Alexandria

Alexandria
Bab. 168. Kesedihan Alexandria


__ADS_3

Malam harinya, Alexandria masih terlihat sedih dia sejak pulang dari rumah Dokter langsung masuk ke dalam kamar dan tidak mau keluar meskipun jam makan malam. Vadeo pun hanya menunggui Alexandria di dalam kamar dia pun juga belum makan malam.


“Sayang jangan sedih gitu dong.. tadi kan sudah dengar dari keterangan Dokter kalau masalah kamu bisa di atasi.” ucap Vadeo sambil memeluk tubuh istrinya yang terbaring miring sambil memeluk guling dan gulingnya pun sudah basah karena air mata Alexandria yang terus mengalir, meskipun tidak ada suara isakan tangis dari mulutnya.


“Makan yuk Sayang, biar tidak sakit.. kan kamu harus diet sehat. Tadi Mama sudah menyuruh pelayan membuatkan makanan khusus buat kamu.” ucap Vadeo sambil mengelus elus kepala Alexandria lalu dia cium dengan lembut kepala Alexandria. Vadeo pun juga turut merasakan kesedihan istrinya, jika Alexandria sedih dia pun turut sedih


“Kak, bagaimana kalau Papa Jo meminta Kak Deo mencari istri lagi meskipun tidak menyuruh menceraikan aku?” tanya Alexandria tanpa isakan tangis tapi air mata terus saja mengalir.


“Aku tidak mau.” jawab Vadeo dengan tegas.


“Jika masalah itu terjadi pada diriku apa kamu juga akan menduakan aku atau meninggalkan aku?” tanya Vadeo lalu dia melompati tubuh Alexandria dan kini dia tidur miring sambil menghadap wajah Alexandria. Dia singkirkan guling yang tadi dipeluk oleh Alexandria. Kedua tangan Vadeo dengan lembut mengusap air mata yang terus mengalir. Lalu dia cium wajah Alexandria yang masih lembab karena air matanya.


“Jawab Sayang....” ucap Vadeo lagi. Alexandria tidak menjawab malah pecah tangisnya dan memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.


“Kalau kamu pun tidak mau menduakan aku dan tidak mau meninggalkan aku. Aku pun seperti itu. Kita hadapi masalah kita bersama.” ucap Vadeo sambil memeluk tubuh Alexandria lalu dibenamkan kepala Alexandria di dada bidangnya.


“Aku takut Kak...” ucap Alexandria disela sela isak tangisnya.


“Jangan takut Sayang.. mana gadis kecilku yang pemberani dan kuat itu.” ucap Vadeo sambil terus mengusap usap kepala Alexandria dan sesekali dia cium kepala Alexandria.


Lama lama sudah tidak terdengar lagi isakan tangis dari Alexandria. Meskipun dia perempuan yang kuat, akan tetapi dengan masalah yang kini dia hadapi benar benar dia sangat sedih, kuatir dan takut. Alexandria berusaha untuk menguatkan hati dan mempercayai ucapan Vadeo.

__ADS_1


“Aku sangat mencintai Kak Deo.” ucap Alexandria selanjutnya sambil memeluk tubuh Vadeo.


Dan tiba tiba terdengar suara ketukan pintu sebelum Vadeo menjawab ungkapan hati Alexandria. Vadeo mengecup puncak kepala Alexandria lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu.


Saat pintu dibuka oleh Vadeo, muncul sosok Nyonya Jonathan dan seorang pelayan yang mendorong meja beroda berisi makan malam Vadeo dan Alexandria.


“Sudah kamu turun.” perintah Nyonya William pada pelayan itu. Dan selanjutnya Nyonya Jonathan mendorong meja itu sementara Vadeo menutup pintu kamar.


“Sayang makan dulu, kalian berdua jangan larut dalam kesedihan.” ucap Nyonya Jonathan sambil terus mendorong meja berisi makan malam itu. Alexandria pun tampak bangun dari tidurnya.


“Maaf ya Ma...” ucap Alexandria selanjutnya yang kini dia berjalan menuju ke sofa sebab Nyonya Jonathan mendorong meja menu makan malam ke arah sofa dan Vadeo pun berjalan mendekat Alexandria dan merangkul pundak Alexandria.


“Kalian berdua harus makan, kalau perlu Mama akan suapi kalian berdua.” ucap Nyonya Jonathan sambil menatap Vadeo dan Alexandria yang berjalan menuju ke sofa. Nyonya Jonathan bisa memahami perasaan sedih pasangan suami istri itu.


“Baiklah tapi Mama akan tunggu kalian berdua makan. Aku sudah ditelepon oleh Mama William kalau kalian berdua harus makan. Aku tidak mau dimarahi oleh besanku dikira tidak bisa memberi makan pada anak dan menantunya.” ucap Nyonya Jonathan sambil mengambilnya piring buat Vadeo dan Alexandria.


“Kalau kalian berdua tidak makan, malam ini Mama William akan menjemput kalian berdua untuk dibawa ke mension William.” ucap Nyonya Jonathan kemudian dan kalimat itu bisa membuat Alexandria tertawa kecil, membayangkan Mamanya yang benar benar akan menjemput dirinya dan Vadeo. Vadeo terlihat senang melihat Alexandria yang sudah bisa tertawa.


Mereka bertiga duduk di sofa. Vadeo dan Alexandria mulai makan. Nyonya Jonathan terlihat juga ikut menikmati makanan pencuci mulut untuk menemani mereka berdua.


Dan beberapa menit kemudian mereka sudah selesai makan. Alexandria terlihat menghabiskan makanan yang sudah dibuatkan khusus buat dirinya. Dia tidak mau mengecewakan lagi orang orang yang sudah mencintai dan memperhatikannya. Baginya ada masalah di rahimnya sudah membuat dirinya sedih karena mengecewakan orang orang tercintanya.

__ADS_1


“Terima kasih Sayang sudah menghabiskan makannya , jadi Besanku tidak akan menjemput kalian he he... “ ucap Nyonya Jonathan sambil tertawa kecil.


“Deo, kamu sekarang ditunggu Papa ada hal penting yang akan disampaikan.” ucap Nyonya Jonathan selanjutnya. Dan ucapannya itu membuat kaget Alexandria dan juga Vadeo.


“Sudah sekarang sana temui Papamu jangan sampai Papamu terlalu lama menunggu. Dan sekalian bawa meja ini ke luar kamar, dan panggil pelayan untuk mengambilnya. Aku akan menemani Alexandria di sini.” ucap Nyonya Jonathan selanjutnya.


“Aku temui Papa dulu ya Sayang, percayalah pada ucapan ku tadi.” bisik Vadeo pada Alexandria. Bagaimana pun dia paham pasti Alexandria kuatir Papa nya memanggil dirinya karena masalah yang baru saja dihadapinya.


Vadeo mendorong meja beroda itu keluar kamar dan dia pun juga keluar kamar untuk menemui Papanya.


“Ma apa Papa Jo marah, kecewa pada Alexa?” tanya Alexandria yang kuatir jika Tuan Jonathan marah dan kecewa dan menyuruh Vadeo mencari perempuan lain.


“Tidak Sayang tidak ada yang marah. Pak Dokter sudah mengatakan banyak hal pada kami, beliau juga mengatakan kalau sel telur kamu bagus. Jadi kami tetap bisa punya cucu dari kamu. Kamu tenang saja, andai rahimmu masih sulit untuk mengandung, aku siap menampung cucuku di dalam rahimku ini.” ucap Nyonya Jonathan sambil tersenyum dan mengusap usap perutnya.


“Karena aku yakin kalau besan perempuanku itu sudah tidak mau, bukannya katanya dia sudah capek mengandung dan menyusui.” ucap Nyonya Jonathan lagi.


“Ooo Pak Dokter bilang begitu pada Mama dan Papa Jo?” tanya Alexandria sambil menatap Nyonya Jonathan. Sebab Ibu Dokter memang mengatakan jika sel telurnya baik tetapi tidak mengatakan bisa menitipkan janin pada Nyonya Jonathan.


“Iya Sayang, maka kamu tidak perlu sedih tidak perlu kuatir, itu juga jika kemungkinan terburuk terjadi. Sekarang yang terpenting kamu melakukan terapi, pengobatan dan diet sehat. Semua alat alat kamu yang mengeluarkan radiasi gelombang elektromagnetik itu disingkirkan dulu, kalau perlu biar komunikasi lewat Vadeo saja.” ucap Nyonya Jonathan sambil menatap Alexandria.


“Terus kenapa Papa Jo memanggil Kak Deo? Ada masalah apa?” tanya Alexandria akan tetapi dia hanya berucap di dalam hati. Sebab Nyonya Jonathan terus saja memberi nasehat agar dirinya tidak sedih dan kuatir.

__ADS_1


.....


__ADS_2