan di taman bunga.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam kamar Alexandria sedang ditangani oleh sang therapis.


Sang therapis melakukan akupuntur, memberikan tekanan pada titik titik tertentu di tubuh Alexandria agar peredaran darah menuju ke rahim dan segala organ reproduksi nya lancar. Di samping memberikan terapi akupuntur sang therapis juga bertanya tanya hal hal yang berhubungan dengan psikologi Alexandria.


“Bagaimana perasaan Nona selama beberapa hari ini?” tanya sang therapis setelah selesai melakukan akupuntur. Mereka berdua pun kini sudah duduk santai di kursi yang ada di dalam kamar itu.


“Saya merasa lebih rileks mungkin karena udara yang segar dan sekarang pikiran bebas dengan segala pekerjaan.” jawab Alexandria jujur.


“Saya juga merasakan suami saya benar benar mencintai saya.” ucap Alexandria selanjutnya sambil tersenyum. Sebab sebelumnya Alexandria pernah mengungkapkan pada sang therapis akan ketakutannya kalau suami meninggalkan dirinya.


“Apa masih ada hal hal yang membebani pikiran Nona?” tanya sang therapis lagi


“Saya masih memikirkan kasihan pada Papa yang kembali memikirkan perusahaan. “ jawab Alexandria dengan nada sedih.


“Nona jangan pikirkan itu, mereka kembali bekerja melakukannya dengan senang hati dan iklas, mereka akan sedih jika mereka pensiun sekarang tetapi Nona dan Tuan Vadeo tidak memiliki keturunan.” ucap sang therapis sambil menatap serius pada Alexandria.


“Anggap saja sekarang ini Nona juga bekerja untuk perusahaan. Ya... “ ucap Sang therapis lagi sambil tersenyum menatap Alexandria.


“He... he... bekerja enak enak....he... he... “ ucap Alexandria sambil tertawa kecil, sang therapis pun juga ikut tertawa.


“Baiklah Nona, sesi hari ini selesai, saya harap di sesi selanjutnya Nona sudah tidak terbebani dengan pikiran itu lagi..” ucap sang therapis lalu memasukkan alat alat dan catatan perkembangan Alexandria ke dalam tas nya.


Mereka berdua pun lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju ke ruang tamu.


Sesaat mereka berdua kaget saat melihat ke arah ruang tamu..

__ADS_1


...


__ADS_2