
Pak Dokter terus melangkah menuju ke tempat yang biasa digunakan untuk melayani karyawan Vadeo. Di tempat itu ada satu ruangan yang biasa beliau gunakan untuk bekerja semacam ruang pimpinan. Tempat itu memang di desain oleh Vadeo sebagai poli klinik untuk menjaga kesehatan karyawannya.
Pak Dokter pun segera masuk ke dalam ruangan itu. Sebab masih ada beberapa karyawan Vadeo yang menunggu untuk cek kesehatan rutin.
Pak Dokter mendudukkan pantatnya di kursi hitam yang ada di ruangan itu. Dia sebenarnya ingin segera memanggil Dokter Loly tetapi dia menahan diri agar semua karyawan terlayani lebih dahulu.
“Benar benar menguji kesabaran.” gumam Pak Dokter sambil memijit mijit dahinya, mendadak terasa otot otot dan syaraf syaratnya menegang.
Waktu pun terus berlalu dan akhirnya samua karyawan sudah terlayani. Dari ruangannya Pak Dokter bisa melihat hal itu, beliaupun lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke ruang pemeriksaaan.
Sementara itu, Dokter Loly dan Dokter perempuan setengah baya sudah mulai memberesi peralatan medis mereka.
“Dokter Loly sekarang boleh istirahat.” ucap Dokter perempuan setengah baya sambil menatap Dokter Loly.
“Dok, kalau Dokter akan memeriksa Nona Alexandria saya ada waktu untuk membantu Dokter.” ucap Dokter Loly sambil tersenyum menatap Dokter perempuan paruh baya itu.
“Dokter Loly! Masuk ke ruang saya sekarang juga!” suara keras Dokter pimpinan tim dan beliau langsung masuk kembali ke ruangannya lalu duduk di kursi hitamnya.
Dokter Loly dan Dokter perempuan setengah baya itu terlihat sangat kaget dengan suara keras Dokter pimpinan tim mereka. Karena tidak biasanya pak Dokter berucap seperti itu.
Dokter Loly pun mendadak jantungnya berdetak lebih keras dan keringat dingin mulai keluar dari sekujur tubuhnya.
“Cepat masuk, jangan sampai mendapat suara keras kedua kali.” ucap Dokter perempuan setengah baya memberi saran. Dokter Loly pun menganggukkan kepala dengan pelan dan dengan langkah gemetar dia berjalan masuk ke ruangan Pak Dokter.
“Duduk!” suara Pak Dokter masih dengan nada tinggi. Dokter Loly pun dengan hati hati duduk di kursi depan meja pak Dokter.
“Obat dan vitamin apa yang sudah Dokter Loly berikan pada Nona Alexandria?” tanya Pak Dokter sambil menatap tajam ke wajah Dokter Loly
“Yang saya berikan ya obat dan vitamin yang sudah tim berikan pada saya.” jawab Dokter Loly tidak berani menatap wajah Pak Dokter.
“Bohong!” teriak Pak Dokter sambil menggebrak meja. Ibu Dokter paruh baya yang masih berada di luar ruangan itu sampai terkaget kaget karena suara bentakan Pak Dokter dan suara gebrakan meja.
__ADS_1
Dokter Loly pun juga terlonjak kaget.
“Kamu sudah menggantikan dengan tepung terigu yang kamu dapat dari dapur. Ayo ngaku!” ucap Pak Dokter dengan emosi.
“Iya benar Dok, tapi itu kan justru membuat Nona Alexandria segera hamil.” jawab Dokter Loly bagai tidak berdosa malah merasa berjasa.
“Hmmm kalau begitu Dokter boleh mengajukan penelitian besok bisa menjadi profesor.” ucap Pak Dokter dengan sinis dan Dokter Loly pun tersenyum bangga.
“Obat dan vitamin dari Dokter Loly tidak diminum oleh Nona Alexandria!” ucap Pak Dokter dengan keras dan tidak lupa menggebrak meja lagi. Dia sudah tidak peduli telapak tangannya menjadi panas karena menggebrak meja itu karena hati dan otaknya menjadi panas gara gara ulah Dokter Loly.
Dokter Loly yang mendengar ucapan Pak Dokter, merasa udara di sekitar nya mendadak sangat panas, keringatnya pun mulai bercucuran.
“Keberhasilan hamilnya Nona Alexandria karena terapi dan dia mengonsumsi obat dan vitamin alami.” ucap Pak Dokter selanjutnya. Dokter Loly hanya diam sambil menunduk lemas.
“Dokter tahu apa konsekuensi dari apa yang sudah Dokter lakukan?” tanya Pak Dokter yang sekarang dengan nada pelan.
“Tapi Dok, yang saya lakukan kan tidak membahayakan Nona Alexandria, itu tepung sudah matang Dok.” ucap Dokter Loly mulai ketakutan.
“Karier Dokter akan hancur. Mulai sekarang Dokter Loly sudah saya keluarkan dari tim. Dan Dokter bisa dikeluarkan dari rumah sakit dan organisasi profesi.” ucap Pak Dokter selanjutnya.
“Dok, maaf Dok ... saya khilaf.” ucap Dokter Loly sambil berlinang air mata.
“Kamu sekarang boleh keluar dari ruangan ini dan berharap saja keluarga William dan keluarga Jonathan masih berbaik hati untuk memberi fasilitas pulang.” ucap Pak Dokter selanjutnya.
Kalimat terakhir semakin membuat tubuh Dokter Loly terasa lemas. Dokter Loly pun bangkit dari tempat duduknya dengan lemah tidak bertenaga. Dengan langkah gontai dia berjalan meninggalkan ruangan itu.
Saat keluar dari ruangan Dokter perempuan setengah baya yang masih duduk di kursi periksa menatapnya dengan penuh tanda tanya. Akan tetapi tidak ada kata kata yang keluar dari mulutnya demikian juga Dokter Loly hanya menatap sekilas sambil menghapus air matanya lalu dia segera berjalan keluar dari tempat periksa tersebut.
Dokter Loly terus melangkah menuju ke kamarnya. Dia membuka pintu kamar dengan keras menutupnya pun juga dengan sangat keras.
“Kalau aku sampai dikeluarkan dari rumah sakit aku akan mencari pengacara handal.” ucap Dokter Loly sambil melepas jas dokternya.
__ADS_1
“Aku kan tidak membuat hal yang membahayakan pasien.” ucap Dokter Loly yang masih keukeuh pada pendapat nya kalau dirinya tidak terima jika dikeluarkan dari rumah sakit dan organisasi profesi.
Saat Dokter Loly masih marah marah dengan tidak jelas. Tiba tiba ada suara ketukan pintu kamarnya.
TOK... TOK... TOK....
TOK... TOK...TOK...
Dokter Loly yang sedang gundah gulana, kesal dan kecewa tidak menghiraukan ketukan pintu kamarnya.
Sementara itu yang ada di balik pintu masih terus mengetuk ngetuk pintu kamar Dokter Loly.
“Haduh kalau dia bunuh diri di dalam kamar gimana ya...” gumam Sang therapis yang habis saja melihat di group chat Tim dokter, nama Dokter Loly sudah dikeluarkan dari group chat. Dan Pak Dokter pimpinan sudah menginformasikan kalau Dokter Loly sudah dikeluarkan dari Tim.
Sang Therapis masih terus mengetuk ngetuk pintu kamar Dokter Loly tetapi sampai jarinya sakit tetap saja pintu masih tertutup rapat. Sebagai teman dekat dalam tim, sang therapis sangat kuatir.
“Aku ke kamar Nona Eveline saja, aku beri tahu dia.” gumam Sang Therapis lalu dia cepat cepat membalikkan tubuhnya dan segera melangkah meninggalkan pintu kamar Dokter Loly untuk berjalan menuju ke kamar Eveline.
Sang Therapis pun segera mengetuk ngetuk pintu kamar Eveline dengan keras dan tidak sabar. Eveline yang juga sedang pusing karena mendapat marah dari Vadeo dengan malas dia berjalan menuju ke pintu kamarnya.
“Apa dia akan marah pada aku.” gumam Eveline, dia mengira Dokter Loly yang mengetuk ngetuk pintu kamarnya.
“Oh.. kamu Nona ada apa kok sepertinya penting sekali.” ucap Eveline setelah membuka pintu dan melihat sosok Sang Therapis dengan ekspresi wajah cemasnya.
“Nona, mari kita ke kamar Dokter Loly. Saya ketuk ketuk kamarnya berkali kali akan tetapi Dokter Loly tidak keluar. Saya kuatir dia nekat bunuh diri karena stres.” ucap sang therapis dengan nada cemas dan tidak sabar ingin segera mengajak Eveline untuk melihat Dokter Loly.
“Dia kan dikeluarkan dari Tim juga dikeluarkan dari group chat. Dokter pimpinan sudah tidak mau bertanggung jawab dengan kebutuhan hidup dia selama di sini.” ucap sang therapis selanjutnya sebab Eveline masih saja berdiri sambil memegang handel pintu.
“O bagus lah.. Kalau Tuan Vadeo juga sudah tidak mau bertanggung jawab dengan kebutuhan hidup dia selama di sini berarti dia harus segera pergi.” ucap Eveline yang masih tetap berdiri.
“Nah itulah Nona saya kuatir dia akan bunuh diri. Mau makan apa dan pakai apa coba untuk kembali pulang kalau Tuan Vadeo sudah tidak mau bertanggung jawab.” ucap sang therapis
__ADS_1
“Kita lihat saja, nanti dia ikut makan siang tidak. Kita tunggu saja jam makan siang tidak lama lagi.” ucap Eveline lalu mereka berdua duduk di teras depan kamar sambil menunggu jam makan siang dan sesekali tatapan mata mereka ke arah kamar Dokter Loly, apalagi tatapan mata sang therapis dia lebih sering melihat kamar Dokter Loly sebab dia kuatir Dokter Loly akan bunuh diri.