
Sesampai di dalam kamar, terlihat sang pelayan sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memijit mijit kaki Alexandria dan mulutnya berbicara tentang harapan kali ini Alexandria benar benar hamil.
“Bu, sudah bilang ke tukang kebun belum suruh dia datang untuk membawa buah asam jawa itu.” ucap Vadeo sambil mendekat ke tempat tidur.
“Kalau Alexa benar benar hamil mungkin dia ngidam permen asam itu. Jangan sampai nanti anak ku ngileran ngecesan.” ucap Vadeo sambil menatap Sang pelayan.
“Iya Bu, suruh sekarang ya..” ucap Alexandria dengan suara pelan tetapi matanya berbinar saat mendengar buah asam jawa. Dia sudah membayangkan permen asam yang berwarna coklat tua tetapi rasanya tidak seperti rasa cokelat melainkan suatu rasa yang menyegarkan hingga membayangkan saja saliva sudah keluar.
“Iya Non, sekarang akan saya telepon lagi ya.. saya kembali ke dapur.” ucap sang pelayan lalu dia bangkit berdiri dan segera melangkah meninggalkan kamar Vadeo dan Alexandria untuk menuju ke dapur.
Kini di dalam kamar itu tinggal pasangan suami istri itu. Vadeo mengusap usap puncak kepala Alexandria sambil matanya tertuju pada perut Alexandria yang kempes. Dia sangat berharap sudah ada kehidupan di dalamnya namun bukan microorganisme jahat ataupun cacing.
“Al, di test pack yok.. “ ucap Vadeo sambil terus mengusap usap puncak kepala Alexandria.
“Tunggu beberapa hari lagi saja Kak.. takut kecewa seperti kemarin kemarin sudah di test hasilnya negatif.” jawab Alexandria
“Ya sudah yang penting kamu tetap jaga kandunganmu, jangan lagi terlalu capek kalau kegiatan fisik tetap dijaga jangan sampai membahayakan kandunganmu... Jangan...” ucap Vadeo memberi banyak nasehat pada Alexandria namun ucapan tidak berlanjut sebab dia teringat akan kegiatan fisik enak enak dengan dirinya.
“Al, kita masih boleh tidak...” ucap Vadeo sambil menatap wajah istrinya.
“Boleh apa?” tanya Alexandria sambil tersenyum sebab paham arah pembicaraan suami nya.
__ADS_1
“Kak Deo juga harus jaga kandunganku.. “ ucap Alexandria kemudian masih dengan bibir tersenyum. Sedangkan Vadeo kini wajahnya tanpa ekspresi sebab sedang memikirkan nasib senjata triple T nya.
Waktu pun terus berlalu Vadeo sampai siang hari tidak masuk ke ruang kerjanya. Dia hanya menunggui Alexandria dia juga turut berbaring di samping Alexandria sambil ikut membaca baca buku. Karena mereka memang sangat membatasi penggunaan alat alat elektronik jika berada di dekat Alexandria.
Sementara itu di dapur sang pelayan sedang ribut dengan tukang kebun.
“Kamu itu bagaimana kenapa asam asam muda seperti ini yang kamu bawa.” ucap sang pelayan saat membuka kantong berisi buah buah asam tetapi masih muda buah di dalamnya masih tampak hijau belum berwarna coklat gelap.Kulitnya pun masih menyatu dengan daging buahnya.
“Itu juga sudah asam rasanya Bu, daunnya saja juga asam rasanya. Sudah bisa dipakai buat masak sayur atau buat minuman jamu. Coba saja digigit kalau tidak percaya.” ucap tukang kebun masih berdiri di depan sang pelayan.
“Yang tua tua belum ada Bu, kan aku sudah bilang besok kalau ada aku antar. Sampeyan memaksa harus sekarang diantar.” ucap tukang kebun lagi.
“Ha ladalah ini bukan untuk masak sayur asam. Tapi untuk buat permen asam keinginan Nona Alexandria.” ucap sang pelayan dengan lantang.
“Kamu tunggu di sini dulu. Aku ke atas tanya sama Non Alexa. Jangan pergi dulu nanti makan siang di sini sekalian.” ucap sang pelayan lalu menaruh kantong berisi buah asam yang masih muda itu du meja. Dia berjalan dengan cepat akan keluar dari dapur untuk menuju ke lantai atas. Akan tetapi saat sampai di pintu dia membalikkan lagi tubuhnya dan berjalan lagi menuju ke kantong buah asam itu tadi dia memgambil satu genggam akan ditunjukkan pada Alexandria.
Sambil membawa beberapa buah asam yang masih muda, sang pelayan tadi berjalan cepat menaiki anak tangga. Dia mengetuk ngetuk pintu sesampai di depan kamar Vadeo dan Alexandria. Dan tidak lama kemudian Vadeo membukakan pintu kamar.
“Tuan, buah asam nya adanya yang seperti ini, apa Nona Alexandria mau jika dibuatkan sirup saja, ini direbus dengan gula merah?” tanya sang pelayan saat sosok Vadeo sudah muncul di balik pintu.
“Coba kamu tanya sendiri , aku tidak begitu mengerti.” jawab Vadeo lalu dia membuka pintu lebih lebar agar Sang pelayan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Sang pelayan pun segera berjalan mendekat ke tempat tidur Alexandria dan menyampaikan maksudnya. Akan tetapi Alexandria tidak mau dia tetap menginginkan permen asam.
“Kak Deo sana turun ke bawah bilang pada tukang kebun aku mau nya permen asam bukan sirup asam.” pinta Alexandria sambil wajahnya memelas menatap Vadeo.
Vadeo pun segera turun ke bawah dia tidak ingin anaknya ngeces dan ngileran jika Alexandria benar benar hamil.
“Pak tolong carikan buah asam yang bisa untuk permen bukan untuk sirup.” ucap Vadeo saat sudah di depan pintu dapur dan melihat tukang kebun masih berdiri di dalam dapur.
“Maaf Tuan tidak ada yang tua.” jawab tukang kebun dengan ekspresi wajah penuh penyesalan
“Apa iya seluruh pohon asam di sini tidak ada yang tua buahnya.” ucap Vadeo sambil menatap tajam wajah tukang kebun itu.
“Ada pohon yang di bukit itu tetapi saya tidak berani Tuan katanya angker dan tinggi pohonnya harus dipanjat.” ucap tukang kebun itu sambil menatap Vadeo dan ekspreai wajah Tukang kebun itu tampak takut takut.
“Ya sudah kamu ke sana, kamu minta bayar berapa aku kasih.” ucap Vadeo
“Maaf Tuan kali ini saya dibayar berapa pun tidak sanggup. Jika dipaksa saya lebih baik mengundurkan diri dan pulang ke Jawa.” jawab tukang kebun dan membuat ekspresi wajah Vadeo tampak menegang .
“Tuan cari orang lain saja buat ambil itu buah asam.” ucap tukang kebun memberi saran.
Vadeo tampak berpikir pikir.
__ADS_1
“Baiklah nanti aku cari orang, tapi kamu antar ke bukit yang ada pohon buah asam yang sudah masak itu.” ucap Vadeo yang wajahnya sudah tidak lagi setegang tadi. Tukang kebun itu pun menganggukkan kepalanya, kalau hanya mengantar dia tidak keberatan. Tetapi kalau disuruh mengambilkan buah dan apalagi harus memanjat pohon yang terkenal angker itu Tukang kebun benar benar nyerah.
...