
Mobil terus melaju dan beberapa menit kemudian sudah sampai di lokasi departeman perizinan.
“Kak kita ikut masuk semua?” tanya Alexandria saat mobil sudah berhenti.
“Iya dong, aku juga mau promo di kantor itu.” ucap Nyonya William sambil tersenyum dan membuka pintu mobil.
Vadeo tampak menoleh ke belakang dan tersenyum melihat calon mertua yang sangat bersemangat mempromosikan masakan Indonesia.
“Ayo Al.” ajak Vadeo selanjutnya pada Alexandria dan Alexandria yang masih melihat sang Mama pun segera membuka pintu dan melangkah turun dari mobil.
Mereka bertiga terus berjalan menuju pintu masuk gedung departemen perizinan tersebut. Sedangkan sang pengawal yang berganti tugas menjadi sopir menjalankan mobilnya menuju ke tempat parkir.
Vadeo terus berjalan menuju ke suatu ruangan yang sudah dia ketahui tempatnya. Alexandria dan Nyonya William berjalan di belakang Vadeo.
“Deo jangan cepat cepat...” ucap Nyonya William sambil menarik baju Vadeo yang melangkah dengan langkah lebarnya. Vadeo lalu memperlambat langkahnya sambil menggandeng lengan calon mertua.
“Al kamu jalan di depan, ini lurus lalu belok kanan.” ucap Vadeo sambil menoleh dan tersenyum menatap Alexandria, sebab dia tidak bisa menggandeng dua perempuan ibu anak itu, karena tangan satunya memegang tas kerjanya. Dan kalau Vadeo menggandeng kiri kanan entar dikira habis sunat lagi 😁
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai pada suatu ruangan tempat menyerahkan dokumen dokumen. Terlihat ada berjejer kursi tunggu.
“Al, kita duduk dulu, nanti dipanggil aku sudah daftar secara on line.” ucap Vadeo, dan mereka bertiga pun duduk di tunggu.
“Kita tidak masuk di ruangan pimpinan seperti kemarin waktu di kantor polisi, kita tidak masuk ke dalam ruangan yang bisa ngobrol ngobrol?” tanya Nyonya William setelah mendudukkan pantatnya di kursi.
“Tidak Ma, kita cuma serahkan dokumen dokumen di loket itu. Nanti petugas memeriksa semua kecocokannya kalau sudah okey, kita pulang.” jawab Vadeo sambil menatap calon mertua.
“Tidak ada tempat dan waktu untuk promosi dong.” gumam Nyonya William.
__ADS_1
“Untung Mama taruh di dalam tas, kalau tidak Mama dikira membawa bekal makanan... He.. He...” ucap Alexandria sambil tertawa kecil, sebab kali ini Nyonya William membawa tas tangan agak besar dan wadah makanan beliau taruh di dalam tas.
“Nanti dipromosikan di kantor Deo saja Ma.” ucap Vadeo sambil mengusap usap punggung calon mertua memberi semangat baru dan Nyonya William pun mengangguk dan tersenyum.
“Namanya juga usaha, gagal itu sudah biasa tidak harus sukses terus.” ucap Nyonya William sambil tersenyum. Dan tidak lama kemudian Nama Vadeo dan Nama perusahan Vadeo disebut oleh petugas dan Vadeo pun segera bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke loket untuk menyerahkan dokumen dokumennya.
Pandangan mata Alexandria dan Nyonya William terus terarah pada sosok Vadeo. Sedangkan di depan loket Vadeo terlihat mengikuti semua proses penyerahan dan pencocokan semua dokumen dokumen, dan setelah semua proses selesai tampak Vadeo menganggukkan kepalanya lalu menerima bukti telah menyerahkan dokumen dokumen. Setelah memasukkan bukti tersebut ke dalam tas kerjanya, Vadeo segera membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke tempat duduk Alexandria dan Nyonya William.
“Ayo sekarang kita lanjutkan jadwal berikutnya.” ajak Vadeo. Alexandria dan Nyonya William pun lalu bangkit berdiri dan mereka segera berjalan menuju ke pintu keluar.
Nyonya William tidak ada niat untuk mempromosikan di tempat itu, sebab semua orang terlihat sibuk. Dia pun kuatir jika mempromosikan pada pegawai malah nanti dikira gratifikasi alias menyogok pegawai agar urusan lancar.
Saat sampai di pintu keluar mobil sudah siap di depan dan mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil. Tidak perlu waktu lama mobil segera melaju menuju ke kantor perusahaan Vadeo.
Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di lokasi perusahaan Vadeo. Setelah mobil berhenti; Vadeo, Alexandria dan Nyonya William segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke lift ke lantai tempat ruangan Edwind berada.
“Mama dan Alexa baru kali ini ya ke sini?” tanya Vadeo saat mereka berada di depan pintu lift.
“Kalau tanya itu, setelah selesai dari sini Mama dan Alexa ingin jalan jalan kemana..” ucap Nyonya William sambil masuk ke dalam lift sebab puntu lift sudah terbuka.
“Bukannya Mama ingin segera pulang setelah urusan kerja selesai, mau menyiapkan acara pernikahanku dan Kak Deo.” ucap Alexandria yang berjalan di belakang Nyonya William.
“Sttttt.” desis Nyonya William agar Alexandria tidak membahas lagi ucapannya yang dulu. Vadeo yang masuk ke dalam lift paling belakang mendengar dan melihat mereka berdua hanya tersenyum. Vadeo tidak marah tetapi dia sangat senang dengan keluarga William yang suka bercanda.
Tidak lama kemudian lift sudah berhenti, dan setelah pintu terbuka Nyonya William dan Alexandria dipersilahkan oleh Vadeo keluar lebih dulu dan setelahnya Vadeo berjalan di belakang mereka.
“Depan itu ruang nya.” ucap Vadeo saat mereka bertiga berjalan. Beberapa karyawan yang berpapasan tersenyum dengan ramah dan menganggukkan kepala pada mereka bertiga.
__ADS_1
Vadeo segera menekan tombol pass word pintu setelah pintu terbuka mereka bertiga segera masuk.
“Selamat datang di kantor kami.” ucap Edwind sambil bangkit berdiri dari kursi kerjanya lalu berjalan menuju ke mereka bertiga dan selanjutnya menjabat tangan Nyonya William dan di saat akan menjabat tangan Alexandria, tangan Vadeo yang dengan cepat menangkap tangan Edwind dengan maksud agar tidak menjabat tangan Alexandria.
“Pelit amat sih.” gumam Edwind . Alexandria yang memahami pun akhirnya segera berjalan menuju ke sofa tanpa menjabat tangan Edwind. Dan selanjutnya mereka berempat duduk di sofa yang ada di ruang tersebut.
“Bagaimana Deo, siapa yang kamu pilih dari sepuluh calon itu?” tanya Edwind to the point
“Alexa sudah menyeleksi lagi dari sepuluh calon itu, dia melihat rekam jejak digital nya dan akhir nya ada tiga orang calon.” Jawab Vadeo.
“Siapa saja?” tanya Edwind penasaran, Alexandria dan Nyonya William hanya diam saja mendengarkan mereka berdua berdiskusi
“Emilie Anderson, Daniel Fu dan Gerrit Hansen.” Jawab Vadeo.
“Kalau aku pilih Daniel Fu, aku pilih sekretaris laki laki agar tidak ada masalah asmara.” ucap Vadeo selanjutnya. Sedangkan Edwind tampak masih berpikir pikir.
“Aku kurang setuju dengan pendapatmu itu.” ucap Edwind kemudian.
“Kalau laki lakinya menyimpang ya sama saja.” ucap Edwind selanjutnya
“Dari hasil rekan jejak digital ketiga nya itu okey, dalam artian tidak ada yang menyimpang. Maaf aku bukannya mendukung pilihan Kak Deo aku hanya meluruskan data data ketiga calon itu.” saut Alexandria.
“Tapi aku tidak setuju sekretaris laki laki entahlah apa alasanya.” ucap Edwind dengan nada serius.
“Kita lihat saja point dari ketiga calon itu. Aku tidak bisa menerima usulanmu jika tidak ada alasan. Yang tertinggi meskipun selisih enol koma enol enol enol sekian tidak apa apa yang penting yang tertinggi. Meskipun itu yang tertinggi Daniel Fu, kamu harus menerima.” ucap Vadeo kemudian.
Edwind pun setuju, lalu melangkah menuju ke kursi kerjanya dia lalu sibuk dengan komputer yang berada di atas mejanya. Dia akan melihat point dari ketiga calon itu. Kesepuluh calon itu memiliki jumlah poin yang sama yang membedakan hanya angka di belakang koma. Edwind lalu melihat point ketiga orang itu dan selanjutnya dia tersenyum.
__ADS_1
“Siapa yang tertinggi?” tanya Vadeo ingin tahu. Alexandria dan Nyonya William pun juga berdebar debar ingin tahu, Alexandria tadi malam tidak begitu memperhatikan jumlah point para calon sebab memang sekilas sama jumlahnya dan dia fokus pada data data jejak digital mereka.
....