Alexandria

Alexandria
Bab. 194.


__ADS_3

Vadeo segera naik kembali ke lantai atas. Dia membuka pintu ruang kerjanya. Vadeo duduk di kursi kerjanya sambil mengusap usap layar hand phone nya. Dia mencari cari nama kontak yang bisa disuruh untuk memanjat pohon asam yang angker, kata pak tukang kebun.


“Siapa ya... Aku tidak membawa orang yang paham masalah macam itu ke pulau ini.” gumam Vadeo masih saja mengusap usap layar hand phone nya.


Dan akhirnya dia melakukan panggilan suara pada seseorang.


“Hallo Tuan, apa sudah ada perkembangan dan Anda akan marah.” suara Richardo yang sudah menggeser tombol hijau.


“Setelah makan siang kamu dan sopir ke sini.” perintah Vadeo lalu dia menutup panggilan suaranya pada Richardo.


“Hmmm biar Richardo saja yang mengambil buah asam itu.” ucap Vadeo lalu dia berjalan keluar dari ruang kerjanya untuk menuju ke kamarnya.


“Bagaimana Tuan?” tanya sang pelayan saat Vadeo sudah membuka pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam kamar.


“Nanti habis makan biar Richardo dan tukang kebun pergi untuk mengambil buah asam itu.” jawab Vadeo sambil terus berjalan lalu duduk di tepi tempat tidur


“Harus dipanjat katanya, pohon nya tinggi.” Ucap Vadeo selanjutnya sambil menatap Sang pelayan lalu menatap wajah Alexandria


“Kak kita ikut yuk.. nanti Kak Deo yang panjat pohon itu, pilih buah yang tua tua yang benar benar coklat dagingnya..” ucap Alexandria dengan bibir tersenyum dan mata berbinar binar.


“Iya Tuan yang kulitnya sudah terpisah dari daging buahnya yang kulitnya sudah kering keras mudah dipecah nantinya daging buahnya terlihat coklat lembek lembut..” tambah sang pelayan sambil tersenyum lalu dia berjalan keluar dari kamar Vadeo dan Alexandria untuk ke bawah melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan siang.


“Iya Kak takutnya nanti Richardo sama kayak pak tukang kebun buah muda yang dibawa.” ucap Alexandria selanjutnya


“Tapi .....” ucap Vadeo tidak berlanjut dia akan menyampaikan jika pohon itu angker kuatir Alexandria akan takut dan nanti tidak jadi minta permen asam malah anaknya ngecesan karena dia nahan.


“Tapi apa Kak?” tanya Alexandria sambil menatap wajah Vadeo.

__ADS_1


“Aku ga bisa panjat pohon Sayang..” jawab Vadeo


“Kita tunggu saja di rumah ya..” ucap Vadeo selanjutnya


“Aku mau ikut Kak.” ucap Alexandria


“Bukannya kamu masih sakit?” ucap Vadeo sambil menatap Alexandria


“Aku sudah sembuh.” ucap Alexandria sambil bangkit dari tidurnya dia duduk dan tersenyum menatap suaminya.


“Tapi jauh Sayang pohonnya ada di bukit.” ucap Vadeo yang keberatan jika mereka berdua harus ikut ke bukit yang ada pohon asam nya itu.


“Kan kita pakai mobil, aku nunggu di mobil saja tidak usah jalan jalan.. ya Kak..” ucap Alexandria terus saja membujuk Vadeo agar boleh ikut mencari buah asam.


“Ya sudah, kita makan siang dulu, kita turun atau biar ibu pelayan membawa ke sini?” ucap Vadeo selanjutnya dia mengalah, kuatir jika itu ngidamnya Alexandria jika tidak dituruti anaknya akan ngecesan.


Saat sampai di ruang makan terlihat meja makan sudah siap tersedia menu makan siang mereka berdua. Vadeo dan Alexandria pun segera duduk di kursi makan dan segera mengeksekusi makanan yang ada. Alexandria pun terlihat lahap dalam menghabiskan makanannya. Entah karena lapar karena pagi hanya makan bubur atau diberi obat oleh Pak Dokter agar nafsu makannya meningkat. Vadeo tersenyum senang melihat istrinya makan dengan lahap.


Sementara itu di dapur Ibu pelayan dan tukang kebun juga sedang makan siang. Di dapur itu juga ada meja di sudut ruang dapur dan dua kursi.


“Bu, pohon asam di bukit itu kata orang orang angker. Aku takut e.” ucap Pak tukang kebun setelah selesai makan.


“Berdoa dulu ya Pak nanti kalau mau manjat dan kalau mau mengambil buahnya, biar diberi keselamatan. Sepertinya Non Alexa ngidam, kasihan kalau tidak dituruti ... “ ucap sang pelayan yang juga sudah selesai makan. Tukang kebun itu pun hanya bisa mengiyakan ucapan sang pelayan.


Waktu pun terus berlalu, jam makan siang sudah lewat. Semua sudah selesai melaksanakan makan siangnya. Di halaman rumah Vadeo pun terdengar suara mobil masuk dan sesaat kemudian berhenti suara mesin mobil pun sudah tidak terdengar lagi karena pak sopir sudah mematikan mesin mobilnya.


Richardo dan pak sopir pun segera turun dari mobil dan segera berjalan menuju ke pintu rumah Vadeo.

__ADS_1


Sementara itu di ruang keluarga empat orang duduk menunggu kedatangan Richardo dan pak sopir.


“Itu mereka sudah datang...” teriak sang pelayan lalu bangkit berdiri dari tempat duduknya di sofa ruang keluarga dan berjalan menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu.


Vadeo, Alexandria dan pak tukang kebun yang sedang duduk di sofa ruang keluarga pun juga turut bangkit berdiri mengikuti langkah kaki sang pelayan.


Richardo dan pak sopir segera masuk ke dalam ruang tamu dan saat mereka masih berdiri dan belum sempat duduk. Vadeo dan Alexandria juga sudah masuk ke ruang tamu dari belakang.


“Tuan ada perlu apa?” tanya Richardo kemudian.


“Ayo sekarang saja kita langsung berangkat, biar kita tidak terlalu sore sampai sana.” ucap Vadeo sambil menggandeng tangan istrinya. Richardo dan Pak Sopir terlihat masih berdiri mematung sambil menatap Vadeo.


“Kita ikut arahan dari Pak tukang kebun.” ucap Vadeo selanjutnya sambil menatap Richardo dan pak sopir. Pak tukang kebun pun sudah berjalan lebih dulu keluar dari pintu.


Mereka semua lalu berjalan mendekati mobil. Sang pelayan pun juga turut berjalan mengikuti mereka.


“Tuan jangan lupa ya nanti berdoa dulu mohon restu dan lindungan dari Allah.” Bisik sang pelayan yang berjalan di dekat Vadeo.


“Iya Bu, doakan kita semua selamat.” ucap Vadeo lalu dia membukakan pintu mobil agar istrinya masuk lebih dulu. Sementara pak tukang kebun sudah masuk dan duduk di jok di samping pak sopir.


“Ric kamu duduk di jok belakang.” perintah Vadeo pada Richardo.


“Kak, aku tidak jadi ikut saja, aku kok ngantuk mau tidur saja..” ucap Alexandria lalu dia keluar dari mobil. Vadeo yang belum masuk ke dalam mobil tampak mengeryitkan dahinya.


“Ya sudah ayo kita tidur saja, biar mereka yang berangkat.” ucap Vadeo sambil menggandeng tangan Alexandria.


“Kak Deo harus ikut mereka. Ayo sana cepat masuk.” ucap Alexandria sambil mendorong tubuh suaminya agar segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


....


__ADS_2