Alexandria

Alexandria
Bab. 211


__ADS_3

“Kita amati saja, apa besok dia ikut lagi mengantar Dealova. “ ucap Nyonya Jonathan


“Benar.” gumam Nyonya William


“Ya sudah ayo kita istirahat.. kasihan Alexandria tadi seharian capek ikut menyiapkan masak buat kita.” ucap Nyonya Jonathan selanjutnya


Terlihat Nyonya William pun setuju, mereka bertiga lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat tidur. Mereka bertiga lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur, Alexandria berada di tengah diapit oleh kedua Mamanya. Sesekali tangan Nyonya William dan tangan Nyonya Jonathan pun masih terus saja mengusap usap perut Alexandria.


Sementara itu Vadeo di ruang kerjanya menyudahi pekerjaannya. Dia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dia melangkah pelan pelan menuju ke pintu kamarnya.


“Semoga saja Mama sudah tidur.” gumam Vadeo dalam hati tadi di balkon dia dan Alexandria sudah berbicara tentang caranya untuk bisa tetap melakukan enak enak berdua meskipun kedua Mamanya tidur di kamarnya.


Vadeo memutar handel pintu pelan, lalu mendorong pintu dengan pelan pelan pula berharap jika kedua Mamanya sudah tidur suara pintu dan langkah kakinya tidak membangunkan kedua Mamanya.


“Hmmm sepertinya mereka sudah tidur.” gumam Vadeo dalam hati, lalu dia semakin mendorong daun pintu agar lebih lebar terbukanya. Dan dia melangkahkan kaki memasuki kamarnya. Dia tidak menutup pintunya, karena sudah berencana akan segera keluar kamar bersama Alexandria.


Akan tetapi saat sudah melangkah beberapa langkah.


“Deo tutup lagi pintunya.” ucap Nyonya William dengan kepala sedikit mendongak untuk melihat Vadeo.


“Mama belum tidur?” ucap Vadeo dengan nada kecewa. Vadeo pun lalu membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah untuk menutup pintu kamarnya.


“Sudah tadi tapi belum terlelap jadi dengar suara kamu masuk jadi terbangun lagi.” jawab Nyonya William

__ADS_1


“Ya sudah sekarang Mama tidur lagi.” ucap Vadeo lalu dia berjalan menuju ke sofa. Dia bermaksud akan tiduran di sofa sambil menunggu kedua Mamanya tidur.


“Kalau sudah tertidur terus terbangun jadi susah tidur lagi.” ucap Nyonya William lalu beliau bangkit berdiri dan berjalan menuju ke nakas untuk mengambil air mineral.


“Owhhh maaf Ma.” ucap Vadeo dengan nada menyesal dan kecewa. Menyesal sang mertua jadi susah tidurnya dan kecewa tertunda kegiatan enak enaknya. Vadeo pun merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan matanya.


Sementara itu, Alexandria pun juga belum tidur tetapi dia pura pura sudah tidur.


“Mama pasti akan lama tidurnya lagi, bisa bisa Kak Deo yang lebih dulu tidur..“ gumam Alexandria dalam hati.


Nyonya William setelah meminum air mineral dia kembali lagi, membaringkan tubuhnya, namun benar seperti yang dia katakan dia sekarang susah terlelap meskipun mata terpejam akan tetapi pikirannya kemana mana apalagi memikirkan Dokter Loly yang tingkahnya agak aneh menurut dirinya, kemudian pikiran berlari pada Chaterine yang dulu membuat masalah karena ingin diperistri oleh Vadeo, dan pikiran berlari lagi pada cerita tentang tunangan Vadeo dulu.


Tangan Nyonya William pun spontan terulur lalu memgusap usap perut Alexandria.


Dan benar seperti perkiraan Alexandria, Vadeo pun sudah mulai terlelap, terdengar suara denguran halus dari arah sofa. Mendengar suara dengkuran halus dari suami nya dan usapan lembut dari sang Mama, Alexandria pun lama lama terbuai dan masuk ke alam mimpinya.


Waktu pun terus berlalu dan Nyonya William pun mulai terlelap setelah membayangkan hadirnya cucu cucu yang akan menjadi penjaga dan pelindung keluarga. Mereka berempat yang ada di dalam satu kamar itu pun sudah terlelap semua terbuai oleh mimpi indah mereka masing masing hingga pagi menjelang.


Dan.......


“Hah... Ternyata aku hanya mimpi melakukan enak enak dengan Alexa.” ucap Vadeo sambil memegang senjata triple T nya yang sudah mengeras.


“Aku tertidur pulas, dan rupanya sudah pagi.” gumam Vadeo lalu bangkit dari tidurnya. Suara kicauan burung bisa terdengar di kamarnya.

__ADS_1


Vadeo lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya. Dilihatnya tiga wanita yang dia sayangi masih tertidur dengan pulas.


“Ternyata tidak semudah aku untuk menggendong Alexandria kalau ada Mama di sini. Alexa kenapa tidak tidur di tepi saja. Kalau di tengah seperti ini ya susah untuk aku gendong.” gumam Vadeo yang berusaha untuk menggendong Alexandria akan dibawa keluar kamar.


Karena susah untuk menggendong, Vadeo akhirnya menepuk nepuk pelan paha Alexandria. Alexandria yang merasa pahanya mendapat tepukan lalu membuka matanya. Dan Vadeo pun memberi kode dengan mata dan senyuman nya tanya bersuara. Alexandria yang paham segera bangkit dengan pelan pelan. Dan mereka pun dengan pelan pelan membuka pintu kamar. Vadeo lalu menutup lagi pintu kamarnya tidak lupa mengunci dan membiarkan kunci masih terpasang agar tidak ada lobang kecil pun untuk bisa diintip.


“Sayang maaf tadi malam aku tertidur.” ucap Vadeo sambil memeluk tubuh Alexandria dari samping dan membawa Alexandria untuk menuju ke sofa di ruang belajar.


Vadeo pun lalu membaringkan tubuh Alexandria di sofa itu. Alexandria yang masih mengantuk hanya menurut saja. Vadeo lalu menciumi wajah Alexandria sambil membelai belai rambut kepala Alexandria.


“Ayo Sayang jangan kamu tidur lagi di sini..” bisik Vadeo karena merasa Alexandria tidak merespon apa yang dia lakukan. Vadeo pun memberikan rangshangan lebih pada bagian bagian sensitif istrinya karena dia sudah tidak tahan sebab senjata triple T nya sudah semakin menegang, dia ingin membuat mimpinya tadi menjadi nyata di pagi ini.


Alexandria pun setelah mendapat rangshangan demi rangshangan dari sang suami mulai sadar seratus persen dia mulai menikmati dan merespon perlakuan dari sang suami.


“Kak.. pelan pelan ya.. ada baby di dalam.” bisik Alexandria saat Vadeo akan mengarahkan senjata triple T pada sasarannya.


“Pasti Sayang aku selalu ingat itu, ini juga dalam rangka membelai baby di dalam.” bisik Vadeo dengan suara paraunya. Dan akhirnya senjata itu pun sudah tepat pada sasarannya. Mereka berdua menikmati permainan pelan pelan nya.


Akan tetapi di saat mereka berdua sedang merem melek, handel pintu kamar bergerak gerak..


“Kak... itu Mama mau keluar.” bisik Alexandria


“Biar Sayang, tunggu kita sampai keluar lebih dulu..” bisik Vadeo, sambil terus menikmati permainan pelannya. Dia malah menciumi wajah Alexandria dengan penuh kasih sayang agar Alexandria kembali berkonsentrasi pada permainannya tidak menghiraukan handel pintu yang bergerak gerak.

__ADS_1


__ADS_2