Alexandria

Alexandria
Bab. 146. Gerrit Hansen


__ADS_3

“Gerrit Hansen.” ucap Alexandria lagi. Lalu dia membaca semua data tentang Gerrit Hansen yang ada di layar lap topnya.


“Gerrit....” teriak Alexandria lagi dengan nada suara riang bahagia penuh kerinduan. Hingga suara teriakan nya didengar oleh Nyonya William yang sudah duduk di sofa sambil melihat lihat barang belanjaannya.


Nyonya William pun bangkit berdiri dan membuka pintu kamar Alexandria yang tidak dikunci.


“Al, ada apa?” tanya Nyonya William sambil melonggokkan kepalanya di balik daun pintu yang tidak terbuka lebar.


“Gerrit Ma.. Gerrit ikut jadi calon sekretaris pengganti Chaterine.” ucap Alexandria lagi dengan suara penuh bahagia dan bibirnya pun tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putih bersih dan rapi semakin menambah cantik senyumnya.


“Gerrit siapa?” tanya Nyonya William sambil mengeryitkan dahinya.


“Gerrit Hansen Ma.” jawab Alexandria masih dengan senyuman di bibirnya, dan Nyonya William pun berjalan mendekati Alexandria karena beliau kepo dengan orang yang begitu membuat Alexandria bahagia. Apalagi namanya belum pernah dia dengar, jika itu seorang laki laki akan membuat bahaya untuk hubungannya dengan Vadeo.


“Ini Ma, Gerrit teman baik Alexa, dia memang orang asli Jerman tetapi Alexa tidak menyangka kalau dia jadi calon sekretaris pengganti Chaterine. Bener bener tidak menyangka Ma... dunia itu memang sempit.” ucap Alexandria sambil menunjukkan foto dan data data Gerrit.


“Cantik tapi dia tanpa make up gitu Al, benar benar tanpa make up. Aku kira Gerrit Hansen itu laki laki.” gumam Nyonya William saat melihat foto Gerrit di layar lap top Alexandria.


“Perempuan Ma, dia memang tidak pakai make up hanya pakai krim pelindung saja. Dia baik Ma.” ucap Alexandria sambil jari jari nya terus sibuk pada tuts tuts lap top untuk melihat jejak digital Gerrit.


“Kalau dia saja yang jadi sekretaris pengganti Chaterine bagaimana Al?” tanya Nyonya William


“Kan kamu sudah kenal baik.” ucap Nyonya William kemudian.

__ADS_1


“Tidak boleh nepotisme kan Ma, kita lihat saja andai dia yang terpilih menjadi sekretaris harus benar benar karena kapasitas, prestasi dan jejak dia yang baik.” jawab Alexandria sambil menatap Sang Mama meskipun sebenarnya dia juga setuju kalau Gerrit yang menjadi sekretaris sebab dia sudah mengenal Gerrit orang yang baik tidak aneh aneh.


“Iya Al, bener kamu tetapi tetap kita harus terus berdoa, hati manusia itu setiap saat bisa berubah.” ucap Nyonya William sambil masih ikut menatap layar lap top Alexandria.


“Iya Ma..” ucap Alexandria masih terus sibuk dengan tuts tuts keyboard nya.


“Apa dia berpotensi menggoda Vadeo?” tanya Nyonya William dengan nada kuatir.


“He... He... setahu Alexa selera dia orang berkulit coklat gelap katanya berasa enak seperti coklat he... He...” jawab Alexandria sambil tertawa mengingat Gerrit yang pernah curhat kenapa dia menyukai kulit berwarna coklat


“Dia bisa suka dengan pengawal Vadeo.” gumam Nyonya William.


“Kalau itu kopi gosong Ma ha... ha...” ucap Alexandria sambil tertawa lepas mengingat sosok pengawal Vadeo


“Ya sudah lanjutkan tapi jangan tidur terlalu malam.” ucap Nyonya William lalu melangkah keluar dari kamar tidur Alexandria. Alexandria pun melanjutkan pekerjaannya untuk melacak jejak digital para calon sekretaris pengganti Chaterine.


Alexandria pun berjalan menuju ke pintu untuk membukakan pintu itu saat pintu dibuka tampak sosok Vadeo sudah tampil rapi dan keren dengan tas kerja di tangannya.


“Al aku akan ke departemen perizinan lebih dulu. Nanti meeting menentukan sekretaris setelah aku kembali dari departemen perizinan. Kamu ikut sekarang atau biar nanti sopir menjemputmu?” tanya Vadeo saat pintu sudah dibuka oleh Alexandria.


“Sekarang, kami ikut sekarang.” ucap Nyonya William yang mendengar ucapan Vadeo sebelum Alexandria menjawab. Nyonya William pun segera bangkit berdiri dan membereskan piring tempat sarapannya lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


“Aku tunggu.” ucap Vadeo pada Alexandria. Alexandria pun mengangguk lalu segera bersiap diri sedang Vadeo yang sudah siap menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


Beberapa menit Nyonya William dan Alexandria pun sudah keluar kamar dengan penampilan cantik nya. Vadeo tersenyum lalu bangkit berdiri sambil membawa tas kerjanya. Mereka bertiga pun segera berjalan menuju ke lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar.


Saat sudah keluar dari lift, Vadeo langsung mengajak mereka berjalan menuju ke pintu keluar tidak menuju ke tempat parkir. Ternyata mobil sudah siap di depan pintu keluar sang pengawal yang sudah berada di dalam jok kemudi mobil Vadeo.


“Ayo Al, Ma... dia yang akan bawa mobil katanya pernah tugas di kota ini.” ucap Vadeo sambil menoleh menatap Alexandria dan Nyonya William yang berdiri di dekatnya. Dan Nyonya William pun lalu memegang lengan Vadeo dan berjalan menuruni anak tangga untuk menuju ke mobil yang sudah terbuka pintunya itu. Alexandria pun menggandeng tangan Sang Mama. Mereka segera masuk ke dalam mobil, dan mobil pun segera berjalan meninggalkan halaman apartemen menuju ke lokasi departemen perizinan.


“Al, apa kamu sudah mendapatkan orang yang tepat untuk menjadi sekretaris pengganti Chaterine?” tanya Vadeo sambil menoleh ke arah belakang di mana Alexandria dan Nyonya William duduk di belakang kursi kemudi, sedangkan Vadeo duduk di samping kemudi.


“Sudah Kak, dari sepuluh itu aku dapatkan ada tiga orang yang jejak digitalnya bagus.” jawab Alexandria. Nyonya William pun menoleh ke arah Alexandria yang duduk di sampingnya dia penasaran juga siapa yang akan menjadi sekretaris di perusahaan calon menantunya itu.


“Siapa mereka?” tanya Vadeo juga ingin tahu.


“Daniel Fu, Emilie Anderson dan Gerrit Hansen.” jawab Alexandria dengan nada suara dan ekspresi wajah biasa biasa saja.


“Al..” saut Nyonya William sambil menoleh dengan mata berbinar tetapi seketika pahanya ditepuk pelan oleh Alexandria. Dan Nyonya William pun paham jika Alexandria belum ingin bicara pada Vadeo kalau Gerrit Hansen adalah temannya.


“Kalau aku inginkan sekretaris yang laki laki saja seperti Pak Rio tetapi kalau di sini Edwind juga punya hak untuk menentukan siapa yang akan menjadi sekretarisnya.” ucap Vadeo lalu dia terlihat sibuk dengan layar hand phone nya.


“Apa para calon sekretaris itu nanti akan dipanggil interview dengan Kak Deo dan Edwind?” tanya Alexandria yang dia akan sembunyi dulu jika itu terjadi, dia akan menemui Gerrit jika pemilihan sekretaris sudah final.


“Sepuluh orang itu sudah interview dengan pimpinan HRD semua sudah okey. Untuk ketiga orang hasil seleksi kamu itu, aku pikir tidak perlu. Setelah aku dan Edwind menentukan sekretaris terpilih itu baru dilakukan interview dengan aku dan Edwind.” jawab Vadeo


“Jika interview dengan Edwind dan Kak Deo tidak lulus bisa gagal dan batal kah?” tanya Alexandria lagi. Alexandria yang sebenarnya sudah sangat merindukan Gerrit teman lamanya itu tetapi harus memendam dulu karena dia tidak ingin kedekatan dirinya dan Gerrit akan memperngaruhi hasil keputusan Edwind dan Vadeo. Jadi harus benar benar menunggu keputusan final baru dia akan menemui Gerrit.

__ADS_1


“Kita lihat saja nanti Sayang...” jawab Vadeo sambil tersenyum.


.....


__ADS_2