Alexandria

Alexandria
Bab. 221.


__ADS_3

Berita tentang kandungan Alexandria yang kembar sudah di dengar di seluruh penghuni mension William dan mension Jonathan.


Tuan Jonathan sudah menyiapkan semua keperluan untuk cucu kembar nya. Vadeo menyarankan nuansa warna ungu karena belum tahu jenis kelamin akan anaknya, dari pada sudah memilih warna pink ternyata anaknya lalu laki atau sebaliknya sudah memilih warna biru ternyata anaknya perempuan.


Sementara itu di mension William, Nyonya William terlihat duduk di sofa di ruang keluarga tampak berpikir keras.


“Kenapa Ma?” tanya Dealova yang sedang lewat melihat ekspresi wajah Sang Mama tampak tegang.


“Kan sudah pasti kandungan Kak Alexa sehat dan normal juga dua, kenapa masih terlihat nervous Ma.” ucap Dealova sambil melangkah mendekati sang Mama.


“Aku tuh seneng banget Ma sudah membayangkan lucunya mereka. Kalau nanti aku ajak jalan jalan pasti akan menarik perhatian orang karena membawa bocah kembar.” ucap Dealova selanjutnya lalu duduk di samping sang Mama.


“Tapi belum pasti laki apa perempuan. Inginku sih laki laki. Aku sudah design kamar Alexandria untuk baby laki laki, maksudku sih agar cucuku laki laki. “ ucap Sang Mama


“Kalau ternyata cewek harus merubah segalanya.” ucap Nyonya William selanjutnya


“Mama sih ga cari warna dan tema yang netral saja... “ ucap Dealova


“Apa warna dan tema yang netral Deal?” tanya Nyonya William dengan nada serius


“Putih dan polos Ma.” jawab Dealova dengan nada serius pula sambil menatap sang Mama dengan wajah serius pula tanpa senyuman apalagi tawa.


“Itu ruangan rumah sakit Deal.” ucap Nyinya William sambil menimpuk pundak Dealova dengan bantal sofa. Dan Dealova pun akhirnya tertawa.


“Ha... ha... ha.... ha... ha....” tawa Dealova terus berderai derai


“Biru juga tidak apa apa buat cewek Ma, besok dech Ma aku bantu mencari warna biru yang bagus buat cewek dan cowok.” ucap Dealova selanjutnya setelah selesai tertawa.


“Temanya pakai tema alam Ma.” ucapnya lagi


“Tumben kamu cerdas Deal.” ucap sang Mama yang senang dan setuju dengan ide Dealova.


“Aku memang cerdas Ma untuk urusan visual ha.... ha.... ha...” ucap Dealova sambil tertawa.

__ADS_1


“Besok bantu renovasi kamar Kak Alexa ya..” pinta sang Mama.


“Beres asal Mama transfer dana ke rekeningku.” ucap Dealova sambil tersenyum menatap Sang Mama


“Belum kerja sudah minta transferan.” gumam Nyonya William


“Buat beli beli itu untuk mendesign kamar twins baby Ma..” ucap Dealova dengan nada sedikit meninggi. Mendengar kata bayi kembar, sang Mama pun segera mengambil hand phone nya. Beliau mengusap usap layar hand phone nya lalu tampak mengetik ngetik untuk mentransfer ke rekening Dealova


“Eh Ma.. terus kabar Dokter Loly bagaimana? Mama sudah tanya ke Pak Dokter?” tanya Dealova sambil menatap Sang Mama yang sedang melakukan transaksi lewat hand phone nya.


“Sudah. Katanya sudah dikeluarkan dari rumah sakit, sudah tidak mendapat izin praktek . Tetapi katanya mau mencari pengacara dan katanya sedang mendaftarkan diri untuk menjadi dosen.” jawab sang Mama tanpa menoleh menatap Dealova, dia masih fokus dengan layar hand phone nya.


“Haduh Ma, kalau jadi dosen terus di kampus Kak Ixora bagaimana?” tanya Dealova yang mengkuatirkan Kakaknya.


“Sudah jangan mikir itu aku pusing kalau dengar nama Dokter itu apa lagi ingat wajahnya.” ucap sang mama dengan nada kesal karena nama Dokter Loly memberi aura negatif pada dirinya.


“Kita mikir anak kembar Alexa saja.” ucap sang mama selanjutnya sambil tersenyum.


“Kak kapan kita akan ke sini lagi?” tanya Alexandria saat mereka melangkah menuju ke mobil yang akan mengantar mereka menuju ke pantai tempat jet pribadi parkir.


“Kalau anak anak sudah boleh naik pesawat.” jawab Vadeo sambil memeluk pundak Alexandria dan tersenyum membayangkan di lain waktu datang lagi ke pulau Alexandria sudah dengan membawa kedua anak kembarnya yang lucu dan manis.


“Bu, kunci dititip Pak Satpam.” ucap Vadeo mengingatkan sang pelayan yang sudah mengunci pintu dan ikut melangkah bersama mereka berdua. Kali ini sang pelayan ikut pulang bersama dan turut naik jet pribadi. Sang pelayan pun segera menjalankan perintah Vadeo.


Dan setelah nya Sang pelayan terlihat masuk ke dalam mobil terlebih dahulu karena dia duduk di jok belakang. Nyonya Jonathan pun sudah duduk di jok belakang bersebelahan dengan Ibu Dokter.


“Selamat pagi menjelang siang Dok.” sapa sang pelayan pada ibu Dokter yang sudah duduk di dalam mobil di jok belakang tampak sedang berbincang bincang dengan Nyonya Jonathan. Beliau ikut di dalam mobil Vadeo dan Alexandria karena untuk berjaga jaga pada kesehatan kandungan Alexandria bagaimana pun tetap waspada karena perjalanan satu jam lebih.


“Selamat pagi Bu.” jawab Ibu Dokter sambil tersenyum.


Vadeo lalu membantu Alexandria untuk naik ke dalam mobil. Ibu Dokter dan Sang pelayan pun dari dalam mobil ikut membantu Alexandria. Mereka menjaga perut dan kepala Alexandria agar tidak mendapat benturan.


Setelah Alexandria sudah bisa masuk mobil dengan aman, Vadeo lalu masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian terlihat Eveline berlari sambil mengendong tas ranselnya.


“Maaf saya terlambat.” ucap Eveline sambil membuka pintu mobil dan selanjutnya dia duduk di jok depan di samping kemudi. Setelah semua siap mobil pun mulai berjalan.


“Di mana koper Nona?” tanya Alexandria karena tidak melihat Eveline membawa koper.


“Sudah saya taruh di mini bus, saya kira yang ikut di sini Tuan Richardo.” jawab Eveline sambil menoleh ke arah Alexandria.


“Aku juga mengira Tuan Richardo yang ikut di sini....” ucap Alexandria dengan nada kecewa sambil mengusap usap perutnya. Vadeo menoleh ke arah Alexandria sambil mengeryitkan dahinya.


“Ada apa Al?” tanya Vadeo dengan perasaan antara cemburu dan kuatir dengan kandungan Alexandria sebab Alexandria masih terus mengusap usap perutnya.


“Ini mereka bergerak gerak.” ucap Alexandria sambil masih mengusap usap perutnya, Vadeo pun lalu juga turut mengusap usap perut Alexandria.


“Hmmm jangan jangan anak anakku tahu kalau yang mengambilkan buah asam Richardo.” gumam Vadeo dalam hati sambil terus mengusap usap perut Alexandria.


“Sayang... Papamu ini juga sudah berjuang keras untuk mendapatkan buah asam itu...” gumam Vadeo dalam hati sambil terus mengusap usap perut Alexandria. Alexandria menoleh ke arah Vadeo sambil tersenyum karena merasakan gerakan gerakan di dalam perutnya sudah mereda.


Waktu berlalu dan mobil terus melaju. Di jok belakang terdengar sang pelayan berbincang bincang dengan Ibu Dokter perempuan setengah baya dan Nyonya Jonathan .


“Dok, terus kabarnya dokter Loly itu bagaimana?” tanya sang pelayan kepo dengan kabar Dokter Loly.


“Sudah dikeluarkan dari rumah sakit dan izin prakteknya dicabut.” jawab Ibu Dokter perempuan setengah baya itu.


“Syukurin dia terus tidak bisa jadi Dokter gitu Bu?” tanya sang pelayan yang memang tidak tahu.


“Iya tidak boleh praktek, tetapi kabarnya dia sedang mencari pengacara dan sedang melamar untuk menjadi dosen.” jawab Ibu Dokter perempuan setengah baya.


Akan tetapi tiba tiba...


“Kak.. kepalaku pusing..” ucap Alexandria sambil memijit mijit kepalanya.


“Sayang ada apa?” tanya Vadeo dan dia segera sigap menoleh dan memijit mijit pundak Alexandria. Semua yang ada di dalam mobil pun berhenti bicara dan mulai memberikan perhatian pada Alexandria. Nyonya Jonathan tampak panik mendengar Alexandria mendadak pusing.

__ADS_1


__ADS_2