Alexandria

Alexandria
Bab. 180.


__ADS_3

Alexandria memutar handel pintu, lalu menarik daun pintu itu pelan pelan. Tampak sosok Dokter Loly dan sang therapis berdiri di depan pintu dengan senyuman di bibir mereka.


“Selamat sore Nona.” sapa mereka berdua, karena hari memang sudah menjelang sore hari.


“Selamat sore, mari silahkan masuk.” ucap Alexandria dengan nada ramah dan senyuman menghiasi bibirnya.


Mereka bertiga lalu berjalan menuju ke ruang tamu dan selanjutnya mereka duduk di sofa yang berada di dalam ruang tamu itu. Dari ruang tamu mata bisa memandang taman bunga dari jendela kaca yang luas itu.


“Saya yakin program Nona akan segera berhasil di tempat ini. Semua tempat segar dan nyaman bikin hati dan pikiran tenang.” ucap sang therapis sambil matanya menatap pada taman bunga dan menghirup nafas dalam dalam sebab di dalam ruangan itu tidak ada AC (air conditioner ) akan tetapi udara terasa sejuk alami karena angin dan udara segar yang masuk ke dalam ruangan itu lewat ventilasi.


“Iya saya juga berharap begitu, saya merasa sangat nyaman bebas dari suara suara kendara bermotor dan lain lainnya, berganti dengan suara suara alam, kicauan burung, gemercik air, benar benar pikiran jadi rileks...” ucap Alexandria menanggapi ucapan Sang therapis.


“Baiklah Nona, saya akan mengecek kesehatan Nona, untuk data awal kami.” ucap Dokter Loly sambil mengeluarkan alat alat kedokterannya dari tas hitamnya.


“Bisa di sini atau perlu ke kamar?” tanya Alexandria dengan polosnya. Tampak Dokter Loly berpikir pikir.


“Kenapa tidak terlihat Tuan Vadeo, apa Tuan Vadeo sedang beristirahat di kamar. Hmmm kalau begitu....” gumam Dokter Loly dalam hati.


“Lebih baik kita cek kesehatan Nona di kamar.” ucap Dokter Loly sambil tersenyum. Dia ingin melihat wajah Vadeo dan juga penasaran dengan kamar mereka berdua maka mengatakan ingin memeriksa Alexandria di kamar.


“Eh.. maaf saya sendiri belum tahu di mana kamar saya... tadi saya baru ke kebun, sungai dan dapur.. he.. he.. maaf, di sini saja tidak apa apa ya Dok kan tidak buka buka baju.. lagian tidak ada orang selain kita yang ada di ruangan ini.” jawab Alexandria sambil tertawa kecil.


“Iya Dok, di sini tidak apa apa. Kan cuma cek tensi dan detak jantung. ” ucap sang therapis sambil menatap Dokter Loly.


Dokter Loly akhirnya bangkit berdiri sambil membawa alat alat medisnya dan berjalan menuju ke sofa panjang yang diduduki oleh Alexandria. Dia tidak ada lagi alasan untuk menolak kemauan Alexandria untuk diperiksa di ruang tamu itu.


Dan tidak berapa lama kemudian pemeriksaan itu selesai.


“Bagaimana Dok tensi saya?” tanya Alexandria sambil menatap Dokter Loly.


“Bagus, normal Nona 120/80.. “ jawab Dokter Loly sambil mencatat hasil pemeriksaan pada hand phone nya.


Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah belakang menuju ke ruang tamu. Dokter Loly berdebar debar jantungnya berharap Vadeo yang datang.


Dokter Loly pun segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat duduknya tadi lalu menaruh alat alat medisnya ke dalam tasnya. Pandangan matanya tertuju pada suara langkah kaki yang semakin mendekat.


Sesaat kemudian


“Nona, ini saya buatkan kopi asli dari kebun..” suara sang pelayan saat muncul di dalam ruang tamu sambil membawa tiga cangkir kopi. Aroma harum kopi pun menguar ke dalam ruang tamu itu.

__ADS_1


“Wow.. terima kasih Bu, aroma nya sangat harum.” ucap Alexandria dengan mata berbinar binar menoleh ke arah sang pelayan.


“Dan singkong oven pasti sangat cocok di sore sore ini.” ucap Sang pelayan lagi sambil menaruh cangkir cangkir berisi kopi dan satu piring singkong oven.


“Silahkan ini kopi dan singkong organik hasil kebun.” ucap Alexandria mempersilahkan pada tamunya sambil tersenyum.


“Nona saya yakin program Nona akan segera berhasil dengan udara segar dan makan sehat begini.” ucap sang therapis langsung mengambil cangkir kopinya karena dia sudah tidak tahan dengan aroma yang harum sedap juga sudah tidak tahan untuk segera mencomot singkong oven yang terlihat gurih nikmat menggoda.


Sedangkan Dokter Loly masih diam saja, masih berharap Vadeo akan segera datang ke ruang tamu itu. Akan tetapi sampai sang pelayan itu pamit kembali ke belakang tidak tampak sosok Vadeo ikut datang ke dalam ruang tamu.


Waktu terus berlalu hingga kopi di dalam cangkir Alexandria dan sang therapis habis, juga singkong oven sudah ludes. Vadeo pun tidak muncul ke dalam ruang tamu. Sang therapis pun memberi kode pada Dokter Loly untuk kembali ke tempat tinggal mereka.


“Nona Alexandria, kami mohon diri, besok saya akan datang sesuai jadwal yang sudah saya berikan pada Nona.” ucap sang therapis pamit pada Alexandria. Dokter Loly pun juga turut pamit bibirnya tersenyum akan tetapi di dalam hati dia sangat kecewa sebab tujuan untuk melihat sosok Vadeo tidak tercapai.


Sementara itu Vadeo masih di dalam ruang kerjanya, dia bisa mendengar telepon pak satpam saat mengabari sang pelayan di dapur. Sebab dia bisa menyadap semua telepon yang masuk ke dalam rumahnya. Juga bisa melihat apa yang ada di ruang tamu lewat cctv di ruang kerjanya. Karena melihat tidak ada yang membahayakan buat Alexandria maka Vadeo tetap berada di ruang kerjanya di samping itu dia masih sibuk menghubungi orang tua dan mertuanya.


“Hmmm kalau ada Ricardo yang bertamu baru aku akan turun.” gumam Vadeo yang masih berada di ruang kerjanya di lantai dua.


Sementara itu setelah tamunya pergi. Alexandria membawa nampan berisi cangkir kopi dan piring yang sudah kosong. Dia bawa ke dapur.


“Nona kenapa Nona bawa sendiri tidak menyuruh saya saja.” ucap sang pelayan sambil segera mengambil nampan yanf dipegang oleh Alexandria.


“Tidak apa apa Bu.” ucap Alexandria


“Beres Non.” jawab sang pelayan sambil tersenyum lebar.


“Pakai baju renang ya Bu?” tanya Alexandria sambil menatap sang pelayan yang langsung mencuci cangkir kopi tadi.


“Pakai kain Non, apa pakai sarung jadi benar benar alami bagai dewi nawang wulan he... he...” jawab sang pelayan sambil tertawa


“Nanti pakai kain batik saya kalau Nona tidak bawa.” lanjut sang pelayan


“Saya ambil sarung Kak Deo saja.” ucap Alexandria .


Tidak lama kemudian sosok Vadeo muncul di depan pintu dapur.


“Sayang ayo kita ke kamar, aku tunjukkan kamar kita.” ucap Vadeo selanjutnya yang mengagetkan Alexandria dan sang pelayan.


“Kak Deo bikin kaget saja.” Suara Alexandria menoleh ke arah Vadeo

__ADS_1


“Apa Kak Deo sudah sejak tadi berdiri di sini ?” tanya Alexandria yang kuatir rencana mandi di kali di ketahui oleh Vadeo.


“Baru saja kenapa?” tanya Vadeo sambil mengangkat kedua alisnya.


“Tidak apa apa. Ayo aku ingin lihat kamar kita.” jawab Alexandria sambil menggandeng tangan sang suami untuk mengajak keluar dari dapur. Sang pelayan terlihat tersenyum senang saat melihat kemesraan Vadeo dan Alexandria.


“Hmmm Tuan Muda mendapatkan isteri yang cantik dan baik hati semoga cepat mendapat anak. Aku pun tidak sabar untuk ikut merawat anak anak Tuan Muda.” gumam sang pelayan sambil memandang punggung Vadeo dan Alexandria yang berjalan meninggalkan dapur.


“Sini Sayang, kamar kita di lantai atas.” ucap Vadeo sambil mengajak Alexandria untuk menuju ke tangga yang ada di antara taman in door.


“Biar tidak ada yang mengganggu kita.” ucap Vadeo sambil terus menaiki anak tangga dan tangannya masih digandeng Alexandria.


Saat sampai di lantai dua, Vadeo membuka pintu kaca dan mereka berdua memasuki pintu kaca itu. Mereka terus melangkah mereka melewati suatu ruangan dengan diisi oleh sofa panjang yang menghadap pada jendela kaca lebar dengan pemandangan taman bunga. Segarnya udara sore pun bisa memasuki ruangan itu lewat ventilasi udara dan jendela yang sedikit terbuka.


“Ini ruang kerjaku juga ada di lantai ini.” ucap Vadeo saat melewati ruang kerjanya. Alexandria menoleh ke arah pintu ruang kerja Vadeo. Dan mereka berdua terus melangkah dan tidak lama kemudian Vadeo membuka pintu kamar mereka.


“Surprise...” ucap Vadeo sambil membuka pintu kamar lebar lebar. Terlihat sebuah kamar yang luas dengan design interior yang elegan, ada jendela kaca yang sangat lebar yang telah terbuka tirainya. Dan dari jendela kaca itu tampak pemandangan bukit hijau yang dengan jelas terlihat air terjun yang tadi dilihat oleh Alexandria.


“Kak.. ini benar benar bagai mimpi.” teriak Alexandria lalu segera masuk ke dalam kamar dan berdiri di depan jendela sambil pandangan matanya menatap pada pemandangan yang indah itu.


“Sayang, kalau saat malam bulan purnama air terjun itu sangat indah berkilau kilau.” ucap Vadeo yang sudah berdiri di samping Alexandria sambil memeluk pundak Alexandria.


“Kak Deo pernah bermalam di sini? Dengan siapa?” tanya Alexandria kepo sambil menatap suaminya.


“Sama Vincent saat mengecek pembangunan. Tapi tidak menginap langsung pulang. Saat dulu aku bilang kamu mau main ke rumah Vincent hingga malam itu, aku pergi mengecek pembangunan ini he.. he...” ucap Vadeo sambil tertawa kecil dan menarik tubuh Alexandria untuk dibawa ke tempat tidur.


“Aku hanya ingin bermalam dengan kamu.” bisik Vadeo saat mereka berdua sudah terbaring di tempat tidur.


“Kita bagai melihat lukisan alam ya Kak dari tempat tidur ini.” ucap Alexandria yang berbaring sambil menatap jendela kaca.


“Iya, dan tidak perlu takut ada yang melihat kita Sayang.. “ ucap Vadeo yang tangannya sudah mulai membelai balai lembut rambut Alexandria yang berada di dekat telinga Alexandria dan seterusnya mulai menjelajahi leher jenjang Alexandria.


“Kak...”


“Hmmm.” gumam Vadeo sudah dengan suara parau.


“Aku ingin mandi.”


“Hmmm aku tahu kamu ingin kita melanjutkan di sana...” ucap Vadeo lalu segera mengendong tubuh Alexandria dan dibawa menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


“Kak Deo... Aku benar benar ingin mandi...” suara Alexandria di dalam gendongan Vadeo sambil tertawa kecil.


...


__ADS_2