
Dokter pimpinan tim berjalan dengan cepat menuju ke rumah Vadeo. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya pada pak satpam. Dia pun segera berjalan masuk menuju ke pintu rumah Vadeo.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat sosok sang pelayan di balik pintu.
“Pak Dokter langsung masuk saja, ditunggu di teras belakang.” ucap sang pelayan sambil menatap wajah Pal Dokter yang terlihat ekspresi wajahnya cemas. Pak Dokter pun segera masuk ke dalam rumah dan terus melangkah ke dalam. Sang pelayan pun lalu menutup pintu. Dan ikut melangkah di belakang pak Dokter.
“Selamat pagi Tuan, Nyonya dan Nona.” ucap Pak Dokter saat sudah berada di teras belakang.
“Selamat pagi Pak Dokter.” ucap mereka semua secara bersamaan termasuk suara cempreng Dealova, bahkan suara Dealova yang paling keras di antara yang lainnya.
“Silahkan duduk Dok, boleh di kursi boleh di karpet kita santai santai saja.” ucap Nyonya Jonathan yang sudah duduk di kursi teras, Nyonya William pun juga duduk di kursi teras sementara yang lain duduk di karpet. Pak Dokter lalu duduk di karpet, karena pandangan matanya melihat banyak longsongan kapsul terbuka di atas piring dan ada serbuk putih kusam di atas piring juga. Perasaan Pak Dokter tidak nyaman.
“Ada masalah apa Tuan Vadeo?” tanya Pak Dokter sambil menatap Vadeo.
“Pak Dokter lihat ini, coba cek apa ini benar vitamin dan obat yang harus Alexa minum?” ucap Vadeo sambil menyodorkan piring yang berisi tepung dan kapsul kapsul kosong itu.
Pak Dokter lalu mengamati kapsul kapsul kosong dan serbuk di atas piring. Dia melakukan seperti yang Nyonya William lakukan tadi, menjumput sedikit serbuk itu lalu ibu jari dan telunjuknya merasakan tekstur dari serbuk itu. Pak Dokter lalu mencium aroma serbuk itu dan tidak berhenti di situ Pak Dokter lalu mencicipi serbuk itu dan seterusnya dia bangkit berdiri untuk melepeh apa yang sudah dicicipi nya.
“Ini Tuan dapat dari mana?” tanya Pak Dokter sambil menatap Vadeo.
“Ini bukan serbuk obat atau pun vitamin.” ucap Pak Dokter selanjutnya
“Dari mana lagi kalau bukan dari tim Dokter kepercayaan kami.” saut Nyonya William sambil menatap tajam ke arah Pak Dokter.
__ADS_1
“Maaf Nyonya, saya tidak pernah memberikan obat dan vitamin seperti ini. Tim kami membeli obat dan vitamin dalam botol yang berisi sembilan puluh biji, botol tersegel. Kami memang memberikan pada Nona Alexandria dalam plastik klik untuk tiga hari sekali. Selain itu untuk melihat perkembangan dari hari ke hari juga agar Nona bisa mengecek lupa tidaknya minum obat dengan mudah. Kalau langsung kami berikan satu botol kuatir kalau lupa minum kesulitan mengeceknya.” ucap Pak Dokter yang belum tahu kejahatan anggota Tim nya.
“Itu dari Dokter Loly, Pak Dokter. Coba tanya saja dia bagaimana bisa mendapatkan obat dan vitamin seperti itu.” ucap Alexandria sambil menatap Pak Dokter.
“Dokter Loly, bagaimana bisa.” gumam Pak Dokter sambil memijit mijit pelipisnya dia benar benar tidak habis mengerti. Bertahun tahun menjadi Dokter baru kali ini dia berhadapan dengan kasus kapsul berisi serbuk yang tidak semestinya.
“Nanti saya bawa sedikit untuk sample akan saya uji.” ucap Pak Dokter dengan nada cemas. Dia sangat kuatir jika keluarga William menuntut dirinya.
“Tidak perlu diuji Pak Dokter, kalau itu ulah Dokter Loly saya sudah tahu apa serbuk yang dimasukkan dalam kapsul itu.” ucap Eveline yang baru saja melangkah menuju ke teras dan seterusnya duduk di dekat Dealova dan tidak lama kemudian Richardo juga masuk ke teras belakang.
Sang pelayan yang membukakan pintu buat Richardo dan Eveline, kini turut berdiri di pintu karena dia juga ingin tahu dengan kelanjutan berita yang berhubungan dengan Dokter Loly itu.
“Heleh Dokter yang kakinya tidak bisa diam itu ternyata memalsu obat, untung Nona Alexa tidak kenapa napa, kalau Nona Alexa dan janinnya kenapa napa, aku ulek ulek wajahnya yang dulu sudah disengat tawon itu sampai benyek.” gumam sang pelayan dalam hati ekspresi wajahnya terlihat sangat emosi.
“Kalau kamu sudah tahu kenapa tidak memberi tahu aku.” ucap Vadeo sambil menatap tajam wajah Eveline lalu beralih ke wajah Richardo yang duduk tidak jauh dari Eveline. Dealova pun turut menatap wajah Richardo akan tetapi bukan tatapan ingin tahu jawaban dari Richardo tentang pertanyaan Vadeo, tetapi tatapan kekaguman akan wajah tampan Richardo.
“Maaf Tuan, saya sempat mencurigai saat Dokter Loly membawa serbuk putih yang katanya tepung untuk mengurangi kelembaban. Saya sudah cek di bagian dapur memang Dokter Loly meminta tepung dan diberi tepung terigu.” ucap Eveline
“Saya sudah buktikan dengan masuk ke kamar Dokter Loly memang pada sepatunya ada bungkusan tepung itu yang katanya untuk mengurangi kelembabannya. Di mikro wave nya juga ada sisa tepung itu.” ucap Eveline selanjutnya
“Karena saya kira tidak ada yang membahayakan saya hentikan penyelidikan saya. Maaf.” ucap Eveline sambil menatap wajah Vadeo dan Alexandria
“Tidak hanya cukup kata maaf.” ucap Vadeo dengan dingin
__ADS_1
“Pasti Tuan, kami akan memberikan sanksi buat Dokter Loly.“ ucap Dokter pimpinan tim dengan nada serius.
“Harus itu Pak Dokter, Dokter Loly harus diberi sanksi, punishment, hukuman yang berat. Itu pasti akan menggagalkan program hamil Alexa. Untung saja Alexa memakai cara lain.” ucap Nyonya William dengan nada tinggi.
“Bagaimana kalau Dokter itu dipulangkan dengan disuruh berenang saja.” saut Dealova sambil menatap sang Mama lalu menatap kakak ipar nya.
“Setuju Non.” ucap sang pelayan yang masih berdiri nempel di pintu.
“Deal, bantu ibu pelayan buat minum.” ucap Alexandria sambil menatap Dealova dan sang pelayan secara bergantian.
“Owh iya Non maaf.. Maaf... keasyikan nyimak jadi lupa.. bisa bisa aku disuruh pulang dengan berenang..” ucap sang pelayan sambil tergopoh gopoh berjalan menuju ke dapur.
“Berenang sama aku Bu, nanti kalau sudah lima meter balik lagi ke pulau Alexandria pura pura terdampar dan minta pertolongan ha... ha...” ucap Dealova sambil tertawa dan berjalan di belakang sang pelayan.
Richardo yang mendengar candaan mereka tersenyum, akan tetapi tiba tiba...
“Kamu jangan senyum senyum aku juga akan memberi sanksi pada kamu.” ucap Vadeo sambil menatap Richardo. Richardo pun lalu terlihat diam.
Tidak lama kemudian Dealova dan sang pelayan datang dengan membawa tiga cangkir kopi dan makanan kecil. Ketiga tamu itu pun segera mengambil cangkir kopinya setelah dipersilahkan oleh Alexandria. Akan tetapi sesungguhnya mereka bertiga untuk menelan minuman kopi itu pun agak kesulitan karena ada masalah yang harus dipertanggungjawabkan nya.
“Kalau sudah diminum kopinya silahkan kembali ke tempat kerja kalian.” ucap Vadeo dengan dingin.
“Baik Tuan, saya mohon diri, saya akan segera memanggil Dokter Loly dan akan mengadakan rapat tim.” ucap Pak Dokter yang sudah menghabiskan kopi di dalam cangkirnya. Karena dia ingin segera memanggil Dokter Loly. Pak Dokter pun mohon diri pada mereka semua dan segera bangkit berdiri. Beliau melangkah dengan cepat meninggalkan rumah Vadeo, wajahnya terlihat merah karena menahan marah.
__ADS_1